Saturday, 15 October 2011

Magical Light Chapter 8

Angin dingin berhembus membelai daun-daun coklat yang gugur. Sebentar lagi musim dingin akan datang. Walaupun begitu, murid-murid SMA Maple tetap semangant menjalani aktivitas mereka.
Begitu pula dengan di kelas 1-5. Mereka tak terpengaruh dengan udara dingin yang menususk. Mereka tetap menjalani aktivitas mereka sebagai seorang siswa seperti biasa. Tapi sepertinya hari ini ada yang berbeda. Mereka terlihat satu persatu keluar dari kelas menuju laboratorium sekolah.
“Uh, okay. Sekarang aku mulai gugup. Apa yang seharusnya harus kita lakukan di sana?!” Midori berteriak frustasi.
“Yang sudah dipanggil tidak kembali ke kelas. Sepertinya mereka disuruh untuk tidak mengatakan apa yang mereka lakukan di sana…” ucap Ciel.
“Sebentar lagi kita juga akan dipanggil.” Ucap Melodi.
Dan tak lama kemudian terdengar suara dari speaker, “Melodi, giliranmu.” Itu suara Clara.
Melodi langsung bangkit dari kursinya. “Kalau begitu, aku duluan, ya…” Melodi pamit seraya keluar dari kelas. Light melambai pada Melodi sedangkan yang lainnya hanya mengangguk dan kembali pada kegiatan mereka masing-masing.
.
.
Melodi’s POV
Akhirnya giliranku dipanggil tiba juga. Aku sudah bosan menunggu. Dari kelas ke lab aku harus memotong lewat lapangan sekolah. Tapi kalau kau tak ingin berpanas-panasan, kau bisa lewat koridor, walaupun lebih lama, sih…
Kali ini aku memilih melewati koridor. Bukannya aku tidak ingin kena panas matahari, tapi aku sedang ingin berlama-lama. Aku masih penasaran dengan apa yang akan kulakukan di sana.
Akhirnya aku sampai. Di sekitar lab, tidak ada orang yang berlalu-lalang. Sepertinya sudah diatur agas yang datang ke sini hanya kami yang dipanggil. Dari luar aku bisa melihat Clara-sensei. Aku pun segera masuk ke dalam. Aku mulai gugup saat Clara-sensei melihatku dengan pandangan yang tak bisa kujelaskan. Matanya seperti menyimpan sesuatu, sesuatu yang kurasa bisa sewaktu-waktu memojokkanku.
“Kau sudah datang Melodi…” ucapnya.
“Ya. Apa yang kulakukan?” tanyaku. Aku ingin ini segera berakhir.
“Kau tak perlu melakukan apa-apa. Aku hanya ingin bercakap-cakap denganmu.” Jawabnya. Hah, mulai dengan prosedur yang bertele-tele, nih.
“Jadi aku akan diwawancarai?” aku langsung bertanya pada intinya, ya, aku sudah tahu aku akan diwawancarai – atau bisa dibilang seperti itu.
“Wah, jadi kau sudah tahu, ya?” dia balik bertanya padaku, pertanyaan yang pasti sudah diketahui jawabannya olehnya.
“Begitulah. Lalu, tentang apa?” aku langsung memulainya. Aku benar-benar ingin ini segera berakhir.
“Tak terlalu sulit. Aku hanya ingin tanya apa yang kau ketahui tentang harapan?” Clara-sensei menanyakan hal yang sukses membuatku terdiam.
Harapan? Aku… aku tidak tahu harus begaimana menjawabnya.
Aku hanya bisa diam. Aku melihat ke arah Clara-sensei. Dia terlihat tidak memaksaku untuk menjawabnya dengan cepat. Dia hanya menunggu. Aku lalu menghela napasku. Kemudian kututup mataku. Cukup lama aku berpikir sampai akhirnya aku membuka mataku. Clara-sensei sedikit terkejut dengan tindakanku barusan.
“Aku… bagiku harapan itu seperti bintang.” Oke. Ini agak aneh bagiku. Tapi hanya itu yang terpikirkan olehku. “Kita semua punya berbagai harapan. Sama seperti bintang, ada berbagai bintang di angkasa sana. Tapi justru karena itulah harapan itu tak mudah tercapai. Butuh banyak kerja keras dan kesabaran. Tapi asal harapan itu tetap bercahaya layaknya bintang, dia akan menjadi suatu kekuatan besar bagi kita di suatu saat nanti. Asal tidak berhenti percaya pada harapan, harapan itu akan menjadi nyata.” Jelasku.
Clara-sensei hanya diam. Aku menunggu sampai dia berbicara. “Lalu, dari yang kau jelaskan tadi, apa yang harus ada dalam dirimu?” dia bertanya lagi padaku.
Aku diam sesaat memikirkan pertanyaan itu. “Kurasa… hati yang penuh cahaya harapan…” jawabku. Aku agak ragu sebenarnya. Tapi aku kira itu jawaban yang benar-benar berasal dari hatiku.
Clara-sensei menganggukkan kepala. Dia lalu menatapku. “Kalau begitu, aku ingin kau memenuhi permintaanku. Bagaimana?” tanyanya.
Aku mengangguk. “Jika aku bisa memenuhinya, aku bersedia.” Ucapku. Clara-sensei tersenyum.
“Tak sulit, kok. Aku hanya ingin kau mempertahankan ‘hati yang penuh dengan cahaya harapan’ itu.” Katanya lembut.
“Tapi aku kan belum mempunyai hati itu. Bagaimana caranya mempertahankan ‘itu’?” kataku gugup.
“Kau tahu, kau sudah memiliki hati itu. Tanpa kau sadari, kau mempunyai harapan yang kuat di hatimu.” Jelasnya.
Aku bingung. “Eh? Benarkah?” tanyaku.
“Ya. Nanti kau juga akan mengerti.” Ucapnya. Aku mengangguk. Aku tahu Clara-sensei mengatakan yang sebenarnya. Dia tersenyum.
“Baiklah. Kau sudah boleh keluar sekarang. Oh ya, lebih baik kau pergi ke taman belakang. Di sana sudah ada yang lainnya. Jangan beritahukan apa yang sudah kau lakukan di sini pada teman-temanmu yang belum dipanggil!” katanya padaku.
“Baiklah. Aku permisi” aku pun keluar dari ruangan itu.
End of Melodi’s POV
.
.
“Ciel, giliranmu” terdengar kembali suara dari pengeras suara.
Ciel bangkit dari duduknya. “Aku duluan” dia lalu keluar dari kelas. Pandangan Light mengikuti Ciel sampai dia menghilang. Light tetap memandang ke luar selama beberapa detik sampai akhirnya dia kembali membaca buku.
.
Ciel’s POV
Aku berjalan cepat menuju laboratorium. Aku sudah lelah dari tadi hanya duduk-duduk. Aku langsung memotong lewat lapangan sekolah. Kurasa sedikit sinar matahari baik untukku.
Aku dengan cepat sampai di lab. Bisa kulihat Clara-sensei duduk diam di dalam dengan tenang. Sebelum masuk, aku menghela napasku. ‘Ini tidak akan sulit’ pikirku. Aku pun masuk ke dalam.
“Wah, kau cepat juga, Ciel…” ujarnya begitu aku masuk.
“I-iya. Begitulah…” balasku.
“Bagaimana kesanmu bersekolah di sini? Bersekolah di kota ini?” tanyanya langsung tanpa basa-basi padaku. Aku agak bingung dengan pertanyaannya. Tapi kurasa tak ada salahnya sebagai guru dia bertanya begitu.
“Aku senang bersekolah di sini. Yah, memang masih perlu menyesuaikan diri di kota ini. Tapi, aku senang dengan kota ini. Dan mengingat teman-temanku di sini, semuanya jadi lebih hebat!” jawabku seadanya. Maksudku ‘seadanya’ itu, yah…apa yang memang kurasakan.
“Aku turut senang mendengarnya. Berarti kau menyayangi teman-temanmu?” dia bertanya lagi.
Aku mengangguk. “Begitulah”
“Ciel, aku tahu kau terbilang masih baru di kota ini. Tapi aku tahu kau memang menyayangi teman-temanmu…” kata Clara-sensei. “…dan terlebih Melodi. Bukan begitu?” ujarnya lagi.
Aku mengerutkan keningku. Memutuskan untuk berpikir sebentar, aku lalu menjawab, “Dia kan sepupuku. Terlebih aku lebih tua darinya. Jadi wajar saja aku sangat menyayanginya.” Jawabku.
“Aku mengerti. Ciel, kau suka berandai-andai?”
“Hah? Apa maksudnya?”
“Seandainya Melodi dalam kesulitan yang mengancam nyawanya, apa kau akan melindunginya?” aku tersentak. Itu jelas. Kenapa sudah sampai ke situ pembicaraan ini? Ini mulai aneh.
“Tentu saja!” ucapku. “Jika aku bisa melindunginya, aku akan melindunginya.” Tambahku. Raut wajah Clara-sensei agak berubah saat aku memberikan jawabanku. Apa aku salah?
“Apa kau tahu Ciel kalau melindungi itu tidak mudah?” aku terdiam. Kurasa aku salah jawab. Aku diam memandangi Clara-sensei. Dia terlihat agak muram. Aku jadi merasa tak enak. Mungkin jawabanku tadi ada yang menyinggungnya.
Aku menunduk. “Aku tahu. Aku tak berpikir melindungi itu mudah. Tapi kalau punya kesempatan untuk melindungi orang yang kau sayangi, kenapa tidak?”
“Aku tahu kau memang anak yang baik, Ciel…” aku mendengar Clara-sensei berbisik. Aku mengangkat kepalaku. “Kau tahu, kau mirip dengan seseorang yang kukenal dulu…” ujarnya.
“Dulu?”
“Ya. Tapi, dia sudah tak ada”
“Oh…” aku tak tahu harus bilang apa.
“Orang bodoh yang pergi sangat cepat…” gumamnya. “Ciel, lakukan apa yang harus kau lakukan. Lindungi apa yang kau rasa patut kau lindungi. Itu jalanmu, bukan?” clara-sensei tersenyum padaku. Aku pun tersenyum.
“Baik!”
“Kau sudah boleh keluar sekarang. Pergilah ke taman belakang! Jangan beritahu teman-temanmu yang belum ke sini!” perintahnya. Aku mengangguk dan langsung keluar dari ruangan itu.
End of Ciel’s POV
.
.
Setelah semuanya selesai, Clara duduk berdiam diri di dalam lab. Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam. Clara menyadarinya, tapi dia tidak berniat melihat orang itu. Mungkin dia sudah tahu siapa itu.
“Bagaimana? Apakah lancar?” tanya orang itu saat dia sudah berada di hadapan Clara.
Clara mendesah. “Ha-ah. Begitulah. Tapi tak kukira ini semua akan melelahkan.“ ucapnya lirih.
“Hahaha. Kurasa kau sudah mempersiapkan diri, kan? Itu sudah resiko.” Ucap orang itu sambil tertawa. Clara tersenyum pahit.
“Tapi ini memang benar-benar melelahkan…” katanya lirih. “Terlalu banyak yang kudengar tetapi terlalu sedikit yang kuketahui.” Tambah Clara.
“Tak perlu terburu-buru. Mereka tetap akan menunjukkannya nanti.” Ucap orang itu. “Lalu siapa yang paling berkesan?” tanya orang itu lagi.
“Ternyata Ayah ingin balik mewawancaraiku, ya? Sindir Clara pada orang yang ternyata ayahnya sekaligus kepala sekolah di SMA Maple.
“Haha. Ayah hanya penasaran.” Kelaknya.
“Yah, kalau begitu aku tidak akan menjawab rasa penasaran Ayah.” Ucap Clara. Kepala sekolah hanya tertawa.
“Kau tidak berubah” gumam kepala sekolah.
Clara mengangkat bahunya. “Tidak juga. Aku hanya bersikap apa adanya diriku, kok” ucap Clara. “Oh ya, bukankah Ayah masih punya banyak pekerjaan yang harus segera dikerjakan?” tanya Clara.
“Kau benar. Ayah ke sini hanya ingin melihat keadaan sekaligus beristirahat sebentar.” Jawab ayahnya. Clara hanya mengangguk.
“Sudah waktunya ayah kembali. Kau masih mau di sini atau mau sama-sama keluar?”
Clara bangkit dari duduknya. “Aku juga sudah mau keluar, kok. Ada beberapa dokumen yang harus kutanda-tangani. Setelah itu kurasa aku akan istirahat.” Ucap Clara. Mereka berdua pun keluar dari ruangan itu.
.
.
.
.
.
TBC

Hal-hal yang kusukai

1. Buku. Terutama buku yang disebut komik :D

2. Warna kuning, merah, hitam

3. Main playstation =D

4. Nulis fiksi

5. Rasi bintang Cassiopeia

6. Huruf D dan W

7. Angka 2, 16, dan 97

8. Bulan Januari

9. Orchestra/Instrumen

10. Pohon mapple

Saturday, 1 October 2011

Pertanyaanku (21-30)

21. Siapa sebenarnya aku ini?
22. Dimana seharusnya aku berada?
23. Apa arti keberadaanku?
24. Apa kau percaya pada harapan?
25. Apa aku dapat jatuh ke langit?
26. Apa memang demi keadilan kau harus mengorbankan apa yang berarti?
27. Apa aku bisa kembali memulai lagi?
28. Bagaimana rasanya bebas?
29. Apa mereka akan kembali?
30. Apa ikatan itu akan benar-benar terputus?

Saturday, 24 September 2011

Always Keep The Faith!

Always Keep The Faith!
Cast: Shim Changmin, Jung Yunho, Kim Jaejoong, Park Yoochun, Kim Junsu
Disclaimer: Mereka semua adalah ciptaan Tuhan. Tapi Yoora dan cerita adalah milikku…
Genre: Family, Friendship
.
Anneyonghaseyo, Shim Yoora imnida. Aku adalah adik Shim Changmin. Kalian pasti mengenalnya, kan? Salah satu member DBSK, tepatnya member magnae. Aku sekarang berumur 14 tahun. Usiaku memang terpaut cukup jauh dengan Changmin oppa – 9 tahun. Walaupun begitu aku sangat dekat dengan oppa-ku itu.
Aku juga dekat dengan hyung-hyung-nya, para member DBSK yang lain. Soalnya aku sering mengunjungi mereka jika mereka punya waktu luang. Aku sudah menganggap mereka sebagai oppa-ku sendiri.
Tapi… mereka sekarang sudah tidak lagi seperti dulu. 3 member yang lain keluar dan membentuk JYJ. Mereka adalah Jaejoong oppa, Yoochun oppa, dan Junsu oppa. Aku sangat sedih. Tapi kurasa Changmin oppa dan Yunho oppa lebih sedih dariku.
Hari ini, aku berniat mengunjungi Minnie oppa. Aku tahu pekerjaannya akan selesai sore ini. Sebenarnya aku tidak ingin mengganggu waktu istirahat mereka. Tapi aku sungguh ingin melihat keadaannya. Akhir-akhir ini Minnie oppa terlihat kurusan. Itu pasti karena masalah yang dideranya bersama TVXQ.
Aku melihat jam tanganku, sudah jam setengah 6. Sebaiknya aku berangkat sekarang. Aku pun segera memakai jaketku yang berwarna coklat dan berangkat.
Saat di jalan, aku kembali memikirkan mereka berlima. Aku sangat ingin melihat mereka kembali bersama. Menyanyi bersama, tertawa bersama, menangis bersama. Sama seperti dulu. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Payah!
Aku menatap langit. Langit dengan goresan berwarna orange. Benar-benar indah. Tapi rasanya aku malah ingin menangis. Aku menggelengkan kepalaku. Sudahlah.
Aku tersadar kalau aku harus cepat-cepat. Langit sudah mulai gelap. Aku pun mempercapat langkahku.
Aku sudah sampai di depan pintu apartemen Minnie oppa dan Yunho oppa. Aku sudah mau menekan tombol pass untuk masuk. Tapi tiba-tiba ada sesuatu yang menghinggapi perasaanku. Perasaan apa ini? Aku memegang dadaku. Entah kenapa aku merasa ragu untuk membuka pintu ini.
Perlahan tanganku jatuh dan aku mudur selangkah. Ada apa ini? Kenapa aku seperti ini, sih? Aku menunduk. Kepalaku terasa berat. Rasanya ingin sekali aku berbalik dan pulang. Tapi, bukankah aku ke sini untuk melihat keadaan kedua oppa-ku? Aku tidak boleh mudur!
Aku kembali mengangkat tanganku. Dan kali ini aku benar-benar menekan tombolnya. Aku memang sudah tahu pass untuk masuk ke sini – diberitahu Minnie oppa.
Saat aku masuk, suasana tempat ini terlihat sepi. Aku sempat berpikir kalau oppa belum pulang. Tapi saat aku melihat di ruang tengah ada cahaya yang kupikir dari jendela yang terbuka, aku memutuskan untuk ke ruang tengah.
Benar saja, disana Minnie oppa sedang berdiri memandangi langit luar. Aku hanya berdiri diam memandangi oppa. Kulihat raut wajahnya yang terlihat kesepian. Hatiku mencelos melihatnya. Tak kulihat Yunho oppa ada di sini. Mungkin dia ada di kamarnya.
Ternyata oppa menyadari kehadiranku. Dia berbalik dan terlihat kaget saat dia tahu itu aku. Aku hanya bisa diam dan tak bergeming.
“Yoora-ah, kau ke sini?” tanyanya lembut. Tapi aku tahu dari suaranya dia sedang sedih.
“N..ne. Maaf aku tidak bilang-bilang.” Kataku pelan.
Dia tersenyum. “Tak apa. Kau sudah lama di situ?” tanyanya lagi.
“Tidak juga. Aku baru saja tiba. Tapi aku tak berniat menyapa oppa karena kulihat oppa tak ingin diganggu tadi.” Jawabku.
“Oh, aku tidak apa-apa, kok…” ucapnya.
Aku masih berdiam di tempatku. Aku menunduk. Perasaan tadi masih ada. Dan bertambah besar. Dadaku semakin sakit. Terlebih saat melihat Minnie oppa tadi. Aku mengangkat kepalaku – tak ingin membuatku Minnie oppa khawatir.
“Oh ya, Yunho oppa di mana?” tanyaku.
“Dia ada di kamarnya.” Jawab oppa singkat. Aku hanya ber-oh saja.
Kami kembali diam. Aku tak tahu apa yang harus kukatakan.
‘Ugh’. Aku kembali memegang dadaku. Rasanya sakit.
Kelihatannya oppa menyadari hal itu, karena dia langsung bertanya, “Yoora-ah, kau tidak apa-apa?” tanyanya dengan nada khawatir.
Aku tak tahan lagi. Air mataku mulai mengalir di pipiku. Minnie oppa terkejut. Di berjalan ke arahku. Aku langsung berlari ke arahnya dan memeluknya. Minnie oppa dengan lembut balik memelukku dan mengusap punggungku. Aku memeluknya sangat erat. Dapat kurasakan tubuhnya mulai bergetar. Aku menangis terisak-isak di pelukannya.
“Sudahlah, Yoora-ah. Tidak apa-apa…” ucapnya berusaha menghiburku.
“Mianhaeyo oppa. Mianhaeyo…” gumamku.
Oppa menggelengkan kepalanya. “Kenapa kau meminta maaf, Yoora-ah. Memangnya kau salah apa padaku?” Aku memeluknya semakin erat. Tak ingin melepasnya.
“Pokoknya aku minta maaf…!” ucapku setengah berteriak.
Oppa menghela napas. “Oppa mengerti. Kalau begitu oppa memaafkanmu. Sekarang berhentilah menangis. Kau terlihat jelek kalau menangis.” ucapnya.
Aku melepaskan pelukannya dan menatapnya. “I don’t want to cry, but my tears can’t stop…” ucapku.
Oppa tersenyum lembut padaku. “Duduklah.” Katanya. Aku menurutinya. Dia pergi ke dapur dan kembali dengan membawakanku minuman. Dia memberikannya padaku. “Minumlah. Ini dapat membuatmu lebih tenang.” Aku pun meminumnya.
Kurasa aku mulai bisa mengendalikan emosiku. Aku perlahan mulai menghentikan tangisanku. Aku bersandar di bahu Minnie oppa.
“Bagaimana keadaanmu, Yoora-ah?” tanyanya saat aku sudah tenang.
“Aku baik-baik saja. Oppa sendiri?” aku balik bertanya.
Dia terdiam. Aku menunggu jawabannya, walau aku tahu jawabannya mungkin tak akan semenyenangkan diriku. “Kau tahu kan bagaimana keadaan kami? Kami masih seperti biasa…” jawabnya lirih. Aku mengangguk.
“Aku rindu saat-saat dulu…” gumamku.
Aku kemudian mendengar bunyi pintu dibuka. Ternyata itu adalah Yunho oppa. Wajahnya terlihat lelah. Aku mengangkat kepalaku dari pundak Minnie oppa. “Yunho oppa…” gumamku.
“Oh, ternyata Yoora-ah yang datang.” Gumamnya.
Aku berdiri dan memeluk Yunho oppa. Dia balas memelukku. Dia lalu mencium keningku. Aku melepaskan pelukanku dan duduk kembali. Yunho oppa duduk di hadapan kami.
“Apa kabar?”
“Aku baik-baik saja. Oppa sendiri?” aku tahu jawabannya sama saja dengan Minnie oppa. Tapi tidak sopan kan kalau tidak bertanya kabar lawan bicara?
“Seperti biasa…” jawabnya pelan. Aku mengangguk.
“Kau…menangis, ya?” tanyanya. Ternyata Yunho oppa menyadarinya. Aku hanya dapat mengangguk lemah.
“Ada apa? Changmin-ah, kau membuatnya menangis, ya?” aku tersenyum lemah. Ternyata Yunho oppa masih tetap bersikap protective terhadapku. Bukan hanya dia, Jaejoong oppa, Yoochun oppa, dan Junsu oppa juga begitu terhadapku.
“Tidak kok, hyung.” Kata Changmin oppa.
“Aku tidak apa-apa oppa. Minnie oppa tidak membuatku menangis. Aku hanya… entah kenapa hatiku terasa sepi…” jelasku lirih. Kedua oppa-ku hanya bisa diam. Aku juga tak ingin memaksa mereka untuk memberi nasehat atau menghiburku. Karena sekarang merekalah yang lebih membutuhkannya.
Aku melihat Minnie oppa menunduk. Aku tahu sedari tadi dia menahan untuk tidak menangis. Aku tak suka oppa-ku ini seperti ini. Aku ingin dia kembali menjadi seorang evil magnae, Lord VoldeMIN seperti julukannya. Aku ingin dia tersenyum saat dia berhasil mengusili para hyung-nya. Aku ingin mendengar tawanya saat bercanda denganku. Aku ingin kembali menemaninya makan masakan Jaejoong oppa. Saat aku mengajaknya pergi makan beberapa waktu yang lalu, dia menolaknya dan bilang kalau dia tidak lapar. Aku hanya bisa tersenyum kecil dan bilang kalau tak apa-apa dan lain kali saja. Aku tak suka itu. Aku ingin melihat senyumnya seperti dulu.
Aku memalingkan kepalaku. Dan sekarang aku memandang Yunho oppa. Dia sedang melihat ke luar jendela yang tadi tidak ditutup Minnie oppa. Bisa kulihat goresan luka di matanya. Aku tahu dia sangat terluka karena member yang lain keluar. Dia pernah bilang padaku kalau dia bukan leader yang baik bagi mereka karena membiarkan grup mereka terpecah. Aku langsung membantahnya dan bilang kalau dia itu leader yang terbaik. Dia hanya tersenyum miris. Aku benar-benar sedih saat melihat senyumnya itu. Aku ingin dia kembali seperti dulu. Menjadi seorang yang hebat. Kembali menjadi leader yang hebat dan bijaksana. Dan dengan punggungnya yang tegap memperlihatkan padaku dance yang penuh semangat seperti dulu. Karena apa pun yang terjadi dia tetap orang yang hebat di mataku.
Bukan hanya mereka. Aku juga ingin melihat ketiga member yang lain dapat bersama-sama dengan kami seperti dulu. Tertawa bersama, bercanda bersama, saling membagi cerita. Aku ingin berada di dapur bersama Jaejoong oppa yang dengan senang hati mengajariku memasak seperti dulu ataupun hanya sekedar melihatnya memasaka. Aku ingin duduk di samping Yoochun oppa dan berduet piano dengannya, memainkan melodi-melodi yang indah – seperti dulu. Aku ingin menjadi lawan main playstation dengan Junsu oppa, saling mengejek dan tertawa jika lawannya kalah – seperti dulu.
Apakah bisa?
“Mianhae…” lamunanku buyar mendengar Yunho oppa bergumam sesuatu.
“A..apa?”
“Mianhaeyo sudah membuatmu terlibat dan selalu memikirkan masalah kami. Kami sudah membuatmu sedih dan khawatir. Padahal kau masih harus memikirkan yang lainnya. Tapi kau malah menitikkan air mata saat melihat kami…” ucapnya lirih. Aku hanya bisa diam mendengar perkataan Yunho oppa.
Tiba-tiba aku merasakan tangan yang dingin menggenggam tanganku erat. Aku menoleh. Minnie oppa ternyata menangis. Aku balik menggenggam tangannya – berusaha memberikan kehangatan padanya.
“Oppa, jangan menangis. Aku tak ingin melihatmu seperti ini.” Ucapku lirih.
“Sudahlah, Changmin-ah. Kau percaya, kan?” Yunho oppa mencoba menghibur. Walaupun dia juga pasti merasakan sakit di hatinya. Aku menatap Yunho oppa.
“Apa benar kita memang akan kembali seperti dulu, hyung?” tanya Minnie oppa sesenggukkan. Hatiku terasa sakit mendengarnya. Kutatap Yunho oppa penuh arti.
“Percayalah. Pasti kita bisa. Tak akan ada rasi bintang Cassiopeia kan kalau bintangnya tak lengkap?” ucap Yunho oppa. Aku tersenyum.
“Benar! Kau harus percaya itu oppa! Kalian adalah bintang-bintang terbaik. Mungkin kalian sekarang memang tak bersama. Tapi ikatan di antara kalian tak akan pernah putus. Karena itu kan ada rasi itu? Ingatlah itu, oppa!” ucapku semangat.
Minnie oppa menatapku. Dia mengusap air matanya. Dia lalu tersenyum. Betapa senang hatiku melihatnya tersenyum. “Kau benar, Yoora-ah!”
“Aish, sejak kapan aku salah, hah?” kedua oppa-ku tertawa. Aku ikut tertawa. Bahagia sekali melihat mereka dapat tertawa seperti ini.
Ya, aku percaya akan ada saat di mana mereka akan kembali bersama. Mungkin tidak sekarang. Tapi nanti, pasti. Tak akan kubiarkan bintang-bintangku meredup. Cahaya mereka akan tetap bersinar. Dan membentuk rasi bintang yang kuat. Cassiopeia. Ah, rasi itu memang rasi favoritku.
“Ah, lihat itu. Bintang sudah mulai muncul di langit!” tunjukku ke arah langit yang kulihat melalui jendela. Mereka ikut menatap ke arah yang kutunjuk.
“Kau benar.” Ucap Yunho oppa. Dia bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah jendela. Aku dan Minnie oppa mengikutinya.
“Lihat! Itu bintang kita!” Minnie oppa menunjuk ke rasi bintang Cassiopeia, rasi bintang mereka.
“Benar, kan? Rasi itu saja masih tetap bertahan walau mereka sudah ada sejak lama di sana.” Ucapku.
Minnie oppa mengacak rambutku. “Haha. Kau benar Yoora-ah. Kau memang adikku yang hebat!” ucap oppa memujiku.
Aku tertawa. “Haha. Adik siapa dulu, dong!” kataku mengundang kembali tawa di antara kedua oppa-ku. Kami kembali melihat ke langit. Benar-benar indah langit hari ini. Bertaburkan bintang-bintang yang berkilauan.
Aku menatap kedua oppa-ku. Kulihat sudah ada cahaya harapan di mata mereka. Aku tersenyum. “HWAITING!” kataku.
“HWAITING!” balas mereka.
“Dan satu lagi oppa, always keep the faith!”
Mereka terperangah. Mereka tersenyum lembut padaku. “ALWAYS KEEP THE FAITH!” teriak mereka. Kami lalu tertawa bersama. Mereka mengusap rambutku lembut. Hangat. Syukurlah mereka sudah mulai kembali bersinar.
Ya, always keep the faith!
Ikatan antara orang-orang tak akan bisa putus. Tak akan pernah. Itu karena ada kekuatan yang bernama kepercayaan, harapan, persahabatan, dan kasih sayang. Kekuatan itulah yang dapat menjaga ikatan itu walapun di luar eksistensi ruang dan waktu. Seperti rasi bintang yang terdiri dari bintang-bintang yang membentuk sebuah ikatan. Itulah rasi bintang.
Percayalah. Mereka akan kembali. Pasti. Suatu saat nanti, dikelilingi para Cassiopeia yang membentuk lautan red ocean. Dalam satu panggung. Menyanyi dan menari bersama.
Karena di tubuh mereka sudah terukir ikatan yang erat. Always keep the faith!
.
.
.
.
.
Ini adalah fanfic pertamaku di fandom seperti ini. Biasanya juga aku menulis fanfic untuk fandom anime. Jadi, maaf jika masih banyak kekurangan di sini.
Fanfic ini kubuat untuk mengungkapkan perasaanku. Karakter yang kubuat di sini, Yoora, adalah karakter yang menceritakan perasaanku sebagai seorang cassie. Maaf jika ada cassie yang lain yang tidak menyukai ini. Tapi, aku hanya ingin menuliskan perasaanku saja. Habis, nggak enak kalau hanya dipendam terus…
Tapi, terlepas dari itu semua, aku benar-benar mengharapkan mereka kembali seperti dulu – berlima. Karena sampai kapan pun mereka adalah idolaku, bintangku.
Always keep the faith!

ALWAYS KEEP THE FAITH

Aku tak menyadari kalau selama setahun ini aku begitu naïf…
Saat TVXQ dilanda masalah, aku sangat sedih. Aku tak ingin mereka bertengkar atau apa pun itu. Tapi aku juga tak bisa melakukan apa pun. Mereka adalah idola-ku. Idola yang kusayangi. Mereka adalah orang-orang yang hebat.
Selama satu tahun aku terus percaya kalau masalah yang melanda mereka tidak akan membuat mereka terpecah. Ya, sejak masalah mereka muncul di publik, mereka sudah digosipkan akan bubar.
Aku tidak mau hal itu terjadi! Sebagai seorang cassie, aku tak akan mau salah satu dari bintang-ku menghilang. Cassiopeia itu adalah rasi yang terbentuk dari beberapa bintang, kan? Kalau ada yang hilang, tentu itu bukan Cassiopeia. Tak mungkin disebut rasi Cassiopeia lagi.
Tapi, ternyata aku salah. Setelah satu tahun konflik itu, mereka pun terpecah. 3 member mereka, Jaejoong, Yoochun, dan Junsu keluar dan membentuk JYJ. Aku benar-benar sedih. Tak pernah terpikirkan – dan tak mau kupikirkan kalau mereka akan seperti itu.
Setelah itu, aku memutuskan untuk tetap menyukai mereka – apa pun yang terjadi. Tapi, aku ini benar-benar bodoh. Aku dengan cepat langsung melupakan mereka. Memang, aku masih sering mendengar lagu-lagu mereka. Tapi aku selalu bersikap seakan-akan aku tak peduli dengan terpecahnya mereka.
Aku tahu para cassie yang lain juga menjadi kalut. Yang lainnya juga menyalahkan tindakan yang di ambil jyj. Jujur saja, aku salah satunya. Aku membenci mereka, menyalahkan keputusan mereka. Sampai pada akhirnya aku mulai melupakan mereka.
Aku juga sudah tidak lagi begitu menyukai sesuatau yang berhubungan dengan Korea. Melihat orang-orang yang dengan semangat membicarakan idola mereka, aku hanya mengalihkan perhatianku dari mereka.
Aku ini memang bodoh, ya…
Dan lebih parahnya, aku baru bisa menyadarinya setahun kemudian.
Aku sering terlibat pembicaraan dengan teman-temanku di sekolah tentang artis-artis Korea. Dan entah kenapa, ada sesuatu di hatiku yang seperti terisi kembali. Aku kembali menjadi semangat sama seperti dulu saat mendengarkan nyanyian mereka.
Tapi, itu belum cukup membuatku sadar kalau aku ini Cassiopeia. Sampai pada akhirnya aku membaca cerita tentang mereka. Aku menangis. Jujur saja, aku bukan tipe orang yang akan menangis karena idolanya. Bisa kuhitung, hanya sekali aku seperti itu.
Tapi aku benar-benar menangis. Saat aku mengangkat kepalaku dan mengalihkan pandanganku dari cerita yang kubaca, tanpa kusadari air mataku sudah mengalir di pipiku. Aku tak percaya. Aku menangis terisak-isak. Setelah aku sudah bisa kembali mengendalikan emosiku, aku meneruskan membaca. Aku tersenyum. Kurasa aku sudah mulai mengerti. Tapi ini belum cukup. Aku tahu aku harus mencari sesuatu.
Satu hari penuh aku mencari ‘itu’. Mataku sampai sakit karena kebanyakan nangis. Tapi aku sangat bahagia karena akhirnya aku bisa menemukannya!
Kalian mau tahu apa ‘itu’?
Aku menemukan alasannya.
Cassiopeia tetaplah Cassiopeia. DBSK tetaplah DBSK. Memang, mereka sudah tak lagi berada dalam panggung yang sama. Tapi apakah sesuatu dapat semudah itu terputus? Tidak. Aku tahu itu tidak akan. Selalu akan ada ikatan yang mengikat mereka.
Yang harus kulakukan sekarang adalah terus percaya bahwa suatu saat nanti, mereka akan kembali berlima, menjadi rasi bintang yang bercahaya seperti dulu. Karena Cassiopeia tetaplah Cassiopeia – rasi dengan bintang yang sangat indah yang membentuknya. Karena rasi itu telah memberi ikatan yang kuat pada bintang-bintangnya.
Suatu saat nanti mereka akan kembali. Di satu panggung yang sama. Dikelilingi para Cassiopeia dengan lightstick merah yang membentuk red ocean. Dan hanya satu nama yang akan kami – para cassie teriakan, TVXQ! Tak ada yang lain. Yang ada hanya TVXQ!
CASSIOPEIA
Rasi bintang kita…
RED OCEAN
Identitas kita…
Dan…kata-kata yang akan selalu terukir di tubuh kita,
ALWAYS KEEP THE FAITH!
Ya. Aku percaya pada kalimat itu. Karena itulah aku percaya mereka akan kembali bersama lagi. Selamanya, mereka adalah satu. Ya, mereka akan kembali…
HERO Jaejoong, U-KNOW Yunho, MICKEY Yoochun, XIAH Junsu, MAX Changmin
Mereka akan kembali…
Dalam satu nama
TVXQ
Dalam satu rasi bintang
CASSIOPEIA
Dalam satu lautan
RED OCEAN
Dan dalam satu kalimat yang mempersatukan mereka
ALWAYS KEEP THE FAITH

CASSIOPEIA ALWAYS KEEP THE FAITH!
DONG BANG SHIN KI ALWAYS KEEP THE FAITH!


Why? (Keep Your Head Down) by TVXQ

Keep your head down
U-Know time
Max~
You know what time it is?
This is return of the king

(Modu kkeutnabeoryeotda) Nan sijakdo an haebwanneunde
(Heeojyeo beoryeotda) Nan iyujocha mot deutgo
Jubyeon saramdeul modu hanagachi nalbogo
Neo wae geurae wae geurae wae geurae nan imi nappeun nom
(Joeramyeon) Neol saranghan ge joeramyeon
(Geuge joeramyeon) Jinsilhaetdaneun ge joeramyeon
(Naneun Keep it low naneun Keep it low)
Nan chamanaego nae jaril jikyeo

(Keep your head down)
Neon jeongmal yeppeujiman neomu dareun neoui sogi nan neomu duryeowo
(Keep your head down)
Saranghaetda hajiman nan ije neol noketda

(Wae?) Nal geureoke swipge tteonanni
(Wae?) Naega swiwo boyeotdeon geoni
(Wae?) Nae gaseumeun jjijeojijanha (wae?)
(Wae?) Modu hansunganui kkumieotdamyeon
(Wae?) Barojabeul sigani isseotdamyeon
(Wae?) Jebal nega haengbokhagil baraetda (wae?)

Na eonjena eonjena neoreul gajin geollo chungbunhaetgo
Sesangi mworaedo gateun kkumeul kkwoseo haengbokhaetgo
Jigeumeun neol bonaege dwaetjiman eochapi nae gireul gal ppunigo
(Now I'm just chillin', feel like I'm healing)
[ Lyrics from: http://www.lyricsmode.com/lyrics/d/dbsk/keep_your_head_down.html ]
(Neujeobeoryeotda) Neon dasi doragal su eopdanda
(Nega eopdamyeon) Nan muneojil geora mitgetji
Yejeonbuteo neon geugeon chakgagirago
Naega wae geurae wae geurae wae geurae neol tailleotjanha
Hey! Nan jeongmal, jeongmal seulpeotda cheori eopdeon nega
Hoksirado nappeun saram mannalkka Why? Baby~

(Keep your head down)
Neon jeongmal yeppeo geunde geuppuniya ne gaseume jungyohan ge eomneungeol
(Keep your head down)
Sarangui apeumeul chamneun gaseume mot bakgo

(Wae?) Nal geureoke swipge tteonanni
(Wae?) Naega swiwo boyeotdeon geoni
(Wae?) Nae gaseumeun jjijeojijanha (wae?)
(Wae?) Modu hansunganui kkumieotdamyeon
(Wae?) Barojabeul sigani isseotdamyeon
(Wae?) Jebal nega haengbokhagil baraetda (wae?)

Ha! Geureoke neo saram gatgo jangnan, jangnan chiji mara
Nae apeseon yoraejorae geojitmalmaneul neureonoko
Nuga bwado nuga bwado neon jeongmal ijungjeogiya
(Wae wae wae) Sujeong gatdeon maeumdeuri eonje geureoke takhaejyeonni

Sarangeul kkeutnaetda neol bonaen gaseum I teong biwojyeotda
Hajiman nae miraeneun machi ireonaseo useurago sonjitanda
Neoreul bonaenda jeongmal haengbokhage sara
(Wae wae wae) Meon hutnare meon hutnare geunyang pyeonhage utgo sipda
Haha

(Wae?) Wae (wae?)
(Wae?) Sarangeul geureoke swipge nwabeorineun neoreul
(Wae?) Nugunga geokjeonghal georan saenggageun haebwanna
(Wae?) Nega nwa beorin ge neoneun mwonji
(Wae?) Ajik moreuneun geot gata
(Wae?) Geudaero meomulleo nareul jikyeobwa (wae?)
Yeah~

(Keep your head down)
Jiwojyeotda, sarajyeotda nae gaseume nega jugeo modu tabeoryeotda
(Keep your head down)
Jiwojyeotda, sarajyeotda nae gaseume nega jugeo neoneun ije eopda

Kiss The Baby Sky by Tohoshinki

Yo, I'm talking about my Baby
I'm just trying to sing know what
History
Another original, come on!

Zutto boku ni wa mabushikatta
Sou egao ga niau kimi
Mou nakanaide
Dakishimetaku naru kara
Kimi ni
Goodbye Goodbye
Sayonara wa iwanai
Dakara saki ni se o mukete
You'll be fine still be mind

Baby Sky All in the dreams and hopes made of your eyes
Ashita mo kitto hareru
sonomama no kimi de ite with me

Yeah
How you guys been so far?
You guys with me? Come on!

Another day mezamete futokizuita
Kesazuni oita shashin no futari wa
Itsumademo waratteiru
Good day Good time
Tsutsunde ita Your heart
Sora ni te o nobashi hanatsu
Kiss the blue sky, your sky

Baby Sky All in the dreams and hopes made of your eyes
Ashita mo kitto hareru
sonomama no kimi de ite with me

Yeah, TVXQ
My Hero, my Max, my U-Know, my Xiah and Micky
We're the one, eternally~
Everytime I see your smile on the pictures
My Heart can't imagine how it wants, it's supposed to feel
I'm singing(it's my voice)
All your hugs and kisses, Love
Again we can go back to our good old days

All I do is reminisce this time
Today it was you and I
Darling I know you can give me no more
Every line you wrote, the smile
Time to move on

Never cry. Never ever hide of myself prime
Mirai wa kitto warau
Sonomama no kimi de ite with me
Baby Sky All in the dreams and hopes made of your eyes
Ashita mo kitto hareru
Sonomama no kimi de ite with me

Never cry. Never ever hide of myself prime
Mirai wa kitto warau
Sonomama no kimi de ite with me
Baby Sky All in the dreams and hopes made of your eyes
Ashita mo kitto hareru
Sonomama no kimi de ite with me

You're the Love of my Life~

Baby Sky All in the dreams and hopes made of your eyes
Ashita mo kitto hareru
sonomama no kimi de ite with me

Saturday, 17 September 2011

Share The World by Tohoshinki

Ano oozora ni todoku made
I Believe hitotsu no ashita he (hey)

Come on, let’s go everybody
Oh we share the music
Come on, let’s go baby baby
Oh we share the one dream
Come on, let’s go everybody
Oh we share the good times
Come on, let’s go baby baby
Oh we share the one world

Kurayami mayoikomi
tesaguri de nazotoki
Yukisaki miezu ni
tachidomaru toki
Umm you and me yes kimochi
wakachiau sekai ni
Michibiki I feel the beat
arukidashiteku oh yeah

Share the music, itsudatte
Share the one dream, shinji atte
Share the good times, te wo tsunaide
Share the one world now

Ano oozora ni todoku made
nandodemo boku wa yukunda
Ima koso koete yukou
I believe hitotsu no ashita he

yeah yeah...

Come on, let’s go everybody
Oh we share the music
Come on, let’s go baby baby
Oh we share the one world

Oikake owarete
mebiusu no wa no ue
Chikazuki maemuki
nee share shitaiyo style
Hajimaru hirogaru
souzou ijou kono flavor
Karada juu I feel so good
jiyuu ni nareru oh yeah

Share the music, tooku tatte
Share the one dream, tsutae atte
Share the good times, sou waratte
Share the one world now

Mienai kabe no mukou gawa ni
matteiru kimi ga itanda
Mou sugu ni todoku kara
I believe hitotsu no sekai he
Come on, let’s go everybody,
Oh we share the music
Come on, let’s go baby baby,
Oh we share the one dream
Come on, let’s go everybody,
Oh we share the good times
Come on, let’s go baby baby,
Oh we share the one world

Ano oozora ni todoku made
nandodemo boku wa yukunda
Ima koso koete yukou
I believe hitotsu no ashita he

yeah yeah...

Mienai kabe no mukou gawa ni
matteiru kimi ga itanda
Mou sugu ni todoku kara
I believe hitotsu no sekai he

Yeah yeah...

Come on, let’s go everybody,

Oh we share the music
Come on, let’s go baby baby,
Oh we share the one dream
Come on, let’s go everybody,
Oh we share the good times
Come on, let’s go baby baby,
Oh we share the one world

Tuesday, 13 September 2011

Mengenai Divisi 10 Gotei 13

Kapten Divisi 10: Hitsugaya Toushirou

Bunga lambang divisi: Narcissus (misteri dan egoisme)
Caption: Semangat yang beku

Data Pribadi

Tanggal lahir: 20 Desember
Tinggi: 133 cm
Berat: 28 kg
Zanpakutou: Hyourinmaru
Release command: "souten ni zase, Hyourinmaru"
Bankai: Daiguren Hyourinmaru
Warna bagian dalam haori: hijau tua
Minat: tidur sore
Keahlian: memainkan gasing
Makanan: suka nattou yang manis. Tidak menyukai kesemek kering.
Cara melewati waktu luang: mengunjungi rumah neneknya di Rukongai, mengunjungi Jidanbou

Battle Status

Power: 80
Defence: 80
Mobility: 90
Kidou/Reiatsu: 90
Intelligence: 80
Stamina: 80

Semua keahliannya sudah mencapai level yang tinggi. Karena dia dapat menangani segala jenis pertarungan, dia selalu ada pada misi-misi penting.

Deskripsi Karakter

Divisi 10 dipimpin oleh sang anak jenius, Hitsugaya Toushirou-taichou. Karena dia mengawasi sampai shinigami tingkat paling rendah sekalipun, semuanya selalu bekerja dengan serius (kecuali fukutaichou-nya).

Anak ajaib ini adalah orang yang paling muda untuk dijadikan kapten. Kekuatannya dalam bertarung tidak perlu ditanyakan lagi, administrasi juga dilakukan dengan sempurna. Masalah penambahan tingginya yang nampaknya belum signifikan sangat diprihatinkan oleh bawahannya.

Special Information (Top Secret)

Nattou manis adalah makanan kesukaan nenek tua yang menjaganya di Rukongai, dan sejak dahulu kala dia memakannya, dia tetap menyukainya sampai sekarang. Kadang-kadang neneknya akan mengirimkan makanan ini ke kantor divisinya. Sejak dulu Jidanbou adalah teman dekatnya. Dia sangat ahli memainkan gasing, dan pada masa-masa kecilnya, dia dianggap tidak bisa dikalahkan di Distrik 1 Rukongai Barat, Juurin-an, dimana dia tinggal dulu. Semangat kerjanya datang dari keinginannya untuk menyelesaikan pekerjaan secepat mungkin agar dia bisa kembali ke kamarnya untuk tidur siang. Dia mempercayai dengan teguh perkataan neneknya bahwa "anak yang tidur akan tumbuh besar", dan oleh karena itu, dia menjalankan kata-katanya dengan setia. Benar-benar anak nenek.

---
Kapten Divisi 10: Matsumoto Rangiku

Data Pribadi

Ulang tahun: 29 September
Tinggi: 172 cm
Berat: 57 kg
Zanpakutou: Haineko
Release Command: "howl, Haineko" atau "unare, Haineko"
Minat: Tidur siang
Keahlian Khusus: Tari tradisional Jepang
Makanan: Suka kesemek kering. Tidak suka rebung.
Cara menghabiskan waktu: Mencari orang yang sedang luang dan mengajak mereka untuk minum, bertandang ke toko kain.

Deskripsi Karakter

Wanita cantik yang menggairahkan dengan daya tarik yang dewasa di pasukan Gotei 13. Dengan kepribadiannya yang berpikiran luas, kemungkinan bagi para pria di ke-13 divisi untuk menolaknya.... adalah 0.

Informasi Khusus (Top Secret)
Dia tidak menyukai rebung karena rasanya yang tajam dan kuat dan karena rebung membuat kulitnya kasar. Dengan kesukaannya pada tarian Jepang, selain seragam shinigaminya, dia memiliki cukup banyak kimono yang dibuat khusus di toko kain. Karena minum-minum memerlukan uang, saat ia ingin minum dia akan mengajak yang lainnya untuk ikut, jadi mereka akan mentraktir dia minum. Teman minumnya adalah Shuuhei dan Shunsui.
Dia suka pesta minum-minum. Selama hari liburnya, dia akan ‘menangkap’ anggota divisi yang sedang kosong dan minum bersama mereka sepanjang hari.

Saturday, 3 September 2011

The Shiny Journey Chapter 1

The Beginning
Ini adalah cerita tentang seorang Hotaru, anak yang penuh semangat dan keingintahuan. Dan cerita ini bermula dari liburan musim panas yang panjang. Hotaru dan sepupunya, Hinata, akan memulai perjalanan mereka bersama kedua teman mereka, Shin dan Yayoi.
‘Menjadi seorang petualang tentu tidaklah mudah. Akan ada banyak yang menanti dan menghadang mereka jauh di sana. Perjalanan mereka sudah ditakdirkan untuk penuh dengan banyak hal. Itulah yang akan membuat perjalanan mereka berkilau, sebagaimana mereka mempunyai jiwa yang bersinar.’
.
.
“Hotaru!! Kenapa kau lama sekali, sih? Apa yang kau lakukan?” teriak Hinata tidak sabar pada Hotaru. Akhirnya Hotaru keluar dari kamarnya dengan membawa sebuah tas di punggungnya. Pedang Hotaru disarungkan di pinggangnya.
“Huh, akhirnya kau keluar juga Hotaru. Kenapa kau lama sekali, sih?!” bentak Hinata.
“Maaf, maaf. Aku agak lama memilih barang apa yang akan aku bawa. Lalu bagaimana denganmu?” Hotaru balik bertanya.
“Yah, aku sudah siap dari tadi, tidak sepertimu. Nah, sekarang lebih baik kita bergegas ke tempatnya Shin dan Yayoi. Aku yakin mereka sudah menunggu kita.” Hinata pun mengambil tasnya yang ditaruhnya di tempat duduk dan menaruh tas itu dipunggungnya. Dia lalu menyarungkan pedangnya, Shine Blade di pinggangnya.
“Hoh, kalian sudah siap, ya?” Viel, ibu Hotau dan bibi Hinata datang untuk melihat keadaan kedua orang itu.
“Ya bu. Kami sudah siap. Kakek dimana, bu?” tanya Hotaru yang dari tadi tidak melihat kakeknya itu.
“Kakek kalian ada di ruang keluarga. Kalian harus menemuinya karena kelihatannya ada beberapa hal yang ingin kakek sampaikan pada kalian.” jawab Viel sambil membetulkan tas Hotaru yang miring.
“Okay. Kalau begitu, ayo kita temui kakek!” ajak Hotaru seraya menarik tangan Hinata dan berlari. Otomatis Hinata yang ditarik tangannya ikut berlari.
“Hei, Hotaru! Jangan tarik-tarik tanganku saat kau berlari! Tasku berat, tahu!” bentak Hinata yang kesusahan menahan tasnya agar tidak jatuh.
“Oh, maaf ya Hinata. Hehe…” ucap Hotaru memperlihatkan senyumnya yang lebar. Hotaru pun berhenti berlari dan melepas tangan Hinata. Mereka pun memilih berjalan cepat. Sesampainya di ruang keluarga, mereka melihat kakeknya yang sedang berdiri menghadap mereka.
“Sepertinya kalian sudah siap, ya Hotaru, Hinata?” tanya kakek mereka lembut.
“Iya, kek. Kami berdua sudah siap. Bibi bilang ada sesuatu yang ingin kakek sampaikan. Apa itu, kek?” tanya Hinata.
“Kakek hanya ingin mengatakan kalau kalian tidak boleh menyusahkan orang lain. Kalian juga harus membantu orang yang benar-benar membutuhkan bantuan kalian.” nasehat kakek mereka.
“Tentu saja, kek. Kami akan mengingat hal itu.” ucap Hotaru semangat. Hinata menganggukkan kepalanya. Kakek pun tersenyum.
“Ada sesuatu yang ingin kakek berikan untuk kalian.” ucap kakek. Dia pun mengambil kotak kayu antik kecil yang ada di lemari di ruangan itu. Lalu kakek membawa kotak itu ke hadapan Hotaru dan Hinata. Mereka berdua hanya bisa menatap bingung.
“Apa itu?” gumam mereka berdua. Lalu kakek pun membuka kotak itu. Di dalamnya ada dua buah kalung berwarna putih dengan batu kristal sebagai bandul kalung itu. kristal yang satu berwarna kuning cerah dan satunya lagi berwarna merah cerah.
“Eh, kalung?! Untuk apa ini, kek?” tanya Hotaru heran.
“Wah, kalung yang indah.” Hinata hanya bisa memandang takjub pada kedua kalung itu.
“Kedua kalung ini akan kakek berikan pada kalian berdua. Keduanya saling berhubungan satu sama lain. Kalung ini akan memberitahu kalian keberadaan kalian saat sedang terpisah. Kalung ini juga akan membantu kalian jika kalian harus terpaksa bertarung.” jelas kakek. Kakek lalu memberikan kalung crystal warna merah untuk Hotaru dan warna kuning untuk Hinata. Mereka berdua pun langsung memakai kalung itu.
“Kakek harap kalian dapat menjaga kalung ini dengan baik.” ucap kakek.
“Pasti, kek. Kami pasti akan menjaga kalung ini sebaik-baiknya.” ucap Hotaru mantap.
“Terima kasih untuk kalungnya, kek. Kami berjanji akan menjaga kalung ini juga diri kami sendiri.” janji Hinata. Mendengar apa yang dikatakan kedua cucunya itu, kakek pun hanya dapat tersenyum.
“Ya, kalian memang harus menjaga semua itu. Ibu harap kalian bisa menepati perkataan kalian itu. Ingat, tempat yang nantinya mungkin akan kalian singgahi berbeda dengan tempat tinggal kita.” nasehat ibu.
“Ya, bu. Akan kami ingat itu. Baiklah. Semua sudah siap? Ayo kita berangkat!!” Hotaru pun langsung berlari keluar rumah.
“Hotaru, jangan tinggalkan aku!” Hinata pun langsung berlari mengejar Hotaru. Ternyata di luar Shin dan Yayoi sudah menunggu dari tadi.
“Yo, kalian sudah menunggu lama, ya? Ayo kita pergi!!” ucap Hotaru semangat. Tiba-tiba seseorang memukul kepalanya dari belakang. Hotaru pun merengut kesakitan.
“Kan sudah kubilang tunggu aku. Kenapa kau malah lari!? Membuatku susah saja.” bentak Hinata.
“Aduh, maaf, maaf Hinata. Aku terlalu semangat.” ucap Hotaru sambil memegang kepalanya.
“Huh, kau tetap seperti biasa, ya.” ucap Shin sarkastik.
“Kau berisik sekali, sih.” ucap Yayoi.
“Kalau begitu kami pergi dulu, bu, kek. “ kata Hotaru pada kedua orang tua itu.
“Jangan kawatir. Kami akan baik-baik saja.” tambah Hinata.
Mereka pun pergi dan menghilang dengan cepat dari pandangan Viel dan Aoyagi. Ya, mereka pergi untuk memulai perjalanan mereka. Ini baru permulaan. Akan ada banyak hal yang akan mereka temui dan ketahui nantinya. Angin pun bertiup membuat awan-awan bergerak mengikuti mereka berempat.

Thursday, 18 August 2011

Hei, cepat datang!

Hei, cepat datang!

Bangunkan aku!

Aku sendiri disini…

Selalu sendiri…

Tak bisakah aku terlihat, nyata, dan diakui ada keberadaannya?

Hei, cepat datang!

Sebentar lagi aku akan menghilang.

Eksistensi yang akan menghilang.

Cepat datang dan cegah aku!

Teriakan namaku maka aku akan tersadar, terbangun dari mimpi buruk ini.

Tarik aku dari dalam kegelapan ini!

Jiwaku akan segera habis ditelannya.

Jiwa yang menyimpan banyak kesedihan akan lebih cepat habis.

Tak ada waktu lagi. Sebentar lagi bom waktu akan meledak.

Saat itu tiba, eksistensiku akan lenyap.

Cepatlah!

Jika kalian ingin aku tetap ada, bangunkan aku!

Kesadaranku semakin berkurang.

Tenagaku perlahan mulai habis.

Aku bukanlah piramida yang bisa bertahan lama.

Aku bukanlah matahari yang belum akan menjadi bintang yang mati.

Aku mempunyai batas.

Dan batasku semakin dekat.

Waktuku akan segera habis.

Eksistensiku sangat terbatas.

Aku semakin tertinggal di belakang.

Langkahku mulai terhenti.

Hei, teriakan namaku!

Bantu aku mempercepat langkahku!

Sedikit demi sedikit aku menjadi serpihan-serpihan yang akan diterbangkan angin.

Aku semakin lelah.

Tak mampu lagi bertahan.

Hei, cepat datang!

Bangunkan aku!

Mimpi buruk ini semakin menarikku ke dasar yang kelam.

Mereka takkan melepasku karena aku semakin lenyap.

Aku menunggu kalian.

Aku serahkan semuanya pada kalian.

Hei, cepat datang!

Bangunkan aku!

Kesemuan

Aku tidak tahu mengapa aku ada di sini. Aku terlalu lelah untuk memikirkan alasannya. Tak ada seorang pun yang tahu mengapa dia dilahirkan. Aku hanya satu dari sekian banyak orang yang tak mengerti tentang itu. Yang aku tahu aku ini semu. Keberadaan yang semu yang tak punya tempat dimana pun.
Aku menyukai kesendirian. Itu karena aku hidup dengan kesendirian. Ya, sejak dulu aku selalu sendiri. Walaupun di sekitarku ada banyak orang, aku tetap saja sendiri. Dan jangan pernah berpikir kalau aku akan merasa sedih.
Tidak. Aku tak merasa sedih. Aku tak merasakan apa pun. Itu karena aku sudah terbiasa dengan kesendirian, kesepian, dan kehampaan. Oh, jangan lupa dengan kesemuan.
Dari sekian banyak perasaan yang ada, yang pasti akan kurasakan tiap harinya adalah kesemuan. Aku tak tahu kenapa begitu. Mungkin karena aku ini semu. Hidupku memang semu. Tapi aku tak tahu mengapa hidupku jadi seperti itu.
Apakah ada yang salah? Kalau begitu, siapa yang salah? Karena siapa? Aku harus menyalahkan siapa?
Aku terlalu lelah untuk memikirkannya. Dan aku juga tak mau memikirkan hal yang kurasa tak penting itu.
Mungkin kalian pikir aku terlalu santai karena aku menganggap apa yang terjadi dalam hidupku itu tidak penting. Heh. Jangan membuatku tertawa. Itu karena aku tahu aku akan baik-baik saja tanpa perlu mengetahui semua jawaban untuk pertanyaan dilema hidupku.
Aku memang bukan orang yang kuat. Di balik senyum yang selalu kuperlihatkan pada orang-orang, aku hanya seseorang yang hampa, yang semu. Aku bukanlah cahaya yang dapat bersinar dengan indahnya dan membuat orang terkagum-kagum.
Aku bukanlah angin yang dapat membelai lembut orang-orang dan menerbangkan semua masalah mereka hingga membuat mereka tenang. Aku bukanlah air yang membasuh dan menyucikan orang-orang. Aku bukanlah tanah yang menjdai tempat berpijak semua orang. Aku bukanlah api yang bisa menghangatkan mereka. Aku bukanlah udara yang menjadi akar kehidupan setiap manusia. Aku bukanlah hujan yang dapat membasahi dan menyamarkan air mata orang-orang yang dilanda kesedihan. Aku bukanlah halilintar yang bergema yang menandakan perasaan orang-orang. Aku bukanlah badai yang akan membuat orang-orang terkumpul dan menenangkan yang lainnya. Aku bukanlah pelangi yang indah yang dapat membuat orang tersenyum. Aku bukanlah salju yang putih, yang suci.
Aku hanyalah semu. Tak berarti apa pun. Semu.
Walaupun begitu, tak ada yang ingin kuubah. Biarkan saja tetap seperti itu. Karena mungkin dengan begitu, aku dapat mempertahankan keberadaanku. Lagipula, walaupun keberadaanku tak akan bertahan lama, aku sudah cukup puas dengan hidupku. Tak ada yang bisa kusesali. Tak ada yang perlu kusesali. Ini saja sudah cukup.
Tapi…sebelum semuanya berakhir, apakah aku dapat bersikap egois sedikit saja?
Kalau ya, tolong katakan padaku kalau aku tak sendiri…
.
.
.
.
.
Disguise Bye Lene Marlin

Have you ever felt some kind of emptiness inside
You will never measure up, to those people you
Must be strong, can’t show them that you’re weak
Have you ever told someone
something That’s far from the truth
Let them know that you’re okay
Just to make them stop All the wondering, and questions they may have
I’m okay, I really am now
Just needed some time, to figure things out
Not telling lies, I’ll be honest with you
Still we don’t know what’s yet to come
Have you ever seen your face, In a mirror there’s a smile
But inside you’re just a mess, You feel far from good
Need to hide, coz they’d never understand
Have you ever had this wish, of being Somewhere else
To let go of your disguise, all your worries too
And from that moment, then you see things clear
I’m okay, I really am now
Just needed some time, to figure things out
Not telling lies, I’ll be honest with you
Still we don’t know what’s yet to come
Are you waiting for the day
When your pain will disappear
When you know that it’s not true
What they say about you
You could not care less about the things
Surrounding you… Ignoring all the voices from the walls
I’m okay, I really am now
Just needed some time, to figure things out
Not telling lies, I’ll be honest with you Still we don’t know what’s yet to come
I’m okay, I really am now
Just needed some time, to figure things out
Not telling lies, I’ll be honest with you
Still we don’t know what’s yet to come…
Still we don’t know what’s yet to come…
Still we don’t know what’s yet to come…

Magical Light;Chapter 7

Saat mereka sedang berbincang-bincang tentang tugas apa yang nantinya akan mereka terima, tiba-tiba Light membalikkan tubuhnya. Raut wajahnya saat itu sulit dijelaskan.
Melodi kaget melihat Light. Melodi pun bertanya, “Light, ada apa?”
“E..entah kenapa aku merasa familiar dengan suasana disini…” jawab Light pelan.
“Heh… Apa maksudmu Light?”
“…” Light tidak menjawab. Dia malah berjalan kea rah belakang gedung. Melodi yang bingung memutuskan untuk mengikuti Light.
Di belakang gedung departemen terdapat taman yang besar. Tapi ada yang lebih menarik perhatian dari tempat itu. Di tengah taman itu terdapat sebuah pohon maple. Berbeda dengan taman yang ada di depan gedung yang mempunyai banyak pohon maple, disini hanya terdapat satu pohon maple, dan pohon itu terdapat tepat di tengah-tengah taman ini.
Light pun berjalan ke arah pohon itu. Melodi terus mengikuti Light sampai mereka berhenti tepat di tengah taman itu. Ya, sekarang mereka berada di bawah pohon maple itu.
“Light, sebenarnya ada apa? Kenapa kau kesini?” Melodi akhirnya bertanya kembali.
“Aku tidak tahu. Kakiku membawaku kesini…” jawab Light. Melodi terdiam mendengarnya. Dia lalu mendekat ke pohon maple itu dan memperhatinkannya.
“Ng, Light, coba lihat ini. Batang pohon ini seperti ada ukirannya.” ucap Melodi.
Memang benar. Jika diperhatikan seksama, ada ukiran aneh pada batang pohon itu. “Benar juga. Tapi aku tidak bisa membaca ukiran ini. Sepertinya ukiran ini sudah lama dibuat.” Melodi mengangguk.
Saat Melodi menatap Light, dia benar-benar kaget melihat kalung Light bersinar. “Hah!? Li..Light…kalungmu bersinar?!”
“Eh?! Oh, benar juga.” Light lalu melepaskan kalung dari lehernya. Yang mengeluarkan cahaya itu batu crystal yang jadi bandul kalung itu.
“Bagaimana bisa…?” heran Melodi.
“Eh? Kenapa cahaya tidak hilang?”
“Hilang?”
“Ya. Biasanya jika kau melepaskan kalung ini dari leherku, cahanya akan hilang .” jelas Light.
Lama mereka menatap kalung itu. Saat itu ada sehelai daun maple gugur dari pohonnya dan jatuh tepat di atas batu crystal yang dipegang Light. Dan entah kenapa, cahaya dari crystal itu menghilang.
“Eh??!” mereka berdua kaget. “Ini aneh. Tidak biasanya crystal ini bercahaya seperti tadi. Padahal biasanya cahayanya langsung hilang.” ucap Light.
“Tunggu dulu! Aku butuh penjelasan. Kenapa crystal itu bersinar? Dan tadi kau bilang ‘biasanya’. Apa crystal itu memang sering bersinar?” tanya Melodi beruntun.
“Whoa, Melodi. Tenanglah. Akan kujelaskan semuanya. Tapi sebelumnya, kau harus berjanji akan merahasiakan ini.” ucap Light memberi syarat.
“Untuk apa? Tapi, baiklah. Aku akan merahasiakannya. Sekarang, jelaskanlah!” mereka berdua lalu duduk bersandar pada pohon maple.
“Kalung ini…adalah hadiah yang kudapatkan dari nenekku ketika aku berulang tahun yang ke-7.” Light mulai menjelaskan. “Waktu itu, ini hanya sekedar kalung biasa yang indah dengan batu crystal. Tapi…” Light menggantung kalimatnya.
“Tapi?” tanya Melodi penasaran.
“Ketika aku berusia sepuluh tahun, nenekku sakit dan meninggal. Sebelum dia meninggal, dia meninggalkan pesan terakhirnya untukku. Dia bilang aku harus menjaga kalung ini dengan baik. Dia juga bilang kalau aku harus menjadi cahaya yang dapat menyinari kegelapan.”
Light berhenti untuk melihat reaksi Melodi. Tapi Melodi hanya diam. Light lalu melanjutkan, “Di saat-saat terakhirnya, dia menggenggam erat tanganku. Dan saat itulah kalung in bersinar untuk yang pertama kalinya. Waktu itu reaksiku sama sepertimu tadi. Aku sangat terkejut. Tapi nenekku langsung menenangkanku dan bilang kalau cahaya itu tak akan menyakitiku. Melihat nenek yang tersenyum lembut padaku perlahan aku mulai tenang dan tak menghiraukan kalungku lagi. Aku terus berada di sisi nenek di saat-saat terakhirnya. Sampai akhirnya dia menghembuskan napasnya yang terakhir, bersamaan dengan hilangnya cahaya dari kalung ini.” Light mengakhiri ceritanya dengan hembusan napas panjang. Melodi menatap Light dengan takjub.
“Yah, sejak saat itulah kalung ini sering bersinar.” tambah Light.
“Wow, Light! Aku tak pernah mendengar ada yang seperti itu. Lalu, tadi kau bilang biasanya cahayanya akan hilang ketika kau melepaskan kalung itu dari lehermu. Bagaimana kau tahu? Apa nenekmu yang mengatakannya?” tanya Melodi.
“Yah…sebenarnya nenek tidak pernah mengatakan apa pun tentang kalung ini. Setidaknya dia tidak pernah bilang kalau kalung ini istimewa.” ucap Light.
“Lalu?”
“Kalung ini hanya kadang mengeluarkan cahaya. Pada awalnya aku sering kaget dan secara spontan melepas kalung ini. Dan seperti yang kubilang tadi, cahayanya hilang ketika aku melepasnya.” ucap Light.
“Lalu kenapa tadi tidak begitu?” tanya Melodi lagi.
Light terdiam sebelum dia menjawab, “Kalau ditanya tentang itu…jawabannya aku tidak tahu kenapa. Nenekku tidak pernah menjelaskan apa pun tentang kalung ini. Dia hanya bilang aku menjaganya dengan baik. Dan sampai saat ini aku tidak tahu apa-apa tentang kalung ini.” jawab Light.
Melodi hanya mengangguk dan menghela napas. “Hah. Sesuatu tak akan sesimpel yang kita kira, ya…” gumam Melodi.
“Begitulah.” Light hanya membalas sekedarnya dan tersenyum pada Melodi. Melodi membalas senyuman Light.
Melodi’s POV
Tak pernah kukira ada yang seperti itu. Cahaya yang tak akan menyakiti, cahaya yang akan menyinari kegelapan… aku tak mengerti apa maksudnya.
Hah. Aku menghela napas.
Tapi, aku yakin kalau apa yang diceritakan tadi oleh Light itu benar. Terkadang kebenaran tak selalu seperti apa yang kita kira. Kebenaran adalah sesuatu yang tidak akan kau temukan jika kau tidak mau berpikir dari sisi lain.
Aku kaget. Ternyata Light punya masa lalu seperti itu. Yah, nenekku dan Ciel juga sudah meninggal sejak kami masih kecil juga, sih. Tapi nenek tidak pernah meninggalkan hal-hal yang misterius seperti itu, setahuku.
Padahal kukira Light itu hanya seorang gadis riang yang biasa saja. Tapi ternyata dia mempunyai rahasia yang menakjubkan!
“Hei, Melodi. Kau tak akan membocorkan rahasiaku pada yang lainnya, kan?” pertanyaan Light membuyarkan semua yang kupikirkan tadi.
Aku terdiam sebentar. Ada sesuatu yang membuatku terdiam dan tak bisa langsung menjawab pertanyaan Light. Sesuatu yang…aneh…? Aku tak bisa mendeskripsikannya. Tapi aku sudah berjanji untuk merahasiakannya, bukan?
Lalu aku menatap Light. “Ya. Aku tidak akan bilang pada siapa pun tentang pembicaraan kita tadi kecuali jika kau mengizinkannya.” Kataku padanya. Light tersenyum mendengar jawabanku.
Kami pun tak lagi berbicara. Kami diam duduk di bawah pohon maple ini dan menikmati hembusan angin musim gugur.
Normal POV
Di saat yang sama namun berbeda tempat, Clara masuk ke sebuah ruangan yang cukup besar. Ruangan itu memiliki jendela yang cukup besar yang mengarah ke taman belakang gedung departemen itu.
Berdiri di situ seorang Mark yang kelihatannya begitu menikmati memandangi taman itu. Mark tahu Clara masuk ke ruangannya, tapi dia hanya diam dan tak berniat melihat tamunya itu.
“Sudah cukup lama aku tidak masuk ke ruangan ini, ya?” Clara mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.
“Begitulah. Aku ingat kali terakhir kau datang kesini, kau menulis sesuatu di notebook-mu dan tak ingin memperlihatkannya pada siapa pun.” kata Mark sambil tersenyum.
“Heh. Tentang itu tak usah kau pikirkan. Tak ada yang spesial di situ.” tanggap Clara. Dia lalu berjalan ke dekat rak buku yang ada di sudut kanan ruangan. “Lalu bagaimana?” Clara bertanya.
“Hitam, abu-abu, dan putih.” Mark langsung menjawab secara singkat.
Clara terdiam. Lalu dia menanggapi, “Begitu… Itu artinya tak pasti, bukan?”
Mendengar respon Clara, Mark berbalik dan melihat Clara. “Bagaimana denganmu?” kali ini Mark yang bertanya.
“Aku baik-baik saja. Sejauh ini aku masih bisa mengontrol semuanya.” jawab Clara. Mark diam.
Clara lalu berjalan melewati Mark dan berdiri menghadap jendela. Dia melihat keluar jendela lalu tersenyum tipis. Dia kembali menghadap Mark dan berkata, “Tenang saja. Ini baru permulaan. Permainan sebenarnya bahkan belum dimulai.” Clara mengatakannya sambil menyeringai.
Mark mendengus. “Heh. Kau ini. Seperti biasa kau tetap tenang dan rasional. Kau tidak takut mereka balik menyerangmu?” tanya Mark.
“Entahlah. Mungkin iya, mungkin juga tidak. Masih banyak hal yang belum terungkap, jadi kurasa aku tak perlu merasa takut. Tadi kau juga bilang bahwa ini belum pasti, kan?” Mark hanya diam. “Lagipula, aku belum boleh mundur, kan?” tambah Clara.
Mark terdiam sejenak sebelum menjawab, “Ya, kau benar. Kau, aku, kita…belum boleh mundur sekarang.” ucap Mark. Mark lalu berjalan ke samping Clara dan kembali melihat ke luar jendela. Clara pun melakukan hal sama.
“Tenang saja. Kita tidak akan hancur. Kita sudah sering melewati keadaan yang sama seperti sama seperti ini.” ucap Clara mantap.
“Kau sangat yakin dengan perkataanmu itu.”
“Tentu saja. Aku ini wali mereka. Aku tahu mereka. Mereka sekarang memang tak berbeda dengan senior-senior mereka. Tapi aku tahu mereka punya ‘hal’ itu. Walaupun aku belum tahu apakah mereka akan memilih ‘putih’ atau ‘hitam’” jelas Clara, lalu berjalan ke arah pintu. “Aku pulang dulu. Sudah waktunya kami kembali.” tambahnya. Clara lalu membuka pintu dan berjalan keluar.
Sebelum Clara benar-benar pergi, Mark menghentikannya. “Clara!” panggilnya. Clara berhenti tanpa membalikkan tubuhnya. “Jika memang nantinya ‘putih’ menjadi ‘putih’ dan ‘hitam’ menjadi ‘hitam’, apa yang akan kau lakukan?” tanya Mark.
Clara terdiam sejenak. “Kalau memang nantinya akan seperti itu, aku tetap takkan mundur. Hanya itu yang dapat kulakukan sekarang.” Setelah mengatakan itu, Clara langsung pergi.
Mark sudah tak berniat menghentikan Clara dan bertanya lagi. Mark hanya mengangguk dan kembali menikmati hembusan angin yang masuk lewat jendela.
.
.

Friday, 5 August 2011

Impianku

1. Kuliah di Univertas Harvard, Amerika
2. Menjadi peneliti yang hebat
3. Bekerja di NASA, Interpol, atau Pentagon
4. Menjadi fotografer
5. Pergi ke Mesir dan meneliti piramida agung di Giza
6. Menjadi penulis hebat
7. Membeli teropong bintang
8. Membuat taman sendiri dari menanam semua jenis bunga
9. Berkeliling dunia dan meneliti semua yang ditemui disana
10. Kuliah sampai S3
11. Menjadi salah satu orang paling berpengaruh di dunia (dalam hal baik)
12. Membangun laboratorium sendiri
13. Meneliti apakah mars dapat dihuni seperti bumi atau tidak
14. Menciptakan duel disk yang benar-benar ada untuk permainan M&W
15. Pergi ke Yunani dan melihat langsung kebusayaan dan politik mereka
16. Membangun perpustakaan sendiri
17. Menghabiskan masa tua di Eropa Utara atau di Swiss
18. Tidak penyakitan lagi seperti waktu kecil
19. Meraih nobel perdamaian
20. …

Saturday, 23 July 2011

Magical Light;Chapter 6

Satu minggu yang penat dengan ujian sudah selesai. Seluruh siswa tinggal menunggu hasilnya. Sambil menunggu hasil, seluruh siswa akan disibukkan oleh kegiatan lainnya. Kelas 3 mulai menyiapkan keperluan mereka untuk memulai kegiatan di tempat yang telah ditetapkan untuk menjalankan tugas mereka. Begitu juga dengan kelas 2. Mereka tinggal menunggu apakah hasil ulangan mereka memungkinkan mereka untuk dapat melaksanakan tugas mereka disana.
Sekolah ini memang ketat. Untuk dapat melaksanakan tugas mereka, para siswa harus mendapatkan nilai di atas standar untuk semua mata pelajaran. Jika tidak tidak, mereka akan langsung di-drop-out oleh pihak sekolah. Itu adalah konsekuensi bersekolah disana.
Dan kelas 1, setelah ujian, untuk pertama kalinya mereka akan dites untuk melihat atau mengetahui dimana mereka akan ditempatkan. Ya, mereka perlu di tes untuk mengetahui kemampuan mereka sehingga mereka dapat dikelompokkan menjalani tugas sesuai kemampuan mereka. Mereka akan dites langsung di departemen pendidikan kota Maple. Dan disinilah mereka, berkumpul di halaman depan sekolah, menunggu bis yang akan mengantarkan mereka ke sana.
“Aku penasaran dengan tes yang akan mereka berikan pada kita.” Ucap Aini.
“Eh-em. Kita akan mengetahuinya sebentar lagi.” Balas Gabu.
Tak lama mereka berkumpul di halaman sekolah, bis yang akan membawa mereka telah datang. Mereka pun langsung masuk dan duduk. Mereka tidak duduk diam, tapi mereka melanjutkan percakapan mereka.
Tidak semua yang bercakap-cakap dengan temannya. Gadis bermata safir berambut orange yang duduk disamping Light, hanya diam sambil melihat keluar jendela bis. Light yang menyadarinya, akhirnya memberanikan diri bertanya. “Hei Melodi, kau kenapa? Dari tadi hanya diam saja. Apa ada sesuatu?” tanyanya.
Melodi menatap Light dan menjawab, “Aku tidak apa-apa.”. Melodi lalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
“Lalu kenapa hanya diam saja? Yang lainnya saja ribut membicarakan hari ini.” Ucap Light.
“Begitukah? Aku hanya berpikir bahwa aku tidak harus merasa spesial atau apapun hari ini. Tak usah kau pikirkan lagi Light. Aku hanya sedang tidak dalam mood yang baik hari ini.” Ucap Melodi datar.
Mendengar itu Light hanya menghela napas. “Hah. Baiklah. Tapi kalau ada apa-apa, ceritakanlah padaku. Mungkin aku bisa membantu.” Tawar Light. Melodi mengangguk.
Sebenarnya ada sesuatu yang dipikirkan Light. Tapi karena Melodi sepertinya sedang tidak ingin berbicara, Light agak ragu mengungkapkannya. Saat dia akhirnya memutuskan untuk mengatakannya, bus mereka berhenti. Ternyata mereka sudah sampai di departemen pendidikan.
“Anak-anak, sekarang kalian turunlah dari bus dan segeralah masuk ke dalam gedung. Setelah kalian masuk, kalian akan bertemu dengan staff yang akan mengantar kalian ke ruang tes.” perintah Clara, wali kelas mereka.
Light pun akhirnya mengurungkan niatnya untuk menanyakan sesuatu pada Melodi. Mereka semua turun dan mengikuti perintah Clara.
Sesampainya mereka di dalam, mereka bertemu dengan dua orang pria. “Mereka itu staff disini?” bisik Catty pada Cella. Cella hanya menanggapinya dengan mengangkat bahunya tanda dia tidak tahu.
“Selamat datang di Departemen Pendidikan Maple. Kami adalah staff yang ditugaskan untuk mengantarkan kalian. Mari ikut kami.” kedua orang itupun langsung berjalan diikuti oleh para siswa.
Mereka berhenti di depan sebuah pintu ruangan yang cukup besar. Mereka hanya bisa mengerutkan dahi. Kedua orang itupun membuka pintu itu. Ruangan itu luas dan terdapat meja dan tempat duduk yang dipisah dengan pembatas yang ditata rapi.
“Selamat datang siswa-siswa SMA Maple.” terdengar suara dari seberang ruangan, mereka langsung mencari sosok orang itu. Orang itu berjalan mendekat pada mereka. Kedua orang staff tadi menutup pintu dan berdiri di belakang orang itu.
“Sebelum saya menjelaskan alas an kalian ada disini, saya akan memperkenalkan diri terlebih dahulu. Namaku adalah Mark Tyler. Saya adalah pengurus kalian selama kalian menjadi siswa SMA Maple.” jelasnya.
“Pengurus?” tanya Lily.
“Ya, pengurus.” Kata Mark menganggukkan kepala.
“Ehm, apa maksud anda?” tanya Ciel yang juga tidak mengerti.
“Baiklah. Karena kalian akan segera mengikuti tes ini, aku akan menjelaskan semuanya secara singkat pada kalian.” semuanya mendengarkan dengan serius. “Kalian bukanlah siswa biasa. Kalian adalah siswa terpilih yang dipilih dari antara banyaknya siswa yang ingin masuk ke SMA Maple. Kalian sudah tahu kan keistimewaan sekolah kalian yang akan mengirimkan muridnya ke suatu tempat untuk menjalankan sebuah tugas?” mereka semua mengangguk.
“Murid-murid akan dikirim ke suatu tempat dan harus menyelesaikan tugas mereka dengan baik. Apapun yang menjadi tugas kalian, kalian harus menerima itu.” jelasnya. Mereka terdiam.
Sesaat hening menyelimuti mereka. Tak ada satupun yang membuka mulut. Sampai akhirnya Heart yang kelihatannya tidak tertarik dengan pembicaraan ini sedari tadi menyudahi keheningan itu. “Kenapa kami ‘harus’ menerima dan menyelesaikan tugas yang kami dapat?” tanyanya sinis dan menekankan bicaranya pada kata ‘harus’.
Menanggapi pertanyaan Heart, Mark pun tersenyum. Dia menutup matanya sejenak sebelum menjawab, “Karena melalui tugas ini kalian akan mengetahui kebenaran yang tersembunyi.” Pernyataan Mark sukses membuat para murid memperlihatkan ekspresi yang berbeda-beda namun menunjukkan maksud yang sama bahwa mereka sedang memikirkan maksud kata-kata Mark.
“Kalian tidak perlu memikirkan itu sekarang, karena sudah waktunya untuk memulai tes ini. Silahkan kalian duduk di tempat yang sudah disediakan.” para murid memutuskan untuk tidak bertanya lagi. Mereka langsung duduk di tempat mereka.
“Baiklah. Sebelum tes ini dimulai saya akan menjelaskan tentang tes ini. Tes ini hanya seperti tes biasa. Kalian harus menjawab soal-soal dari seluruh mata pelajaran. Juga ada beberapa soal tentang hal-hal di luar ilmu pengetahuan untuk menguji sampai diman pengetahuan yang kalian miliki. Waktu yang kalian miliki untuk mengerjakan tes ini 3 jam. Jika kalian sudah mengerti, tes ini dimulai sekarang.” Setelah Mark menyelesaikan perkataannya, mereka langsung mengerjakan tes mereka.
Tak ada suara yang terdenganr sementara mereka mengerjakan tes mereka. Mereka memang merasa tidak perlu mempersoalkan hal lain sekarang ini. Nanti, nanti pasti mereka akan mengetahuinya,

~D_D~

Tiga jam kemudian, tes itu selesai. Tak ingin berlama-lama di ruangan itu, mereka langsung keluar dan tidak lagi membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan tes itu.
Di luar, mereka melihat Clara yang sedari tadi menunggu mereka. “Ah, Clara-sensei. Anda menunggu kami dari tadi?” tanya Honoko.
“Begitulah. Bagaimana? Terlewati dengan baik?” Clara balik bertanya. Mereka hanya mengangguk.
Karena Clara sudah menyinggung masalah tes tadi, mereka mulai punya keinginan lagi untuk mengetahui hal tadi lebih jauh. “Ehm, Clara-sensei. Kami mau tanya tentang apa yang nantinya akan menjadi tugas kami…” ucap Oichi pelan.
Clara tidak langsung menjawab. Dia diam dan menutup matanya sejenak. Kemudian mebukanya dan menatap mereka dengan tatapan yang sulit dijelaskan. “Kalian tidak perlu memikirkan itu terlalu jauh. Kalian pasti akan tetap mengetahuinya.” jelas Clara. Dia beranjak dari tempatnya dan berjalan masuk ke dalam gedung. “Kalian tunggu disini. Saya punya sedikit urusan di dalam.” katanya sebelum akhirnya masuk ke dalam gedung.
Diam menyelimuti mereka beberapa saat sebelum akhirnya Oichi memecah keheningan. “Eh, pohon-pohon maple yang ada disini agak aneh, ya..? tapi aku tidak bisa menjelaskan apanya yang aneh.” ucapnya.
Yang lainnya mengedarkan pandangan mereka pada pohon-pohon maple yang ada di sekitar mereka. “Benar juga. Entah kenapa, rasanya pohon disini agak aneh. Tapi…terlihat indah.” ucap Izumi.
Sementara mereka berbincang tentang itu, Heart membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauh dari mereka. Perona menyadari itu dan mengejar Heart. “Hei Heart, kau mau kemana?” tanyanya.
“Ke suatu tempat. Aku tidak suka mendengar pembicaraan yang tidak penting seperti itu.” Jawabnya datar.
Perona menyeringai. “Heh. Benar-benar seorang Heart.” Heart tidak menghiraukan perkataan Perona tadi. Dia terus berjalan dalam diam diikuti oleh Perona.

_D~D_

Thursday, 21 July 2011

Pertanyaanku (11-20)

11. Apa hal yang terkecil?
12. Apa hal yang terbesar?
13. Apa itu keadilan?
14. Apakah di dunia masih keadilan?
15. Apa boleh kita menghalangi hak orang lain agar mereka tidak memilih yang 'tak' tepat?
16. Apa itu kepercayaan?
17. Apa yang harus kita lakukan dengan kepercayaan itu?
18. Apa yang harus kita rasakan jika kita mendapat kepercayaan itu?
19. Apa boleh kita mengucapkan selamat tinggal pada semua yang telah mempercayai kita?
20. Apa boleh aku...meninggalkan dunia ini?

Sunday, 3 July 2011

Cahaya Yang Harus Kuraih

Cahayanya mulai padam.
Hanya tinggal menunggu waktu saja sehingga cahaya itu hilang.
Rasanya melelahkan...
Aku sering tak dipercaya oleh orang lain, diremehkan, dan tak diberi kesempatan.
Berbagai macam perasaan menyelimutiku. Kesal, marah, sedih. Tapi dari semua itu, aku merasa...lelah...?
Ya. Aku merasa lelah.
Perlahan hati dan tubuhku melemah. Bahkan mungkin sewaktu-waktu aku akan jatuh.
Sebenarnya, pikiranku mengatakan biarkan itu semua, tak perlu melakukan apapun lagi. Tapi, hati kecilku megatakan bahwa aku harus kuat, kuat dengan semua itu.
Ya. Aku pun ingin agar aku tidak jatuh.
Aku ingin terus berdiri.
Aku ingin terus ada.
Aku ingin bangkit.
Aku ingin keberadaanku ini tidak semu.
Aku ingin cahaya kecilku sekarang akan tetap bersamaku.
Tapi, apakah aku bisa?
Apa aku mampu?
...Tentu saja aku bisa!
Aku pasti bisa. Tidak, aku harus bisa!
Aku tidak akan kalah dengan semuanya.
Lagipula, aku juga ada disini untuk mengetahui arti keberadaanku.
Memang mungkin sekarang cahayaku sangat kecil. Tapi nanti, aku akan menemukan cahaya yang lebih besar, kuat, penuh kemurnian, dan harapan.
Aku takkan menyerah pada keadaanku sekarang.
Aku pasti bisa!

Thursday, 30 June 2011

Magical Light Chapter 5

Seminggu telah berlalu. Minggu dimana Light dan teman-temannya akan mrngikuti ulangan pun tiba. sesampainya mereka di kelas, mereka langsung membahas tentang mata pelajaran yang akan diulangankan dan tentang apa saja yang telah mereka pelajari umtuk menghadapi ulangan nanti.
Sementara itu di ruang guru, para guru sedang sibuk mempersiapkan kertas-kertas untuk ulangan nanti. Dan di baris terkahir meja paling ujung, duduk Clara-sensei yang sedang bercakap-cakap dengan seseorang.
“Lalu, bagaimana dengan murid-murid di kelasmu, Clara?” tanya orang itu kepada Clara. Orang itu lebih tua dari Clara, kira-kira 50-an umurnya.
“Heh, anda tenang saja, Pak Kepala. Mereka sudah kuajari dengan baik. Mereka pasti bisa menyelesaikan ulangan kali ini dengan baik. Lagipula, ini baru ulangan pertama. Masih banyak ulangan lainnya yang ada di depan mereka.” Jawabnya pada orang yang adalah kepala sekolah itu.
“Begitu. Lalu, bagaimana mereka akan menghadapi ujian yang selanjutnya?” tanya kepala sekolah. Kali ini dengan nada menantang. Clara tidak langsung menjawabnya melainkan dia melihat ke arah luar jendela dan menyunggingkan senyum tipis.
“…Mereka akan menghadapinya dengan kekuatan mereka sendiri. Merekalah yang akan menentukan bagaimana caranya.” Ucap Clara mantap.
“Kau memang hebat Clara. Tidak salah aku memilihmu untuk menjadi wali kelas mereka.” Pujinya. Clara tidak memberikan respon apapun terhadap pujian itu. “Kalau begitu sebaiknya kau segera ke kelasmu dan memulai ujiannya.” Kata kepala sekolah.
“Baiklah kalau begitu.” Clara pun mengambil dokumen yang ada di laci mejanya, berdiri, dan beranjak pergi dari situ.
Baru dua langkah Clara melangkah, kepala memanggilnya. “Clara.” Clara pun membalikkan tubuhnya. “Katakan pada murid-muridmu ‘selamat berjuang’.”
“Ya, pasti akan kusampaikan…ayah.” Saat dia mengucapkan kata terakhir itu, dia mengucapkannya dengan pelan dan langsung berbalik pergi. Tapi ternyata kepala sekolah mendengarnya dan dia tersenyum lembut.
“Ayah percaya padamu, Clara. Bahwa kau bisa membimbing mereka hingga mereka bisa memilih jalan mereka sendiri.” Gumamnya. Dia lalu pergi dari situ dan masuk ke ruangannya.
Clara berjalan menuju kelas perwaliannya dalam diam. Tidak butuh 5 menit untuk berjalan dari ruang guru ke kelasnya. Sesampainya ia, ia disambut oleh keadaan kelas dimana murid-muridnya bercakap-cakap tentang ulangan mereka.
“Eh-em. Selamat pagi muruid-murid.” Sapanya saat dia masuk. Murid-murid yang tadinya agak ribut langsung menghentikan kegiatan mereka dan duduk tenang di bangku masing-masing (-ha-ah. Seandainya kelasku seperti itu, guru datang langsung tenang-*writer curhat ceritanya :p*).
“Selamat pagi sensei.” Balas mereka serempak. Clara menganggukkan kepalanya dan mulai membuka dokumen yang sedari tadi dipegangnya.
“Kalian hari ini akan mengikuti ujian. Saya harap kalian sudah mempersiapkan diri kalian.” Katanya. Dia lalu membagikan kertas ulangan pada para siswa. Setelah selesai, dia kembali ke tempat duduknya lalu berkata, “Nah, kuharap kalian mengerjakannya dengan baik. Dan tidak diperbolehkan melihat perkerjaan orang lain. Jika kalian sudah mengerti, ..oh ya, satu lagi, kepala sekolah menitipkan pesan untuk kalian. Katanya ‘selamat berjuang’.” Mendengar itu para murid tersenyum. “Baiklah. Ujian kali ini ‘dimulai’.” Mereka pun langsung mengerjakan soal-soal yang ada di kertas ulangan. Sedangkan Clara duduk di tempatnya dan mulai memeriksa tugas-tugas dari murid-muridnya.
.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 1 siang. Light dkk telah menyelesaikan ujian hari pertama mereka 2 jam yang lalu. Mereka juga telah makan siang di sebuah rumah makan. Dan setelah itu, seperti biasa mereka pergi ke taman di pinggir kota yang tidak terlalu didatangi banyak orang.
Jika tidak sedang ada keperluan sepulang sekolah, mereka biasanya pergi ke taman dulu sebelum pulang. Dan disinilah mereka, Light, Melodi, Ciel, Anzu, Raven, Oichi, Ryou, Lily, Okuni, dan Izami. Tidak semua memang yang ada karena yang lainnya tidak bisa ke taman terkadang. Tetapi ada juga beberapa orang yang tidak pernah atau bisa dibilang tidak mau ikut ke taman.
“Hei, Raven, kulihat kau sangat akrab dengan Heart. Kau sudah lama mengenalnya ya?” tanya Lily sambil memakan roti isi cokelat-keju-nya.
“Yah, begitulah. Dia adalah temanku dari kecil. Tapi, memangnya terlihat sangat akrab ya?” Raven bertanya balik. Dia lalu duduk di bangku taman berwarna cokelat disamping Izami.
“Ya. Soalnya Heart itu tidak pernah ingin bicara sama yang lainnya. Dia terlihat tidak suka berada di dekat teman-temannya di kelas. Hanya beberapa orang saja yang kulihat pernah berbicara dengannya, salah satunya adalah kau. Jadi tidak salah kan kalau aku bilang kau sangat akrab dengannya?”
“Begitu ya… Heart memang agak pemilih kalau dalam urusan bergaul. Sampai sekarang aku masih bingung dengannya. Dia juga akan bicara jika dia ingin bicara. Jadi, bersabarlah dengan dia.”
Yang lainnya pun hanya menganggukkan kepalanya dan diam menikmati semilir angin musim gugur yang lewat di tempat mereka. Agaknya mereka tidak ingin lagi membicarakan tentang Heart.
‘Dari yang dibicarakan oleh Raven dan Lily, kelihatannya Heart itu orang yang misterius. Aku juga kan pernah tidak sengaja bersentuhan tangan dengannya. Dan waktu dia melihat padaku, aku rasanya melihat sesuatu di matanya juga suatu perasaan tidak nyaman. Mungkin lebih baik aku tidak usah mengganggunya.’ Batin Light yang sedang membaca buku. Dia lalu membaca kembali dan menghilangkan pikirannya tadi.
.
Matahari sudah terbenam sekitar sejam yang lalu. Dan sekarang adalah waktunya makan malam. Seperti biasa Ciel makan malam di rumah sepupunya Melodi. Kebetulan ibu Melodi sedang tidak ada di rumah. Jadi Melodi yang menyiapkan makan malam. Ciel juga ikut membantu membawakan makan malam ke meja makan.
“Yap. Akhirnya siap juga. Hei Melodi, sudah boleh dimakan belum?” tanya Ciel yang sudah selesai mengatur makan malam.
“Tunggu sebentar. Awas kalau kau duluan memakannya sebelum aku datang.” Ancam Melodi.
“Kalau begitu cepatlah. Aku sudah kelaparan, nih.” Sungut Ciel.
“Iya, iya. Aku datang.” Melodi pun keluar dari dapur dan duduk di depan Ciel. Mereka pun mulai memakan makan malam mereka. Mereka makan dalam diam sampai akhirnya Ciel memecahkan kesunyian.
“Hei Melodi, kau ingat tidak pembicaraan Raven dan Lily tadi di taman?” tanyanya pada Melodi. Dia berhenti memakan makanannya untuk mendengar jawaban dari Melodi. Melodi hanya dapat memandang heran karena tidak biasanya Ciel bertanya sampai harus berhenti memakan makanannya.
“Ya. Memangnya kenapa?” Melodi balik bertanya sambil terus memakan makan malamnya.
Hening cukup lama menyelimuti mereka. “…Ehm, tidak. Hanya saja aku tidak terlalu suka dengan Heart. Tatapannya padaku selalu terlihat mengatakan kau-pengganggu-enyahlah.” Katanya sambil mengingat bagaimana Heart menatapnya.
“Heh, memangnya kau pernah berbicara dengannya?” tanya Melodi. Dia terlihat tidak terlalu tertarik dengan pembicaraan ini.
“Tentu saja. Kau tahu kan kalau aku ini berteman dekat dengan Raven. Dan percaya atau tidak dia selalu menatapku dengan pandangan seperti melihat seorang pengganggu. Aku tidak suka itu. Seperti dia itu ratunya.” Kata Ciel kesal. Dia sudah selesai dengan makan malamnya.
Melodi menghela napas. “Ha-ah. Mungkin dia tidak suka kau dekat-dekat dengan Raven. Mungkin dia suka pada Raven sehingga dia menganggapmu sebagai pengganggu.” Komentar Melodi terdengar cuek. Melodi lalu beranjak dari duduknya dan mengambil sebuah buku yang ada di atas meja kecil di sudut ruangan. Dia lalu keluar dari ruang makan menuju ke ruang keluarga. Ciel mengikutinya.
“Kau terlihat tidak peduli dengan apa yang kubicarakan.” Kata Ciel sesampainya mereka di ruang keluarga. Mereka berdua menghempaskan diri di sofa.
“Memang tidak.” Jawab Melodi cuek. Ciel terlihat kesal. Dia lalu menyeringai.
“Ho-oh. Jadi Heart menyukai Raven. Aku tidak menyangka.” Kata Ciel sinis. Melodi mulai merasakan sesuatu yang tidak enak akan dilontarkan oleh sepupunya itu. Dia lalu menatap sepupunya itu dengan pandangan apa-maksudmu-hah. ‘Kena kau.’ Batin Ciel.
“Sudahlah Melodi. Aku ini sepupumu. Aku selalu memperhatikanmu di sekolah. Setiap kau bertatap muka dengan Raven, aku lihat selama beberapa detik kau terdiam. Lalu kau akan menatap ke arah lain. Terkadang juga ada semburat merah di pipimu. Apa itu artinya?” goda Ciel.
Melodi yang mendengar itu mukanya menjadi merah karena marah dan malu. Marah karena Ciel menggodanya memakai hal itu dan malu karena semua yang dikatakan Ciel itu benar.
“A..apa maksudmu, hah!?” teriak Melodi. Ciel lalu menyerigai lebar.
“Ho-oh. Ternyata benar.” Kata Ciel misterius. Wajah Melodi tambah merah padam. “Kau…Menyukai…Raven, kan?” ucapnya perlahan. Melodi tahu saat itu wajahnya pasti sudah semerah udang rebus.
“Jangan bercanda. A, aku tidak menyukainya tahu!!” teriak Melodi kesal. Ciel langsung tertawa terbahak-bahak melihat reaksi saudaranya itu. Melodi benar-benar salah tingkah melihat Ciel tertawa seperti itu. Melodi lalu menarik napas berusaha menenangkan dirinya.
“Iya, iya. Aku mengerti. Kau tidak menyukai Raven, kan? Haha. Kau tak perlu berteriak seperti tadi. Haha.” Ciel masih terus terkikik. Melodi memberengut kesal.
“Ukh. Awas kau Ciel!” ancam Melodi. Di sekitarnya sudah terlihat aura-aura hitam. Ciel yang melihatnya bergidik ngeri. ‘Glek’. Ciel bangkit dari duduknya dan bersiap-siap lari. Akhirnya, mereka berdua pun saling kejar-kejaran di ruangan itu. Sampai akhirnya ada suara dari depan rumah.
“Ibu pulang!” seru ibu Melodi. Ibunya membuka pintu rumah dan mendapati anak dan keponakannya sedang berkejar-kejaran di dalam rumah. “Melodi, Ciel! Apa yang kalian lakukan?!” teriak ibunya. Melodi dan Ciel langsung berhenti.
“Ah, ibu sudah pulang.” Ucap Melodi. Ciel langsung berlari menghampiri bibinya itu.
“Bibi aku pulang dulu ya. Terima kasih makan malamnya. Ya, Melodi, sampai besok.” Dengan itu Ciel melesat keluar menuju rumahnya. Melodi pun menghela napas dalam. Dia langsung terduduk di tempat duduknya. Ibunya yang masih bingung tentang apa yang terjadi tidak jadi menanyakan karena melihat Melodi yang kelelahan. Dia akhirnya memutuskan untuk ke dapur untuk membereskan makan malam Melodi dan Ciel.

Magical Light;Chapter 4


Harvest The Truth
Chapter 4
Angin musim gugur yang dingin terus-menerus berembus membuat daun maple yang gugur beterbangan dibawa angin. Banyak orang yang bersama teman-temannya berjalan bersama ke tempat yang menjual makanan hangat. Cuaca yang dingin namun menyimpan suasana yang hangat.
Tapi hal itu tidak berlaku bagi seorang gadis berambut brunette panjang. Dia berdiri di tempat sepi di tengah pohon-pohon maple yang gugur. Rambutnya bergoyang tertiup angin. Gadis itu tidak memasang ekspreksi apapun. Ekspresinya datar.
Tiba-tiba ada sehelai daun maple jatuh di dekat gadis yang kita kenal sebagai Heart. Heart menangkap daun itu dan meletakkannya di atas telapak tangannya. Dia lalu memandang daun yang ada di telapak tangannya itu. Ekspresinya tetap datar, tidak menunjukkan perasaan apapun.
Lalu angin bertiup kembali dan menerbangkan daun itu dari tangan Heart. Heart lalu tersenyum tipis. Pandangannya terus mengikuti daun itu. “Daun itu akan terbang menujunya dan memberitahunya…” gumamnya. Dia lalu berbalik dan pergi meninggalkan tempat itu.
Di taman lain, Light sedang bersama Melodi, Ciel, Oichi, Okuni, dan Ryou. Mereka baru saja selesai mengerjakan tugas kelompok di rumahnya Okuni. Mereka memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di taman.
Tiba-tiba angin berembus kencang membuat mereka refleks menutup mata. Saat Light membuka matanya, dia melihat sehelai daun maple jatuh ke arahnya. Dia lalu membuka telapak tangannya dan daun itu jatuh tepat di atas telapak tangannya. Light hanya bisa tertegun melihat daun itu.
“Wah, angin tadi sangat tiba-tiba. Aku jadi kaget.” Gumam Ryou.
“Benar. Aku sampai harus menutup mataku.” Tambah Melodi. “Iya kan, Light?” tanya Melodi. Dia berbalik melihat Light dan heran melihat Light yang sedang menatap daun maple yang ada di tangannya. “Light? Ada apa?” Melodi bertanya kembali. Dia meletakkan tangannya di pundak Light.
“Eh, oh, tidak..tidak apa-apa.” Ucapnya tersadar.
“Lalu kenapa kau menatap daun itu?”
“Oh, daun ini…” ucapan Light teehenti karena angin berembus kembali dan menerbangkan daun itu kembali. “Eh?!” satu kata yang terucap dari mulut Light. Dia berusaha meraih daun itu namun daun itu sudah terbang menjauh.
“Light, ada apa?” tanya Ciel.
“…Tidak. Sudahlah, lebih baik kita pulang. Sebentar lagi hari gelap.” Usul Light. Yang lainnya  langsung menyetujuinya. Mereka pun berjalan pulang.
‘Apa itu tadi? Saat melihat daun itu aku seperti merasakan sesuatu. Tapi aku tidak bisa menjelaskan perasaan apa itu…” batinnya. Tiba-tiba sesuatu bersinar di bagian leher Light. Light menyadarinya dan mengeluarkan sumber cahaya itu. Ternyata itu adalah sebuah kalung dengan batu kristal kuning sebagai mata kalungnya. Light hanya menatap kalung itu dan hanya berekspresi datar. Tak lama kemudian cahaya yang bersinar dari batu kristal itu padam. Light pun memakai kalungnya kembali dan menyimpan kejadian tadi pikirannya sendiri.
.
Waktu istirahat telah tiba. Kebanyakan dari siswa-siswa itu pergi ke kantin atau main di lapangan sekolah. Begitu pun dengan siswa kelas X5. Mereka pergi keluar untuk menyegarkan pikiran mereka dari pelajaran tadi. Ada pula yang tinggal di kelas untuk bercakap-cakap dengan temannya.
“Hei Light, kau mau keluar tidak?” tanya Melodi.
“Memangnya kau mau kemana?” Light balik bertanya.
“Ehm, aku ingin membali sesuatu di kantin. Kau mau ikut?” tawar Melodi.
“Yah, aku memang ingin keluar, tapi aku mau ke perpustakaan. Tapi yah, kita jalan sama-sama. Kan’ kantin dan perpustakaan searah.” Kata Light santai.
“Baiklah.” Mereka pun keluar dan berjalan kearah kantin. Di jalan, mereka hanya diam satu sama lain. Tak ada yang mau memecah keheningan yang ada.
“Ngomong-ngomong, apa yang mau kau lakukan di perpustakaan?” tanya Melodi memecah keheningan.
“Oh, ada buku yang ingin kubaca. Dan aku pernah melihat buku itu di perpustakaan.” Jawab Light. “Lalu kau mau membeli apa di kantin?” Light pun balik bertanya.
“Eh, aku ingin membeli makanan. Habis aku lapar.” Jawab Melodi polos.
“Haha, musim gugur memang musim makan, ya? Banyak makanan memang yang ada di musim ini. Tapi kau harus hati-hati Melodi. Nanti kau jadi gendut, lho.” Ucap Light dengan nada menggoda.
“E..eh, aku tidak akan sampai gendut, kok.” Ujar Melodi membela diri. Mereka pun sampai di depan kantin. Setelah mengucapakan ‘dah’, mereka pun berpisah. Melodi masuk ke kantin dan Light terus berjalan kearah perpustakaan.
Sesampainya Light di perpustakaan, dia disambut oleh penjaga perpustakaan yang memang sudah mengenal Light yang biasa ke perpustakaan. Setelah membalas sapaan penjaga perpustakaan, Light pun langsung menuju ke rak buku yang dia ingat menyimpan buku yang dicarinya. Light menuju rak nomor 15, rak buku sastra.
‘Ah, itu dia..’ Light akhirnya menemukan buku yang dicarinya. Saat dia akan mengambil buku itu, tangannya tak sengaja bersenggolan dengan tangan seseorang yang ingin mengambil buku yang ada disebelah buku yang ingin Light ambil. Mereka berdua pun saling menatap satu sama lain.
“Ah, maaf. Oh, ternyata kamu Heart. Maaf, aku tidak sengaja.” Ucap Light meminta maaf.
“…” Heart tidak mengatakan apa-apa. Dia memandang Light dengan tatapan dingin. Dia lalu mengambil buku yang tadi ingin diambilnya lalu berjalan pergi meninggalkan Light.
“Wah, dingin.” Kata Light pada dirinya sendiri. Dia pun mengambil buku yang ingin dibacanya. “Buku yang diambil Heart tadi kalau tidak salah berjudul ‘In The Darkness’. Kelihatannya buku itu menarik.” Gumamnya lalu beranjak dari situ menuju penjaga perpustakaan untuk meminjam buku yang dipegangnya.
Di kantin, Melodi membeli snack kesukaannya. Dia lalu keluar dari kantin. Saat dia akan keluar, dia tidak sengaja bertabrakkan dengan Heart yang akan masuk ke dalam kantin. (bertabrakkan lagi ==”)
“Oh, maaf Heart. Aku tidak sengaja. Tadi aku tidak melihatmu.” Ucap Melodi meminta maaf. Heart tidak memusingkannya dan terus berjalan. Melodi yang bingung melihat sikap Heart memutuskan untuk keluar dan langsung ke kelas.
Saat ada di lorong sekolah menuju ke kelasnya, Melodi melihat Ciel yang sedang bercakap-cakap dengan Raven. Ciel menyadari kalau Melodi ada di dekat mereka dan memanggilnya. “Melodi!” panggil Ciel.
“Hai. Kalian sedang apa disini?” tanyanya.
“Kami hanya sedang membahas tentang ulangan yang sebentar lagi diadakan. Kau darimana?” Ciel balik bertanya.
“Oh, aku tadi dari kantin. Oh ya, setelah ulangan kita akan dikirim ke luar kan?”
“Begitulah. Aku penasaran siapa-siapa yang akan sekelompok denganku…” guman Raven.
“Yah, kita lihat saja nanti. Sebaiknya kita segera masuk kelas. Sebentar lagi waktu istirahat habis.” Ajak Ciel. Mereka pun masuk ke kelas mereka.
.
Jam pelajaran terus berjalan. Dan akhirnya suara deringan bel pulang yang ditunggu-tunggu oleh para siswa berbunyi. Semua siswa langsung merapikan ala-alat tulis mereka. Begitu pun dengan kelas X5. Tapi sebelum mereka keluar kelas, Clara-sensei memberi sedikit pengarahan untuk mereka.
“Anak-anak, minggu depan kalian akan mengikuti ujian. Saya harap kalian dapat mempersiapkan diri kalian sebaik mungkin karena saya tidak mau di kelas ini ada yang mendapat nilai kurang.” Ucap Clara-sensei tegas kepada mereka.
“Baik sensei.” Seru mereka serempak.
“Baguslah kalau begitu. Dan setelah ujian berakhir, kalian akan di tes kembali untuk melihat kemampuan kalian.” Tambah Clara-sensei lagi. Mereka semua menggangguk tanda mengerti. “Kalau begitu sekarang kalian sudah bisa pulang ke rumah kalian. Selamat siang dan hati-hatilah di jalan.” Ucapnya lagi keluar dari kelas.
“Yah, sepertinya minggu depan akan jadi minggu yang cukup sibuk.” Gumam Oichi.
“Sepertinya. Tapi aku jadi tidak sabar untuk mengikutinya.” Balas Mayuko. Mereka menganggukkan kepala mereka serempak. Mereka pun keluar dari kelas dan memutuskan untuk ke taman sebelum pulang ke rumah.
“Ehm, teman-teman, aku kali ini tidak ikut ya… Aku harus segera pulang.” Potong Light.
“Eh, tapi Light…” kata-kata Melodi terputus karena Light sudah berlari pergi.
“Sampai jumpa!” teriaknya sambil berlari. Lalu Light pun menghilang dari pandangan mereka.
“Eh, kalian merasakan keanehan Light tidak? Akhir-akhir ini dia sering menghindar atau menolak ajakan kita. Dia juga sekarang kadang ngobrol sama kita di kelas.” Kata Melodi.  Yang lain hanya bisa mengangkat bahunya tanda bahwa mereka juga bingung. Mereka pun hanya bisa melanjutkan perjalanan mereka ke taman. Dalam hatinya, Melodi betul-betul penasaran tenatang perubahan sikap Light. Tapi akhirnya dia memutuskan untuk tidak memikirkan itu lagi.