Harvest The Truth
Chapter 4
Angin musim gugur yang dingin terus-menerus berembus membuat daun maple yang gugur beterbangan dibawa angin. Banyak orang yang bersama teman-temannya berjalan bersama ke tempat yang menjual makanan hangat. Cuaca yang dingin namun menyimpan suasana yang hangat.
Tapi hal itu tidak berlaku bagi seorang gadis berambut brunette panjang. Dia berdiri di tempat sepi di tengah pohon-pohon maple yang gugur. Rambutnya bergoyang tertiup angin. Gadis itu tidak memasang ekspreksi apapun. Ekspresinya datar.
Tiba-tiba ada sehelai daun maple jatuh di dekat gadis yang kita kenal sebagai Heart. Heart menangkap daun itu dan meletakkannya di atas telapak tangannya. Dia lalu memandang daun yang ada di telapak tangannya itu. Ekspresinya tetap datar, tidak menunjukkan perasaan apapun.
Lalu angin bertiup kembali dan menerbangkan daun itu dari tangan Heart. Heart lalu tersenyum tipis. Pandangannya terus mengikuti daun itu. “Daun itu akan terbang menujunya dan memberitahunya…” gumamnya. Dia lalu berbalik dan pergi meninggalkan tempat itu.
Di taman lain, Light sedang bersama Melodi, Ciel, Oichi, Okuni, dan Ryou. Mereka baru saja selesai mengerjakan tugas kelompok di rumahnya Okuni. Mereka memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di taman.
Tiba-tiba angin berembus kencang membuat mereka refleks menutup mata. Saat Light membuka matanya, dia melihat sehelai daun maple jatuh ke arahnya. Dia lalu membuka telapak tangannya dan daun itu jatuh tepat di atas telapak tangannya. Light hanya bisa tertegun melihat daun itu.
“Wah, angin tadi sangat tiba-tiba. Aku jadi kaget.” Gumam Ryou.
“Benar. Aku sampai harus menutup mataku.” Tambah Melodi. “Iya kan, Light?” tanya Melodi. Dia berbalik melihat Light dan heran melihat Light yang sedang menatap daun maple yang ada di tangannya. “Light? Ada apa?” Melodi bertanya kembali. Dia meletakkan tangannya di pundak Light.
“Eh, oh, tidak..tidak apa-apa.” Ucapnya tersadar.
“Lalu kenapa kau menatap daun itu?”
“Oh, daun ini…” ucapan Light teehenti karena angin berembus kembali dan menerbangkan daun itu kembali. “Eh?!” satu kata yang terucap dari mulut Light. Dia berusaha meraih daun itu namun daun itu sudah terbang menjauh.
“Light, ada apa?” tanya Ciel.
“…Tidak. Sudahlah, lebih baik kita pulang. Sebentar lagi hari gelap.” Usul Light. Yang lainnya langsung menyetujuinya. Mereka pun berjalan pulang.
‘Apa itu tadi? Saat melihat daun itu aku seperti merasakan sesuatu. Tapi aku tidak bisa menjelaskan perasaan apa itu…” batinnya. Tiba-tiba sesuatu bersinar di bagian leher Light. Light menyadarinya dan mengeluarkan sumber cahaya itu. Ternyata itu adalah sebuah kalung dengan batu kristal kuning sebagai mata kalungnya. Light hanya menatap kalung itu dan hanya berekspresi datar. Tak lama kemudian cahaya yang bersinar dari batu kristal itu padam. Light pun memakai kalungnya kembali dan menyimpan kejadian tadi pikirannya sendiri.
.
Waktu istirahat telah tiba. Kebanyakan dari siswa-siswa itu pergi ke kantin atau main di lapangan sekolah. Begitu pun dengan siswa kelas X5. Mereka pergi keluar untuk menyegarkan pikiran mereka dari pelajaran tadi. Ada pula yang tinggal di kelas untuk bercakap-cakap dengan temannya.
“Hei Light, kau mau keluar tidak?” tanya Melodi.
“Memangnya kau mau kemana?” Light balik bertanya.
“Ehm, aku ingin membali sesuatu di kantin. Kau mau ikut?” tawar Melodi.
“Yah, aku memang ingin keluar, tapi aku mau ke perpustakaan. Tapi yah, kita jalan sama-sama. Kan’ kantin dan perpustakaan searah.” Kata Light santai.
“Baiklah.” Mereka pun keluar dan berjalan kearah kantin. Di jalan, mereka hanya diam satu sama lain. Tak ada yang mau memecah keheningan yang ada.
“Ngomong-ngomong, apa yang mau kau lakukan di perpustakaan?” tanya Melodi memecah keheningan.
“Oh, ada buku yang ingin kubaca. Dan aku pernah melihat buku itu di perpustakaan.” Jawab Light. “Lalu kau mau membeli apa di kantin?” Light pun balik bertanya.
“Eh, aku ingin membeli makanan. Habis aku lapar.” Jawab Melodi polos.
“Haha, musim gugur memang musim makan, ya? Banyak makanan memang yang ada di musim ini. Tapi kau harus hati-hati Melodi. Nanti kau jadi gendut, lho.” Ucap Light dengan nada menggoda.
“E..eh, aku tidak akan sampai gendut, kok.” Ujar Melodi membela diri. Mereka pun sampai di depan kantin. Setelah mengucapakan ‘dah’, mereka pun berpisah. Melodi masuk ke kantin dan Light terus berjalan kearah perpustakaan.
Sesampainya Light di perpustakaan, dia disambut oleh penjaga perpustakaan yang memang sudah mengenal Light yang biasa ke perpustakaan. Setelah membalas sapaan penjaga perpustakaan, Light pun langsung menuju ke rak buku yang dia ingat menyimpan buku yang dicarinya. Light menuju rak nomor 15, rak buku sastra.
‘Ah, itu dia..’ Light akhirnya menemukan buku yang dicarinya. Saat dia akan mengambil buku itu, tangannya tak sengaja bersenggolan dengan tangan seseorang yang ingin mengambil buku yang ada disebelah buku yang ingin Light ambil. Mereka berdua pun saling menatap satu sama lain.
“Ah, maaf. Oh, ternyata kamu Heart. Maaf, aku tidak sengaja.” Ucap Light meminta maaf.
“…” Heart tidak mengatakan apa-apa. Dia memandang Light dengan tatapan dingin. Dia lalu mengambil buku yang tadi ingin diambilnya lalu berjalan pergi meninggalkan Light.
“Wah, dingin.” Kata Light pada dirinya sendiri. Dia pun mengambil buku yang ingin dibacanya. “Buku yang diambil Heart tadi kalau tidak salah berjudul ‘In The Darkness’. Kelihatannya buku itu menarik.” Gumamnya lalu beranjak dari situ menuju penjaga perpustakaan untuk meminjam buku yang dipegangnya.
Di kantin, Melodi membeli snack kesukaannya. Dia lalu keluar dari kantin. Saat dia akan keluar, dia tidak sengaja bertabrakkan dengan Heart yang akan masuk ke dalam kantin. (bertabrakkan lagi ==”)
“Oh, maaf Heart. Aku tidak sengaja. Tadi aku tidak melihatmu.” Ucap Melodi meminta maaf. Heart tidak memusingkannya dan terus berjalan. Melodi yang bingung melihat sikap Heart memutuskan untuk keluar dan langsung ke kelas.
Saat ada di lorong sekolah menuju ke kelasnya, Melodi melihat Ciel yang sedang bercakap-cakap dengan Raven. Ciel menyadari kalau Melodi ada di dekat mereka dan memanggilnya. “Melodi!” panggil Ciel.
“Hai. Kalian sedang apa disini?” tanyanya.
“Kami hanya sedang membahas tentang ulangan yang sebentar lagi diadakan. Kau darimana?” Ciel balik bertanya.
“Oh, aku tadi dari kantin. Oh ya, setelah ulangan kita akan dikirim ke luar kan?”
“Begitulah. Aku penasaran siapa-siapa yang akan sekelompok denganku…” guman Raven.
“Yah, kita lihat saja nanti. Sebaiknya kita segera masuk kelas. Sebentar lagi waktu istirahat habis.” Ajak Ciel. Mereka pun masuk ke kelas mereka.
.
Jam pelajaran terus berjalan. Dan akhirnya suara deringan bel pulang yang ditunggu-tunggu oleh para siswa berbunyi. Semua siswa langsung merapikan ala-alat tulis mereka. Begitu pun dengan kelas X5. Tapi sebelum mereka keluar kelas, Clara-sensei memberi sedikit pengarahan untuk mereka.
“Anak-anak, minggu depan kalian akan mengikuti ujian. Saya harap kalian dapat mempersiapkan diri kalian sebaik mungkin karena saya tidak mau di kelas ini ada yang mendapat nilai kurang.” Ucap Clara-sensei tegas kepada mereka.
“Baik sensei.” Seru mereka serempak.
“Baguslah kalau begitu. Dan setelah ujian berakhir, kalian akan di tes kembali untuk melihat kemampuan kalian.” Tambah Clara-sensei lagi. Mereka semua menggangguk tanda mengerti. “Kalau begitu sekarang kalian sudah bisa pulang ke rumah kalian. Selamat siang dan hati-hatilah di jalan.” Ucapnya lagi keluar dari kelas.
“Yah, sepertinya minggu depan akan jadi minggu yang cukup sibuk.” Gumam Oichi.
“Sepertinya. Tapi aku jadi tidak sabar untuk mengikutinya.” Balas Mayuko. Mereka menganggukkan kepala mereka serempak. Mereka pun keluar dari kelas dan memutuskan untuk ke taman sebelum pulang ke rumah.
“Ehm, teman-teman, aku kali ini tidak ikut ya… Aku harus segera pulang.” Potong Light.
“Eh, tapi Light…” kata-kata Melodi terputus karena Light sudah berlari pergi.
“Sampai jumpa!” teriaknya sambil berlari. Lalu Light pun menghilang dari pandangan mereka.
“Eh, kalian merasakan keanehan Light tidak? Akhir-akhir ini dia sering menghindar atau menolak ajakan kita. Dia juga sekarang kadang ngobrol sama kita di kelas.” Kata Melodi. Yang lain hanya bisa mengangkat bahunya tanda bahwa mereka juga bingung. Mereka pun hanya bisa melanjutkan perjalanan mereka ke taman. Dalam hatinya, Melodi betul-betul penasaran tenatang perubahan sikap Light. Tapi akhirnya dia memutuskan untuk tidak memikirkan itu lagi.
No comments:
Post a Comment