Thursday, 30 June 2011

Magical Light Chapter 5

Seminggu telah berlalu. Minggu dimana Light dan teman-temannya akan mrngikuti ulangan pun tiba. sesampainya mereka di kelas, mereka langsung membahas tentang mata pelajaran yang akan diulangankan dan tentang apa saja yang telah mereka pelajari umtuk menghadapi ulangan nanti.
Sementara itu di ruang guru, para guru sedang sibuk mempersiapkan kertas-kertas untuk ulangan nanti. Dan di baris terkahir meja paling ujung, duduk Clara-sensei yang sedang bercakap-cakap dengan seseorang.
“Lalu, bagaimana dengan murid-murid di kelasmu, Clara?” tanya orang itu kepada Clara. Orang itu lebih tua dari Clara, kira-kira 50-an umurnya.
“Heh, anda tenang saja, Pak Kepala. Mereka sudah kuajari dengan baik. Mereka pasti bisa menyelesaikan ulangan kali ini dengan baik. Lagipula, ini baru ulangan pertama. Masih banyak ulangan lainnya yang ada di depan mereka.” Jawabnya pada orang yang adalah kepala sekolah itu.
“Begitu. Lalu, bagaimana mereka akan menghadapi ujian yang selanjutnya?” tanya kepala sekolah. Kali ini dengan nada menantang. Clara tidak langsung menjawabnya melainkan dia melihat ke arah luar jendela dan menyunggingkan senyum tipis.
“…Mereka akan menghadapinya dengan kekuatan mereka sendiri. Merekalah yang akan menentukan bagaimana caranya.” Ucap Clara mantap.
“Kau memang hebat Clara. Tidak salah aku memilihmu untuk menjadi wali kelas mereka.” Pujinya. Clara tidak memberikan respon apapun terhadap pujian itu. “Kalau begitu sebaiknya kau segera ke kelasmu dan memulai ujiannya.” Kata kepala sekolah.
“Baiklah kalau begitu.” Clara pun mengambil dokumen yang ada di laci mejanya, berdiri, dan beranjak pergi dari situ.
Baru dua langkah Clara melangkah, kepala memanggilnya. “Clara.” Clara pun membalikkan tubuhnya. “Katakan pada murid-muridmu ‘selamat berjuang’.”
“Ya, pasti akan kusampaikan…ayah.” Saat dia mengucapkan kata terakhir itu, dia mengucapkannya dengan pelan dan langsung berbalik pergi. Tapi ternyata kepala sekolah mendengarnya dan dia tersenyum lembut.
“Ayah percaya padamu, Clara. Bahwa kau bisa membimbing mereka hingga mereka bisa memilih jalan mereka sendiri.” Gumamnya. Dia lalu pergi dari situ dan masuk ke ruangannya.
Clara berjalan menuju kelas perwaliannya dalam diam. Tidak butuh 5 menit untuk berjalan dari ruang guru ke kelasnya. Sesampainya ia, ia disambut oleh keadaan kelas dimana murid-muridnya bercakap-cakap tentang ulangan mereka.
“Eh-em. Selamat pagi muruid-murid.” Sapanya saat dia masuk. Murid-murid yang tadinya agak ribut langsung menghentikan kegiatan mereka dan duduk tenang di bangku masing-masing (-ha-ah. Seandainya kelasku seperti itu, guru datang langsung tenang-*writer curhat ceritanya :p*).
“Selamat pagi sensei.” Balas mereka serempak. Clara menganggukkan kepalanya dan mulai membuka dokumen yang sedari tadi dipegangnya.
“Kalian hari ini akan mengikuti ujian. Saya harap kalian sudah mempersiapkan diri kalian.” Katanya. Dia lalu membagikan kertas ulangan pada para siswa. Setelah selesai, dia kembali ke tempat duduknya lalu berkata, “Nah, kuharap kalian mengerjakannya dengan baik. Dan tidak diperbolehkan melihat perkerjaan orang lain. Jika kalian sudah mengerti, ..oh ya, satu lagi, kepala sekolah menitipkan pesan untuk kalian. Katanya ‘selamat berjuang’.” Mendengar itu para murid tersenyum. “Baiklah. Ujian kali ini ‘dimulai’.” Mereka pun langsung mengerjakan soal-soal yang ada di kertas ulangan. Sedangkan Clara duduk di tempatnya dan mulai memeriksa tugas-tugas dari murid-muridnya.
.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 1 siang. Light dkk telah menyelesaikan ujian hari pertama mereka 2 jam yang lalu. Mereka juga telah makan siang di sebuah rumah makan. Dan setelah itu, seperti biasa mereka pergi ke taman di pinggir kota yang tidak terlalu didatangi banyak orang.
Jika tidak sedang ada keperluan sepulang sekolah, mereka biasanya pergi ke taman dulu sebelum pulang. Dan disinilah mereka, Light, Melodi, Ciel, Anzu, Raven, Oichi, Ryou, Lily, Okuni, dan Izami. Tidak semua memang yang ada karena yang lainnya tidak bisa ke taman terkadang. Tetapi ada juga beberapa orang yang tidak pernah atau bisa dibilang tidak mau ikut ke taman.
“Hei, Raven, kulihat kau sangat akrab dengan Heart. Kau sudah lama mengenalnya ya?” tanya Lily sambil memakan roti isi cokelat-keju-nya.
“Yah, begitulah. Dia adalah temanku dari kecil. Tapi, memangnya terlihat sangat akrab ya?” Raven bertanya balik. Dia lalu duduk di bangku taman berwarna cokelat disamping Izami.
“Ya. Soalnya Heart itu tidak pernah ingin bicara sama yang lainnya. Dia terlihat tidak suka berada di dekat teman-temannya di kelas. Hanya beberapa orang saja yang kulihat pernah berbicara dengannya, salah satunya adalah kau. Jadi tidak salah kan kalau aku bilang kau sangat akrab dengannya?”
“Begitu ya… Heart memang agak pemilih kalau dalam urusan bergaul. Sampai sekarang aku masih bingung dengannya. Dia juga akan bicara jika dia ingin bicara. Jadi, bersabarlah dengan dia.”
Yang lainnya pun hanya menganggukkan kepalanya dan diam menikmati semilir angin musim gugur yang lewat di tempat mereka. Agaknya mereka tidak ingin lagi membicarakan tentang Heart.
‘Dari yang dibicarakan oleh Raven dan Lily, kelihatannya Heart itu orang yang misterius. Aku juga kan pernah tidak sengaja bersentuhan tangan dengannya. Dan waktu dia melihat padaku, aku rasanya melihat sesuatu di matanya juga suatu perasaan tidak nyaman. Mungkin lebih baik aku tidak usah mengganggunya.’ Batin Light yang sedang membaca buku. Dia lalu membaca kembali dan menghilangkan pikirannya tadi.
.
Matahari sudah terbenam sekitar sejam yang lalu. Dan sekarang adalah waktunya makan malam. Seperti biasa Ciel makan malam di rumah sepupunya Melodi. Kebetulan ibu Melodi sedang tidak ada di rumah. Jadi Melodi yang menyiapkan makan malam. Ciel juga ikut membantu membawakan makan malam ke meja makan.
“Yap. Akhirnya siap juga. Hei Melodi, sudah boleh dimakan belum?” tanya Ciel yang sudah selesai mengatur makan malam.
“Tunggu sebentar. Awas kalau kau duluan memakannya sebelum aku datang.” Ancam Melodi.
“Kalau begitu cepatlah. Aku sudah kelaparan, nih.” Sungut Ciel.
“Iya, iya. Aku datang.” Melodi pun keluar dari dapur dan duduk di depan Ciel. Mereka pun mulai memakan makan malam mereka. Mereka makan dalam diam sampai akhirnya Ciel memecahkan kesunyian.
“Hei Melodi, kau ingat tidak pembicaraan Raven dan Lily tadi di taman?” tanyanya pada Melodi. Dia berhenti memakan makanannya untuk mendengar jawaban dari Melodi. Melodi hanya dapat memandang heran karena tidak biasanya Ciel bertanya sampai harus berhenti memakan makanannya.
“Ya. Memangnya kenapa?” Melodi balik bertanya sambil terus memakan makan malamnya.
Hening cukup lama menyelimuti mereka. “…Ehm, tidak. Hanya saja aku tidak terlalu suka dengan Heart. Tatapannya padaku selalu terlihat mengatakan kau-pengganggu-enyahlah.” Katanya sambil mengingat bagaimana Heart menatapnya.
“Heh, memangnya kau pernah berbicara dengannya?” tanya Melodi. Dia terlihat tidak terlalu tertarik dengan pembicaraan ini.
“Tentu saja. Kau tahu kan kalau aku ini berteman dekat dengan Raven. Dan percaya atau tidak dia selalu menatapku dengan pandangan seperti melihat seorang pengganggu. Aku tidak suka itu. Seperti dia itu ratunya.” Kata Ciel kesal. Dia sudah selesai dengan makan malamnya.
Melodi menghela napas. “Ha-ah. Mungkin dia tidak suka kau dekat-dekat dengan Raven. Mungkin dia suka pada Raven sehingga dia menganggapmu sebagai pengganggu.” Komentar Melodi terdengar cuek. Melodi lalu beranjak dari duduknya dan mengambil sebuah buku yang ada di atas meja kecil di sudut ruangan. Dia lalu keluar dari ruang makan menuju ke ruang keluarga. Ciel mengikutinya.
“Kau terlihat tidak peduli dengan apa yang kubicarakan.” Kata Ciel sesampainya mereka di ruang keluarga. Mereka berdua menghempaskan diri di sofa.
“Memang tidak.” Jawab Melodi cuek. Ciel terlihat kesal. Dia lalu menyeringai.
“Ho-oh. Jadi Heart menyukai Raven. Aku tidak menyangka.” Kata Ciel sinis. Melodi mulai merasakan sesuatu yang tidak enak akan dilontarkan oleh sepupunya itu. Dia lalu menatap sepupunya itu dengan pandangan apa-maksudmu-hah. ‘Kena kau.’ Batin Ciel.
“Sudahlah Melodi. Aku ini sepupumu. Aku selalu memperhatikanmu di sekolah. Setiap kau bertatap muka dengan Raven, aku lihat selama beberapa detik kau terdiam. Lalu kau akan menatap ke arah lain. Terkadang juga ada semburat merah di pipimu. Apa itu artinya?” goda Ciel.
Melodi yang mendengar itu mukanya menjadi merah karena marah dan malu. Marah karena Ciel menggodanya memakai hal itu dan malu karena semua yang dikatakan Ciel itu benar.
“A..apa maksudmu, hah!?” teriak Melodi. Ciel lalu menyerigai lebar.
“Ho-oh. Ternyata benar.” Kata Ciel misterius. Wajah Melodi tambah merah padam. “Kau…Menyukai…Raven, kan?” ucapnya perlahan. Melodi tahu saat itu wajahnya pasti sudah semerah udang rebus.
“Jangan bercanda. A, aku tidak menyukainya tahu!!” teriak Melodi kesal. Ciel langsung tertawa terbahak-bahak melihat reaksi saudaranya itu. Melodi benar-benar salah tingkah melihat Ciel tertawa seperti itu. Melodi lalu menarik napas berusaha menenangkan dirinya.
“Iya, iya. Aku mengerti. Kau tidak menyukai Raven, kan? Haha. Kau tak perlu berteriak seperti tadi. Haha.” Ciel masih terus terkikik. Melodi memberengut kesal.
“Ukh. Awas kau Ciel!” ancam Melodi. Di sekitarnya sudah terlihat aura-aura hitam. Ciel yang melihatnya bergidik ngeri. ‘Glek’. Ciel bangkit dari duduknya dan bersiap-siap lari. Akhirnya, mereka berdua pun saling kejar-kejaran di ruangan itu. Sampai akhirnya ada suara dari depan rumah.
“Ibu pulang!” seru ibu Melodi. Ibunya membuka pintu rumah dan mendapati anak dan keponakannya sedang berkejar-kejaran di dalam rumah. “Melodi, Ciel! Apa yang kalian lakukan?!” teriak ibunya. Melodi dan Ciel langsung berhenti.
“Ah, ibu sudah pulang.” Ucap Melodi. Ciel langsung berlari menghampiri bibinya itu.
“Bibi aku pulang dulu ya. Terima kasih makan malamnya. Ya, Melodi, sampai besok.” Dengan itu Ciel melesat keluar menuju rumahnya. Melodi pun menghela napas dalam. Dia langsung terduduk di tempat duduknya. Ibunya yang masih bingung tentang apa yang terjadi tidak jadi menanyakan karena melihat Melodi yang kelelahan. Dia akhirnya memutuskan untuk ke dapur untuk membereskan makan malam Melodi dan Ciel.

No comments:

Post a Comment