"Melodi, apa kau sudah bangun?" ibunya memanggilnya dari bawah.
"Ya, bu. Aku segera turun." dengan itu, Melodi mengambil tasnya dan keluar dari kamarnya.
"Selamat pagi, bu." sapa Melodi.
"Selamat pagi, Melodi. Ciel sudah menunggumu di teras. Kalian mau sarapan dulu?" tanya ibunya.
"Baiklah. Kalau begitu aku panggil Ciel dulu, ya..." ucap Melodi seraya beranjak ke luar untuk memanggil Ciel. Melodi kembali teringat pada kejadian beberapa hari yang lalu.
Flashback
"Aku pulang." teriak Melodi ketika dia memasuki rumahnya.
"Selamat datang Melodi. Bagaimana harimu di sekolah?" tanya ibunya.
"Ibu sudah tahu ya kalau Ciel pindah ke kota ini? Sekolah di tempat yang sama denganku bahkan sekelas denganku?!" tanya Melodi pura-pura kesal pada ibunya.
"Jadi kau sudah bertemu denganya, ya? Ibu minta maaf karena tidak memberitahumu lebih dulu. Ya, Ciel memang akan tinggal dan studi disini. Kau juga seharusnya sudah tahu kan kalau rumah Ciel yang ada di sebelah rumah kita?" jelas ibunya.
"Ya, aku sudah tahu. Ciel yang memberitahuku."
"Mulai sekarang kau akan bersama dengan Ciel lagi seperti dulu."
"Yaa, baiklah bu, aku mengerti. Kalau begitu aku ke ruanganku dulu." dengan itu, Melodi langsung menuju ruangannya a.k.a kamarnya.
'Semoga kau tidak apa-apa, Melodi." batin ibunya misterius.
End of flashback
'Yaa, dan berhubung Ciel tidak bisa memasak maka setiap hari dia harus makan disini.' batin Melodi.
Diluar, ada Ciel yang sedang duduk di bangku taman sambil mengutak-atik laptopnya. "Selamat pagi Ciel. Pagi-pagi begini kau sudah sibuk dengan laptopmu. Dasar." sapa Melodi sarkastik dan langsung duduk disamping Ciel.
"Pagi Melodi. Haha, apa boleh buat. Ini cara agar aku masih bisa berhubungan dengan teman-temanku di tempatku dulu." ucap Ciel sambil tersenyum.
Mendengar itu, Melodi ikut tersenyum. "Kalau begitu, jika kau sudah selesai cepat masuk dan kita sarapan bersama. Dan jangan lama-lama. Nanti kita terlambat. Aku duluan." setelah mengatakan itu Melodi langsung beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam rumah.
Mata safir Ciel mengikuti gerakan Melodi dan setelah Melodi masuk ke dalam rumah dan menghilang dari pandangannya dia tersenyum tipis dan mengalihkan perhatiannya kembali ke laptopnya.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Di sudut ruangan perpustakaan dekat rak no. 10, Light duduk disitu sambil memandang keluar jendela. Light memang paling suka berada di perpustakaan jika ada waktu lowong dan memilih duduk disitu karena dari situ dia bisa melihat taman belakang sekolah yang sepi. Taman belakang sekolah memang jarang didatangi para siswa. Mereka lebih memilih berada di taman depan atau lapangan sekolah untuk menghabiskan waktu istirahat mereka. Tapi itulah yang membuat Light lebih menyukai berada di perpustakaan yang sunyi sambil memandangi taman belakang yang sepi. Itu membuatnya merasa tenang.
Saat ini pun, dia duduk di sudut itu sambil memandangi taman dalam kesunyian. Sebenarnya, ini sudah pukul 5 sore yang artinya sudah 1 jam kegiatan sekolah berakhir. Tapi Light lebih memilih untuk ke perpustakaan dulu sebelum pulang. Teman-temannya yang lain sudah pulang dari tadi.
"Sebaiknya aku segera pulang. Hari sudah mulai gelap. Kelihatannya aku terlalu lama berada disini." mengakhiri ucapannya, Light langsung beranjak dari tempatnya dan berjalan ke luar perpustakaan.
Tepat saat dia menutup pintu perpustakaan, seseorang menepuk bahunya dari belakang. "Light?" Light pun menghadap ke belakang mencari pemilik suaraitu. Dan saat dia berbalik, dia melihat seorang laki-laki berambut hitam dan mempunyai mata yang berwarna sama.
"Raven?" ya, orang itu adalah Raven, teman kelasnya Light.
"Hai Light. Kau belum pulang?" tanya Raven.
"Iya. Aku selalu menyempatkan diri ke perpustakaan. Tapi aku tidak sadar kalau ini sudah hampir malam. Kalau kau sendiri, kenapa disini?" Light balik bertanya.
"Oh, aku tadi ada latihan basket dan baru selesai." kata Raven sambil memainkan bola basket di tangannya.
"Huh, pantas ada bau-bau nggak enak." ucap Light sarkastik.
"Haha. Apa boleh buat kan. Tapi apa yang kau lakukan di perpustakaan sampai jam segini?"
"Yah, aku suka membaca karena itu aku suka kesini. Dan kalau aku tidak lagi dalam mood membaca, aku hanya duduk-duduk saja di sudut dekat jendela yang mengarah ke taman belakang." jelas Light.
"Oh, begitu...Hei!Lebih baik kita pulang sekarang. Hari sudah gelap. Ayo!" ajak Raven. Mereka berdua pun berjalan bersama keluar dari sekolah.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pagi itu adalah pagi yang cerah. Oarang-orang berjalan dengan santai menuju tempat memulai aktivitas harian mereka masing-masing. Ya, itu memang masih pukul 07.45. Masih ada waktu setengah jam sebelum aktivitas mereka dimulai. Tapi sepertinya hal itu tidak berlaku untuk seirang gadis berambut orange tersebut. Dia berlari menembus lalu-lalang orang-orang sambil berkata "maaf, permisi". Gadis yang kita kenal sebagai Melodi itu terus berlari menuju sekolahnya. Entah apa yang membuatnya begitu tergesa-gesa.
"Gawat, aku telat. Aku harus segera sampai di sekolah. Walaupun ini belum masuk jam pelajaran, tapi kalau tidak cepat aku bisa terlambat mengikuti jam pelajaran pertama hari ini, jam pelajaran olahraga." Yak, sepertinya kita sudah mengetahui apa alasannya. "Ciel juga malah ninggalin aku. Dia tahu aku akan lama, makanya dia pergi duluan. Nggak setia kawan sekali dia. Huh!" sambil terus mengomel Melodi terus berlari.
Akhirnya Melodi sampai di gerbang sekolah dan setelah mengucapkan 'selamat pagi' kilat pada penjaga gerbang, dia langsung melesat menuju kelasnya. 'Itu dia, pintu kelasnya.' batin Melodi. Melodi langsung menyunggingkan senyum. Tapi saat dia mau berbelok masuk kelasnya, dia bertubrukan dengan seseorang yang baru keluar dari dalam kelas. Melodi yang sudah dari tadi berlari kehilangan keseimbangannya dan akan jatuh. Tapi tangan orang yang ditabraknya tadi langsung menggenggam kuat pergelangan tangan Melodi sehingga dia tidak jatuh. Setelah memastikan Melodi tidak jatuh, orang itu melepas pegangannya dari tangan Melodi.
"Kau tidak apa-apa?" tanyanya.
"Oh, aku tidak apa-apa. Maaf sudah menabrakmu dan terima kasih sudah menolongku...Raven..." Melodi terkejut mengetahui bahwa yang ditabraknya adalah Raven.
"Iya, aku mengerti. Sebaiknya kau cepat masuk." dan setelah berkata seperti itu, Raven langsung pergi dari hadapan Melodi dan menuju lapangan. Melodi pun segera masuk dan di dalam dia disambut dengan perkataan Anzu yang menyuruhnya cepat berganti seragam olahraga.
"Hei, Melodi. Sebaiknya kau cepat-cepat. Pelajaran dimulai sepuluh menit lagi. Kalau tidak cepat, nanti bisa terlambat masuk lapangan." ujar Anzu.
"I,iya. Light mana?" tanyanya sambil menaruh tasnya dan mengambil seragam olahraganya.
"Dia sudah pergi ke lapangan duluan. Tadi kau kenapa di depan kelas?"
"Ayo, temani aku ke ruang ganti. Nanti aku jelaskan sambil jalan." ajak Melodi. Dan mereka berdua pun meninggalkan kelas menuju ke ruang ganti pakaian.
.
Jam pelajaran olahraga sebentar lagi berakhir. Saat itu, siswi dapat beristirahat di tepi lapangan sambil menonton siswa laki-laki bermain basket. Tak terkecuali Melodi. Dia duduk dan bersandar di bawah pohon sambil melamun. Matanya menatap teman-temannya yang sedang main basket. Lebih tepatnya dia sedang menatap Raven, orang yang tadi pagi bertabrakan dengannya.
'Tadi...mataku dan mata Raven bertemu walaupun hany sedetik.' batinnya lalu dia menghela napas. 'Hah...aku tidak mengerti. Saat aku menatap matanya, aku seperti melihat sesuatu. Tapi aku tak bisa menafsirkan apa itu...' batinnya lagi sambil menutup matanya.
"Hoi!" tiba-tiba ada seseorang yang mengagetkannya. Refleks Melodi membuka matanya dan menatap orang yang mengagetkannya. Seorang gadis berambut kuning yang diikat ekor kuda sedang berdiri de belakangnya sambil menyeringai.
"Light! Kau mengagetkanku saja!" kata Melodi ketus.
"Haha, maaf, maaf. Habis, dari tadi kerjaanmu melamun terus. Lalu, tadi kau juga menutup matamu seperti orang yang sedang tidur tapi keningmu berkerut seperti itu. Ada apa sih?" tanya Light polos.
"Ha-ah. Jadi dari tadi kau memperhatikanku ya?"
"Tidak juga. Aku hanya tidak sengaja melihatmu. Oh ya, kau mau main basket bersama yang lainnya, tidak? Daripada kau hanya duduk-duduk tidak jelas sambil melamun..." ajaknya.
"Memangnya yang lainnya juga main basket? Kukira hanya para siswa laki-laki saja..." ucap Melodi. Dia sudah berdiri di samping Light.
"Ya, tadinya memang hanya para siswa saja, tapi kami bosan duduk-duduk di bawah pohon, jadinya kami memutuskan untuk main basket juga. Kamu sih dari tadi cuma melamun disini sambil melihat ke arah anak-anak cowok. Lagi melohat apa sih?"
"Tisak. Bukan siapa-siapa. Lebih baik kita ke tempat yang lainnya. Ayo!" Melodi mengacuhkan pertanyaan Light tadi dan langsung berjalan meninggalkan Light.
"Hei! Tunggu aku!" teriak Light. Mereka tidak menyadari kalau dari tadi ada dua pasang mata yang sedang memandangi mereka.
"Raven, kenapa kau memperhatikan mereka berdua? Apa kau kenal mereka?" tanya seorang gadis brunette pada Raven. Mereka terlihat sudah lama mengenal satu sama lain.
"Tentu saja aku mengenal mereka. Mereka kan teman sekelas kita, Heart. Kau ini..." ucap Raven sambil menghela napas.
"Memang benar. Tapi kau seharusnya tahu bahwa aku tidak terlalu suka bergaul dengan mereka, kan?" kata Heart sarkastik.
"Yah, terserah kaulah. Lebih baik kau kembali ke tempat anak-anak cewek. Nanti kalau mereka mencarimu dan melihatmu disini, mereka akan bingung nanti. Aku juga harus kembali main. Dah" Raven pun kembali ke tempat teman-temannya.
Heart tidak memusingkan perkataan Raven. Dia malah terus memperhatikan Raven yang kini sedang bercakap-cakap dengan Ciel. Heart tahu kalau Raven dan Ciel itu walaupun baru saling mengenal mereka langsung menjadi teman dekat. Dan Heart selalu tidak suka pemandangan saat Raven bercakap-cakap dengan Ciel. Heart pun memalingkan pendangannya ke tempat lain. Dan entah kenapa dia menyunggingkan senyum tipis.
"Gawat, aku telat. Aku harus segera sampai di sekolah. Walaupun ini belum masuk jam pelajaran, tapi kalau tidak cepat aku bisa terlambat mengikuti jam pelajaran pertama hari ini, jam pelajaran olahraga." Yak, sepertinya kita sudah mengetahui apa alasannya. "Ciel juga malah ninggalin aku. Dia tahu aku akan lama, makanya dia pergi duluan. Nggak setia kawan sekali dia. Huh!" sambil terus mengomel Melodi terus berlari.
Akhirnya Melodi sampai di gerbang sekolah dan setelah mengucapkan 'selamat pagi' kilat pada penjaga gerbang, dia langsung melesat menuju kelasnya. 'Itu dia, pintu kelasnya.' batin Melodi. Melodi langsung menyunggingkan senyum. Tapi saat dia mau berbelok masuk kelasnya, dia bertubrukan dengan seseorang yang baru keluar dari dalam kelas. Melodi yang sudah dari tadi berlari kehilangan keseimbangannya dan akan jatuh. Tapi tangan orang yang ditabraknya tadi langsung menggenggam kuat pergelangan tangan Melodi sehingga dia tidak jatuh. Setelah memastikan Melodi tidak jatuh, orang itu melepas pegangannya dari tangan Melodi.
"Kau tidak apa-apa?" tanyanya.
"Oh, aku tidak apa-apa. Maaf sudah menabrakmu dan terima kasih sudah menolongku...Raven..." Melodi terkejut mengetahui bahwa yang ditabraknya adalah Raven.
"Iya, aku mengerti. Sebaiknya kau cepat masuk." dan setelah berkata seperti itu, Raven langsung pergi dari hadapan Melodi dan menuju lapangan. Melodi pun segera masuk dan di dalam dia disambut dengan perkataan Anzu yang menyuruhnya cepat berganti seragam olahraga.
"Hei, Melodi. Sebaiknya kau cepat-cepat. Pelajaran dimulai sepuluh menit lagi. Kalau tidak cepat, nanti bisa terlambat masuk lapangan." ujar Anzu.
"I,iya. Light mana?" tanyanya sambil menaruh tasnya dan mengambil seragam olahraganya.
"Dia sudah pergi ke lapangan duluan. Tadi kau kenapa di depan kelas?"
"Ayo, temani aku ke ruang ganti. Nanti aku jelaskan sambil jalan." ajak Melodi. Dan mereka berdua pun meninggalkan kelas menuju ke ruang ganti pakaian.
.
Jam pelajaran olahraga sebentar lagi berakhir. Saat itu, siswi dapat beristirahat di tepi lapangan sambil menonton siswa laki-laki bermain basket. Tak terkecuali Melodi. Dia duduk dan bersandar di bawah pohon sambil melamun. Matanya menatap teman-temannya yang sedang main basket. Lebih tepatnya dia sedang menatap Raven, orang yang tadi pagi bertabrakan dengannya.
'Tadi...mataku dan mata Raven bertemu walaupun hany sedetik.' batinnya lalu dia menghela napas. 'Hah...aku tidak mengerti. Saat aku menatap matanya, aku seperti melihat sesuatu. Tapi aku tak bisa menafsirkan apa itu...' batinnya lagi sambil menutup matanya.
"Hoi!" tiba-tiba ada seseorang yang mengagetkannya. Refleks Melodi membuka matanya dan menatap orang yang mengagetkannya. Seorang gadis berambut kuning yang diikat ekor kuda sedang berdiri de belakangnya sambil menyeringai.
"Light! Kau mengagetkanku saja!" kata Melodi ketus.
"Haha, maaf, maaf. Habis, dari tadi kerjaanmu melamun terus. Lalu, tadi kau juga menutup matamu seperti orang yang sedang tidur tapi keningmu berkerut seperti itu. Ada apa sih?" tanya Light polos.
"Ha-ah. Jadi dari tadi kau memperhatikanku ya?"
"Tidak juga. Aku hanya tidak sengaja melihatmu. Oh ya, kau mau main basket bersama yang lainnya, tidak? Daripada kau hanya duduk-duduk tidak jelas sambil melamun..." ajaknya.
"Memangnya yang lainnya juga main basket? Kukira hanya para siswa laki-laki saja..." ucap Melodi. Dia sudah berdiri di samping Light.
"Ya, tadinya memang hanya para siswa saja, tapi kami bosan duduk-duduk di bawah pohon, jadinya kami memutuskan untuk main basket juga. Kamu sih dari tadi cuma melamun disini sambil melihat ke arah anak-anak cowok. Lagi melohat apa sih?"
"Tisak. Bukan siapa-siapa. Lebih baik kita ke tempat yang lainnya. Ayo!" Melodi mengacuhkan pertanyaan Light tadi dan langsung berjalan meninggalkan Light.
"Hei! Tunggu aku!" teriak Light. Mereka tidak menyadari kalau dari tadi ada dua pasang mata yang sedang memandangi mereka.
"Raven, kenapa kau memperhatikan mereka berdua? Apa kau kenal mereka?" tanya seorang gadis brunette pada Raven. Mereka terlihat sudah lama mengenal satu sama lain.
"Tentu saja aku mengenal mereka. Mereka kan teman sekelas kita, Heart. Kau ini..." ucap Raven sambil menghela napas.
"Memang benar. Tapi kau seharusnya tahu bahwa aku tidak terlalu suka bergaul dengan mereka, kan?" kata Heart sarkastik.
"Yah, terserah kaulah. Lebih baik kau kembali ke tempat anak-anak cewek. Nanti kalau mereka mencarimu dan melihatmu disini, mereka akan bingung nanti. Aku juga harus kembali main. Dah" Raven pun kembali ke tempat teman-temannya.
Heart tidak memusingkan perkataan Raven. Dia malah terus memperhatikan Raven yang kini sedang bercakap-cakap dengan Ciel. Heart tahu kalau Raven dan Ciel itu walaupun baru saling mengenal mereka langsung menjadi teman dekat. Dan Heart selalu tidak suka pemandangan saat Raven bercakap-cakap dengan Ciel. Heart pun memalingkan pendangannya ke tempat lain. Dan entah kenapa dia menyunggingkan senyum tipis.
TBC
Akhirnya selesai juga. setelah berbulan-bulan tidak posting lanjutannya. Jadi, ini dia. chapter 3. Maaf jika ada banyak typo. Semoga disukai :)
No comments:
Post a Comment