Saturday, 16 April 2011

Yang ku mengerti

Tadi aku membaca fanfic Bleach berjudul The Truth About Forever oleh d-She ryuusei Hakuryuu. Main pairingnya HitsuRuki. Ceritanya keren. Disitu Hitsugaya mengidap penyakit HIV dan datang ke kota Karakura dan tinggal di sebuah kost yang sama dengan Rukia. Dia datang ke kota itu untuk membalas dendam pada temannya yang telah menghancurkan hidupnya, membuatnya terjangkit virus laknat itu.
Dia pun mulai dekat dengan Rukia. Tapi Hitsugaya selalu teringat bahwa dia tidak boleh merasakan perasaan itu. dia tidak berhak akan hal itu. Hitsugaya terus berusaha menjauh dari Rukia. Tapi, pada akhirnya dia selalu melupakan hal itu. Dia merasa bahwa dengan bersama Rukia bebannya terangkat.
Sampai pada akhirnya, Rukia tahu bahwa Hitsugaya mempunyai penyakit HIV. Tapi Rukia sudah terlanjur menyukai Hitsugaya. Rukia pun bertekad akan terus menemani Hitsugaya karena Rukia tahu Hitsugaya menjauh dan bersikap dingin karena dia memikirkan orang lain, dia tidak ingin orang lain terjangkit penyakitnya. Hitsugaya sudah terlalu kesepian.
Rukia terus berusaha agar Hitsugaya percaya padanya. Dia membuat Hitsugaya percaya bahwa dia masih dapat menggapai cita-citanya. Jika sisa hidup Hitsugaya tinggal 5 tahun lagi, maka Hitsugaya harus mempergunakan setiap detik sisa hidupnya itu dengan baik. Hitsugaya pun sudah tidak menghindari Rukia lagi.
Perlahan-lahan orang-orang yang disayanginya yang dulu meninggalkannya karena penyakitnya mulai kembali dan meminta maaf pada Hitsugaya. Hitsugaya pun menemukan orang yang dicarinya selama 5 tahun terakhir yang tak lain adalah temannya sendiri. Dia juga mengtahui hal yang lebih menyakitkan bahwa temannya juga mengidap penyakit yang sama.
Akhirnya, Hitsugaya memutuskan untuk kembali pada orangtuanya yang sudah meminta maaf padanya. Hitsugaya dan Rukia membuat janji untuk bertemu kembali saat cita-cita mereka sudah terwujud. Hitsugaya menjadi sutradara dan Rukia menjadi penulis best-seller.
Satu setengah tahun kemudian mereka akhirnya mencapainya. Tinggal sedikit lagi mereka akan bertemu lagi. Tapi ternyata Tuhan menghendaki yang lain. Hitsugaya meninggal karena kecelakaan pada saar dia menolong sahabatnya Ichigo.
Hitsugaya pergi dengan meninggalkan kenangan indah dengan semua orang yang mengasihinya. Walaupun Hitsugaya, orang yang paling dicintai Rukia telah pergi, Rukia tetap akan mengingatnya. Rukia tetap tegar menjalani hidupnya. Dengan bertemu Hitsugaya, Rukia mengerti tentang hidup. Dan Rukia tahu, mereka akan bertemu lagi suatu saat nanti.
Saat membaca chapter pertamanya, aku tidak terlalu tertarik dengan fanfic itu. Tapi, aku mulai penasaran dengan ceritanya karena pada chapter awal masalah Hitsugaya benar-benar disembunyikannya. Akhirnya aku memutuskan untuk terus membacanya sampai selesai. Saat ceritanya hampir selesai, aku mulai memahami cerita ini. Saat Rukia bertahan menghadapi Hitsugaya dengan terus menyemangati Hitsugaya, aku mulai menangis. Begitu berartinya ternyata hidup ini.
Tuhan menciptakan kita, mempertemukan dengan orang-orang itu bukan karena suatu kebetulan. Itu karena Tuhan tahu bahwa orang itu dapat menjadi teman kita, orang yang dapat menyayangi kita dengan segala kekurangan kita. Benang takdir yang terbelit-belit itu dililitkan pada kita untuk suatu alasan.
Kita mungkin tidak menghiraukan arti satu detik itu. Tik. Satu detik yang kita rasa tidak berarti telah lewat. Tik. Satu lagi detik telah lewat. Kita benar-benar tidak mengetahui arti satu detik. Tapi kita akan mengerti dan menyesal nanti jika kita tahu bahwa waktu kita sebentar lagi akan habis. Setidaknya, itulah yang dirasakan Hitsugaya. Hidup Hitsugaya hancur hanya karena satu kesalahan. Ya, Hitsugaya terjangkit virus itu karena temannya, Kusaka. Kusaka memakaikan suntik narkoba pada Hitsugaya, temannya sendiri hanya karena dia merasa iri pada Hitsugaya yang memiliki apa yang tidak dia miliki, yaitu orang-orang yang mencintai Hitsugaya.
Setelah membaca cerita ini, aku jadi mulai sedikit memahami tentang arti hidup. Hidup kita dirancang tidak hanya dengan hal yang menyenangkan. Suatu saat nanti, kita akan menemukan masalah yang kita rasa kita tak akan mampu menghadapinya, seperti yang terjadi pada Rukia. Tapi, disini kita belajar untuk tidak menyerah pada hal itu.
Aku juga belajar untuk tidak menyerah pada cita-citaku. Jika kita berusaha, maka cita-cita setinggi apapun pasti dapat kugapai. Aku yang akhir-akhir ini merasa bahwa aku tidak dapat menjadi apa yang selalu kucita-citakan dari dulu mulai dapat kembali berharap.



(16 April  2011)

No comments:

Post a Comment