Saturday, 15 October 2011

Magical Light Chapter 8

Angin dingin berhembus membelai daun-daun coklat yang gugur. Sebentar lagi musim dingin akan datang. Walaupun begitu, murid-murid SMA Maple tetap semangant menjalani aktivitas mereka.
Begitu pula dengan di kelas 1-5. Mereka tak terpengaruh dengan udara dingin yang menususk. Mereka tetap menjalani aktivitas mereka sebagai seorang siswa seperti biasa. Tapi sepertinya hari ini ada yang berbeda. Mereka terlihat satu persatu keluar dari kelas menuju laboratorium sekolah.
“Uh, okay. Sekarang aku mulai gugup. Apa yang seharusnya harus kita lakukan di sana?!” Midori berteriak frustasi.
“Yang sudah dipanggil tidak kembali ke kelas. Sepertinya mereka disuruh untuk tidak mengatakan apa yang mereka lakukan di sana…” ucap Ciel.
“Sebentar lagi kita juga akan dipanggil.” Ucap Melodi.
Dan tak lama kemudian terdengar suara dari speaker, “Melodi, giliranmu.” Itu suara Clara.
Melodi langsung bangkit dari kursinya. “Kalau begitu, aku duluan, ya…” Melodi pamit seraya keluar dari kelas. Light melambai pada Melodi sedangkan yang lainnya hanya mengangguk dan kembali pada kegiatan mereka masing-masing.
.
.
Melodi’s POV
Akhirnya giliranku dipanggil tiba juga. Aku sudah bosan menunggu. Dari kelas ke lab aku harus memotong lewat lapangan sekolah. Tapi kalau kau tak ingin berpanas-panasan, kau bisa lewat koridor, walaupun lebih lama, sih…
Kali ini aku memilih melewati koridor. Bukannya aku tidak ingin kena panas matahari, tapi aku sedang ingin berlama-lama. Aku masih penasaran dengan apa yang akan kulakukan di sana.
Akhirnya aku sampai. Di sekitar lab, tidak ada orang yang berlalu-lalang. Sepertinya sudah diatur agas yang datang ke sini hanya kami yang dipanggil. Dari luar aku bisa melihat Clara-sensei. Aku pun segera masuk ke dalam. Aku mulai gugup saat Clara-sensei melihatku dengan pandangan yang tak bisa kujelaskan. Matanya seperti menyimpan sesuatu, sesuatu yang kurasa bisa sewaktu-waktu memojokkanku.
“Kau sudah datang Melodi…” ucapnya.
“Ya. Apa yang kulakukan?” tanyaku. Aku ingin ini segera berakhir.
“Kau tak perlu melakukan apa-apa. Aku hanya ingin bercakap-cakap denganmu.” Jawabnya. Hah, mulai dengan prosedur yang bertele-tele, nih.
“Jadi aku akan diwawancarai?” aku langsung bertanya pada intinya, ya, aku sudah tahu aku akan diwawancarai – atau bisa dibilang seperti itu.
“Wah, jadi kau sudah tahu, ya?” dia balik bertanya padaku, pertanyaan yang pasti sudah diketahui jawabannya olehnya.
“Begitulah. Lalu, tentang apa?” aku langsung memulainya. Aku benar-benar ingin ini segera berakhir.
“Tak terlalu sulit. Aku hanya ingin tanya apa yang kau ketahui tentang harapan?” Clara-sensei menanyakan hal yang sukses membuatku terdiam.
Harapan? Aku… aku tidak tahu harus begaimana menjawabnya.
Aku hanya bisa diam. Aku melihat ke arah Clara-sensei. Dia terlihat tidak memaksaku untuk menjawabnya dengan cepat. Dia hanya menunggu. Aku lalu menghela napasku. Kemudian kututup mataku. Cukup lama aku berpikir sampai akhirnya aku membuka mataku. Clara-sensei sedikit terkejut dengan tindakanku barusan.
“Aku… bagiku harapan itu seperti bintang.” Oke. Ini agak aneh bagiku. Tapi hanya itu yang terpikirkan olehku. “Kita semua punya berbagai harapan. Sama seperti bintang, ada berbagai bintang di angkasa sana. Tapi justru karena itulah harapan itu tak mudah tercapai. Butuh banyak kerja keras dan kesabaran. Tapi asal harapan itu tetap bercahaya layaknya bintang, dia akan menjadi suatu kekuatan besar bagi kita di suatu saat nanti. Asal tidak berhenti percaya pada harapan, harapan itu akan menjadi nyata.” Jelasku.
Clara-sensei hanya diam. Aku menunggu sampai dia berbicara. “Lalu, dari yang kau jelaskan tadi, apa yang harus ada dalam dirimu?” dia bertanya lagi padaku.
Aku diam sesaat memikirkan pertanyaan itu. “Kurasa… hati yang penuh cahaya harapan…” jawabku. Aku agak ragu sebenarnya. Tapi aku kira itu jawaban yang benar-benar berasal dari hatiku.
Clara-sensei menganggukkan kepala. Dia lalu menatapku. “Kalau begitu, aku ingin kau memenuhi permintaanku. Bagaimana?” tanyanya.
Aku mengangguk. “Jika aku bisa memenuhinya, aku bersedia.” Ucapku. Clara-sensei tersenyum.
“Tak sulit, kok. Aku hanya ingin kau mempertahankan ‘hati yang penuh dengan cahaya harapan’ itu.” Katanya lembut.
“Tapi aku kan belum mempunyai hati itu. Bagaimana caranya mempertahankan ‘itu’?” kataku gugup.
“Kau tahu, kau sudah memiliki hati itu. Tanpa kau sadari, kau mempunyai harapan yang kuat di hatimu.” Jelasnya.
Aku bingung. “Eh? Benarkah?” tanyaku.
“Ya. Nanti kau juga akan mengerti.” Ucapnya. Aku mengangguk. Aku tahu Clara-sensei mengatakan yang sebenarnya. Dia tersenyum.
“Baiklah. Kau sudah boleh keluar sekarang. Oh ya, lebih baik kau pergi ke taman belakang. Di sana sudah ada yang lainnya. Jangan beritahukan apa yang sudah kau lakukan di sini pada teman-temanmu yang belum dipanggil!” katanya padaku.
“Baiklah. Aku permisi” aku pun keluar dari ruangan itu.
End of Melodi’s POV
.
.
“Ciel, giliranmu” terdengar kembali suara dari pengeras suara.
Ciel bangkit dari duduknya. “Aku duluan” dia lalu keluar dari kelas. Pandangan Light mengikuti Ciel sampai dia menghilang. Light tetap memandang ke luar selama beberapa detik sampai akhirnya dia kembali membaca buku.
.
Ciel’s POV
Aku berjalan cepat menuju laboratorium. Aku sudah lelah dari tadi hanya duduk-duduk. Aku langsung memotong lewat lapangan sekolah. Kurasa sedikit sinar matahari baik untukku.
Aku dengan cepat sampai di lab. Bisa kulihat Clara-sensei duduk diam di dalam dengan tenang. Sebelum masuk, aku menghela napasku. ‘Ini tidak akan sulit’ pikirku. Aku pun masuk ke dalam.
“Wah, kau cepat juga, Ciel…” ujarnya begitu aku masuk.
“I-iya. Begitulah…” balasku.
“Bagaimana kesanmu bersekolah di sini? Bersekolah di kota ini?” tanyanya langsung tanpa basa-basi padaku. Aku agak bingung dengan pertanyaannya. Tapi kurasa tak ada salahnya sebagai guru dia bertanya begitu.
“Aku senang bersekolah di sini. Yah, memang masih perlu menyesuaikan diri di kota ini. Tapi, aku senang dengan kota ini. Dan mengingat teman-temanku di sini, semuanya jadi lebih hebat!” jawabku seadanya. Maksudku ‘seadanya’ itu, yah…apa yang memang kurasakan.
“Aku turut senang mendengarnya. Berarti kau menyayangi teman-temanmu?” dia bertanya lagi.
Aku mengangguk. “Begitulah”
“Ciel, aku tahu kau terbilang masih baru di kota ini. Tapi aku tahu kau memang menyayangi teman-temanmu…” kata Clara-sensei. “…dan terlebih Melodi. Bukan begitu?” ujarnya lagi.
Aku mengerutkan keningku. Memutuskan untuk berpikir sebentar, aku lalu menjawab, “Dia kan sepupuku. Terlebih aku lebih tua darinya. Jadi wajar saja aku sangat menyayanginya.” Jawabku.
“Aku mengerti. Ciel, kau suka berandai-andai?”
“Hah? Apa maksudnya?”
“Seandainya Melodi dalam kesulitan yang mengancam nyawanya, apa kau akan melindunginya?” aku tersentak. Itu jelas. Kenapa sudah sampai ke situ pembicaraan ini? Ini mulai aneh.
“Tentu saja!” ucapku. “Jika aku bisa melindunginya, aku akan melindunginya.” Tambahku. Raut wajah Clara-sensei agak berubah saat aku memberikan jawabanku. Apa aku salah?
“Apa kau tahu Ciel kalau melindungi itu tidak mudah?” aku terdiam. Kurasa aku salah jawab. Aku diam memandangi Clara-sensei. Dia terlihat agak muram. Aku jadi merasa tak enak. Mungkin jawabanku tadi ada yang menyinggungnya.
Aku menunduk. “Aku tahu. Aku tak berpikir melindungi itu mudah. Tapi kalau punya kesempatan untuk melindungi orang yang kau sayangi, kenapa tidak?”
“Aku tahu kau memang anak yang baik, Ciel…” aku mendengar Clara-sensei berbisik. Aku mengangkat kepalaku. “Kau tahu, kau mirip dengan seseorang yang kukenal dulu…” ujarnya.
“Dulu?”
“Ya. Tapi, dia sudah tak ada”
“Oh…” aku tak tahu harus bilang apa.
“Orang bodoh yang pergi sangat cepat…” gumamnya. “Ciel, lakukan apa yang harus kau lakukan. Lindungi apa yang kau rasa patut kau lindungi. Itu jalanmu, bukan?” clara-sensei tersenyum padaku. Aku pun tersenyum.
“Baik!”
“Kau sudah boleh keluar sekarang. Pergilah ke taman belakang! Jangan beritahu teman-temanmu yang belum ke sini!” perintahnya. Aku mengangguk dan langsung keluar dari ruangan itu.
End of Ciel’s POV
.
.
Setelah semuanya selesai, Clara duduk berdiam diri di dalam lab. Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam. Clara menyadarinya, tapi dia tidak berniat melihat orang itu. Mungkin dia sudah tahu siapa itu.
“Bagaimana? Apakah lancar?” tanya orang itu saat dia sudah berada di hadapan Clara.
Clara mendesah. “Ha-ah. Begitulah. Tapi tak kukira ini semua akan melelahkan.“ ucapnya lirih.
“Hahaha. Kurasa kau sudah mempersiapkan diri, kan? Itu sudah resiko.” Ucap orang itu sambil tertawa. Clara tersenyum pahit.
“Tapi ini memang benar-benar melelahkan…” katanya lirih. “Terlalu banyak yang kudengar tetapi terlalu sedikit yang kuketahui.” Tambah Clara.
“Tak perlu terburu-buru. Mereka tetap akan menunjukkannya nanti.” Ucap orang itu. “Lalu siapa yang paling berkesan?” tanya orang itu lagi.
“Ternyata Ayah ingin balik mewawancaraiku, ya? Sindir Clara pada orang yang ternyata ayahnya sekaligus kepala sekolah di SMA Maple.
“Haha. Ayah hanya penasaran.” Kelaknya.
“Yah, kalau begitu aku tidak akan menjawab rasa penasaran Ayah.” Ucap Clara. Kepala sekolah hanya tertawa.
“Kau tidak berubah” gumam kepala sekolah.
Clara mengangkat bahunya. “Tidak juga. Aku hanya bersikap apa adanya diriku, kok” ucap Clara. “Oh ya, bukankah Ayah masih punya banyak pekerjaan yang harus segera dikerjakan?” tanya Clara.
“Kau benar. Ayah ke sini hanya ingin melihat keadaan sekaligus beristirahat sebentar.” Jawab ayahnya. Clara hanya mengangguk.
“Sudah waktunya ayah kembali. Kau masih mau di sini atau mau sama-sama keluar?”
Clara bangkit dari duduknya. “Aku juga sudah mau keluar, kok. Ada beberapa dokumen yang harus kutanda-tangani. Setelah itu kurasa aku akan istirahat.” Ucap Clara. Mereka berdua pun keluar dari ruangan itu.
.
.
.
.
.
TBC

No comments:

Post a Comment