Saturday, 18 February 2012

Kasih Sayang Valentine

Sinar mentari pagi menyusup melalui jendela dan menerpa wajah seorang gadis berambut hitam sebahu yang masih terlelap. Merasa terganggu oleh sinar itu, gadis itu bergerak membalikkan tubuhnya ke arah lain. Dia lalu mengerang sedikit karena tidurnya terganggu. Mengucek-ucek matanya, dia lantas bangun dari tidurnya.
Mengambil posisi duduk, gadis itu mencoba membiasakan matanya dengan cahaya yang telah masuk lebih banyak dari arah jendelanya. Dia lalu melirik jam weker yang ada di sebelah tempat tidurnya. Pukul 07.15. Pantas saja alarmnya belum berdering. Dia terlalu cepat bangun rupanya.
“Hoamm. Padahal aku sudah sengaja memasang alarm jam 8” gumamnya masih mengantuk.
‘Tok..tok…’ terdengar ketukan di pintu kamarnya.
“Della, kau sudah bangun?” suara seorang wanita memanggilnya.
“Ya, ma. Aku sudah bangun!” teriak gadis yang ternyata bernama Della itu.
“Kalau begitu, cepatlah bersiap! Sarapannya nanti dingin. Mama tunggu di bawah, ya!” kata mamanya. Terdengar langkah kaki meninggalkan depan kamar Della.
“Huh! Padahal ini hari Sabtu. Tapi tetap saja tak bisa bangun lebih telat.” Keluhnya. Dia lalu bangkit dan mulai merapikan tempat tidurnya. Setelah itu, dia beranjak menuju kamar mandi yang berada di kamarnya sendiri. Tak hitung lima menit, sudah terdengar pancuran air dari kamar mandi.
Sementara mandi, pikiran Della melayang ke hal-hal yang akan dilakukannya hari ini. Karena ini hari libur dan tidak ada ekstrakurikuler yang harus diikuti olehnya, dia memikirkan apa yang bisa dilakukannya hari ini.
‘Aku tak mau menghabiskan hari ini di rumah saja. Sepi” pikirnya.
Ya, kedua orangtua Della adalah pegawai kantoran yang tetap berkerja pada hari Sabtu. Karena itu Della jarang berada di rumahnya karena dia tak ingin sendirian saja di rumah. Kecuali ada temannya yang main ke rumahnya.
“Mungkin lebih baik aku menelepon Mawar saja setelah ini. Mungkin dia tahu apa yang bisa dilakukan untuk menghabiskan hari ini.” Katanya pada dirinya sendiri.
Setelah itu, Della tidak lagi memikirkan apa pun lagi dan mempercepat mandinya karena orangtuanya sudah menunggunya di ruang makan.
.
Della memutuskan untuk memakai kaus berwana hijau dengan pita kuning di sebelah kanan bawah dan celana jeans selutut. Rambutnya yang sebahu dibiarkannya terurai tanpa aksesoris apapun. Della memang tidak terlalu suka memakai aksesoris yang berlebihan, karena tanpa itu pun, Della sudah terlihat cantik dengan wajah blasterannya.
Della adalah gadis blasteran Indonesia-Australia. Ayahnya asli dari Indonesia dan Ibunya berasal dari Australia. Tapi, Della lahir dan besar di Indonesia.
Della melirik kalender dindingnya. “Hari ini tanggal 11 Februari. Sebentar lagi Valentine Day” gumamnya.
Setelah merasa siap, Della mengambil HP-nya yang tergeletak di atas meja dan keluar dari kamarnya. Dia bergegas menuju ruang makan, tempat Ayah dan Ibunya sudah menunggunya.
“Pagi, pa. Pagi, ma” Della menyapa orangtuanya. Della adalah anak satu-satunya. Dan itu membuatnya sangat dekat dengan orangtuanya sekaligus mandiri.
“Pagi, Del. Bagaimana tidurmu?” tanya Ayahnya yang sedang membaca Koran hari itu.
“Baik, thanks” jawabnya seraya duduk di kursi yang berhadapan dengan Ibunya.
“Cepatlah sarapan! Mama dan papa sudah selesai duluan” ucap mamanya. Papanya pun bangkit.
“Kami harus segera berangkat. Kalau ada apa-apa langsung hubungi kami, sayang” mereka pamit meinggalkan Della sendiri.
Sambil melahap sarapannya, jemari Della menekan nomor temannya Mawar dan meneleponnya. Mawar langsung mengangkatnya. “Halo, Della. Ada apa?”
“Halo, Mawar. Aku ke rumahmu, ya? Aku malas sendiri di rumah.” Pinta Della tanpa basa-basi.
“Datang saja. Kebetulan aku juga sedang sendirian di rumah” ucap Mawar.
“Kalau begitu, aku ke sana sebentar lagi, okay?” dengan itu, Della langsung mematikan sambungannya dan kembali melahap sarapannya.
.
Mawar memang sedang sendirian di rumahnya. Mawar mengambil minuman dan beberapa cemilan dari dapur. Dia juga membawa novel yang baru saja di belinya ke ruang santai. Della sudah duduk di sofa sambil menonton TV. Mereka berdua sudah berteman sejak lama. Karena itulah, mereka sangat dekat.
“Hei, Del. Memangnya Leon ke mana?” tanya Mawar. Leon adalah teman mereka. Leon sudah berteman dengan Della sejak masih kecil. Dan Leon sangat dekat dengan Della.
“Oh, dia hari ini latihan basket dengan Alfa” jawab Della sambil meminum jusnya. Mawar hanya membalas dengan ‘oohh’ saja.
“Del, kamu akan memberikan coklat padanya, kan, minggu depan?” ya, hari ini tanggal 11 Februari. Tiga hari lagi tanggal 14 Februari, Hari Valentine.
“Eh?! Ehm, aku belum tahu. Aku masih bingung apa aku akan membuat coklat atau tidak nanti” ucapnya.
“Huff. Kau ini. Ini adalah kesempatan bagus untukmu menyatakan cinta padanya! Kau kan sudah berteman dengannya sejak kalian masih kecil. Aku yakin dia akan menerimamu” kata Mawar.
“Entahlah, War. Walaupun kami sudah lama berteman, tapi yang ini adalah hal yang berbeda. Bisa saja dia menolakku. Dan aku takut kalau persahabatan kami nantinya terganggu” kata Della.
“Baiklah. Kalau begitu pikirkanlah baik-baik. Aku hanya bisa mendukungmu” Della hanya tersenyum.
.
Senja sudah mulai berganti malam. Della masih berada di rumah Mawar, tepatnya di kamar Mawar. Mawar sedang ke ruang kerja Ayahnya untuk mengambil buku yang diperlukannya untuk membuat tugas.
Tiba-tiba Della mendengar suara klakson motor dari luar rumah. Della segera beranjak ke beranda kamar Mawar untuk melihat siapa yang ada di depan rumah. Della terkejut saat melihat kalau yang membunyikan klakson itu Leon. Leon berada di depan rumah Mawar sedang duduk di motor Yamaha kesayangannya.
Setelah rasa terkejutnya hilang, Della langsung berteriak memanggil Leon. “Leon, sedang apa kau di situ?” saat itu, Mawar masuk ke kamarnya.
“Ng, ada apa Del?” tanyanya berjalan ke arah Della.
“Itu, Leon ada di muka rumahmu” jawabnya.
“Eh?! Sedang apa dia?” Mawar melihat ke bawah dan menemukan Leon dengan motor Yamaha-nya.
“Aku datang untuk menjemputmu, Della! Tadi aku ke rumahmu tapi tidak ada siapa-siapa di sana” balas Leon.
“Oh, maaf. Aku sudah sejak pagi di sini. Aku tidak mengabarimu karena kukira kau sibuk latihan basket.”
“Kalau begitu, cepatlah turun! Ini sudah mau malam!” perintah Leon. Della mengangguk dan bersama Mawar ke depan rumah.
“War, aku pulang dulu, ya. Terima kasih untuk hari ini.” Ucap Della.
“Ya. Oh ya, jangan lupa tiga hari lagi” sindir Mawar. Della tersenyum kecut lalu langsung naik ke motor Leon. Leon juga pamit dan langsung menancap gas menuju rumah Della.
“Hah, mereka ini…” gumam Mawar sambil menggelengkan kepalanya. Dia pun masuk ke rumahnya.
.
Rumah Della tak terlalu jauh dari rumah Mawar. Karena itu Leon tidak mengendarai motornya terlalu cepat agar dia bisa mempunyai waktu dengan Della sebelum sampai ke rumah Della.
“Lain kali, kau harus menghubungiku kalau kau tidak ada di rumah” ucap Leon.
“Kau ini, sekalian saja jadi bodyguard-ku! Kau kan tidak setiap saat bersamaku. Jadi buat apa aku memberitahumu?” kata Della ketus.
“Terserah kau sajalah” balas Leon. Setelah itu, mereka menghabiskan perjalanan dalam diam. Tak ada lagi yang ingin dibicarakan.
.
Hari Minggu adalah hari yang menyenangkan buat Della. Karena hari itu, orangtuanya tidak bekerja dan dia bisa menghabiskan waktu dengan mereka. Setelah sarapan, Della membantu mamanya untuk membersihkan rumah. Della sama sekali tak keberatan karena dia bisa bersama mamanya seharian penuh.
“Del, kau tidak jalan-jalan dengan Leon hari ini?” tanya mamanya saat mereka sedang mencuci peralatan makan.
“Tidak. Aku lagi tidak ingin jalan-jalan bersamanya. Lagipula, sebentar siang aku ingin ke supermarket untuk membeli bahan membuat coklat.” Jelas Della.
“Benar juga. Dua hari lagi Valentine Day, ya? Kalau begitu kau memang harus segera membeli bahannya kalau kau ingin membuat coklat untuk valentine nanti. Kau ingin mama bantu?”
“Tidak usah. Aku ingin membuatnya sendiri. Lagipula, mama kan sibuk di kantor besok. Aku tak ingin menyusahkan mama” ucapnya.
“Baiklah jika itu yang kau mau. Jika mama membantu, nanti tak akan jadi spesial, kan? Hihihi” sindir mamanya.
“Ugh, mama! Apa-apaan, sih!?” Della cemberut mendengar sindiran mamanya.
.
Di supermarket, banyak orang-orang yang juga ingin membeli bahan untuk membuat coklat. Tapi Della tak perlu merasa khawatir bahannya habis, karena stok-nya disiapkan lebih banyak dari hari biasanya.
Della mengambil beberapa batangan dark chocolate, susu, krim, cetakan, dll. Della juga mengambil bahan untuk makan malam yang dititipkan mamanya. Setelah merasa apa yang dibutuhkannya sudah semua, Della langsung menuju kasir untuk membayar belanjaannya.
Della tidak berlama-lama di supermarket karena dia juga harus ke toko buku untuk membeli beberapa kertas, pita, dan kotak kado untuk membungkus coklatnya. Sekalian juga Della membeli beberapa komik dan novel. Della memang sangat suka membaca novel dan komik. Merasa sudah mendapatkan apa yang dicarinya sudah lengkap, Della langsung berjalan ke kasir untuk membayarnya.
Karena tak ada lagi yang ingin dibeli Della, dia langsung pulang ke rumahnya. Dia tak ingin singgah kemana-mana karena dia berencana akan langsung membuat coklatnya supaya besoknya coklat itu sudah bisa dibungkus. Dan itu membuat Della punya banyak waktu untuk mempersiapkan semuanya.
.
“Aku pulang!”
“Oh, kau sudah pulang, Del” ucap papanya yang sedang menonton TV di ruang keluarga. Papanya melirik bawaan Della. “Banyak juga belanjaanmu”.
“Mama titip bahan makanan untuk makan malam nanti soalnya. Ya sudah, aku ke dapur dulu, pa!” Della beranjak pergi ke dapur untuk meletakkan belanjaannya.
Saat akan masuk ke dapur, mama Della memanggilnya. “Del, kau sudah pulang? Kau membeli bahan yang mama titipkan, tidak?” tanya mamanya.
“Iya. Ini!” Della menunjukkan belanjaannya. “Mau aku taruh di mana?”
“Susun saja di lemari dan kulkas. Kau mau memakai dapurnya, kan?”
“Iya. Aku mau langsung membuat coklatnya supaya masih punya banyak waktu untuk membungkusnya nanti” jawab Della.
“Okay, I’m in my room if you need me, dear” ucap mamanya seraya pergi ke kamarnya. Della mengangguk dan bergegas menyusun bahan makanan tadi di lemari makanan dan kulkas.
Setelah itu, dia mengambil barang-barang yang dibelinya tadi di toko buku dan membawanya ke kamarnya. Dia menaruh barang-barang itu di atas meja belajarnya dan kembali ke dapur untuk bersiap membuat coklatnya.
“Nah, ayo kita mulai!” serunya lalu mengeluarkan bahan-bahan tadi dan menyiapkan penggorengan.
Campurkan dark chocolate yang sudah dihaluskan dengan susu, kemudian lelehkan dengan air panas. Lalu, diamkan sebentar, lalu tambahkan krim segar. Dinginkan sambil diaduk-aduk. Masukkan butter dan air ke dalam penggorengan lalu didihkan. Masukkan tepung terigu dan baking powder. Aduk dan panaskan dengan api kecil.
Della membuatnya dengan cekatan. Dia sudah terbiasa berhadapan dengan yang seperti ini. Selain karena dia sudah terbiasa memasak karena orangtuanya kadang berada di rumah, dia juga menyukai snack. Dan biasanya, snack itu dibuatnya sendiri.
“Nah, sekarang saatnya menuangkan ini ke cetakan” Della lalu mengambil sebuah cetakan berbentuk bulat, dua cetakan bintang, dan sebuah cetakan hati.
Dia menderetkan cetakan itu di meja agar mudah menuangkan coklatnya. Dengan hati-hati, dia menuangkan coklatnya di setiap cetakan dengan takaran yang pas. Setelah selesai, Della menghela napas lega. “Akhirnya coklatnya selesai dituangkan”. “Tapi ini belum selesai, aku masih harus menulisi coklatnya dengan white cream”. Della pun memasukkan coklatnya di kulkas dengan hati-hati. Coklatnya harus didinginkan sedikit sebelum ditulisi.
Sementara menunggu cokelatnya dingin, Della membuat bahan untuk menulis di atas cokelatnya. Tak terlalu lama membuatnya. Setelah selesai, Della mengambil cokelat yang sudah lumayan dingin tadi. Dia mengeluarkan cokelat dari cetakannya dengan hati-hati. Dia mulai menulisi cokelatnya.
Dimulai dari cokelat berbentuk bintang. “Ini cokelat untuk papa dan mama” gumamnya dengan senyum menghiasi wajahnya. Dia menghias cokelat itu dengan cream di pinggirannya. Menurut Della, cokelat untuk mereka tak perlu dihias terlalu banyak.
Setelah itu, dia mengambil cokelat berbentuk bulat. Della tertawa pelan saat akan menghiasnya. “Semoga cokelat ini mau diterima Mawar. Soalnya kan dia tak suka hal-hal seperti ini”. Della menggambar bentuk ‘smile’.
Dan akhirnya, saatnya Della untuk menghias cokelat berbentuk hati. Della terdiam sebentar. “Apa dia akan menerimanya, ya? Biasanya sih dia selalu menerimanya. Tapi kali ini kan berbeda. Apa aku urungkan saja niatku?”. Lama Della terdiam menatap cokelat dihadapannya. Tersadar kalau cokelatnya tak boleh terlalu lama dibiarkan, Della menghela napas dalam dan berkata, “Aku sudah membuatnya, kan. Aku harus memberikannya nanti. Apa pun yang terjadi, semuanya akan baik-baik saja!”
Setelah meyakinkan dirinya, Della mulai menulisi cokelat itu. Dia menulis ‘To Leon, I Love You’. Saat menulisnya, terlihat semburat merah di pipi Della. Della menatap hasil karyanya. ‘Semoga saja aku bisa memberikannya tepat Valentine Day. Karena hadiah valentine, jika terlambat diberikan, perasaanku tidak akan sampai padanya’ batinnya tersenyum.
Tak ingin terhanyut dalam khayalannya terlalu lama, Della segera memasukkan cokelatnya kembali ke kulkas. Setelah itu, dia membereskan peralatan masak yang tadi dipakainya, dan segera kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Pekerjaan tadi benar-benar membuatnya lelah.
.
Keesokan harinya, Della langsung pulang dari sekolah. Dia tak ingin berlama-lama karena ada tugas yang harus dikerjakannya. Lagipula, dia juga masih harus membungkus cokelat buatannya.
“Aku pulang duluan ya, Mawar!” pamitnya pada Mawar.
“Okay. Hati-hati di jalan!” balas Mawar. Della pun langsung meninggalkan kelas mereka dan bergegas ke tempat parker sekolahnya. Di sana sudah ada Leon yang –seperti biasa – menungguinya di samping motornya.
Menyadari kalau Della sedang berjalan ke arahnya, Leon mengambil helmnya dan helm untuk Della. “Sudah lama menunggu?” tanya Della sambil menerima helm yang diberikan Leon.
“Tidak juga. Aku juga baru saja ke luar kelas. Tumben ingin langsung pulang. Ada apa?” tanya Leon sambil memakai helmnya.
“Tidak juga. Aku punya tugas yang harus diselesaikan, hanya itu” ujarnya. Mereka pun segera meninggalkan sekolah.
.
Setelah selesai makan malam, Della bergegas ke kamarnya untuk mengambil alat-alat untuk membungkus cokelatnya. Orangtua Della tidak ada di rumah karena mereka harus menghadiri acara teman mereka. Della tak ingin ikut karena dia harus membungkus cokelatnya.
Della pun mengambil cokelatnya yang sudah beku sempurna dari kulkas. Dia memutuskan untuk membungkusnya di dapur saja. Della mulai membungkus cokelatnya satu-persatu. “Aku membungkus cokelat ini beserta harapanku untuk mereka” gumamnya sambil tersenyum tulus.
Saat akan membungkus cokelat untuk Leon, terlebih dahulu Della menyelipkan secarik kertas baru membungkusnya dengan pita berwarna putih. Della menatap sebentar cokelat-cokelat itu. “Asalkan mereka mau menerimanya dengan senyum senang, itu sudah sangat berarti bagiku” katanya sambil tersenyum kecil. Dia pun memasukkan cokelat itu kembali ke kulkas.
Della tak perlu menunggui orangtuanya karena mereka punya kunci duplikat rumah mereka. Karena itu, Della langsung membereskan dapur yang dipakainya dan langsung bergegas untuk tidur.
.
“Good morning, pa, ma” sapa Della saat dia memasuki ruang makan.
“Morning, dear” sapa mereka. Della pun duduk dan sarapan bersama orangtuanya.
Setelah sarapan, Della ke dapur dan mengambil cokelat untuk kedua orangtuanya. “Here, cokelat untuk kalian berdua. Happy Valentine Day!” ucapnya seraya memberikan cokelat buatannya.
“Thank you, dear. Mama dan papa juga punya hadiah valentine untukmu. Tunggu sebentar!” mamanya segera meninggalkan ruang makan.
Saat kembali, mamanya membawa kotak kado berwarna merah dengan hiasan pita kuning. “For you, our dearest daughter” kata mamanya menyerahkan hadiah itu.
Senyum Della mengembang dan matanya berbinar. “Thank you!”. Dia menciumi mereka berdua.
“Nah, saat-saat kasih sayang sudah selesai. Lanjutkan nanti setelah aktivitas hari ini selesai. Kita harus segera berangkat kalau tak ada yang mau terlambat” ucap papanya mengundang tawa kecil dari Della dan mamanya. Della segera memasukkan cokelat lainnya ke tasnya dan berangkat ke soklahnya.
.
Di gerbang sekolah, Della menemukan Mawar sedang berdiri sambil bersandar di gerbang. Della segera menuju Mawar dan menyapanya, “Pagi, Mawar. Kau sudah lama menunggu?”.
Mawar tersenyum sambil menjawab, “Pagi. Tidak juga. Ayo kita ke kelas!”. Mereka berdua pun beranjak menuju kelas mereka.
Sambil berjalan, mereka berdua bercakap-cakap tentang hari ini. Dan saat berjalan di koridor menuju kelas mereka, beberapa anak laki-laki berteriak memanggil nama Mawar. “Mawar! Terimalah hadiah valentine dariku!”. Yang lain berteriak, “Mawar! Jadilah pacarku!”. Mawar hanya memasang tampang dingin menanggapi mereka.
“Del, ayo cepat!” Mawar menarik tangan Della dan berlari menuju kelas mereka. Della hanya bisa tertawa melihat ekspresi Mawar yang benar-benar tak enak.
Mawar memang salah satu gadis pujaan di sekolah mereka. Tak jarang banyak cowok yang ingin menjadi pacarnya. Tapi Mawar selalu menolaknya dengan dingin. Mawar memang bukan tipe gadis yang begitu saja mau jadi pacar orang. Mawar mempunyai penilaian yang tinggi untuk cowok yang akan jadi pacarnya.
Della juga salah satu gadis pujaan cowok di sekolah mereka. Tapi, mereka tidak terlalu berharap menjadi pacar Della karena Della selalu bersama Leon. Mereka bisa merasakan aura yang tak enak dari Leon saat mereka berusaha untuk mendekati Della. Namun tampaknya Della tak menyadarinya.
Saat hampir sampai di kelas , seorang cowok mencegat mereka. Dia langsung menahan mereka berdua. “Hai, Mawar, Della!” sapanya ceria. Della membalasnya dengan senyuman. ‘Cowok dari kelas sebelah’ pikirnya. Tapi Mawar tidak membalasnya dan memasang wajah datar.
“Ini untukmu, War. Mawar merah untuk gadis yang kusukai” kata cowok itu seraya memberikan setangkai mawar untuk Mawar. Mawar tersentak. Ekspresinya berubah. “Aku ingin kau jadi pacarku!” ucap cowok itu tanpa ragu-ragu. Mawar menundukkan kepalanya.
‘Oh ow! Aku punya perasaan buruk, nih’ batin Della ngeri.
Mawar mengangkat kepalanya. Di wajahnya terpampang ekspresi yang sangat menakutkan. “AKU.TAK.MAU. JANGAN PERNAH MEMBERIKU BUNGA MAWAR!!” teriak Mawar sadis. Dia lalu menarik tangan Della dan meninggalkan cowok yang kaget mendengar penolakan yang sadis dari Mawar.
Della melirik cowok itu. Tak tega melihatnya patah hati. Tapi Della tak mau membuat Mawat tambah marah jika dia membela cowok itu. Della tak ingin hari ini menjadi hari yang buruk bagi Mawar.
Della tahu kalau sejak dulu Mawar sangat tak suka hal-hal seperti itu, terlebih bunga mawar. Soalnya kebanyakan orang memberinya bunga mawar di hari spesial hanya karena Mawar bernama mawar. Dia tak pernah suka bunga mawar. Walaupun bukan berarti dia membenci namanya. Dia tetap menghargai nama yang diberikan orangtuanya. Tapi yang Mawar inginkan adalah hal simple yang cocok dengan pribadinya.
Saat mereka sampai di kelas, Mawar menghempaskan dirinya di tempat duduknya. Della hanya menghela napas melihatnya. “Mereka itu kenapa, sih?!!” seru Mawar. Dari nada bicaranya, terdengar kalau dia berusaha menahan dirinya.
“Mereka hanya ingin menunjukkan rasa sayang mereka, kok. Kuasailah dirimu! Ini kan hari spesial” ujar Della. Dia duduk di sebelah Mawar.
Mawar menghela napas. Dia menutup matanya sejenak. “Maaf. Aku berlebihan” ucap Mawar pelan.
“Sudahlah. Tapi kenapa sih kau tak mau menerima hadiah dari cowok-cowok itu? Kan tidak semua memberimu bunga mawar” tanya Della.
“Bagiku, yang seperti itu tidak cocok untukku. Lagipula, sejarah valentine kan tidak sebahagia seperti yang kita bayangkan. Malahan orang yang menjadi asal-usul valentine mati di akhir penyiksaannya, kan? Dan valentine berdarah itu, sama sekali tidak cocok dengan perayaan orang-orang” jelas Mawar datar.
“Tapi kan St. Valentine berjuang untuk menikahkan orang-orang yang saling mengasihi! Dan justru karena pesan cinta dari Valentine untuk putri penjaga penjara pada tanggal 14 Februari yang menjadikan Valentine Day ini. Untuk mengenangnya, sang pejuang cinta” tukas Della.
Mawar memandang Della. “Iya, iya. Aku mengerti. Jadi bagaimana perjuanganmu untuk menyatakan cinta pada Leon?”
“Jangan keras-keras bicaranya! Nanti kedengaran orang lain!” seru Della.
Mawar tertawa kecil. “Jadi?” tanyanya.
“Aku akan memberikannya cokelat dan di dalamnya ada secarik kertas yang berisi pengakuanku untuknya. Tapi aku sih tidak ingin berharap tinggi-tinggi dia mau menerima atau tidak. Diterima cokelatnya saja aku sudah senang, kok” jawab Della.
“Tenang saja. Dia pasti akan menerimu, kok. Memangnya siapa lagi gadis yang selalu berada di sampingnya dan selalu dijaganya?” Mawar meneyemangati Della.
“Iya, aku tahu, kok. Sekarang yang aku pikirkan apakah kamu mau menerima cokelat tanda persahabatan dariku ini atau tidak…” ucapnya seraya mengeluarkan cokelat untuk Mawar.
“Kau ini, tak menyerah ya memberiku yang beginian?”. Della hanya tertawa.
“Tentu saja tidak! Ayolah! Kau tidak menghargai kerja kerasku untuk membuatnya, ya? Lagipula ini bukan ‘love’ atau mawar, kok”.
Della memberikan kotak hadiahnya pada Mawar. Mawar terkejut saat melihat kalau pembungkus hadiahnya bergambar Lakspur flower yang artinya beautiful spirit. “Kurasa bunga itu cocok untukmu” kata Della.
Mawar tersenyum. “Baiklah. Aku terima hadiahnya. Tapi aku tak akan memberimu cokelat”.
“Ng? kau juga akan memberiku hadiah?” tanya Della penasaran.
“Iya. Besok, di kafe tanteku, aku akan mentraktirmu Chocolate Coffe. Bagaimana?”
“Wah, aku mau. Sudah lama aku tidak minum Chocolate Coffe. Thanks, Rose” Mawar hanya tersenyum simpul menanggapinya.
.
“Del, kau mau jalan nggak sebentar?” tanya Leon yang sedang berjalan dengan Della di koridor sekolah saat pulang sekolah.
“Boleh. Kau jemput, kan?”.
“Jam 7. Tak usah berpakaian terlalu rapi. Aku tak akan mengajakmu ke tempat yang aneh-aneh, kok”.
Della tertawa. “Memang aku sering berpakaian seperti apa?”. Leon ikut tertawa. “Oh ya, ini untukmu. Happy Valentine Day!” ucapnya memberikan hadiahnya untuk Leon.
“Oh, thanks. Hadiahmu nanti sebentar, ya. Aku masih menyiapkannya” ucapnya.
“Memang hadiah apa?” tanya Della.
“Lihat saja nanti!” ucap Leon. Della hanya membalasnya dengan anggukan. “Kau mau kuantar, tidak?” tanya Leon.
“Tidak usah. Yang penting, kau tidak lupa menjemputku sebentar!” jawab Della.
“Okay!” balasan Leon.
.
Sebentar lagi jam 7. Della sedang bersiap-siap di depan cermin di mejanya. Dia memakai long t-shirt berwarna peach dan black jeans. Dia menghias rambutnya dengan pita berwarna scarlet. Pikiran Della melayang pada apa yang nanti akan dikatakan Leon, karena pasti Leon sudah membaca kertas yang diselipkannya di hadiah tadi.
‘Semoga saja tidak membuatnya marah atau apa pun itu” batinnya. Setelah siap, Della segera ke luar dari kamarnya dan pamit pada orangtuanya.
Di depan rumahnya, Leon sudah menunggu. Dia memakai kaus hitam dan kemeja lengan pendek berwarna cokelat, dan black jeans. Della segera naik ke motornya, dan Leon segera melajukan motornya.
.
Leon membawa Della berjalan menyusuri taman di tengah kota. Taman ini sudah dihias sedemikian rupa dengan tema valentine. Mereka berjalan dalam diam. Sampai akhirnya Leon memecah keheningan. “Del, aku sudah membaca kertas yang ada di dalam hadiahmu tadi, juga cokelat itu…” ucap Leon.
Della tersentak. Rasa khawatir mulai merasuk di hatinya. ‘Bagaimana ini? Apa tanggapannya?’ pertanyaan yang ada di kepala Della. “Lalu, apa tanggapanmu?”.
Leon tak segera menjawab. “Aku…kesal” itu yang dijawab Leon. Della menundukkan kepalanya mendengar jawabannya. Rasa kecewa menghampirinya.
Tapi Leon belum selesai. “Aku kesal karena aku sudah keduluan olehmu menyatakan cinta. Padahal aku sudah mempersiapkannya untuk hari ini” lanjutnya.
Della kaget. Dia mengangkat kepalanya dan menatap Leon. “Eh, jadi kau…?!”.
Leon menggenggam tangan Della dan membawanya ke tengah taman. Dia dan Della duduk di sebuah kursi yang ada di situ. “Del, aku memang sudah keduluan darimu. Tapi aku tetap akan mengatakannya dan kaulah yang harus menjawabku!”
“Eh, kok begitu, sih?” protes Della. Tapi Della tidak melanjutkannya dan diam menunggu apa yang akan dikatakan Leon.
Leon mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna beludru. Dia lalu membukanya dan Della terkejut saat melihat isi kotak itu. Sebuah leontin hati. “I love you, Della. Will you be my girlfriend?”. Della hanya bisa mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia lalu mengangguk senang. Leon tersenyum dan mengalungkan leontin itu di leher Della.
“I love you, too, Leon” ucapnya pelan dan menghambur ke pelukan Leon.
Satu lagi pasangan yang disatukan di hari valentine ini. Tak peduli apa yang menjadi tragedi di masa lalu saat valentine dibuat. Yang pasti hanyalah, jika memang saling mengasihi, tak usah takut dan percayalah kalau kasih sayanglah hal yang paling kuat. Beribu-ribu kasih sayang yang diutarakan, untuk orang yang berharga bagi diri kita. Beribu-ribu kasih sayang yang akan menyinari hari-hari kita.

~Tamat~

Karya: Devi J. G. Sahati

No comments:

Post a Comment