Beberapa minggu berlalu sejak wawancara yang mereka jalani waktu lalu. Tidak ada yang berbeda dari sikap mereka. Kelihatannya mereka sudah terbiasa dengan situasi yang bisa dibilang aneh dan rumit.
Saat jam pelajaran terakhir, Clara masuk ke kelas perwakilannya, kelas 1-5. Semuanya memandangnya bingung. Mereka heran kenapa Clara masuk padahal dia tidak mempunyai jam mengajar di kelas itu hari ini.
Di tangannya, Clara membawa tiga map sedang berwarna hitam. Clara menyadari tatapan siswanya-siswanya. Dia meletakkan mapnya di meja. Dia lalu menghadap murid-muridnya dan membalas tatapan mereka. “Kalian pasti bingung kenapa saya ada di sini. Saya meminjam jam ini untuk menyampaikan sesuatu yang penting pada kalian.”
Clara berhenti sebentar dan melihat reaksi mereka. Karena mereka tetap diam, Clara pun melanjutkan, “Akhirnya data tempat kalian akan dikirim sudah keluar. Dan sekarang saya akan menyampaikan pembagian tempat kalian. Jadi, kumohon agar kalian memperhatikan dan mendengarkannya baik-baik” ucap Clara.
Dia lalu duduk dan membuka map pertama. “Oh ya, kalian akan dibagi menjadi tiga kelompok. Dan kelompok yang pertama, yaitu Dian, Ema, Izumi, Karin, Gamu, Hachi, Takumu, Okuni, Ian, dan Nathan. Kalian akan ditempatkan di kota Gix. Ini data mengenai kota itu.” Clara memberikannya pada Ian. Ian pun membagikannya pada teman-teman yang sekelompok dengannya.
Clara mengambil map kedua dan membukanya. Clara terdiam sebentar sebelum membaca data kelompok dua. “Kelompok dua terdiri dari Finny, Cindy, Isami, Nao, Honoko, Perona, Catty, Cella, Takeshi, Chrysan, Dain, Kawada, Mika, dan Heart. Kalian akan ditempatkan di kota Noficta.” Jelas Clara.
“Biar aku saja yang mengambil datanya” ucap Nao.
Tapi Heart langsung menahannya. “Tidak usah. Biar aku yang mengambilnya.” Ucap Heart. Nao mengangguk. Dia lalu berjalan ke meja Clara dan mengambil data itu. Dia lalu membagikannya pada teman-temannya.
“Baiklah, kita lanjutkan ke kelompok terakhir.” Clara lalu membuka map terakhir. “Kelompok 3 terdiri dari Light, Melodi, Anzu, Mei, Oichi, Aini, Gabu, Midori, Ciel, Raven, Daigo, Mayuko, Lily, dan Ryou. Kalian akan ditempatkan di kota Lysidas”. Daigo bangkit dari duduknya dan mengambil data itu. “Bacalah data itu! Kalian dapat menentukan sendiri apa yang akan kalian lakukan di sana” lanjut Clara.
“Benarkah?”
“Ya. Karena itu pikirkanlah baik-baik! Besok kalian berikan laporan tentang renca kalian di sana. Kami yang akan mengurus tempat tinggal kalian. Minggu depan kalian akan berangkat. Persiapkan diri kalian baik-baik!” jelas Clara. Mereka semua mengangguk.
“Eh, kami semua akan berangkat, itu berarti nilai ujuian kami bagus, kan?” tiba-tiba Okuni bertanya.
Clara terlebih dulu tersenyum. “Ya. Kalian sudah belajar dengan baik”. Mereka semua tersenyum mendengar hasil yang dicapai mereka memuaskan. “Baiklah. Kalian sudah bisa pulang” Clara mengakhiri jam sekolah mereka. Dia lalu ke luar dari kelas itu.
‘Hihihi’ terdengar tawa pelan dari Light.
“Ng, ada apa Light?” tanya Anzu.
“Tidak. Aku hanya jadi semangat sekali! Soalnya kelihatannya hari-hari ke depan nanti akan sangat menarik!” ucap Light antusias. Teman-temannya tersenyum.
“Hmm, aku juga berpikir begitu. Jadi tak sabar!” sahut Melodi ceria.
“Kalau begitu, lebih baik kita cepat menentukan apa yang akan kita lakukan di sana!”. Daigo lalu membuka map mereka dan mengeluarkan kertas yang berisi data-data tentang kota itu.
“Hei Raven, sayang ya kita tidak berada di kelompok yang sama,” ucap Takeshi sambil menepuk pundak Raven. Mereka duduk tidak terlalu jauh dari tempat Light dan kelompoknya.
Raven membalikkan badan untuk melihat Takeshi yang duduk di belakangnya. “Haha. Apa boleh buat, kan? Aku juga tidak harus selalu sekelompok dengan kalian, kan?” tanggap Raven.
Takeshi tertawa. “Hahaha. Kau benar. Kalau begitu, bukankah sebaiknya kau ke tempat mereka?”. Takeshi menunjuk Light dkk. “Sepertinya mereka sedang membicarakan tentang renca kelompok kalian di sana. Kau kan bagin dari kelompok. Sebaiknya kau ke sana,” saran Takeshi.
“Hn, baiklah. Kalau begitu, aku ke sana dulu” Raven meninggalkan Takeshi dan berjalan menuju kelompoknya. Takeshi hanya mengangguk dan beranjak ke luar kelas.
“Hei, boleh aku bergabung?” Raven menyapa mereka.
“Hai Raven! Tentu saja boleh. Kami sedang membicarakan tentang rencana kita di sana” jelas Daigo. Raven lalu duduk di sebelahnya.
Mei mengambil salah satu data dan memberikannya pada Raven. Raven membacanya sebentar. “Bagaimana pendapatmu?” tanya Aini.
“Hmm, kota Lysidas itu kota yang kecil yang letaknya agak jauh dari kota lain. Dan penduduknya juga tak terlalu padat” tanggap Raven.
“Dan kota kecil itu juga dikelilingi oleh hutan” tambah Ciel.
Tiba-tiba Light memajukan tubuhnya. “Bagaimana kalau kita bekerja di sebuah peternakan? Di sini ada data tentang pekerjaan itu,” Light mengutarakan idenya. Dia memperlihatkan data tentang sebuah peternakan yang ada di kota itu. Nama peternakan itu adalah Cadena Farm.
Cadena Farm adalah sebuah peternakan yang cukup besar untuk ukuran kota Lysidas yang kecil. Hewan-hewan yang diternakkan di situ adalah hewan ternak seperti biasanya, yaitu sapi, domba, ayam, dan kuda. Di sana juga terdapat lahan untuk menanam berbagai tanaman. Peternakan itu penting bagi keseharian kota kecil seperti Lysidas. Hasil peternakan dari Cadena Farm akan dijual di kota itu. Sebagian lagi akan dijual di kota-kota lain.
“Katakan padaku Light, kenapa kau memilih peternakan itu?” tanya Ciel yang lalu mengambil data Cadena Farm dari Light.
“Sejujurnya, aku tidak punya alasan istimewa memilih peternakan. Aku hanya merasa pasti menyenangkan bisa bekerja di sebuah peternakan. Lagipula, aku sangat ingin menaiki kuda-kuda yang ada di sana!” jawab Light senyum gembira terpatri di wajahnya.
“Tapi, apa pekerjaan di peternakan itu tidak terlalu berat? Kita kan harus mengurus hewan-hewan di sana,” tukas Lily.
“Dan sekarang kan sudah mau musim dingin. Bagaimana kalau kita tidak sanggup mengurus hewan-hewan itu dan mereka malah dakit dan mati?!” tambah Aini dengan tampang yang dibuat-buat terlalu khawatir.
“Apa sih kalian ini!? Jangan berkata yang aneh-aneh, deh! Memangnya nanti akan seburuk itu?!” seru Daigo.
“Kalian ini…” Ciel hanya bisa menggelengkan kepalanya menanggapi teman-temannya yang berlebihan.
“Tapi pekerjaan di sebuah peternakan itu memang berat. Kita harus memberi makan hewan-hewan, memandikan mereka, membersihkan kandang mereka, menyiram tanaman, dll. Apa kita bisa?” Anzu menimpali.
Melodi menghadap Light. “Bagaimana ini?”. Light memanyunkan bibirnya, mengomel.
“Kurasa tidak akan sesulit itu,” Raven akhirnya mengomentari. Yang lain langsung menatap Raven, meminta penjelasan dari perkataannya tadi. Raven melanjutkan, “Di sana nanti kan kita tidak bekerja sendiri-sendiri. Kita kan tim. Kita bisa mengerjakannya bersama-sama. Dengan begitu, pekerjaannya tak akan terasa begitu berat, kan?”. Semuanya diam, hanyut dalam pikiran sesaat.
Akhirnya Ciel angkat bicara, “Itu benar! Kita tidak akan mengerjakan semuanya sendirian. Kita akan saling membantu!”.
“Aku setuju!!” seru Melodi.
“Begitu pun aku. Bagaimana yang lain?” kali ini Anzu.
Sepi, tak ada yang menjawab. Tak lama lalu mereka serempak mengangguk. Hal ini membuat Light menyeringai dan melompat kegirangan. “HOREE!!”. Yang lain hanya bisa tertawa melihat tingkah Light yang begitu senang.
“Jadi sudah diputuskan?”
“Ya!” mereka semua menyahut.
“Kalau begitu, lebih baik sekarang kita membuat laporannya,” ajak Raven.
Ciel menatap jam tangannya. “Tapi ini sudah jam lima lewat! Tidakkah sebaiknya kita mengerjakan laporannya di rumah saja?” ucap Ciel.
“Benar juga. Tapi di rumah siapa?” tanya Light.
“Bagaimana kalau di rumahku?” Ciel menawarkan.
Mereka saling berpandangan. “Boleh!” jawab mereka serempak.
“Kalau begitu, ayo! Lebih cepat menyelesaikan laporannya, lebih cepat kita bisa beristirahat” seru Melodi. Tanpa membuang waktu, mereka langsung membereskan barang-barang mereka dan ke luar dari kelas.
Di koridor, mereka berpapasan dengan Heart. Light dkk menyapa Heart dan Heart membalasnya singkat. Mereka terus berjalan melewati Heart. Tapi tidak dengan Raven yang berjalan paling belakang.
Raven berhenti sebentar di sebelah Heart. “Kau belum pulang Heart?” tanyanya.
“Kau lihat sendiri, kan?” balas Heart sarkastik. Dia tak mau menatap Raven.
“Kau menungguku?” Raven tak menghiraukan nada bicara Heart.
“…”
“Maaf. Aku tahu ini membuatmu kesal, tapi aku tak bisa pulang denganmu hari ini. Aku masih harus membuat laporan dengan kelompokku. Tak apa, kan?” ucap Raven dengan hati-hati. Dia tak ingin membuat Heart marah. Bagaimana pun Heart belum pulang karena menungguinya.
Heart akhirnya mau menatap Raven. “Tak apa. Kalau begitu, aku pulang duluan. Bye…” Heart segera melenggang pergi dan meninggalkan Raven. Raven menatap punggung Heart sampai akhirnya Heart menghilang dari pandangannya. Dia menghela napas dalam dan beranjak menyusul kelompoknya yang sudah berjalan duluan.
.
Hanya butuh 20 menit untuk sampai ke rumah Ciel dari sekolah dengan berjalan kaki. Mereka tak ingin membuang waktu dan langsung membuat laporan itu. Tak terlalu sulit membuat laporannya. Mereka hanya perlu menuliskan apa yang akan mereka lakukan di sana beserta alasannya.
Benar saja. Mereka menyelesaikannya tak lebih dari satu jam. Sebenarnya mereka masih ingin bercakap-cakap lebih lama. Tapi karena matahari sudah lama terbenam, mereka memutuskan untuk segera pulang. Ciel dan Melodi mengantar mereka sampai di depan rumah Ciel.
“Eh, Melodi, kau tidak pulang?” Aini bertanya saat dia sadar Melodi tidak membereskan barang-barangnya.
“Oh, tidak perlu khawatir. Rumahku kan hanya bersebelahn. Itu rumahku!”, Melodi menunjuk ke arah rumah di sebelah rumah Ciel, rumahnya. Mereka melihat ke arah yang ditunjuk Melodi.
“Jadi itu rumahmu?”. Melodi mengangguk.
“Wah, seru ya,” tukas Lily.
“Sudah, sudah. Lebih baik kita pulang sekarang! Kita masih harus bersiap untuk sekolah besok, kan?” ujar Daigo.
“Okay! Kalau begitu, kami pulang dulu Ciel, Melodi” Light pamit.
“Ya. Hati-hati di jalan!” balas Ciel.
Ciel dan Melodi menunggu sampai teman-temannya berbelok dan menghilang dari pandangan. Ciel sudah mau beranjak saat dia menyadari Melodi masih diam di situ. “Melodi, ada apa? Kau belum mau masuk?” tanya Ciel.
Melodi agak kaget dan memandang Ciel. “Oh! Tidak. Aku hanya sedang melihat bintang” jawab Melodi.
Ciel menengadah ke atas. “Bintang malam ini terlihat jelas” gumam Ciel. Melodi mengangguk.
Langit malam yang bertatakan berlian mungil malam. Angin lembut datang membawa kabar. Musim dingin akan segera tiba.
.
.
.
.
.
Catatan Penulis (Devi J. G. Sahati)
Selama beberapa bulan tersendat-sendat dengan chapter ini, akhirnya aku bisa menyelesaikannya juga. Huff. Begitu banyak yang harus kulakukan sampai-sampai tidak bisa melanjutkan chapter ini selama dua tiga bulan. Padahal maunya setiap bulan bisa publish chapter baru. Maaf sekali.
Mulai daari chapter ini, aku mengganti judulnya menjadi “Magical Light”. Aku merasa jalan ceritanya ternyata berbeda dari apa yang kupikirkan pertama kali aku membuat ini. Jadi, aku minta maaf seenaknya mengubah judulnya. Semua chapter sudah kuganti dengan judul yang baru agar tidak bingung.
Nah, di chapter ini ada hint Raven-Heart! XD . Aku akan berusaha lebih keras lagi agar dapat mem-publishnya setiap bulan (nggak janji kalau bisa :p). Aku juga akan berusaha agar ceritanya lebih menartik. Til’ next chapter (^^)w (14 Februari 2012)
No comments:
Post a Comment