Saat mereka sedang berbincang-bincang tentang tugas apa yang nantinya akan mereka terima, tiba-tiba Light membalikkan tubuhnya. Raut wajahnya saat itu sulit dijelaskan.
Melodi kaget melihat Light. Melodi pun bertanya, “Light, ada apa?”
“E..entah kenapa aku merasa familiar dengan suasana disini…” jawab Light pelan.
“Heh… Apa maksudmu Light?”
“…” Light tidak menjawab. Dia malah berjalan kea rah belakang gedung. Melodi yang bingung memutuskan untuk mengikuti Light.
Di belakang gedung departemen terdapat taman yang besar. Tapi ada yang lebih menarik perhatian dari tempat itu. Di tengah taman itu terdapat sebuah pohon maple. Berbeda dengan taman yang ada di depan gedung yang mempunyai banyak pohon maple, disini hanya terdapat satu pohon maple, dan pohon itu terdapat tepat di tengah-tengah taman ini.
Light pun berjalan ke arah pohon itu. Melodi terus mengikuti Light sampai mereka berhenti tepat di tengah taman itu. Ya, sekarang mereka berada di bawah pohon maple itu.
“Light, sebenarnya ada apa? Kenapa kau kesini?” Melodi akhirnya bertanya kembali.
“Aku tidak tahu. Kakiku membawaku kesini…” jawab Light. Melodi terdiam mendengarnya. Dia lalu mendekat ke pohon maple itu dan memperhatinkannya.
“Ng, Light, coba lihat ini. Batang pohon ini seperti ada ukirannya.” ucap Melodi.
Memang benar. Jika diperhatikan seksama, ada ukiran aneh pada batang pohon itu. “Benar juga. Tapi aku tidak bisa membaca ukiran ini. Sepertinya ukiran ini sudah lama dibuat.” Melodi mengangguk.
Saat Melodi menatap Light, dia benar-benar kaget melihat kalung Light bersinar. “Hah!? Li..Light…kalungmu bersinar?!”
“Eh?! Oh, benar juga.” Light lalu melepaskan kalung dari lehernya. Yang mengeluarkan cahaya itu batu crystal yang jadi bandul kalung itu.
“Bagaimana bisa…?” heran Melodi.
“Eh? Kenapa cahaya tidak hilang?”
“Hilang?”
“Ya. Biasanya jika kau melepaskan kalung ini dari leherku, cahanya akan hilang .” jelas Light.
Lama mereka menatap kalung itu. Saat itu ada sehelai daun maple gugur dari pohonnya dan jatuh tepat di atas batu crystal yang dipegang Light. Dan entah kenapa, cahaya dari crystal itu menghilang.
“Eh??!” mereka berdua kaget. “Ini aneh. Tidak biasanya crystal ini bercahaya seperti tadi. Padahal biasanya cahayanya langsung hilang.” ucap Light.
“Tunggu dulu! Aku butuh penjelasan. Kenapa crystal itu bersinar? Dan tadi kau bilang ‘biasanya’. Apa crystal itu memang sering bersinar?” tanya Melodi beruntun.
“Whoa, Melodi. Tenanglah. Akan kujelaskan semuanya. Tapi sebelumnya, kau harus berjanji akan merahasiakan ini.” ucap Light memberi syarat.
“Untuk apa? Tapi, baiklah. Aku akan merahasiakannya. Sekarang, jelaskanlah!” mereka berdua lalu duduk bersandar pada pohon maple.
“Kalung ini…adalah hadiah yang kudapatkan dari nenekku ketika aku berulang tahun yang ke-7.” Light mulai menjelaskan. “Waktu itu, ini hanya sekedar kalung biasa yang indah dengan batu crystal. Tapi…” Light menggantung kalimatnya.
“Tapi?” tanya Melodi penasaran.
“Ketika aku berusia sepuluh tahun, nenekku sakit dan meninggal. Sebelum dia meninggal, dia meninggalkan pesan terakhirnya untukku. Dia bilang aku harus menjaga kalung ini dengan baik. Dia juga bilang kalau aku harus menjadi cahaya yang dapat menyinari kegelapan.”
Light berhenti untuk melihat reaksi Melodi. Tapi Melodi hanya diam. Light lalu melanjutkan, “Di saat-saat terakhirnya, dia menggenggam erat tanganku. Dan saat itulah kalung in bersinar untuk yang pertama kalinya. Waktu itu reaksiku sama sepertimu tadi. Aku sangat terkejut. Tapi nenekku langsung menenangkanku dan bilang kalau cahaya itu tak akan menyakitiku. Melihat nenek yang tersenyum lembut padaku perlahan aku mulai tenang dan tak menghiraukan kalungku lagi. Aku terus berada di sisi nenek di saat-saat terakhirnya. Sampai akhirnya dia menghembuskan napasnya yang terakhir, bersamaan dengan hilangnya cahaya dari kalung ini.” Light mengakhiri ceritanya dengan hembusan napas panjang. Melodi menatap Light dengan takjub.
“Yah, sejak saat itulah kalung ini sering bersinar.” tambah Light.
“Wow, Light! Aku tak pernah mendengar ada yang seperti itu. Lalu, tadi kau bilang biasanya cahayanya akan hilang ketika kau melepaskan kalung itu dari lehermu. Bagaimana kau tahu? Apa nenekmu yang mengatakannya?” tanya Melodi.
“Yah…sebenarnya nenek tidak pernah mengatakan apa pun tentang kalung ini. Setidaknya dia tidak pernah bilang kalau kalung ini istimewa.” ucap Light.
“Lalu?”
“Kalung ini hanya kadang mengeluarkan cahaya. Pada awalnya aku sering kaget dan secara spontan melepas kalung ini. Dan seperti yang kubilang tadi, cahayanya hilang ketika aku melepasnya.” ucap Light.
“Lalu kenapa tadi tidak begitu?” tanya Melodi lagi.
Light terdiam sebelum dia menjawab, “Kalau ditanya tentang itu…jawabannya aku tidak tahu kenapa. Nenekku tidak pernah menjelaskan apa pun tentang kalung ini. Dia hanya bilang aku menjaganya dengan baik. Dan sampai saat ini aku tidak tahu apa-apa tentang kalung ini.” jawab Light.
Melodi hanya mengangguk dan menghela napas. “Hah. Sesuatu tak akan sesimpel yang kita kira, ya…” gumam Melodi.
“Begitulah.” Light hanya membalas sekedarnya dan tersenyum pada Melodi. Melodi membalas senyuman Light.
Melodi’s POV
Tak pernah kukira ada yang seperti itu. Cahaya yang tak akan menyakiti, cahaya yang akan menyinari kegelapan… aku tak mengerti apa maksudnya.
Hah. Aku menghela napas.
Tapi, aku yakin kalau apa yang diceritakan tadi oleh Light itu benar. Terkadang kebenaran tak selalu seperti apa yang kita kira. Kebenaran adalah sesuatu yang tidak akan kau temukan jika kau tidak mau berpikir dari sisi lain.
Aku kaget. Ternyata Light punya masa lalu seperti itu. Yah, nenekku dan Ciel juga sudah meninggal sejak kami masih kecil juga, sih. Tapi nenek tidak pernah meninggalkan hal-hal yang misterius seperti itu, setahuku.
Padahal kukira Light itu hanya seorang gadis riang yang biasa saja. Tapi ternyata dia mempunyai rahasia yang menakjubkan!
“Hei, Melodi. Kau tak akan membocorkan rahasiaku pada yang lainnya, kan?” pertanyaan Light membuyarkan semua yang kupikirkan tadi.
Aku terdiam sebentar. Ada sesuatu yang membuatku terdiam dan tak bisa langsung menjawab pertanyaan Light. Sesuatu yang…aneh…? Aku tak bisa mendeskripsikannya. Tapi aku sudah berjanji untuk merahasiakannya, bukan?
Lalu aku menatap Light. “Ya. Aku tidak akan bilang pada siapa pun tentang pembicaraan kita tadi kecuali jika kau mengizinkannya.” Kataku padanya. Light tersenyum mendengar jawabanku.
Kami pun tak lagi berbicara. Kami diam duduk di bawah pohon maple ini dan menikmati hembusan angin musim gugur.
Normal POV
Di saat yang sama namun berbeda tempat, Clara masuk ke sebuah ruangan yang cukup besar. Ruangan itu memiliki jendela yang cukup besar yang mengarah ke taman belakang gedung departemen itu.
Berdiri di situ seorang Mark yang kelihatannya begitu menikmati memandangi taman itu. Mark tahu Clara masuk ke ruangannya, tapi dia hanya diam dan tak berniat melihat tamunya itu.
“Sudah cukup lama aku tidak masuk ke ruangan ini, ya?” Clara mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.
“Begitulah. Aku ingat kali terakhir kau datang kesini, kau menulis sesuatu di notebook-mu dan tak ingin memperlihatkannya pada siapa pun.” kata Mark sambil tersenyum.
“Heh. Tentang itu tak usah kau pikirkan. Tak ada yang spesial di situ.” tanggap Clara. Dia lalu berjalan ke dekat rak buku yang ada di sudut kanan ruangan. “Lalu bagaimana?” Clara bertanya.
“Hitam, abu-abu, dan putih.” Mark langsung menjawab secara singkat.
Clara terdiam. Lalu dia menanggapi, “Begitu… Itu artinya tak pasti, bukan?”
Mendengar respon Clara, Mark berbalik dan melihat Clara. “Bagaimana denganmu?” kali ini Mark yang bertanya.
“Aku baik-baik saja. Sejauh ini aku masih bisa mengontrol semuanya.” jawab Clara. Mark diam.
Clara lalu berjalan melewati Mark dan berdiri menghadap jendela. Dia melihat keluar jendela lalu tersenyum tipis. Dia kembali menghadap Mark dan berkata, “Tenang saja. Ini baru permulaan. Permainan sebenarnya bahkan belum dimulai.” Clara mengatakannya sambil menyeringai.
Mark mendengus. “Heh. Kau ini. Seperti biasa kau tetap tenang dan rasional. Kau tidak takut mereka balik menyerangmu?” tanya Mark.
“Entahlah. Mungkin iya, mungkin juga tidak. Masih banyak hal yang belum terungkap, jadi kurasa aku tak perlu merasa takut. Tadi kau juga bilang bahwa ini belum pasti, kan?” Mark hanya diam. “Lagipula, aku belum boleh mundur, kan?” tambah Clara.
Mark terdiam sejenak sebelum menjawab, “Ya, kau benar. Kau, aku, kita…belum boleh mundur sekarang.” ucap Mark. Mark lalu berjalan ke samping Clara dan kembali melihat ke luar jendela. Clara pun melakukan hal sama.
“Tenang saja. Kita tidak akan hancur. Kita sudah sering melewati keadaan yang sama seperti sama seperti ini.” ucap Clara mantap.
“Kau sangat yakin dengan perkataanmu itu.”
“Tentu saja. Aku ini wali mereka. Aku tahu mereka. Mereka sekarang memang tak berbeda dengan senior-senior mereka. Tapi aku tahu mereka punya ‘hal’ itu. Walaupun aku belum tahu apakah mereka akan memilih ‘putih’ atau ‘hitam’” jelas Clara, lalu berjalan ke arah pintu. “Aku pulang dulu. Sudah waktunya kami kembali.” tambahnya. Clara lalu membuka pintu dan berjalan keluar.
Sebelum Clara benar-benar pergi, Mark menghentikannya. “Clara!” panggilnya. Clara berhenti tanpa membalikkan tubuhnya. “Jika memang nantinya ‘putih’ menjadi ‘putih’ dan ‘hitam’ menjadi ‘hitam’, apa yang akan kau lakukan?” tanya Mark.
Clara terdiam sejenak. “Kalau memang nantinya akan seperti itu, aku tetap takkan mundur. Hanya itu yang dapat kulakukan sekarang.” Setelah mengatakan itu, Clara langsung pergi.
Mark sudah tak berniat menghentikan Clara dan bertanya lagi. Mark hanya mengangguk dan kembali menikmati hembusan angin yang masuk lewat jendela.
.
.
No comments:
Post a Comment