The Beginning
Ini adalah cerita tentang seorang Hotaru, anak yang penuh semangat dan keingintahuan. Dan cerita ini bermula dari liburan musim panas yang panjang. Hotaru dan sepupunya, Hinata, akan memulai perjalanan mereka bersama kedua teman mereka, Shin dan Yayoi.
‘Menjadi seorang petualang tentu tidaklah mudah. Akan ada banyak yang menanti dan menghadang mereka jauh di sana. Perjalanan mereka sudah ditakdirkan untuk penuh dengan banyak hal. Itulah yang akan membuat perjalanan mereka berkilau, sebagaimana mereka mempunyai jiwa yang bersinar.’
.
.
“Hotaru!! Kenapa kau lama sekali, sih? Apa yang kau lakukan?” teriak Hinata tidak sabar pada Hotaru. Akhirnya Hotaru keluar dari kamarnya dengan membawa sebuah tas di punggungnya. Pedang Hotaru disarungkan di pinggangnya.
“Huh, akhirnya kau keluar juga Hotaru. Kenapa kau lama sekali, sih?!” bentak Hinata.
“Maaf, maaf. Aku agak lama memilih barang apa yang akan aku bawa. Lalu bagaimana denganmu?” Hotaru balik bertanya.
“Yah, aku sudah siap dari tadi, tidak sepertimu. Nah, sekarang lebih baik kita bergegas ke tempatnya Shin dan Yayoi. Aku yakin mereka sudah menunggu kita.” Hinata pun mengambil tasnya yang ditaruhnya di tempat duduk dan menaruh tas itu dipunggungnya. Dia lalu menyarungkan pedangnya, Shine Blade di pinggangnya.
“Hoh, kalian sudah siap, ya?” Viel, ibu Hotau dan bibi Hinata datang untuk melihat keadaan kedua orang itu.
“Ya bu. Kami sudah siap. Kakek dimana, bu?” tanya Hotaru yang dari tadi tidak melihat kakeknya itu.
“Kakek kalian ada di ruang keluarga. Kalian harus menemuinya karena kelihatannya ada beberapa hal yang ingin kakek sampaikan pada kalian.” jawab Viel sambil membetulkan tas Hotaru yang miring.
“Okay. Kalau begitu, ayo kita temui kakek!” ajak Hotaru seraya menarik tangan Hinata dan berlari. Otomatis Hinata yang ditarik tangannya ikut berlari.
“Hei, Hotaru! Jangan tarik-tarik tanganku saat kau berlari! Tasku berat, tahu!” bentak Hinata yang kesusahan menahan tasnya agar tidak jatuh.
“Oh, maaf ya Hinata. Hehe…” ucap Hotaru memperlihatkan senyumnya yang lebar. Hotaru pun berhenti berlari dan melepas tangan Hinata. Mereka pun memilih berjalan cepat. Sesampainya di ruang keluarga, mereka melihat kakeknya yang sedang berdiri menghadap mereka.
“Sepertinya kalian sudah siap, ya Hotaru, Hinata?” tanya kakek mereka lembut.
“Iya, kek. Kami berdua sudah siap. Bibi bilang ada sesuatu yang ingin kakek sampaikan. Apa itu, kek?” tanya Hinata.
“Kakek hanya ingin mengatakan kalau kalian tidak boleh menyusahkan orang lain. Kalian juga harus membantu orang yang benar-benar membutuhkan bantuan kalian.” nasehat kakek mereka.
“Tentu saja, kek. Kami akan mengingat hal itu.” ucap Hotaru semangat. Hinata menganggukkan kepalanya. Kakek pun tersenyum.
“Ada sesuatu yang ingin kakek berikan untuk kalian.” ucap kakek. Dia pun mengambil kotak kayu antik kecil yang ada di lemari di ruangan itu. Lalu kakek membawa kotak itu ke hadapan Hotaru dan Hinata. Mereka berdua hanya bisa menatap bingung.
“Apa itu?” gumam mereka berdua. Lalu kakek pun membuka kotak itu. Di dalamnya ada dua buah kalung berwarna putih dengan batu kristal sebagai bandul kalung itu. kristal yang satu berwarna kuning cerah dan satunya lagi berwarna merah cerah.
“Eh, kalung?! Untuk apa ini, kek?” tanya Hotaru heran.
“Wah, kalung yang indah.” Hinata hanya bisa memandang takjub pada kedua kalung itu.
“Kedua kalung ini akan kakek berikan pada kalian berdua. Keduanya saling berhubungan satu sama lain. Kalung ini akan memberitahu kalian keberadaan kalian saat sedang terpisah. Kalung ini juga akan membantu kalian jika kalian harus terpaksa bertarung.” jelas kakek. Kakek lalu memberikan kalung crystal warna merah untuk Hotaru dan warna kuning untuk Hinata. Mereka berdua pun langsung memakai kalung itu.
“Kakek harap kalian dapat menjaga kalung ini dengan baik.” ucap kakek.
“Pasti, kek. Kami pasti akan menjaga kalung ini sebaik-baiknya.” ucap Hotaru mantap.
“Terima kasih untuk kalungnya, kek. Kami berjanji akan menjaga kalung ini juga diri kami sendiri.” janji Hinata. Mendengar apa yang dikatakan kedua cucunya itu, kakek pun hanya dapat tersenyum.
“Ya, kalian memang harus menjaga semua itu. Ibu harap kalian bisa menepati perkataan kalian itu. Ingat, tempat yang nantinya mungkin akan kalian singgahi berbeda dengan tempat tinggal kita.” nasehat ibu.
“Ya, bu. Akan kami ingat itu. Baiklah. Semua sudah siap? Ayo kita berangkat!!” Hotaru pun langsung berlari keluar rumah.
“Hotaru, jangan tinggalkan aku!” Hinata pun langsung berlari mengejar Hotaru. Ternyata di luar Shin dan Yayoi sudah menunggu dari tadi.
“Yo, kalian sudah menunggu lama, ya? Ayo kita pergi!!” ucap Hotaru semangat. Tiba-tiba seseorang memukul kepalanya dari belakang. Hotaru pun merengut kesakitan.
“Kan sudah kubilang tunggu aku. Kenapa kau malah lari!? Membuatku susah saja.” bentak Hinata.
“Aduh, maaf, maaf Hinata. Aku terlalu semangat.” ucap Hotaru sambil memegang kepalanya.
“Huh, kau tetap seperti biasa, ya.” ucap Shin sarkastik.
“Kau berisik sekali, sih.” ucap Yayoi.
“Kalau begitu kami pergi dulu, bu, kek. “ kata Hotaru pada kedua orang tua itu.
“Jangan kawatir. Kami akan baik-baik saja.” tambah Hinata.
Mereka pun pergi dan menghilang dengan cepat dari pandangan Viel dan Aoyagi. Ya, mereka pergi untuk memulai perjalanan mereka. Ini baru permulaan. Akan ada banyak hal yang akan mereka temui dan ketahui nantinya. Angin pun bertiup membuat awan-awan bergerak mengikuti mereka berempat.
No comments:
Post a Comment