Thursday, 15 June 2017

Surat 9: From Fíla To Helen

To Helen,

Jangan memaksakan dirimu membalas suratku jika memang kau sedang sibuk. Aku tak masalah menunggu balasanmu, kok. Walaupun memang aku begitu senang dengan surat-menyurat ini, membuatku bisa membebaskan pikiran dan menghindar dari rasa stres yang kadang datang.
Qurare itu tempat yang di mana beberapa dari kalian belajar, kan? Ugh, aku tidak tahu apa belajar adalah kata yang tepat, tapi hanya itu kata yang bisa kupakai. Lalu, apa yang akan kalian lakukan selanjutnya? Maksudku, kalian mungkin punya rencana kegiatan normal?
Ahaha, aku tidak bermaksud ambigu seperti itu. Tapi, memangnya hubungan Angelo dan Dray seperti apa? Karena dari ceritamu, sepertinya Angelo sangat peduli pada Dray. Dan aku tidak bermaksud terus menerus ingin membicarakan Angelo. Aku hanya penasaran karena aku baru mendengar tentangnya. Aku tidak tahu kalu disuruh membicarakan tentang orang lain. Ah, bagaimana kalau tentang Sēji-san? Kita sudah menyebutnya, kan? Namanya dan Ichigo muncul tiba-tiba saat menulis surat sebelumnya, tidak ada alasan khusus. Tapi, mungkin karena aku tahu Ichigo sering ikut ekspedisi denganmu. Aku cukup kaget kau menyebutkan Sēji-san seperti dijaga begitu ketat. Aku mengerti jika dia adalah sosok irregular yang penting, tapi aku tidak mengira dia sepenting itu.
Orang-orang menyayangi Axel karena dia memang tipe yang mudah disayang. Aku tidak heran jika yang kau tulis itu benar. Hehe, jadi kau paling menyukai Felice? Pilihan yang tepat, Len, aku setuju. Felice sangat imut dan terasa begitu murni. Apalagi dia begitu penyayang dan polos.
Kau ingin tahu lebih banyak tentangku? Aku tidak bisa menjelaskan sesuai keinginanmu dalam satu surat, aku tidak mau menulis surat yang terlalu panjang. Jadi, aku beritahu perlahan saja, ya?
Hmm, buku yang sudah kubaca? Terlalu banyak untuk kusebutkan. Aku pernah membaca komik barat maupun dari negara-negara di timur. Aku pernah membaca novel misteri, romantis, komedi, drama, fantasi, dll. Aku pernah membaca buku ilmiah dan non-fiksi lain. Sastra klasik juga sudah banyak yang kubaca, baik itu dari negeriku sendiri maupun negeri lain, bahkan sastra klasik kukenal lebih dulu daripada novel modern. Aku punya impian untuk mempunyai perpustakaan sendiri dan orang-orang bisa berkunjung ke sana. Aku pernah bilang 'kan kalau buku adalah sahabatku? Aku menyukai buku karena dunia yang digambarkan melalui kata-kata dalam buku begitu sama maupun berbeda dengan duniaku. Aku seolah bisa masuk dan tinggal dalam dunia itu, dan semuanya terasa akan baik-baik saja. Dalam buku fiksi, setiap masalah pasti akan diselesaikan dan penyelesaiannya membuatku terpesona, tapi terkadang aku berpikir masalah mereka tidak seberat kehidupanku. Maksudku, mereka di dunia fantasi seharusnya lebih sulit daripada hidup dunia normal. Tapi, aku juga sering termotivasi untuk menjalani kehidupanku. Pada akhirnya, aku mungkin hanya mencari sarana agar tidak tenggelam dalam depresi dan kebosanan yang kadang datang menghampiri, dan karena aku tidak punya banyak tempat untuk bercerita jadi aku membaca cerita orang lain.
Sampai di sini dulu, ya, Len? Aku akan menceritakan hal lain nanti, dan menunggu cerita darimu juga.

Yours truly,
Fíla

No comments:

Post a Comment