Sunday, 9 September 2012

Jika aku terlahir kembali...

Aku ingin terlahir dan tinggal di dunia fantasi seperti dunia game Legend of Mana dan Harvest Moon, atau Metropolismania. Rasanya pasti menyenangkan jika bisa tinggal di dunia seperti itu. Yah, Metropolismania mirip dengan kehidupan Jepang, sih. Tapi akan sangat keren jika bisa tinggal di kota yang kita buat sendiri. Atau, aku ingin terlahir kembali di Jepang. Sedangkan untuk Harvest Moon, bisa tinggal di sebuah desa, lembah, kota kecil, atau pulau seperti di game rasanya benar-benar hebat (padahal belum pernah merasakannya). Ingin rasanya menjadi seorang peternak – walaupun pastinya aslinya lebih sulit daripada virtual. Dan untuk Legend of Mana, karena itu adalah dunia yang sejatinya adalah satu namun hancur dan terpisah-pisah, tapi ingin sekali tinggal di salah satu tempat di situ. Contohnya, Home, Lumina, Domina, Polpota Harbor, atau Geo. Bangunan-bangunannya unik dan sangat artistik, menurutku. Heran deh. Orang-orang bisa membuat dunia yang begitu hebat, tataannya begitu artistik, tapi tak bisa membuat yang seperti itu di dunia nyata. Mungkin aku akan mendapatkan jawaban keherananku saat sudah menjadi seorang pembuat game. Tentu saja dunia seperti itu tak ada, karena itu hanya game. Tapi, mungkin suatu saat nanti – di ruang dan waktu yang berbeda terdapat dunia seperti itu, dan aku ingin terlahir di sana. Aku ingin mempunyai saudara kembar yang tipikal denganku, baik itu perempuan atau laki-laki, atau seorang kakak laki-laki. Aku sekarang mempunyai seorang adik laki-laki. Kalau ditanya apa menyenangkan punya adik laki-laki, aku akan menjawab menyenangkan walau terkadang menyebalkan. Menyenangkan saat kau mengenal seseorang yang punya hobi yang sama denganmu – dan itulah adikku. Dia mempunyai hobi yang sama denganku; membaca komik, main game, menonton anime, dll. Karena aku sudah merasakan punya seorang adik laki-laki, aku ingin merasakan bagaimana punya saudara kembar dan kakak laki-laki. Ini karena pengaruh membaca buku. ‘Kan banyak tuh, di cerita-cerita ada sepasang kembar identik, atau seorang gadis yang mempunyai kakak laki-laki. Nah, aku juga ingin merasakannya. Aku ingin terlahir sebagai seorang perempuan lagi, untuk itu. Jika kalian terlahir kembali, apa yang kalian inginkan? Catatan: Tulisan ini murni hanya keisengan belaka :D

Friday, 13 July 2012

The Shiny Journey, Chapter 2

Persinggahan Pertama Sudah berjam-jam mereka berjalan. Jarak mereka dengan desa tempat tinggal mereka sudah jauh. Mungkin sebentar lagi mereka akan menemukan sebuah desa lain. “Hei, kita sudah meninggalkan rumah dan berjalan berjam-jam. Apa kalian sudah menentukan tujuan kita yang pertama?” tanya Shin. “Aku juga sudah lapar.” Ucap Yayoi. “Hmm, ayo lihat peta ini dulu.” Kata Hinata. “Darimana kau mendapatkannya, Hinata?” tanya Yayoi. “Kakekku yang memberikannya. Dia bilang mungkin ini akan berguna untuk kita. Nah, sampai di mana tadi? Oh ya, ayo kita ke kota Gelion! Kita bisa mencari tempat menginap disana.” Ajak Hinata. Sambil menatap langit, Shin berkata, “Aku rasa kota Gelion sudah tidak terlalu jauh dari sini.” “Kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo kita menuju kota Gelion!” Hotaru berteriak dengan semangat. Mereka pun menuju kota Gelion yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka sekarang ini. . . “Hah, akhirnya sampai juga di kota Gelion. Ayo kita cari penginapan sekarang! Aku ingin cepat-cepat istirahat.” Ucap Hinata yang kelelahan. Mereka sudah sampai di kota Gelion, tempat pertama yang mereka datangi. Mereka pun langsung mencari penginapan yang masih mempunyai tempat untuk mereka. Setelah menemukannya, mereka langsung masuk ke dalam. “Haah, akhirnya kita bisa beristirahat juga…” ucap Yayoi. “Kenapa hampir semua penginapan di kota ini penuh? Apa ini kota wisata yang banyak didatangi orang?” tanya Shin pada pelayang yang bertugas menunjukkan kamar mereka. “Kalian tidak tahu? Beberapa hari lagi di kota ini akan diadakan festival bunga. Itu adalah acara yang dibuat untuk merayakan datangnya musim panas. Disana akan ada banyak bunga-bunga kebanggaan para penduduk yang akan dipamerkan. Dan ada acara lainnya juga nanti.” Jelas pelayan itu pangjang lebar. “Kapan festival itu dimulai?” tanya Hotaru. “Kalau persiapannya bagus, mungkin dua hari lagi.” Ucap pelayan mengira-ngira. “Hei, bagaimana kalau kita juga menyaksikan festival itu. Pasti menyenangkan!” ucap Hotaru pada yang lainnya. “Ini kamar kalian. Ini kamar untuk nona Hinata dan Yayoi, dan ini kamar untuk tuan Hotaru dan Shin. Kamar kalian bersebelahan. Lebih baik pembicaraan kalian dilanjutkan nanti setelah kalian beristirahat. Selamat beristirahat.” Ucap pelayan itu lalu pergi. “Ya, terima kasih.” Mereka berterima kasih pada pelayan itu dan langsung memasuki kamar mereka. . . “Shin, ayo kita keluar! Aku bosan di kamar ini…” ucap Hotaru. “Bagaimana kau bisa bosan? Kau kan baru saja bangun.” Ucap Shin heran. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Hehehe” Hotaru tertawa sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. “Sudahlah. Ayo kita cari makan malam! Aku sudah lapar.” Ajak Hotaru. “Apa kita perlu membawa senjata kita?” tanya Shin. “Hmm, lebih baik kita membawanya. Kita kan belum tahu mengenai kota ini.” Jelas Hotaru. Diluar, mereka menjumpai Hinata dan Yayoi berdiri di muka kamar mereka. Setelah Hotaru menjelaskan kalau dia dan Shin ingin keluar dan mengajak mereka berdua untuk ikut, mereka pun langsung keluar dari penginapan itu. . . Setelah selesai makan malam, mereka berjalan di sekitar taman Gelion sambil bercakap-cakap. “Apa kalian juga ingin menonton festival itu?” tanya Yayoi. “Aku ingin melihat bunga-bunga yang akan dipamerkan.” Ucap Hinata, “Aku penasaran bagaimana festival itu. Aku hanya pernah membacanya di artikel saja, sih.” Ucap Shin. “Kalau begitu, sudah diputuskan kita akan menonton festival itu! Aku yakin festival itu akan ramai!” ucap Hotaru semangat karena teman-temannya juga ingin menonton festival itu. Tiba-tiba, ada seseorang yang berlari dan tak sengaja menabrak Hinata. “Oh, ma..maaf” orang itu meminta maaf sambil membungkukkan badannya sehingga wajahnya tak terlihat. Setelah itu dia langsung pergi dengan cepat. “Kau tidak apa-apa Hinata?” tanya Yayoi seraya membantu Hinata berdiri. “Ehm, ya…”. “Siapa ya orang itu? Kelihatannya dia sangat tergesa-gesa.” Ucap Shin penasaran. Mereka pun saling terdiam satu sama lain. Malam itu langit begitu indah karena bintang-bintang terlihat dengan jelas. Angin berembus kencang menambah kesan malam itu. . . Di sebuah tempat yang gelap, dua orang sedang berbicara dengan serius. Wajah mereka dihalangi oleh kegelapan. “Bagaimana? Apa target kita berjalan lancar?” tanya orang yang duduk di kursi di ujung ruangan itu. “Ya tuan. Selanjutnya, kita akan melihat festival di kota Gelion.” Jawab orang yang satunya lagi. “Heh. Festival… kelihatannya akan menarik. Chloride, kirim Lars dan Luovi!” perintah orang itu. “Baik tuanku.” Ucap orang yang bernama Chloride itu. Dia lalu pergi dari ruangan itu. . . .

Friday, 29 June 2012

Manga-Anime: Shaman King

Hohoho, sekarang aku akan membahas komik kesukaanku, Shaman King! Aku bilang komik karena aku belum menonton anime-nya. Aku hanya pernah membaca komiknya. Komik karya Hiroyuki Takei ini benar-benar menarik hatiku. Padahal kalau mau dibilang, komik ini tak setenar Naruto atau Inuyasha. Tapi, aku tetap menyukai komik yang satu ini :D Komik ini berkisah tentang seorang Shaman dari Jepang yang berumur 13 tahun, Yoh Asakura. Dia datang ke Tokyo untuk berlatih dan mengumpulkan teman. Eits, sebelum itu, shaman adalah orang yang bisa menghubungkan dunia ini dan dunia sana (dunia arwah). Nah, di sekolahnya yang baru, dia bertemu dengan Manta Oyamada. Yoh membantu Manta untuk membalas Ryu si pedang kayu yang telah menghajarnya. Dia juga bertemu Amidamaru, roh samurai berusia 600 tahun, karena kejadian itu. Yoh dan Manta berteman baik sejak itu. Amidamaru juga menjadi roh pendampingnya. Pada suatu hari, mereka bertemu shaman lainnya, Tao Ren. Ren menginginkan roh Yoh, yaitu Amidamaru. Tapi Yoh tidak mau menyerakannya karena Amidamaru adalah temannya. Mereka akhirnya bertarung. Yoh sempat terdesak. Kekuatan Ren dan rohnya, Bason, sangatlah kuat. Akhirnya, Ren mengeluarkan Hyou Gattai 100%. Dia berhasil menebas Yoh, tapi Yoh tidak kalah begitu saja. Dia masih bisa duduk sambil tersenyum. Ren sekali lagi mengatakan kalau Yoh harus menyerahkan Amidamaru. Tapi Yoh tetap bersikeras tidak mau, sampai dia mengatakan kalau lebih baik Amidamaru pergi ke nirwana daripada harus diserahkan pada Ren. Ren yang kesal kemudian menjelaskan kalau dia seperti itu, dia tak akan menjadi Shaman King. Apalagi Yoh tidak tahu bagaimana mengeluarkan Hyou Gattai 100%. Karena Yoh belum bisa menyatukan kekuatan dengan Amidamaru. Dua jiwa dalam satu tubuh tidak bisa bertarung sendiri-sendiri, harus menyatukan hati. Akhirnya, Yoh bangkit dan mengejutkan Ren karena tubuh Yoh sudah terluka berat. Yoh mengatakan kalau ini berkat Ren. Dia yang memberitahu kalau dua jiwa tidak bisa bersatu sebelum mereka menyatukan hati. Dan Yoh mengatakan kalau akhirnya hatinya dan Amidamaru telah bersatu. Dan akhirnya Yoh dan Amidamaru mengerahkan Hyou Gattai 100% dan mengalahkan Ren. Setelah pertarungan itu, Yoh tidak sadarkan diri selama tiga hari. Selama itu, di bawah kesadarannya, Yoh kembali mengingat mengapa ia berlatih menjadi shaman. Itu karena dia ingin menjadi seorang Shaman King. Shaman King adalah shaman yang mempunyai Roh Agung, roh dari segala roh. Yoh akhirnya sadar. Tapi seorang gadis bernama Anna Kyouyama muncul dan mengaku kalau dia tunangan Yoh. Mereka sudah bertunangan sejak kecil. Anna adalah shaman itako, shaman yang mampu memanggil semua roh termasuk roh yang sudah masuk nirwana. Dan dia bercita-cita menjadi First Lady dalam dunia shaman. Karena itu, dia akan melatih Yoh untuk menjadi Shaman King. Anna juga menceritakan tentang Shaman Fight in Tokyo yang akan segera dimulai. Yoh mulai bertarung dengan shaman lainnya, yaitu Horo Horo dan Faust VIII, dan kembali bertarung dengan Tao Ren.
Sebenarnya, aku belum membaca manganya sampai tamat. Baru sampai Tao En arc. Agak aneh, kan? Aku bilang ini komik kesukaanku, tapi aku belum membacanya sampai selesai. Tapi, tentu saja aku tahu keseluruhan ceritanya. Yang ingin sekali kubaca adalah kisah masa lalu Yoh dan Anna, ketika mereka pertama kali bertemu, dan Yoh juga bertemu Matamune. Yoh dan Anna adalah pairing yang sangat kusukai! Mereka berdua sangat imut >.< Oh ya, berkat komik ini, aku jadi tidak takut sama hantu ^^v soalnya aku selalu ingat kata-kata Yoh, “Orang yang bisa melihat hantu adalah orang yang baik.” Walaupun sebenarnya itu tidaklah begitu benar, tapi setidaknya itu bisa membuatku agak tenang jika berhubungan dengan hal-hal seperti itu. Oh ya, ada yang tahu karya Hiroyuki Takei-sama selain Shaman King? Ada yang mau kasih tahu, nggak? Sebenarnya sih, aku bisa cari tahu sendiri. Tapi, aku akan lebih senang jika ada yang mau memberitahukannya langsung. Ya? Aku menulis fanfic Shaman King dengan pairing Yoh-Anna di FFn. Ini linknya: Jika kalian berminat, silahkan dibaca :) Sebenarnya aku masih ingin membahas lebih lanjut komik ini, tapi aku masih ragu untuk membahasnya karena aku belum membacanya secara langsung. Mungkin nanti setelah aku selesai membacanya, aku akan lanjut membahasnya ;D
PS: Manga dan anime bukan hanya untuk atau sebagai hiburan saja, melainkan di dalamnya terdapat banyak nilai-nilai kehidupan yang ingin disampaikan penulisnya pada orang-orang. Jadi, jangan berkata kalau itu hanyalah hal yang tidak membangun atau membuat orang bodoh! Para otaku pun harus tahu mana manga dan anime yang baik. Dan juga harus tahu menyeimbangkan antara belajar dan hiburan itu. Okay? ;D

My Drawer, My Time Capsule

Minggu lalu, aku membersihkan laci pribadiku. Aku ingin memindahkan barang-barangku dari laci itu ke laci lain, karena laci punyaku kuncinya sudah rusak. Kebetulan hari itu aku lagi ingin mengerjakan sesuatu *ketahuan malasnya*. Sepulang dari sekolah, aku segera mengeluarkan kedua laci itu dari lemarinya. Pertama, aku mengeluarkan barang-barang dari laci yang ingin kupakai. Isinya kaset-kaset lagu lama – lagu yang sering diputar orang tuaku waktu masih kecil. Ternyata masih ada juga tuh lagu. Setelah semua sudah dikeluarkan, aku mengambil kemoceng dan membawa laci itu depan rumah untuk dibersihin debunya. Nah, sialnya, hari itu lagi berangin. Jadilah setiap dibersihin, debunya terbang lagi masuk ke rumah. Terpaksa deh, harus jalan lebih jauh lagi dari pintu rumah. Malah tuh laci berat lagi =3= Dan setelah itu, aku mulai mengeluarkan barang-barang dari calon mantan laciku. Aku agak kesusahan mengeluarkan semua barangku. Ternyata ada banyak yang kusimpan disitu. Aku sudah lama tidak melihat dan memperhatikan keseluruhan barang di laci itu. Sekarang ini, aku hanya memakainya untuk menyimpan barang yang kupakai sehari-hari tapi sedang tidak kupakai (?). Itu juga cuma di bagian depan laci yang kulihat. Yang bagian belakangnya kubiarkan. Setelah kukeluarkan barang-barangku, aku agak kaget melihat barang-barangku waktu masih SD ada di situ. Bukan hanya itu, barang-barangku waktu SMP juga ada. Mulai dari hadiah ulang tahun yang diberikan oleh temanku, kartu peserta UN SMP, kartu peserta lomba mading SMP. Dan barang-barang waktu SD, seperti buku matematika kelas 5 dan 6, folder yang menyimpan coretan-coretan nggak jelas waktu SD, jadwal pelajaran, pin, dsb. Bukan hanya itu saja, lho. Di dasar laci itu, berserakan semua kartu-kartu mainan mulai dari gambaran, Yu-Gi-Oh!, kartu Pokemon, Naruto, dll. Ada juga struk pembelian komik, snack, dan yang aneh-aneh lain. Butuh waktu yang lama dan leher yang pegal untuk membereskan semua itu, karena aku tak ingin membuangnya. Aku ingin menyimpannya sebagai kenangan masa kecil. Supaya nantinya saat suda tua, aku punya pengingat yang akan mengingatkanku hari-hariku dulu, juga lelahnya beresin ini semua. Lagipula, aku nggak rela buang ini semua. Gambaran yang kupunya itu kukumpulkan sesuai gambar yang kusuka, seperti Naruto, Bakugan, Avatar, Samurai X. Itu koleksi yang mempunyai nilai tinggi bagiku. Seperti laci sebelumnya, setelah selesai mengeluarkan semua barangnya, aku membawa laci itu ke depan rumah untuk dibersihin dari debu. Dan lebih sialnya lagi, gerimis mulai turun. Dengan melawan hujan, kubawa laci berat itu ke teras depan. Dengan penuh kesabaran, kumulai membersihkan laci itu dari debu menggunakan kemoceng warna-warni (yang warna-warni itu juga kemoceng, kan, sama dengan kemoceng bulu ayam? Atau ada nama lain?). Nah, waktunya menata barang-barang di laci. Aku lebih dulu mengatur kaset-kaset tadi. Semuanya kumasukkan ke laci yang telah sukses menjadi mantan laciku. Setelah selesai, kumasukkan lagi laci itu ke tempatnya semula. Akhirnya, waktunya menata barang-barangku ke dalam laci baruku. Sebelumnya, aku mengambil karet untuk mengikat kartu mainan yang sudah kukumpulkan.
Yang pertama kuletakkan di laci itu adalah kertas-kertas lama yang masih bisa kupakai, lalu buku-buku SD dan folderku. Selanjutnya, kuletakkan majalah Animonstar, dan pin. Di bagian depan, aku letakkan kartu mainan, kumpulan struk, ikat rambutku, dan beberapa komik. Pengorbananku berlelah-lelah siang itu tak sia-sia. Laciku jadi lebih teratur dan sekarang aku bisa mengunci laciku XD
Dan yang terpenting, banyak kenangan yang kuingat saat membersihkan laciku. Dan aku senang barang-barang itu masih ada. Yang kuharapkan untuk laciku sekarang adalah semoga barang waktu SMA juga bisa disimpan di situ agar aku punya sesuatu yang bisa mengingatkanku pada masa-masa dulu saat aku sudah tak duduk di bangku pendidikan lagi. Dan ada satu hal yang terpikirkan olehku saat membersihkan laciku, ternyata waktu itu menyimpan banyak sekali keajaiban. Begitu juga dengan laciku XD. Bisa dibilang my drawer, my time capsule.

Saturday, 9 June 2012

Pertanyaanku (31-40)

31. Kenapa harus ada perpisahan? 32. Apa aku harus menjadi sempurna untuk dapat disadari keberadaannya? 33. Apa sebenarnya yang ada dibalik langit? 34. Apa warna yang sesuai dengan jiwaku ini? 35. Apa harta terbesar di dunia ini? 36. Apa aku sanggup untuk membenci seseorang? 37. Bagaimana aku meraih kebebasan itu? 38. Bagaimana caranya melepaskan beban ini? 39. Kapan aku bisa melepas semua beban? 40. Kapan kita mengetahui hari terakhir kita?

Saturday, 12 May 2012

Magical Light - Chapter 10

Segala proses untuk para siswa diberi tugas khusus sudah selesai. Urusan tempat tinggal dan kegiatan mereka di sana sudah diatur. Mereka tinggal menunggu hari keberangkatan mereka. Tak akan terlalu lama menunggu. Awal musim dingin menjadi waktu keberangkatan mereka. Tak ada perbedaan yang terlalu besar dari kelas bagian 1 sampai 4 dan kelas bagian 5 sampai 8, atau untuk tingkat I, II, maupun III. Mereka semua sibuk mempersiapkan diri mereka. Bolak-balik toko untuk membeli perlengkapan yang akan dibawa, pergi ke perpustakaan untuk mencari referensi mengenai tempat yang akan dituju dan apa yang harus dilakukan, atau sekedar duduk-duduk di taman untuk menenangkan pikiran. Terlebih bagi para siswa tahun pertama. Sebagaimana pengalaman pertama, mereka merasa khawatir dan tegang menghitung hari-hari keberangkatan yang semakin dekat. Musim dingin yang ditunggu memang tidak akan lama lagi. Tinggal beberapa hari saja. Udara yang semakin dingin dan pohon-pohon maple yang sudah tak berdaun menandai kedatangannya. Seorang gadis berambut kuning duduk diam di sebuah taman sambil menikmati angin. Tak dipedulikannya angin itu begitu dingin dan menusuk kulit. Memang, gadis itu tak perlu khawatir, karena dia sudah memakai jaket berwarna cokelat, sangat cocok dengan irisnya yang berwarna cokelat bening dan syal yang berwarna hitam. Ketenangannya buyar saat seseorang memanggil namanya. “Light!” Dia pun menoleh dan mendapati seorang gadis seusianya berlari ke arahnya. Rambut orange gadis itu melambai ditiup angin. “Hai, Melodi,” sapanya saat Melodi sampai ke tempatnya. Melodi memakai flat shoes berwarna peach, baju bertudung warna kuning, dan jeans selutut. “Kau sudah di sini dari tadi?” tanya Melodi. Light mengangguk. “Lumayan,” Light memperhatikan Melodi. “Kau hanya sendiri?” Melodi melihat ke belakang. “Begitulah. Memang kenapa?” “Tidak. Hanya saja biasanya, kan, kau bersama Ciel,” ucap Light. “Heh, kenapa aku harus sama dia?” Melodi merengut. Light terkekeh. “Ciel tidak ikut karena dia sedang belajar di perpustakaan kota. Aku tidak ingin mengganggunya, jadi dia tak kuajak,” akhirnya Melodi menjelaskan. Light mengerutkan kening. “Ciel belajar apa? Kita kan tak punya tugas akademik sekarang ini,” heran Light. Melodi mengangkat bahu. “Dia hanya bilang ada yang ingin dicari tahu olehnya. Tapi dia tidak bilang apa itu,” jelas Melodi. Light mengangguk mengerti walaupun sebenarnya dia masih penasaran dengan apa yang dicari Ciel itu. ‘Mungkin hanya tentang tugas kami nanti,’ pikirnya. “Mau beli minuman hangat, tidak? Aku mulai kedinginan, nih,” ajak Light. “Ayo!” Mereka lalu meninggalkan taman dan pergi ke sebuah kafe kecil di dekat situ. . Bola orange itu melayang di udara. Dengan tangkas dan sigap, Raven melompat dan menangkap bola itu. Kakinya kokoh mendarat di tanah dan tanpa ragu dia berlari men-dribble bola. Dua orang berlari menghadangnya, berusaha mengambil bola dari tangannya. Samar-samar Raven menyunggingkan seringai tipis. Saat berdiri di hadapannya lawannya, dia segera menapakkan kakinya dan dengan cepat memutar badannya ke samping. Dengan mudah, dia mengelabui lawannya. Dari titik tiga poin, dia menembakkan bola itu dan tepat masuk ke ring. Tiga poin ditambahkan di papan skor. Senyum lebar menghiasi wajahnya. Anggota timnya menepuk pundaknya dan memberi selamat. Pertandingan berakhir dengan skor 64-35, dengan kemenangan untuk tim Raven. Setelah merayakan selebrasi singkat dengan timnya, Raven berjalan ke pinggir lapangan. Di situ ada gadis berambut brunette yang merupakan temannya sejak kecil. Heart hanya menatapnya datar saat Raven mendatanginya. “Selamat atas kemenangan kalian,” Heart mengucapkannya dengan datar. “Setidaknya, tersenyumlah sedikit,” keluh Raven. Tapi Raven tentu tahu itu sudah menjadi trendmark Heart. “Itu tak penting,” tanggap Heart. Raven menghela napas. “Baiklah. Lalu, kita mau ke mana?” “Pulang,” jawab Heart singkat dan padat. “Kau tak ingin ke tempat lain dulu?” Heart menatap tajam Raven. Tapi, sepertinya Raven tidak terpengaruh dengan itu. “Tidak. Lebih baik kita segera pulang. Kau sudah tidak ada kegiatan lain hari ini, kan?” “Tidak, sih,” “Kalau begitu, kita pulang! Kita masih harus mempersiapkan keperluan kita untuk tugas nanti, kan? Masih banyak yang harus kupersiapkan,” jelas Heart. Raven menghela napas. “Iya, iya. Tapi, tunggu sebentar! Aku bereskan dulu barang-barangku di sini setelah itu kita pulang,” Tidak ada lagi komentar dari Heart. Dia hanya menganggukkan kepala dan menunggu Raven membereskan barang-barangnya di sisi lapangan lain. Sementara itu, Raven bergegas membereskan barangnya. Dia tak ingin membuat Heart menunggu terlalu lama. Setelah selesai, Raven segera menghampiri Heart untuk pulang dengannya. “Ayo kita pulang!” ajaknya. Mereka berdua berjalan dalam hening. Tapi itu malah membuat mereka nyaman. Tapi, kali ini Heart memilih untuk tidak berada dalam keheningan itu. “Raven, tugas kita nanti, apa akan berjalan lancar? Maksudku, apa kita bisa menyelesaikan tugas itu?” tanyanya. Suara Heart pelan dan dalam. Raven menatap Heart dengan ekspresi takjub. Ada sesuatu yang tertahan di mulutnya. Heart yang merasa risih ditatap seperti itu balas menatap Raven dengan pandangan tak suka. “Kenapa kau menatapku seperti itu?” kesalnya. Topeng datar yang dipakainya dari tadi entah lenyap ke mana. Raven terus menatapnya seperti tadi. Seketika kemudian dia tertawa. “Hahaha! Seharusnya kau lihat wajahmu tadi. Benar-benar sesuatu yang langka untuk seorang Heart,”. Merasa aura kelam mulai muncul dari Heart, Raven segera menghentikan tawanya. Dia masih ingin hidup lebih lama. “Eh he, ma..maaf. Tapi, tidak biasanya kau bertanya seperti itu. Ada apa?” kata Raven sambil menggaruk belakang kepalanya yang tentu saja tidak gatal. Heart kembali memasang wajah datarnya nan dinginnya. “Tidak ada apa-apa. Bukan suatu hal yang aneh, kan, aku bertanya? Ini adalah pengalaman pertama kita,” ucap Heart. Raven tersenyum. “Aku mengerti. Dan untuk jawaban pertanyaanmu tadi, tentu saja! Kita sudah mempersiapkan hal ini dengan baik, kan? Kita pasti mampu menyelesaikannya. Dan aku yakin kita akan dapat nilai A,” ujar Raven percaya diri. “Bagaimana kau bisa seyakin itu? Kita bahkan belum membuat – melakukan tugas itu,” tanya Heart. Entah kenapa, Heart merasa ragu dengan perkataan teman sejak kecilnya tiu. “Ehm, karena insting, mungkin? Instingku mengatakan kalau kita bisa, itu saja,” jawab Raven santai. Heart membuang muka. “Bodohnya aku bertanya padamu,” gumamnya. “Oi, oi, aku mendengarnya tahu,” “Sudahlah. Aku jadi lelah jika bercakap denganmu,” kata Heart. Raven tak punya keinginan membalas perkataan Heart. Dia terlalu mengenal Heart untuk meladeni perkataan sarkastik dari Heart. Mereka pun meneruskan perjalanan pulang mereka dalam diam. . Getaran yang berasal dari berasal dari bagian yang terdalam Rantai penghubung yang mengalirkan segala perasaan Cahaya ajaib menyinari segala ruang Membuka tabir kebenaran Hitam dan putih berputar membentuk harmoni yang serasi Walaupun begitu, akan selalu ada yang lebih dominan Langkah yang perlahan mencapai puncaknya Bunyi setegas batu permata membuat segalanya terdiam Tiupan pelan menegaskan posisinya Angin lembut terus membawa pesan Nada abadi mulai mengalun membentuk sebuah kunci kebenaran Bulan yang seakan mengiris segala kulit malam Kelap malam membelah riak air Kilatan takdir memperlihatkan jalan yang silau Auman halilintar menjaga langit Cahaya putaran warna yang menyebarkan spektrum tak terhingga Keberadaan yang suci dan dinamis pembangkit rantai dunia Salah satu atau bahkan semua akan menjadi penentunya Rahasia yang menjadi dasar segala hal Pembentuk tiap-tiap elemen di dunia Melampaui segala fantasi yang ada dan pernah ada Satu titik cahaya memperlihatkan keajaibannya . Sesuatu yang ajaib, akan mulai terjadi… . . . Catatan Penulis (Devi J. G. Sahati) Wow! Selesai juga. Lagi-lagi tak bisa tepat waktu. Aku benar-benar tak bisa lepas dari writer’s block. Padahal, akhir-akhir ini aku diberi liburan yang cukup banyak. Oh yeah, lupakan saja itu! Bagaimana? Sesuatu yang ajaib akan segera datang! Coming soon XD yang menulis puisi di atas aku, lho #bangga #plak (itu bisa disebut puisi, tidak?) Pokoknya, aku akan terus berusaha lebih baik lagi dalam penulisan cerita ini :)

Saturday, 3 March 2012

My Favorite Games

Selain membaca, aku punya satu hobi lain yaitu main game. Aku ini seorang gamer, lho. Yah, walaupun tidak terlalu mahir dalam bermain, tapi aku tetap menyukai bermain game. Aku sering lebih dulu memainkan sebuah game, tapi adikku selalu lebih mahir dariku.
Sigh. Seperti game Valkyrie Profile 2 Silmeria. Game itu aku dapat saat sedang membongkar lemari tempat kami menyimpan kaset game kami. Yah, sudah cukup lama kami mempunyai game itu tapi tak pernah dimainkan. Ternyata game itu sulit. Tapi adikku yang memainkannya setelahku malah lebih dulu naik level. Hah, adikku memang lebih jago dariku.
Tapi, ada game yang tidak bisa dimainkannya dengan baik karena adikku tipe gamer yang tidak menyukai game RPG jenis seperti Harvest Moon. Haha, aku selalu lebih hebat dari dia dalam game itu. Mau di pekerjaannya ataupun keluarganya.
Yah, game yang kumainkan hanya di PS1 dan PS2, karena aku cuma punya 2 itu. Aku berharap aku bisa membeli NDS sama Wii (terlalu banyak berharap =.=a). Ini daftar game yang kusukai:
•Harvest Moon ‘A Wonderful Life’ (PS2)


Jika berbicara tentang game yang satu ini, pastilah kita harus memainkan peran sebagai seorang peternak/petani. HM ini mengambil tempat di Forget-Me-Not Valley. Seperti biasa, kita mempunyai seekor anjing, hewan ternak, dan tentu saja ladang untuk menanam tumbuhan.
Ada seorang paman yang tinggal bersama di peternakan kita. Dia akan membantu soal membeli keperluan ternak, menjual hasil ternak kita ke kota, dan membuat sesuatu seperti food processing dan pond. Dia juga akan memberi kita seekor kuda di musim panas saat dia pulang dari kota.
Ada empat gadis yang dapat menjadi pasangan kita, yaitu Celia, Muffy, Lumina, dan Nami. Oh ya, sepanjang aku memainkan game ini, aku tidak pernah bertemu dengan Harvest Goddess. Memang tak ada, mungkin?

•Harvest Moon 3 ‘Save The Homeland’ (PS2)


Di game ini, kita tetap beternak dan bertani. Tapi tujuan utama dari game ini adalah untuk menyelamatkan desanya (udah lupa apa nama desanya ._.). Soalnya semua yang ada di desa itu akan dihancurkan untuk membuat sebuah proyek pembangunan oleh orang-orang kota.
Kita harus mencari cara untuk menyelamatkan desa itu. Bertemanlah dengan penduduk desa itu. Mereka akan memberitahumu cara untuk menyelamatkan desa itu. Banyak cara yang dapat kau gunakan. Tapi, cara-caranya cukup sulit. Kau tak perlu menggunakan semua cara. Cukup salah satunya dan game ini akan tamat. Yang berbeda dari game ini adalah kita tak akan menikah.

•Kingdom Hearts ‘Re:Chain of Memories’ (PS2)


Game RPG yang dikembangkan oleh Square Enix. Aku menyukai game ini karena game ini menggabungkan tokoh-tokoh Disney dan game Final Fantasy. Cerita dari Kingdom Hearts Re:Chain of Memories adalah lanjutan dari Kingdom Hearts dan berlangsung bersamaan dengan cerita Kingdom Hearts 358/2 Days (Nintendo DS) yang diterbitkan beberapa tahun setelahnya. Game ini dimainkan dari dua karakter yaitu, Sora dan Riku.
Game ini berkisah tentang Sora, Donald, dan Goofy bertualang untuk mencari Riku dan The King (Mickey). Di tengah perjalanan, Sora bertemu dengan seorang nobody yang mengatakan sesuatu yang misterius. ‘Di depan sana ada sesuatu yang kamu cari. Tapi untuk mendapatkannya, kau harus kehilangan sesuatu yang berarti’.
Mereka lalu sampai ke kastil Oblivion. Nobody itu muncul lagi dan berkata kalau orang yang sangat dirindukannya ada di kastil itu. Sora pun bertanya apa itu Riku. Lalu nobody itu menantangnya untuk memasuki kastil itu lebih dalam untuk dapat bertemu Riku. Ternyata kastil itu terbuat dari serpihan ingatan mereka. Seorang penyihir ingatan, mengubah ingatan mereka. Dia memasukkan dirinya ke dalam ingatan Sora dan menggantikan Kairi dengannya. Ternyata penyihir itu adalah Kairi’s nobody. Walaupun Sora telah mengetahuinya, dia tetap melindungi penyihir itu dan mengalahkan nomor 12 dari organisasi. Karakter untuk Riku akan terbuka kalau kita sudah menyelesaikan misi Sora.

•Samurai Warriors (PS2)



Menceritakan peperangan dari zaman Takeda sampai Tokugawa. Karakter yang paling kusukai adalah Kanetsugu Naoe dan Nagamasa Azai. Aku kesal dengan nasib Naoe yang harus kehilangan teman baiknya, Mitsunari Ishida. Dan harus bertarung melawan teman baiknya yang satu lagi, Yukimura Sanada untuk mempertahankan klannya.

•Dinasty Warriors (PS2)


Menceritakan peperangan pada zaman Tiga Kerajaan – Shu, Wei, dan Wu . Dan karakter yang paling kusukai adalah Zhen Ji dan Cao Pi, pasangan suami istri XD. Tapi sejarah mengatakan kalau Cao Pi memerintahkan Zhen Ji untuk bunuh diri. Apa-apaan tuh! Saya tak terima! Zhen Ji itu karakter tercantik. Tapi ya sudahlah…
Aku tak terlalu suka sejarahnya. Tetap aja yang berkuasa itu Shu (bukan pendukung Shu). Tapi ini memang game yang keren. Sayangnya Dinasty Warrios 7 itu untuk PS3.

•Yu-Gi-Oh! GX Tag Force Evolution (PS2)


Seperti manga-nya, kita ada di sebuah academy M&W. Karakter kita adalah seorang murid baru yang – tentu saja – di Slifer Dorm. Di game ini kita akan berlatih M&W untuk Tag Force. Bertemanlah dengan orang yang ingin kita jadikan partner kita untuk Tag Force. Caranya adalah memberikannya sandwich dan berduel dengannya. Untuk meningkatkan keahlian bermain M&W, berduel-lah dengan murid atau guru lain. Sebelum Tag Force, ada kegiatan lain seperti custom festival. Di situ kita akan kedatangan Black Magician Girl. Kita dapat berduel dengannya. Seringlah berlatih untuk Tag Force dengan partnermu pada hari minggu supaya kau dapat menyusun deck yang sesuai dan dapat memperkuat deck partnermu.

•Valkyrie Profile 2 ‘Silmeria’ (PS2)


Aku tak tahu apa game ini mengambil setting sesudah atau sebelum Valkyrie Profile 1. Game ini berkisah tentang seorang Valkyrie Silmeria, jiwanya disegel oleh Odin pada tubuh seorang putri yaitu, Alicia. Alicia punya suatu masalah sehingga dia harus lari dari kerajaannya. Ada sesuatu yang dilakukan ayahnya dan ini menyangkut Odin. Silmeria dan teman-teman Alicia yang ditemuinya dalam perjalanan berusaha membantu Alicia.
Sampai sekarang aku belum bisa menamatkan game ini. Ini game RPG tersulit yang pernah kumainkan selain Legend of Mana DX. Tapi aku menyukainya karena ceritanya menarik. Walaupun aku tak terlalu mengerti, sih ==”

•Metropolismania 2 (PS2)
Di game ini, kita akan membangun perkotaan yang layak bagi penduduknya. Pada beberapa level, ada syarat khusus yang harus dipenuhi dalam perkotaan itu. Selebihnya, hanya syarat jumlah populasi di kota itu. Saat membangun sarana dan prasarana pada kota kita, kita harus mencoba memenuhi berbagai keluhan dari penduduknya. Dan itu sangat melelahkan dan membuat stress. Tapi jika kita sudah memenuhinya dan kota kita sudah damai, rasanya menyenangkan melihat penduduknya tersenyum ramah. Akan ada suatu rasa damai saat memainkannya.
Setiap memainkan game ini, aku selalu membayangkan aku tinggal di salah satu kota yang kubuat di game ini. Pasti rasanya akan sangat menyenangkan. Karena aku sudah tahu kota itu dan aku sendirilah yang membuat dan menyusun tata kotanya. Walaupun terkadang membuat stress, tapi game ini menyenangkan :D

•Devil May Cry 3 ‘Dante’s Awakening’ (PS2)


Game yang paling mengharukan menurutku. Game ini adalah setting yang paling awal dari cerita Devil May Cry. Berkisah saat Dante mulai membuka usahanya sebagai pemburu demon, beberapa tahun setelah kematian ibunya dan perpisahan dengan kakak kembarnya, Vergil.
Suatu hari Dante didatangi oleh Arkham, yang diperintahkan oleh Vergil untuk mengatakan keberadaanya. Lalu Dante pun menerima undangan itu dan pergi menemui Vergil. Yang diinginkan Vergil adalah amulet Dante. Amulet itu adalah hadiah dari ibu mereka. Vergil juga mempunyai amulet lain. Vergil ingin menyatukan kedua amulet itu untuk mendapatkan kekuatan ayah mereka, Sparda. Amulet Dante berfungsi membuka jalan ke surga, sedangkan punya Vergil berfungsi membuka jalan ke neraka.
Dante bertemu dengan Lady yang adalah anak Arkham. Dia ingin membalaskan dendamnya terhadap ayahnya. Arkham ternyata juga menginginkan kekuatan Sparda. Dia menipu Dante dan Vergil. Lalu dia membuka pintu ke neraka dan mendapatkan kekuatan Sparda. Mereka berdua tidak tinggal diam. Mereka berusaha untuk mengambil kembali kekuatan itu.
Sebenarnya Lady juga ingin ikut. Dia membentak Dante karena menurutnya Dante tak mengerti perasaannya dan masalah keluarganya. Tapi Dante membalasnya dan mengatakan kalau ini juga masalah keluarganya. Kakak kembarnya yang menyebabkan semua ini. Dan kekuatan ayahnya yang sedang diperebutkan. Dia meyakinkan Lady kalau masalah ini akan diselesaikan olehnya.
Dante pun bertemu dengan Arkham. Dia lalu bertarung dengannya. Arkham berubah menjadi monster (aku menyebutnya itu) dan salah satu tentakelnya menyerang Dante. Tapi Vergil tiba dan memotong tentakel itu. Mereka berdua bekerja sama untuk mengalahkan Arkham (adegan terkeren menurutku). Setelah Arkham kalah, pintu ke jalan menuju demon world terbuka dan amulet mereka beserta pedang Force Edge jatuh ke sana. Mereka berdua berusaha mengambilnya dan ikut terjatuh.
Di sana mereka kembali bertarung. Dante bertanya kembali mengapa Vergil menginginkan kekuatan itu. Karena bagaimanapun usaha Vergil, dia tak akan pernah bisa menjadi seperti ayah mereka. Dante pun berkata kalau bagaimanapun hatinya mengatakan kalau dia harus menghentikan Vergil, walaupun itu berarti membunuhnya.
Mereka akhirnya sampai pada serangan terakhir. Tapi Vergil sudah kehabisan tenaga. Dia kalah. Dia melepaskan Force Edge dan memungut amulet miliknya yang terjatuh. Dia lalu mundur beberapa langkah ke belakang. Tepat di belakangnya adalah jurang ke demon world. Dante yang menyadari maksud Vergil, melangkah ke depan. Vergil menyuruh Dante untuk segera keluar dari tempat itu karena gerbang ke dunia manusia akan tertutup. Dia berkata kalau dia akan tinggal di situ. Karena itu adalah tempat asal ayah mereka.
Vergil lalu mundur dan menjatuhkan dirinya ke jurang itu. Dante segera berlari untuk menolong Vergil. Saat Dante akan meraih tangan Vergil, Vergil menyayat tangannya agar dia tak bisa menolongnya. Vergil pun menghilang ditelan kegelapan. Dante terdiam di pinggir jurang dan melihat sayatan di tangannya (adegan paling mengharukan menurutku. Aku nangis loh waktu nonton adegan ini). Dia lalu berbalik dan mengambil Force Edge dan kembali ke dunia manusia untuk menemui Lady.
Aku selalu bertanya-tanya, saat Dante melihat luka di tangannya apa yang dirasakannya? Sakit karena luka itu atau sakit karena tak bisa menolong Vergil dan kembali ditinggalkan oleh Vergil? Dan yang paling membuatku sedih dan kesal, kenapa Vergil harus mati ditangan Dante di DMC 1?! Nyesek mainnya TTATT. Oh ya, DMC itu juga ada novelnya, kan? Jadi pengen baca :”
Ini adalah beberapa – yah bisa dibilang – penggalan kalimat di game ini.
“Father? I don’t have a father. I just don’t like you. That’s all” (Dante to Vergil)
“I need power” (Vergil to Dante)
“Look at you! Making a big dramatic entrance and stealing my spotlight” (Dante to Vergil)
“No matter hard you try, you never gonna be like father” (Dante to Vergil)
“No one can have this, Dante. It’s mine. It belongs to a son of Sparda.” (Vergil to Dante)
“Leave me and go if you don’t want to be trapped in the demon world. I’m staying. This place…was our father’s home” (Vergil to Dante)
(Dante and Lady)
“We should be fine for now, but I’m sure they’ll be back soon. Very soon”
“Are you crying?”
“It’s only the rain”
“The rain already stopped”
“Devils never cry”
“I see. Maybe somewhere out there, even a devil may cry when he loses a loved one, don't you think?”
“Maybe”
“By the way, looks like, we're gonna be busy for a while”
“Well bring it on! I love this! This is what I live for! I’m absolutely crazy it!”
(Lady)
What happened next? Nothing really, we took care of all the remaining devils and that was it. I still have a job to do that's far from done, which is to eliminate every last demon. I need to ensure that monsters like my father never come about again. And he promised to help me hunt down the demons, even though their part ones himself. But now I realize that there are humans as evil as any devil, as well as kind and compassionate demons in this universe. At least I've found one so-called devil, who are able to shed tears for those he care about. That's enough for me to believe in him. Oh, speaking of these kind devils, he finally decided on a name for his shop, it took him quite a while to pick one. Wanna know the name?
“Devil May Cry”

•Inuyasha A Feudal Fairy Tale (PS1)


•Digimon Rumble Arena (PS1)
•Dance Dance Revolution 5th Mix (PS1)
•Legend of Mana (PS1)
Game tersulit yang pernah kumainkan. Padahal ini adalah game konsol PS1, tapi kesusahannya membuat stress. Aku belum bisa menamatkannya sampai sekarang. Dan sedihnya, game punyaku ini sudah rusak TT. Oh ya, aku pernah memainkan game konsol PS2 Dawn of Mana. Tapi gamenya rusak sebelum aku menamatkannya. Itu juga game yang sangat sulit.
Hei, siapa saja yang pernah memainkan game serial Mana, ada yang bisa memberitahuku apa Legend of Mana termasuk seri Dawn of Mana, Children of Mana, dsb?

•Shaman King The Spirit of Shaman (PS1)




Yap, itulah daftar game yang kusukai ‘sekarang’. Nggak tahu ya kalau nantinya akan bertambah atau nggak =D.

Friday, 24 February 2012

Opening Soundtrack Detective Conan

#01: "Mune ga Dokidoki" by the High-Lows (eps 1-30)
#02: "Feel Your Heart" by Velvet Garden (eps 31-52)
#03: "Nazo" by Miho Komatsu (eps 53-96)
#04: "Unmei no Roulette o Mawashite" by ZARD (eps 97-123)
#05: "Truth" by Two-Mix (eps 124-142)
#06: "Girigiri Chop" by B'z (eps 143-167)
#07: "Mysterious Eyes" by Garnet Crow (eps 168-204)
#08: "Koi wa thrill, shock, suspense" by Rina Aiuchi (eps 205-230)
#09: "Destiny" by Miki Matsuhashi (Eps 231-258)
#10: "Winter Bells" by Mai Kuraki (eps 259-270)
#11: "I can't stop my love for you" by Rina Aiuchi (eps 271-305)
#12: "Kaze no Lalala" by Mai Kuraki (eps 306-332)
#13: "Kimi to Yakusoku Shita Yasashii Ano Basho Made" by U-ka Saegusa (eps 333-355)
#14: "Start" by Rina Aiuchi (eps 356-393)
#15: "Hoshi no Kagayakiyo" by ZARD (eps 394-414)
#16: "Growing of My heart" by Mai Kuraki (eps 415-424)
#17: "Shoudou" by B'z (eps 425-437)
#18: "100 Mono Tobira " by Rina Aiuchi & U-ka Saegusa (eps. 438-456)
#19: "Kumo ni Notte (Ride on the Clouds)" by U-ka saegusa IN db (eps 457-474)
#20: "Namida no Yesterday" by Garnet Crow (eps 475-486)
#21: "Glorious Mind" by ZARD (eps 487-490)
#22: "Ai wa Kurayami no Naka de" by ZARD (eps 491-504)
#23: "Ichibyō goto ni Love for you" by Mai Kuraki (eps 505-514)
#24: "MYSTERIOUS" by Naifu (eps 515-520)
#25: "Revive" by Mai Kuraki (eps 521-529)
#26: "Everlasting Luv" by BREAKERZ (eps 530-546)
#27: "Magic" by Rina Aiuchi (eps 547-564)
#28: "As the Dew" by Garnet Crow (eps 565-582)
#29: "Summer Time Gone" by Mai Kuraki (eps 583-601)
#30: "Tear Drops" by Caos Caos Caos (eps 602-612)
#31: "Don't Wanna Lie" by B'z (eps 613-626)
#32: "Misty Mystery" by Garnet Crow (eps 627-)

Saturday, 18 February 2012

Magical Light Chapter 9

Beberapa minggu berlalu sejak wawancara yang mereka jalani waktu lalu. Tidak ada yang berbeda dari sikap mereka. Kelihatannya mereka sudah terbiasa dengan situasi yang bisa dibilang aneh dan rumit.
Saat jam pelajaran terakhir, Clara masuk ke kelas perwakilannya, kelas 1-5. Semuanya memandangnya bingung. Mereka heran kenapa Clara masuk padahal dia tidak mempunyai jam mengajar di kelas itu hari ini.
Di tangannya, Clara membawa tiga map sedang berwarna hitam. Clara menyadari tatapan siswanya-siswanya. Dia meletakkan mapnya di meja. Dia lalu menghadap murid-muridnya dan membalas tatapan mereka. “Kalian pasti bingung kenapa saya ada di sini. Saya meminjam jam ini untuk menyampaikan sesuatu yang penting pada kalian.”
Clara berhenti sebentar dan melihat reaksi mereka. Karena mereka tetap diam, Clara pun melanjutkan, “Akhirnya data tempat kalian akan dikirim sudah keluar. Dan sekarang saya akan menyampaikan pembagian tempat kalian. Jadi, kumohon agar kalian memperhatikan dan mendengarkannya baik-baik” ucap Clara.
Dia lalu duduk dan membuka map pertama. “Oh ya, kalian akan dibagi menjadi tiga kelompok. Dan kelompok yang pertama, yaitu Dian, Ema, Izumi, Karin, Gamu, Hachi, Takumu, Okuni, Ian, dan Nathan. Kalian akan ditempatkan di kota Gix. Ini data mengenai kota itu.” Clara memberikannya pada Ian. Ian pun membagikannya pada teman-teman yang sekelompok dengannya.
Clara mengambil map kedua dan membukanya. Clara terdiam sebentar sebelum membaca data kelompok dua. “Kelompok dua terdiri dari Finny, Cindy, Isami, Nao, Honoko, Perona, Catty, Cella, Takeshi, Chrysan, Dain, Kawada, Mika, dan Heart. Kalian akan ditempatkan di kota Noficta.” Jelas Clara.
“Biar aku saja yang mengambil datanya” ucap Nao.
Tapi Heart langsung menahannya. “Tidak usah. Biar aku yang mengambilnya.” Ucap Heart. Nao mengangguk. Dia lalu berjalan ke meja Clara dan mengambil data itu. Dia lalu membagikannya pada teman-temannya.
“Baiklah, kita lanjutkan ke kelompok terakhir.” Clara lalu membuka map terakhir. “Kelompok 3 terdiri dari Light, Melodi, Anzu, Mei, Oichi, Aini, Gabu, Midori, Ciel, Raven, Daigo, Mayuko, Lily, dan Ryou. Kalian akan ditempatkan di kota Lysidas”. Daigo bangkit dari duduknya dan mengambil data itu. “Bacalah data itu! Kalian dapat menentukan sendiri apa yang akan kalian lakukan di sana” lanjut Clara.
“Benarkah?”
“Ya. Karena itu pikirkanlah baik-baik! Besok kalian berikan laporan tentang renca kalian di sana. Kami yang akan mengurus tempat tinggal kalian. Minggu depan kalian akan berangkat. Persiapkan diri kalian baik-baik!” jelas Clara. Mereka semua mengangguk.
“Eh, kami semua akan berangkat, itu berarti nilai ujuian kami bagus, kan?” tiba-tiba Okuni bertanya.
Clara terlebih dulu tersenyum. “Ya. Kalian sudah belajar dengan baik”. Mereka semua tersenyum mendengar hasil yang dicapai mereka memuaskan. “Baiklah. Kalian sudah bisa pulang” Clara mengakhiri jam sekolah mereka. Dia lalu ke luar dari kelas itu.
‘Hihihi’ terdengar tawa pelan dari Light.
“Ng, ada apa Light?” tanya Anzu.
“Tidak. Aku hanya jadi semangat sekali! Soalnya kelihatannya hari-hari ke depan nanti akan sangat menarik!” ucap Light antusias. Teman-temannya tersenyum.
“Hmm, aku juga berpikir begitu. Jadi tak sabar!” sahut Melodi ceria.
“Kalau begitu, lebih baik kita cepat menentukan apa yang akan kita lakukan di sana!”. Daigo lalu membuka map mereka dan mengeluarkan kertas yang berisi data-data tentang kota itu.
“Hei Raven, sayang ya kita tidak berada di kelompok yang sama,” ucap Takeshi sambil menepuk pundak Raven. Mereka duduk tidak terlalu jauh dari tempat Light dan kelompoknya.
Raven membalikkan badan untuk melihat Takeshi yang duduk di belakangnya. “Haha. Apa boleh buat, kan? Aku juga tidak harus selalu sekelompok dengan kalian, kan?” tanggap Raven.
Takeshi tertawa. “Hahaha. Kau benar. Kalau begitu, bukankah sebaiknya kau ke tempat mereka?”. Takeshi menunjuk Light dkk. “Sepertinya mereka sedang membicarakan tentang renca kelompok kalian di sana. Kau kan bagin dari kelompok. Sebaiknya kau ke sana,” saran Takeshi.
“Hn, baiklah. Kalau begitu, aku ke sana dulu” Raven meninggalkan Takeshi dan berjalan menuju kelompoknya. Takeshi hanya mengangguk dan beranjak ke luar kelas.
“Hei, boleh aku bergabung?” Raven menyapa mereka.
“Hai Raven! Tentu saja boleh. Kami sedang membicarakan tentang rencana kita di sana” jelas Daigo. Raven lalu duduk di sebelahnya.
Mei mengambil salah satu data dan memberikannya pada Raven. Raven membacanya sebentar. “Bagaimana pendapatmu?” tanya Aini.
“Hmm, kota Lysidas itu kota yang kecil yang letaknya agak jauh dari kota lain. Dan penduduknya juga tak terlalu padat” tanggap Raven.
“Dan kota kecil itu juga dikelilingi oleh hutan” tambah Ciel.
Tiba-tiba Light memajukan tubuhnya. “Bagaimana kalau kita bekerja di sebuah peternakan? Di sini ada data tentang pekerjaan itu,” Light mengutarakan idenya. Dia memperlihatkan data tentang sebuah peternakan yang ada di kota itu. Nama peternakan itu adalah Cadena Farm.
Cadena Farm adalah sebuah peternakan yang cukup besar untuk ukuran kota Lysidas yang kecil. Hewan-hewan yang diternakkan di situ adalah hewan ternak seperti biasanya, yaitu sapi, domba, ayam, dan kuda. Di sana juga terdapat lahan untuk menanam berbagai tanaman. Peternakan itu penting bagi keseharian kota kecil seperti Lysidas. Hasil peternakan dari Cadena Farm akan dijual di kota itu. Sebagian lagi akan dijual di kota-kota lain.
“Katakan padaku Light, kenapa kau memilih peternakan itu?” tanya Ciel yang lalu mengambil data Cadena Farm dari Light.
“Sejujurnya, aku tidak punya alasan istimewa memilih peternakan. Aku hanya merasa pasti menyenangkan bisa bekerja di sebuah peternakan. Lagipula, aku sangat ingin menaiki kuda-kuda yang ada di sana!” jawab Light senyum gembira terpatri di wajahnya.
“Tapi, apa pekerjaan di peternakan itu tidak terlalu berat? Kita kan harus mengurus hewan-hewan di sana,” tukas Lily.
“Dan sekarang kan sudah mau musim dingin. Bagaimana kalau kita tidak sanggup mengurus hewan-hewan itu dan mereka malah dakit dan mati?!” tambah Aini dengan tampang yang dibuat-buat terlalu khawatir.
“Apa sih kalian ini!? Jangan berkata yang aneh-aneh, deh! Memangnya nanti akan seburuk itu?!” seru Daigo.
“Kalian ini…” Ciel hanya bisa menggelengkan kepalanya menanggapi teman-temannya yang berlebihan.
“Tapi pekerjaan di sebuah peternakan itu memang berat. Kita harus memberi makan hewan-hewan, memandikan mereka, membersihkan kandang mereka, menyiram tanaman, dll. Apa kita bisa?” Anzu menimpali.
Melodi menghadap Light. “Bagaimana ini?”. Light memanyunkan bibirnya, mengomel.
“Kurasa tidak akan sesulit itu,” Raven akhirnya mengomentari. Yang lain langsung menatap Raven, meminta penjelasan dari perkataannya tadi. Raven melanjutkan, “Di sana nanti kan kita tidak bekerja sendiri-sendiri. Kita kan tim. Kita bisa mengerjakannya bersama-sama. Dengan begitu, pekerjaannya tak akan terasa begitu berat, kan?”. Semuanya diam, hanyut dalam pikiran sesaat.
Akhirnya Ciel angkat bicara, “Itu benar! Kita tidak akan mengerjakan semuanya sendirian. Kita akan saling membantu!”.
“Aku setuju!!” seru Melodi.
“Begitu pun aku. Bagaimana yang lain?” kali ini Anzu.
Sepi, tak ada yang menjawab. Tak lama lalu mereka serempak mengangguk. Hal ini membuat Light menyeringai dan melompat kegirangan. “HOREE!!”. Yang lain hanya bisa tertawa melihat tingkah Light yang begitu senang.
“Jadi sudah diputuskan?”
“Ya!” mereka semua menyahut.
“Kalau begitu, lebih baik sekarang kita membuat laporannya,” ajak Raven.
Ciel menatap jam tangannya. “Tapi ini sudah jam lima lewat! Tidakkah sebaiknya kita mengerjakan laporannya di rumah saja?” ucap Ciel.
“Benar juga. Tapi di rumah siapa?” tanya Light.
“Bagaimana kalau di rumahku?” Ciel menawarkan.
Mereka saling berpandangan. “Boleh!” jawab mereka serempak.
“Kalau begitu, ayo! Lebih cepat menyelesaikan laporannya, lebih cepat kita bisa beristirahat” seru Melodi. Tanpa membuang waktu, mereka langsung membereskan barang-barang mereka dan ke luar dari kelas.
Di koridor, mereka berpapasan dengan Heart. Light dkk menyapa Heart dan Heart membalasnya singkat. Mereka terus berjalan melewati Heart. Tapi tidak dengan Raven yang berjalan paling belakang.
Raven berhenti sebentar di sebelah Heart. “Kau belum pulang Heart?” tanyanya.
“Kau lihat sendiri, kan?” balas Heart sarkastik. Dia tak mau menatap Raven.
“Kau menungguku?” Raven tak menghiraukan nada bicara Heart.
“…”
“Maaf. Aku tahu ini membuatmu kesal, tapi aku tak bisa pulang denganmu hari ini. Aku masih harus membuat laporan dengan kelompokku. Tak apa, kan?” ucap Raven dengan hati-hati. Dia tak ingin membuat Heart marah. Bagaimana pun Heart belum pulang karena menungguinya.
Heart akhirnya mau menatap Raven. “Tak apa. Kalau begitu, aku pulang duluan. Bye…” Heart segera melenggang pergi dan meninggalkan Raven. Raven menatap punggung Heart sampai akhirnya Heart menghilang dari pandangannya. Dia menghela napas dalam dan beranjak menyusul kelompoknya yang sudah berjalan duluan.
.
Hanya butuh 20 menit untuk sampai ke rumah Ciel dari sekolah dengan berjalan kaki. Mereka tak ingin membuang waktu dan langsung membuat laporan itu. Tak terlalu sulit membuat laporannya. Mereka hanya perlu menuliskan apa yang akan mereka lakukan di sana beserta alasannya.
Benar saja. Mereka menyelesaikannya tak lebih dari satu jam. Sebenarnya mereka masih ingin bercakap-cakap lebih lama. Tapi karena matahari sudah lama terbenam, mereka memutuskan untuk segera pulang. Ciel dan Melodi mengantar mereka sampai di depan rumah Ciel.
“Eh, Melodi, kau tidak pulang?” Aini bertanya saat dia sadar Melodi tidak membereskan barang-barangnya.
“Oh, tidak perlu khawatir. Rumahku kan hanya bersebelahn. Itu rumahku!”, Melodi menunjuk ke arah rumah di sebelah rumah Ciel, rumahnya. Mereka melihat ke arah yang ditunjuk Melodi.
“Jadi itu rumahmu?”. Melodi mengangguk.
“Wah, seru ya,” tukas Lily.
“Sudah, sudah. Lebih baik kita pulang sekarang! Kita masih harus bersiap untuk sekolah besok, kan?” ujar Daigo.
“Okay! Kalau begitu, kami pulang dulu Ciel, Melodi” Light pamit.
“Ya. Hati-hati di jalan!” balas Ciel.
Ciel dan Melodi menunggu sampai teman-temannya berbelok dan menghilang dari pandangan. Ciel sudah mau beranjak saat dia menyadari Melodi masih diam di situ. “Melodi, ada apa? Kau belum mau masuk?” tanya Ciel.
Melodi agak kaget dan memandang Ciel. “Oh! Tidak. Aku hanya sedang melihat bintang” jawab Melodi.
Ciel menengadah ke atas. “Bintang malam ini terlihat jelas” gumam Ciel. Melodi mengangguk.
Langit malam yang bertatakan berlian mungil malam. Angin lembut datang membawa kabar. Musim dingin akan segera tiba.
.
.
.
.
.
Catatan Penulis (Devi J. G. Sahati)
Selama beberapa bulan tersendat-sendat dengan chapter ini, akhirnya aku bisa menyelesaikannya juga. Huff. Begitu banyak yang harus kulakukan sampai-sampai tidak bisa melanjutkan chapter ini selama dua tiga bulan. Padahal maunya setiap bulan bisa publish chapter baru. Maaf sekali.
Mulai daari chapter ini, aku mengganti judulnya menjadi “Magical Light”. Aku merasa jalan ceritanya ternyata berbeda dari apa yang kupikirkan pertama kali aku membuat ini. Jadi, aku minta maaf seenaknya mengubah judulnya. Semua chapter sudah kuganti dengan judul yang baru agar tidak bingung.
Nah, di chapter ini ada hint Raven-Heart! XD . Aku akan berusaha lebih keras lagi agar dapat mem-publishnya setiap bulan (nggak janji kalau bisa :p). Aku juga akan berusaha agar ceritanya lebih menartik. Til’ next chapter (^^)w (14 Februari 2012)

Kasih Sayang Valentine

Sinar mentari pagi menyusup melalui jendela dan menerpa wajah seorang gadis berambut hitam sebahu yang masih terlelap. Merasa terganggu oleh sinar itu, gadis itu bergerak membalikkan tubuhnya ke arah lain. Dia lalu mengerang sedikit karena tidurnya terganggu. Mengucek-ucek matanya, dia lantas bangun dari tidurnya.
Mengambil posisi duduk, gadis itu mencoba membiasakan matanya dengan cahaya yang telah masuk lebih banyak dari arah jendelanya. Dia lalu melirik jam weker yang ada di sebelah tempat tidurnya. Pukul 07.15. Pantas saja alarmnya belum berdering. Dia terlalu cepat bangun rupanya.
“Hoamm. Padahal aku sudah sengaja memasang alarm jam 8” gumamnya masih mengantuk.
‘Tok..tok…’ terdengar ketukan di pintu kamarnya.
“Della, kau sudah bangun?” suara seorang wanita memanggilnya.
“Ya, ma. Aku sudah bangun!” teriak gadis yang ternyata bernama Della itu.
“Kalau begitu, cepatlah bersiap! Sarapannya nanti dingin. Mama tunggu di bawah, ya!” kata mamanya. Terdengar langkah kaki meninggalkan depan kamar Della.
“Huh! Padahal ini hari Sabtu. Tapi tetap saja tak bisa bangun lebih telat.” Keluhnya. Dia lalu bangkit dan mulai merapikan tempat tidurnya. Setelah itu, dia beranjak menuju kamar mandi yang berada di kamarnya sendiri. Tak hitung lima menit, sudah terdengar pancuran air dari kamar mandi.
Sementara mandi, pikiran Della melayang ke hal-hal yang akan dilakukannya hari ini. Karena ini hari libur dan tidak ada ekstrakurikuler yang harus diikuti olehnya, dia memikirkan apa yang bisa dilakukannya hari ini.
‘Aku tak mau menghabiskan hari ini di rumah saja. Sepi” pikirnya.
Ya, kedua orangtua Della adalah pegawai kantoran yang tetap berkerja pada hari Sabtu. Karena itu Della jarang berada di rumahnya karena dia tak ingin sendirian saja di rumah. Kecuali ada temannya yang main ke rumahnya.
“Mungkin lebih baik aku menelepon Mawar saja setelah ini. Mungkin dia tahu apa yang bisa dilakukan untuk menghabiskan hari ini.” Katanya pada dirinya sendiri.
Setelah itu, Della tidak lagi memikirkan apa pun lagi dan mempercepat mandinya karena orangtuanya sudah menunggunya di ruang makan.
.
Della memutuskan untuk memakai kaus berwana hijau dengan pita kuning di sebelah kanan bawah dan celana jeans selutut. Rambutnya yang sebahu dibiarkannya terurai tanpa aksesoris apapun. Della memang tidak terlalu suka memakai aksesoris yang berlebihan, karena tanpa itu pun, Della sudah terlihat cantik dengan wajah blasterannya.
Della adalah gadis blasteran Indonesia-Australia. Ayahnya asli dari Indonesia dan Ibunya berasal dari Australia. Tapi, Della lahir dan besar di Indonesia.
Della melirik kalender dindingnya. “Hari ini tanggal 11 Februari. Sebentar lagi Valentine Day” gumamnya.
Setelah merasa siap, Della mengambil HP-nya yang tergeletak di atas meja dan keluar dari kamarnya. Dia bergegas menuju ruang makan, tempat Ayah dan Ibunya sudah menunggunya.
“Pagi, pa. Pagi, ma” Della menyapa orangtuanya. Della adalah anak satu-satunya. Dan itu membuatnya sangat dekat dengan orangtuanya sekaligus mandiri.
“Pagi, Del. Bagaimana tidurmu?” tanya Ayahnya yang sedang membaca Koran hari itu.
“Baik, thanks” jawabnya seraya duduk di kursi yang berhadapan dengan Ibunya.
“Cepatlah sarapan! Mama dan papa sudah selesai duluan” ucap mamanya. Papanya pun bangkit.
“Kami harus segera berangkat. Kalau ada apa-apa langsung hubungi kami, sayang” mereka pamit meinggalkan Della sendiri.
Sambil melahap sarapannya, jemari Della menekan nomor temannya Mawar dan meneleponnya. Mawar langsung mengangkatnya. “Halo, Della. Ada apa?”
“Halo, Mawar. Aku ke rumahmu, ya? Aku malas sendiri di rumah.” Pinta Della tanpa basa-basi.
“Datang saja. Kebetulan aku juga sedang sendirian di rumah” ucap Mawar.
“Kalau begitu, aku ke sana sebentar lagi, okay?” dengan itu, Della langsung mematikan sambungannya dan kembali melahap sarapannya.
.
Mawar memang sedang sendirian di rumahnya. Mawar mengambil minuman dan beberapa cemilan dari dapur. Dia juga membawa novel yang baru saja di belinya ke ruang santai. Della sudah duduk di sofa sambil menonton TV. Mereka berdua sudah berteman sejak lama. Karena itulah, mereka sangat dekat.
“Hei, Del. Memangnya Leon ke mana?” tanya Mawar. Leon adalah teman mereka. Leon sudah berteman dengan Della sejak masih kecil. Dan Leon sangat dekat dengan Della.
“Oh, dia hari ini latihan basket dengan Alfa” jawab Della sambil meminum jusnya. Mawar hanya membalas dengan ‘oohh’ saja.
“Del, kamu akan memberikan coklat padanya, kan, minggu depan?” ya, hari ini tanggal 11 Februari. Tiga hari lagi tanggal 14 Februari, Hari Valentine.
“Eh?! Ehm, aku belum tahu. Aku masih bingung apa aku akan membuat coklat atau tidak nanti” ucapnya.
“Huff. Kau ini. Ini adalah kesempatan bagus untukmu menyatakan cinta padanya! Kau kan sudah berteman dengannya sejak kalian masih kecil. Aku yakin dia akan menerimamu” kata Mawar.
“Entahlah, War. Walaupun kami sudah lama berteman, tapi yang ini adalah hal yang berbeda. Bisa saja dia menolakku. Dan aku takut kalau persahabatan kami nantinya terganggu” kata Della.
“Baiklah. Kalau begitu pikirkanlah baik-baik. Aku hanya bisa mendukungmu” Della hanya tersenyum.
.
Senja sudah mulai berganti malam. Della masih berada di rumah Mawar, tepatnya di kamar Mawar. Mawar sedang ke ruang kerja Ayahnya untuk mengambil buku yang diperlukannya untuk membuat tugas.
Tiba-tiba Della mendengar suara klakson motor dari luar rumah. Della segera beranjak ke beranda kamar Mawar untuk melihat siapa yang ada di depan rumah. Della terkejut saat melihat kalau yang membunyikan klakson itu Leon. Leon berada di depan rumah Mawar sedang duduk di motor Yamaha kesayangannya.
Setelah rasa terkejutnya hilang, Della langsung berteriak memanggil Leon. “Leon, sedang apa kau di situ?” saat itu, Mawar masuk ke kamarnya.
“Ng, ada apa Del?” tanyanya berjalan ke arah Della.
“Itu, Leon ada di muka rumahmu” jawabnya.
“Eh?! Sedang apa dia?” Mawar melihat ke bawah dan menemukan Leon dengan motor Yamaha-nya.
“Aku datang untuk menjemputmu, Della! Tadi aku ke rumahmu tapi tidak ada siapa-siapa di sana” balas Leon.
“Oh, maaf. Aku sudah sejak pagi di sini. Aku tidak mengabarimu karena kukira kau sibuk latihan basket.”
“Kalau begitu, cepatlah turun! Ini sudah mau malam!” perintah Leon. Della mengangguk dan bersama Mawar ke depan rumah.
“War, aku pulang dulu, ya. Terima kasih untuk hari ini.” Ucap Della.
“Ya. Oh ya, jangan lupa tiga hari lagi” sindir Mawar. Della tersenyum kecut lalu langsung naik ke motor Leon. Leon juga pamit dan langsung menancap gas menuju rumah Della.
“Hah, mereka ini…” gumam Mawar sambil menggelengkan kepalanya. Dia pun masuk ke rumahnya.
.
Rumah Della tak terlalu jauh dari rumah Mawar. Karena itu Leon tidak mengendarai motornya terlalu cepat agar dia bisa mempunyai waktu dengan Della sebelum sampai ke rumah Della.
“Lain kali, kau harus menghubungiku kalau kau tidak ada di rumah” ucap Leon.
“Kau ini, sekalian saja jadi bodyguard-ku! Kau kan tidak setiap saat bersamaku. Jadi buat apa aku memberitahumu?” kata Della ketus.
“Terserah kau sajalah” balas Leon. Setelah itu, mereka menghabiskan perjalanan dalam diam. Tak ada lagi yang ingin dibicarakan.
.
Hari Minggu adalah hari yang menyenangkan buat Della. Karena hari itu, orangtuanya tidak bekerja dan dia bisa menghabiskan waktu dengan mereka. Setelah sarapan, Della membantu mamanya untuk membersihkan rumah. Della sama sekali tak keberatan karena dia bisa bersama mamanya seharian penuh.
“Del, kau tidak jalan-jalan dengan Leon hari ini?” tanya mamanya saat mereka sedang mencuci peralatan makan.
“Tidak. Aku lagi tidak ingin jalan-jalan bersamanya. Lagipula, sebentar siang aku ingin ke supermarket untuk membeli bahan membuat coklat.” Jelas Della.
“Benar juga. Dua hari lagi Valentine Day, ya? Kalau begitu kau memang harus segera membeli bahannya kalau kau ingin membuat coklat untuk valentine nanti. Kau ingin mama bantu?”
“Tidak usah. Aku ingin membuatnya sendiri. Lagipula, mama kan sibuk di kantor besok. Aku tak ingin menyusahkan mama” ucapnya.
“Baiklah jika itu yang kau mau. Jika mama membantu, nanti tak akan jadi spesial, kan? Hihihi” sindir mamanya.
“Ugh, mama! Apa-apaan, sih!?” Della cemberut mendengar sindiran mamanya.
.
Di supermarket, banyak orang-orang yang juga ingin membeli bahan untuk membuat coklat. Tapi Della tak perlu merasa khawatir bahannya habis, karena stok-nya disiapkan lebih banyak dari hari biasanya.
Della mengambil beberapa batangan dark chocolate, susu, krim, cetakan, dll. Della juga mengambil bahan untuk makan malam yang dititipkan mamanya. Setelah merasa apa yang dibutuhkannya sudah semua, Della langsung menuju kasir untuk membayar belanjaannya.
Della tidak berlama-lama di supermarket karena dia juga harus ke toko buku untuk membeli beberapa kertas, pita, dan kotak kado untuk membungkus coklatnya. Sekalian juga Della membeli beberapa komik dan novel. Della memang sangat suka membaca novel dan komik. Merasa sudah mendapatkan apa yang dicarinya sudah lengkap, Della langsung berjalan ke kasir untuk membayarnya.
Karena tak ada lagi yang ingin dibeli Della, dia langsung pulang ke rumahnya. Dia tak ingin singgah kemana-mana karena dia berencana akan langsung membuat coklatnya supaya besoknya coklat itu sudah bisa dibungkus. Dan itu membuat Della punya banyak waktu untuk mempersiapkan semuanya.
.
“Aku pulang!”
“Oh, kau sudah pulang, Del” ucap papanya yang sedang menonton TV di ruang keluarga. Papanya melirik bawaan Della. “Banyak juga belanjaanmu”.
“Mama titip bahan makanan untuk makan malam nanti soalnya. Ya sudah, aku ke dapur dulu, pa!” Della beranjak pergi ke dapur untuk meletakkan belanjaannya.
Saat akan masuk ke dapur, mama Della memanggilnya. “Del, kau sudah pulang? Kau membeli bahan yang mama titipkan, tidak?” tanya mamanya.
“Iya. Ini!” Della menunjukkan belanjaannya. “Mau aku taruh di mana?”
“Susun saja di lemari dan kulkas. Kau mau memakai dapurnya, kan?”
“Iya. Aku mau langsung membuat coklatnya supaya masih punya banyak waktu untuk membungkusnya nanti” jawab Della.
“Okay, I’m in my room if you need me, dear” ucap mamanya seraya pergi ke kamarnya. Della mengangguk dan bergegas menyusun bahan makanan tadi di lemari makanan dan kulkas.
Setelah itu, dia mengambil barang-barang yang dibelinya tadi di toko buku dan membawanya ke kamarnya. Dia menaruh barang-barang itu di atas meja belajarnya dan kembali ke dapur untuk bersiap membuat coklatnya.
“Nah, ayo kita mulai!” serunya lalu mengeluarkan bahan-bahan tadi dan menyiapkan penggorengan.
Campurkan dark chocolate yang sudah dihaluskan dengan susu, kemudian lelehkan dengan air panas. Lalu, diamkan sebentar, lalu tambahkan krim segar. Dinginkan sambil diaduk-aduk. Masukkan butter dan air ke dalam penggorengan lalu didihkan. Masukkan tepung terigu dan baking powder. Aduk dan panaskan dengan api kecil.
Della membuatnya dengan cekatan. Dia sudah terbiasa berhadapan dengan yang seperti ini. Selain karena dia sudah terbiasa memasak karena orangtuanya kadang berada di rumah, dia juga menyukai snack. Dan biasanya, snack itu dibuatnya sendiri.
“Nah, sekarang saatnya menuangkan ini ke cetakan” Della lalu mengambil sebuah cetakan berbentuk bulat, dua cetakan bintang, dan sebuah cetakan hati.
Dia menderetkan cetakan itu di meja agar mudah menuangkan coklatnya. Dengan hati-hati, dia menuangkan coklatnya di setiap cetakan dengan takaran yang pas. Setelah selesai, Della menghela napas lega. “Akhirnya coklatnya selesai dituangkan”. “Tapi ini belum selesai, aku masih harus menulisi coklatnya dengan white cream”. Della pun memasukkan coklatnya di kulkas dengan hati-hati. Coklatnya harus didinginkan sedikit sebelum ditulisi.
Sementara menunggu cokelatnya dingin, Della membuat bahan untuk menulis di atas cokelatnya. Tak terlalu lama membuatnya. Setelah selesai, Della mengambil cokelat yang sudah lumayan dingin tadi. Dia mengeluarkan cokelat dari cetakannya dengan hati-hati. Dia mulai menulisi cokelatnya.
Dimulai dari cokelat berbentuk bintang. “Ini cokelat untuk papa dan mama” gumamnya dengan senyum menghiasi wajahnya. Dia menghias cokelat itu dengan cream di pinggirannya. Menurut Della, cokelat untuk mereka tak perlu dihias terlalu banyak.
Setelah itu, dia mengambil cokelat berbentuk bulat. Della tertawa pelan saat akan menghiasnya. “Semoga cokelat ini mau diterima Mawar. Soalnya kan dia tak suka hal-hal seperti ini”. Della menggambar bentuk ‘smile’.
Dan akhirnya, saatnya Della untuk menghias cokelat berbentuk hati. Della terdiam sebentar. “Apa dia akan menerimanya, ya? Biasanya sih dia selalu menerimanya. Tapi kali ini kan berbeda. Apa aku urungkan saja niatku?”. Lama Della terdiam menatap cokelat dihadapannya. Tersadar kalau cokelatnya tak boleh terlalu lama dibiarkan, Della menghela napas dalam dan berkata, “Aku sudah membuatnya, kan. Aku harus memberikannya nanti. Apa pun yang terjadi, semuanya akan baik-baik saja!”
Setelah meyakinkan dirinya, Della mulai menulisi cokelat itu. Dia menulis ‘To Leon, I Love You’. Saat menulisnya, terlihat semburat merah di pipi Della. Della menatap hasil karyanya. ‘Semoga saja aku bisa memberikannya tepat Valentine Day. Karena hadiah valentine, jika terlambat diberikan, perasaanku tidak akan sampai padanya’ batinnya tersenyum.
Tak ingin terhanyut dalam khayalannya terlalu lama, Della segera memasukkan cokelatnya kembali ke kulkas. Setelah itu, dia membereskan peralatan masak yang tadi dipakainya, dan segera kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Pekerjaan tadi benar-benar membuatnya lelah.
.
Keesokan harinya, Della langsung pulang dari sekolah. Dia tak ingin berlama-lama karena ada tugas yang harus dikerjakannya. Lagipula, dia juga masih harus membungkus cokelat buatannya.
“Aku pulang duluan ya, Mawar!” pamitnya pada Mawar.
“Okay. Hati-hati di jalan!” balas Mawar. Della pun langsung meninggalkan kelas mereka dan bergegas ke tempat parker sekolahnya. Di sana sudah ada Leon yang –seperti biasa – menungguinya di samping motornya.
Menyadari kalau Della sedang berjalan ke arahnya, Leon mengambil helmnya dan helm untuk Della. “Sudah lama menunggu?” tanya Della sambil menerima helm yang diberikan Leon.
“Tidak juga. Aku juga baru saja ke luar kelas. Tumben ingin langsung pulang. Ada apa?” tanya Leon sambil memakai helmnya.
“Tidak juga. Aku punya tugas yang harus diselesaikan, hanya itu” ujarnya. Mereka pun segera meninggalkan sekolah.
.
Setelah selesai makan malam, Della bergegas ke kamarnya untuk mengambil alat-alat untuk membungkus cokelatnya. Orangtua Della tidak ada di rumah karena mereka harus menghadiri acara teman mereka. Della tak ingin ikut karena dia harus membungkus cokelatnya.
Della pun mengambil cokelatnya yang sudah beku sempurna dari kulkas. Dia memutuskan untuk membungkusnya di dapur saja. Della mulai membungkus cokelatnya satu-persatu. “Aku membungkus cokelat ini beserta harapanku untuk mereka” gumamnya sambil tersenyum tulus.
Saat akan membungkus cokelat untuk Leon, terlebih dahulu Della menyelipkan secarik kertas baru membungkusnya dengan pita berwarna putih. Della menatap sebentar cokelat-cokelat itu. “Asalkan mereka mau menerimanya dengan senyum senang, itu sudah sangat berarti bagiku” katanya sambil tersenyum kecil. Dia pun memasukkan cokelat itu kembali ke kulkas.
Della tak perlu menunggui orangtuanya karena mereka punya kunci duplikat rumah mereka. Karena itu, Della langsung membereskan dapur yang dipakainya dan langsung bergegas untuk tidur.
.
“Good morning, pa, ma” sapa Della saat dia memasuki ruang makan.
“Morning, dear” sapa mereka. Della pun duduk dan sarapan bersama orangtuanya.
Setelah sarapan, Della ke dapur dan mengambil cokelat untuk kedua orangtuanya. “Here, cokelat untuk kalian berdua. Happy Valentine Day!” ucapnya seraya memberikan cokelat buatannya.
“Thank you, dear. Mama dan papa juga punya hadiah valentine untukmu. Tunggu sebentar!” mamanya segera meninggalkan ruang makan.
Saat kembali, mamanya membawa kotak kado berwarna merah dengan hiasan pita kuning. “For you, our dearest daughter” kata mamanya menyerahkan hadiah itu.
Senyum Della mengembang dan matanya berbinar. “Thank you!”. Dia menciumi mereka berdua.
“Nah, saat-saat kasih sayang sudah selesai. Lanjutkan nanti setelah aktivitas hari ini selesai. Kita harus segera berangkat kalau tak ada yang mau terlambat” ucap papanya mengundang tawa kecil dari Della dan mamanya. Della segera memasukkan cokelat lainnya ke tasnya dan berangkat ke soklahnya.
.
Di gerbang sekolah, Della menemukan Mawar sedang berdiri sambil bersandar di gerbang. Della segera menuju Mawar dan menyapanya, “Pagi, Mawar. Kau sudah lama menunggu?”.
Mawar tersenyum sambil menjawab, “Pagi. Tidak juga. Ayo kita ke kelas!”. Mereka berdua pun beranjak menuju kelas mereka.
Sambil berjalan, mereka berdua bercakap-cakap tentang hari ini. Dan saat berjalan di koridor menuju kelas mereka, beberapa anak laki-laki berteriak memanggil nama Mawar. “Mawar! Terimalah hadiah valentine dariku!”. Yang lain berteriak, “Mawar! Jadilah pacarku!”. Mawar hanya memasang tampang dingin menanggapi mereka.
“Del, ayo cepat!” Mawar menarik tangan Della dan berlari menuju kelas mereka. Della hanya bisa tertawa melihat ekspresi Mawar yang benar-benar tak enak.
Mawar memang salah satu gadis pujaan di sekolah mereka. Tak jarang banyak cowok yang ingin menjadi pacarnya. Tapi Mawar selalu menolaknya dengan dingin. Mawar memang bukan tipe gadis yang begitu saja mau jadi pacar orang. Mawar mempunyai penilaian yang tinggi untuk cowok yang akan jadi pacarnya.
Della juga salah satu gadis pujaan cowok di sekolah mereka. Tapi, mereka tidak terlalu berharap menjadi pacar Della karena Della selalu bersama Leon. Mereka bisa merasakan aura yang tak enak dari Leon saat mereka berusaha untuk mendekati Della. Namun tampaknya Della tak menyadarinya.
Saat hampir sampai di kelas , seorang cowok mencegat mereka. Dia langsung menahan mereka berdua. “Hai, Mawar, Della!” sapanya ceria. Della membalasnya dengan senyuman. ‘Cowok dari kelas sebelah’ pikirnya. Tapi Mawar tidak membalasnya dan memasang wajah datar.
“Ini untukmu, War. Mawar merah untuk gadis yang kusukai” kata cowok itu seraya memberikan setangkai mawar untuk Mawar. Mawar tersentak. Ekspresinya berubah. “Aku ingin kau jadi pacarku!” ucap cowok itu tanpa ragu-ragu. Mawar menundukkan kepalanya.
‘Oh ow! Aku punya perasaan buruk, nih’ batin Della ngeri.
Mawar mengangkat kepalanya. Di wajahnya terpampang ekspresi yang sangat menakutkan. “AKU.TAK.MAU. JANGAN PERNAH MEMBERIKU BUNGA MAWAR!!” teriak Mawar sadis. Dia lalu menarik tangan Della dan meninggalkan cowok yang kaget mendengar penolakan yang sadis dari Mawar.
Della melirik cowok itu. Tak tega melihatnya patah hati. Tapi Della tak mau membuat Mawat tambah marah jika dia membela cowok itu. Della tak ingin hari ini menjadi hari yang buruk bagi Mawar.
Della tahu kalau sejak dulu Mawar sangat tak suka hal-hal seperti itu, terlebih bunga mawar. Soalnya kebanyakan orang memberinya bunga mawar di hari spesial hanya karena Mawar bernama mawar. Dia tak pernah suka bunga mawar. Walaupun bukan berarti dia membenci namanya. Dia tetap menghargai nama yang diberikan orangtuanya. Tapi yang Mawar inginkan adalah hal simple yang cocok dengan pribadinya.
Saat mereka sampai di kelas, Mawar menghempaskan dirinya di tempat duduknya. Della hanya menghela napas melihatnya. “Mereka itu kenapa, sih?!!” seru Mawar. Dari nada bicaranya, terdengar kalau dia berusaha menahan dirinya.
“Mereka hanya ingin menunjukkan rasa sayang mereka, kok. Kuasailah dirimu! Ini kan hari spesial” ujar Della. Dia duduk di sebelah Mawar.
Mawar menghela napas. Dia menutup matanya sejenak. “Maaf. Aku berlebihan” ucap Mawar pelan.
“Sudahlah. Tapi kenapa sih kau tak mau menerima hadiah dari cowok-cowok itu? Kan tidak semua memberimu bunga mawar” tanya Della.
“Bagiku, yang seperti itu tidak cocok untukku. Lagipula, sejarah valentine kan tidak sebahagia seperti yang kita bayangkan. Malahan orang yang menjadi asal-usul valentine mati di akhir penyiksaannya, kan? Dan valentine berdarah itu, sama sekali tidak cocok dengan perayaan orang-orang” jelas Mawar datar.
“Tapi kan St. Valentine berjuang untuk menikahkan orang-orang yang saling mengasihi! Dan justru karena pesan cinta dari Valentine untuk putri penjaga penjara pada tanggal 14 Februari yang menjadikan Valentine Day ini. Untuk mengenangnya, sang pejuang cinta” tukas Della.
Mawar memandang Della. “Iya, iya. Aku mengerti. Jadi bagaimana perjuanganmu untuk menyatakan cinta pada Leon?”
“Jangan keras-keras bicaranya! Nanti kedengaran orang lain!” seru Della.
Mawar tertawa kecil. “Jadi?” tanyanya.
“Aku akan memberikannya cokelat dan di dalamnya ada secarik kertas yang berisi pengakuanku untuknya. Tapi aku sih tidak ingin berharap tinggi-tinggi dia mau menerima atau tidak. Diterima cokelatnya saja aku sudah senang, kok” jawab Della.
“Tenang saja. Dia pasti akan menerimu, kok. Memangnya siapa lagi gadis yang selalu berada di sampingnya dan selalu dijaganya?” Mawar meneyemangati Della.
“Iya, aku tahu, kok. Sekarang yang aku pikirkan apakah kamu mau menerima cokelat tanda persahabatan dariku ini atau tidak…” ucapnya seraya mengeluarkan cokelat untuk Mawar.
“Kau ini, tak menyerah ya memberiku yang beginian?”. Della hanya tertawa.
“Tentu saja tidak! Ayolah! Kau tidak menghargai kerja kerasku untuk membuatnya, ya? Lagipula ini bukan ‘love’ atau mawar, kok”.
Della memberikan kotak hadiahnya pada Mawar. Mawar terkejut saat melihat kalau pembungkus hadiahnya bergambar Lakspur flower yang artinya beautiful spirit. “Kurasa bunga itu cocok untukmu” kata Della.
Mawar tersenyum. “Baiklah. Aku terima hadiahnya. Tapi aku tak akan memberimu cokelat”.
“Ng? kau juga akan memberiku hadiah?” tanya Della penasaran.
“Iya. Besok, di kafe tanteku, aku akan mentraktirmu Chocolate Coffe. Bagaimana?”
“Wah, aku mau. Sudah lama aku tidak minum Chocolate Coffe. Thanks, Rose” Mawar hanya tersenyum simpul menanggapinya.
.
“Del, kau mau jalan nggak sebentar?” tanya Leon yang sedang berjalan dengan Della di koridor sekolah saat pulang sekolah.
“Boleh. Kau jemput, kan?”.
“Jam 7. Tak usah berpakaian terlalu rapi. Aku tak akan mengajakmu ke tempat yang aneh-aneh, kok”.
Della tertawa. “Memang aku sering berpakaian seperti apa?”. Leon ikut tertawa. “Oh ya, ini untukmu. Happy Valentine Day!” ucapnya memberikan hadiahnya untuk Leon.
“Oh, thanks. Hadiahmu nanti sebentar, ya. Aku masih menyiapkannya” ucapnya.
“Memang hadiah apa?” tanya Della.
“Lihat saja nanti!” ucap Leon. Della hanya membalasnya dengan anggukan. “Kau mau kuantar, tidak?” tanya Leon.
“Tidak usah. Yang penting, kau tidak lupa menjemputku sebentar!” jawab Della.
“Okay!” balasan Leon.
.
Sebentar lagi jam 7. Della sedang bersiap-siap di depan cermin di mejanya. Dia memakai long t-shirt berwarna peach dan black jeans. Dia menghias rambutnya dengan pita berwarna scarlet. Pikiran Della melayang pada apa yang nanti akan dikatakan Leon, karena pasti Leon sudah membaca kertas yang diselipkannya di hadiah tadi.
‘Semoga saja tidak membuatnya marah atau apa pun itu” batinnya. Setelah siap, Della segera ke luar dari kamarnya dan pamit pada orangtuanya.
Di depan rumahnya, Leon sudah menunggu. Dia memakai kaus hitam dan kemeja lengan pendek berwarna cokelat, dan black jeans. Della segera naik ke motornya, dan Leon segera melajukan motornya.
.
Leon membawa Della berjalan menyusuri taman di tengah kota. Taman ini sudah dihias sedemikian rupa dengan tema valentine. Mereka berjalan dalam diam. Sampai akhirnya Leon memecah keheningan. “Del, aku sudah membaca kertas yang ada di dalam hadiahmu tadi, juga cokelat itu…” ucap Leon.
Della tersentak. Rasa khawatir mulai merasuk di hatinya. ‘Bagaimana ini? Apa tanggapannya?’ pertanyaan yang ada di kepala Della. “Lalu, apa tanggapanmu?”.
Leon tak segera menjawab. “Aku…kesal” itu yang dijawab Leon. Della menundukkan kepalanya mendengar jawabannya. Rasa kecewa menghampirinya.
Tapi Leon belum selesai. “Aku kesal karena aku sudah keduluan olehmu menyatakan cinta. Padahal aku sudah mempersiapkannya untuk hari ini” lanjutnya.
Della kaget. Dia mengangkat kepalanya dan menatap Leon. “Eh, jadi kau…?!”.
Leon menggenggam tangan Della dan membawanya ke tengah taman. Dia dan Della duduk di sebuah kursi yang ada di situ. “Del, aku memang sudah keduluan darimu. Tapi aku tetap akan mengatakannya dan kaulah yang harus menjawabku!”
“Eh, kok begitu, sih?” protes Della. Tapi Della tidak melanjutkannya dan diam menunggu apa yang akan dikatakan Leon.
Leon mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna beludru. Dia lalu membukanya dan Della terkejut saat melihat isi kotak itu. Sebuah leontin hati. “I love you, Della. Will you be my girlfriend?”. Della hanya bisa mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia lalu mengangguk senang. Leon tersenyum dan mengalungkan leontin itu di leher Della.
“I love you, too, Leon” ucapnya pelan dan menghambur ke pelukan Leon.
Satu lagi pasangan yang disatukan di hari valentine ini. Tak peduli apa yang menjadi tragedi di masa lalu saat valentine dibuat. Yang pasti hanyalah, jika memang saling mengasihi, tak usah takut dan percayalah kalau kasih sayanglah hal yang paling kuat. Beribu-ribu kasih sayang yang diutarakan, untuk orang yang berharga bagi diri kita. Beribu-ribu kasih sayang yang akan menyinari hari-hari kita.

~Tamat~

Karya: Devi J. G. Sahati