Saturday, 12 May 2012
Magical Light - Chapter 10
Segala proses untuk para siswa diberi tugas khusus sudah selesai. Urusan tempat tinggal dan kegiatan mereka di sana sudah diatur. Mereka tinggal menunggu hari keberangkatan mereka. Tak akan terlalu lama menunggu. Awal musim dingin menjadi waktu keberangkatan mereka.
Tak ada perbedaan yang terlalu besar dari kelas bagian 1 sampai 4 dan kelas bagian 5 sampai 8, atau untuk tingkat I, II, maupun III. Mereka semua sibuk mempersiapkan diri mereka. Bolak-balik toko untuk membeli perlengkapan yang akan dibawa, pergi ke perpustakaan untuk mencari referensi mengenai tempat yang akan dituju dan apa yang harus dilakukan, atau sekedar duduk-duduk di taman untuk menenangkan pikiran.
Terlebih bagi para siswa tahun pertama. Sebagaimana pengalaman pertama, mereka merasa khawatir dan tegang menghitung hari-hari keberangkatan yang semakin dekat. Musim dingin yang ditunggu memang tidak akan lama lagi. Tinggal beberapa hari saja. Udara yang semakin dingin dan pohon-pohon maple yang sudah tak berdaun menandai kedatangannya.
Seorang gadis berambut kuning duduk diam di sebuah taman sambil menikmati angin. Tak dipedulikannya angin itu begitu dingin dan menusuk kulit. Memang, gadis itu tak perlu khawatir, karena dia sudah memakai jaket berwarna cokelat, sangat cocok dengan irisnya yang berwarna cokelat bening dan syal yang berwarna hitam.
Ketenangannya buyar saat seseorang memanggil namanya.
“Light!”
Dia pun menoleh dan mendapati seorang gadis seusianya berlari ke arahnya. Rambut orange gadis itu melambai ditiup angin. “Hai, Melodi,” sapanya saat Melodi sampai ke tempatnya. Melodi memakai flat shoes berwarna peach, baju bertudung warna kuning, dan jeans selutut.
“Kau sudah di sini dari tadi?” tanya Melodi.
Light mengangguk. “Lumayan,” Light memperhatikan Melodi. “Kau hanya sendiri?”
Melodi melihat ke belakang. “Begitulah. Memang kenapa?”
“Tidak. Hanya saja biasanya, kan, kau bersama Ciel,” ucap Light.
“Heh, kenapa aku harus sama dia?” Melodi merengut. Light terkekeh. “Ciel tidak ikut karena dia sedang belajar di perpustakaan kota. Aku tidak ingin mengganggunya, jadi dia tak kuajak,” akhirnya Melodi menjelaskan.
Light mengerutkan kening. “Ciel belajar apa? Kita kan tak punya tugas akademik sekarang ini,” heran Light.
Melodi mengangkat bahu. “Dia hanya bilang ada yang ingin dicari tahu olehnya. Tapi dia tidak bilang apa itu,” jelas Melodi. Light mengangguk mengerti walaupun sebenarnya dia masih penasaran dengan apa yang dicari Ciel itu.
‘Mungkin hanya tentang tugas kami nanti,’ pikirnya.
“Mau beli minuman hangat, tidak? Aku mulai kedinginan, nih,” ajak Light.
“Ayo!”
Mereka lalu meninggalkan taman dan pergi ke sebuah kafe kecil di dekat situ.
.
Bola orange itu melayang di udara. Dengan tangkas dan sigap, Raven melompat dan menangkap bola itu. Kakinya kokoh mendarat di tanah dan tanpa ragu dia berlari men-dribble bola. Dua orang berlari menghadangnya, berusaha mengambil bola dari tangannya. Samar-samar Raven menyunggingkan seringai tipis.
Saat berdiri di hadapannya lawannya, dia segera menapakkan kakinya dan dengan cepat memutar badannya ke samping. Dengan mudah, dia mengelabui lawannya. Dari titik tiga poin, dia menembakkan bola itu dan tepat masuk ke ring. Tiga poin ditambahkan di papan skor. Senyum lebar menghiasi wajahnya. Anggota timnya menepuk pundaknya dan memberi selamat. Pertandingan berakhir dengan skor 64-35, dengan kemenangan untuk tim Raven.
Setelah merayakan selebrasi singkat dengan timnya, Raven berjalan ke pinggir lapangan. Di situ ada gadis berambut brunette yang merupakan temannya sejak kecil. Heart hanya menatapnya datar saat Raven mendatanginya.
“Selamat atas kemenangan kalian,” Heart mengucapkannya dengan datar.
“Setidaknya, tersenyumlah sedikit,” keluh Raven. Tapi Raven tentu tahu itu sudah menjadi trendmark Heart.
“Itu tak penting,” tanggap Heart.
Raven menghela napas. “Baiklah. Lalu, kita mau ke mana?”
“Pulang,” jawab Heart singkat dan padat.
“Kau tak ingin ke tempat lain dulu?”
Heart menatap tajam Raven. Tapi, sepertinya Raven tidak terpengaruh dengan itu. “Tidak. Lebih baik kita segera pulang. Kau sudah tidak ada kegiatan lain hari ini, kan?”
“Tidak, sih,”
“Kalau begitu, kita pulang! Kita masih harus mempersiapkan keperluan kita untuk tugas nanti, kan? Masih banyak yang harus kupersiapkan,” jelas Heart.
Raven menghela napas. “Iya, iya. Tapi, tunggu sebentar! Aku bereskan dulu barang-barangku di sini setelah itu kita pulang,”
Tidak ada lagi komentar dari Heart. Dia hanya menganggukkan kepala dan menunggu Raven membereskan barang-barangnya di sisi lapangan lain. Sementara itu, Raven bergegas membereskan barangnya. Dia tak ingin membuat Heart menunggu terlalu lama.
Setelah selesai, Raven segera menghampiri Heart untuk pulang dengannya. “Ayo kita pulang!” ajaknya.
Mereka berdua berjalan dalam hening. Tapi itu malah membuat mereka nyaman. Tapi, kali ini Heart memilih untuk tidak berada dalam keheningan itu. “Raven, tugas kita nanti, apa akan berjalan lancar? Maksudku, apa kita bisa menyelesaikan tugas itu?” tanyanya. Suara Heart pelan dan dalam.
Raven menatap Heart dengan ekspresi takjub. Ada sesuatu yang tertahan di mulutnya. Heart yang merasa risih ditatap seperti itu balas menatap Raven dengan pandangan tak suka. “Kenapa kau menatapku seperti itu?” kesalnya. Topeng datar yang dipakainya dari tadi entah lenyap ke mana.
Raven terus menatapnya seperti tadi. Seketika kemudian dia tertawa. “Hahaha! Seharusnya kau lihat wajahmu tadi. Benar-benar sesuatu yang langka untuk seorang Heart,”. Merasa aura kelam mulai muncul dari Heart, Raven segera menghentikan tawanya. Dia masih ingin hidup lebih lama. “Eh he, ma..maaf. Tapi, tidak biasanya kau bertanya seperti itu. Ada apa?” kata Raven sambil menggaruk belakang kepalanya yang tentu saja tidak gatal.
Heart kembali memasang wajah datarnya nan dinginnya. “Tidak ada apa-apa. Bukan suatu hal yang aneh, kan, aku bertanya? Ini adalah pengalaman pertama kita,” ucap Heart.
Raven tersenyum. “Aku mengerti. Dan untuk jawaban pertanyaanmu tadi, tentu saja! Kita sudah mempersiapkan hal ini dengan baik, kan? Kita pasti mampu menyelesaikannya. Dan aku yakin kita akan dapat nilai A,” ujar Raven percaya diri.
“Bagaimana kau bisa seyakin itu? Kita bahkan belum membuat – melakukan tugas itu,” tanya Heart. Entah kenapa, Heart merasa ragu dengan perkataan teman sejak kecilnya tiu.
“Ehm, karena insting, mungkin? Instingku mengatakan kalau kita bisa, itu saja,” jawab Raven santai.
Heart membuang muka. “Bodohnya aku bertanya padamu,” gumamnya.
“Oi, oi, aku mendengarnya tahu,”
“Sudahlah. Aku jadi lelah jika bercakap denganmu,” kata Heart.
Raven tak punya keinginan membalas perkataan Heart. Dia terlalu mengenal Heart untuk meladeni perkataan sarkastik dari Heart. Mereka pun meneruskan perjalanan pulang mereka dalam diam.
.
Getaran yang berasal dari berasal dari bagian yang terdalam
Rantai penghubung yang mengalirkan segala perasaan
Cahaya ajaib menyinari segala ruang
Membuka tabir kebenaran
Hitam dan putih berputar membentuk harmoni yang serasi
Walaupun begitu, akan selalu ada yang lebih dominan
Langkah yang perlahan mencapai puncaknya
Bunyi setegas batu permata membuat segalanya terdiam
Tiupan pelan menegaskan posisinya
Angin lembut terus membawa pesan
Nada abadi mulai mengalun membentuk sebuah kunci kebenaran
Bulan yang seakan mengiris segala kulit malam
Kelap malam membelah riak air
Kilatan takdir memperlihatkan jalan yang silau
Auman halilintar menjaga langit
Cahaya putaran warna yang menyebarkan spektrum tak terhingga
Keberadaan yang suci dan dinamis pembangkit rantai dunia
Salah satu atau bahkan semua akan menjadi penentunya
Rahasia yang menjadi dasar segala hal
Pembentuk tiap-tiap elemen di dunia
Melampaui segala fantasi yang ada dan pernah ada
Satu titik cahaya memperlihatkan keajaibannya
.
Sesuatu yang ajaib, akan mulai terjadi…
.
.
.
Catatan Penulis (Devi J. G. Sahati)
Wow! Selesai juga. Lagi-lagi tak bisa tepat waktu. Aku benar-benar tak bisa lepas dari writer’s block. Padahal, akhir-akhir ini aku diberi liburan yang cukup banyak. Oh yeah, lupakan saja itu!
Bagaimana? Sesuatu yang ajaib akan segera datang! Coming soon XD yang menulis puisi di atas aku, lho #bangga #plak (itu bisa disebut puisi, tidak?) Pokoknya, aku akan terus berusaha lebih baik lagi dalam penulisan cerita ini :)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment