Friday, 13 July 2012
The Shiny Journey, Chapter 2
Persinggahan Pertama
Sudah berjam-jam mereka berjalan. Jarak mereka dengan desa tempat tinggal mereka sudah jauh. Mungkin sebentar lagi mereka akan menemukan sebuah desa lain.
“Hei, kita sudah meninggalkan rumah dan berjalan berjam-jam. Apa kalian sudah menentukan tujuan kita yang pertama?” tanya Shin.
“Aku juga sudah lapar.” Ucap Yayoi.
“Hmm, ayo lihat peta ini dulu.” Kata Hinata.
“Darimana kau mendapatkannya, Hinata?” tanya Yayoi.
“Kakekku yang memberikannya. Dia bilang mungkin ini akan berguna untuk kita. Nah, sampai di mana tadi? Oh ya, ayo kita ke kota Gelion! Kita bisa mencari tempat menginap disana.” Ajak Hinata.
Sambil menatap langit, Shin berkata, “Aku rasa kota Gelion sudah tidak terlalu jauh dari sini.”
“Kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo kita menuju kota Gelion!” Hotaru berteriak dengan semangat. Mereka pun menuju kota Gelion yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka sekarang ini.
.
.
“Hah, akhirnya sampai juga di kota Gelion. Ayo kita cari penginapan sekarang! Aku ingin cepat-cepat istirahat.” Ucap Hinata yang kelelahan.
Mereka sudah sampai di kota Gelion, tempat pertama yang mereka datangi. Mereka pun langsung mencari penginapan yang masih mempunyai tempat untuk mereka. Setelah menemukannya, mereka langsung masuk ke dalam.
“Haah, akhirnya kita bisa beristirahat juga…” ucap Yayoi.
“Kenapa hampir semua penginapan di kota ini penuh? Apa ini kota wisata yang banyak didatangi orang?” tanya Shin pada pelayang yang bertugas menunjukkan kamar mereka.
“Kalian tidak tahu? Beberapa hari lagi di kota ini akan diadakan festival bunga. Itu adalah acara yang dibuat untuk merayakan datangnya musim panas. Disana akan ada banyak bunga-bunga kebanggaan para penduduk yang akan dipamerkan. Dan ada acara lainnya juga nanti.” Jelas pelayan itu pangjang lebar.
“Kapan festival itu dimulai?” tanya Hotaru.
“Kalau persiapannya bagus, mungkin dua hari lagi.” Ucap pelayan mengira-ngira.
“Hei, bagaimana kalau kita juga menyaksikan festival itu. Pasti menyenangkan!” ucap Hotaru pada yang lainnya.
“Ini kamar kalian. Ini kamar untuk nona Hinata dan Yayoi, dan ini kamar untuk tuan Hotaru dan Shin. Kamar kalian bersebelahan. Lebih baik pembicaraan kalian dilanjutkan nanti setelah kalian beristirahat. Selamat beristirahat.” Ucap pelayan itu lalu pergi.
“Ya, terima kasih.” Mereka berterima kasih pada pelayan itu dan langsung memasuki kamar mereka.
.
.
“Shin, ayo kita keluar! Aku bosan di kamar ini…” ucap Hotaru.
“Bagaimana kau bisa bosan? Kau kan baru saja bangun.” Ucap Shin heran. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Hehehe” Hotaru tertawa sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. “Sudahlah. Ayo kita cari makan malam! Aku sudah lapar.” Ajak Hotaru.
“Apa kita perlu membawa senjata kita?” tanya Shin.
“Hmm, lebih baik kita membawanya. Kita kan belum tahu mengenai kota ini.” Jelas Hotaru.
Diluar, mereka menjumpai Hinata dan Yayoi berdiri di muka kamar mereka. Setelah Hotaru menjelaskan kalau dia dan Shin ingin keluar dan mengajak mereka berdua untuk ikut, mereka pun langsung keluar dari penginapan itu.
.
.
Setelah selesai makan malam, mereka berjalan di sekitar taman Gelion sambil bercakap-cakap.
“Apa kalian juga ingin menonton festival itu?” tanya Yayoi.
“Aku ingin melihat bunga-bunga yang akan dipamerkan.” Ucap Hinata,
“Aku penasaran bagaimana festival itu. Aku hanya pernah membacanya di artikel saja, sih.” Ucap Shin.
“Kalau begitu, sudah diputuskan kita akan menonton festival itu! Aku yakin festival itu akan ramai!” ucap Hotaru semangat karena teman-temannya juga ingin menonton festival itu.
Tiba-tiba, ada seseorang yang berlari dan tak sengaja menabrak Hinata. “Oh, ma..maaf” orang itu meminta maaf sambil membungkukkan badannya sehingga wajahnya tak terlihat. Setelah itu dia langsung pergi dengan cepat.
“Kau tidak apa-apa Hinata?” tanya Yayoi seraya membantu Hinata berdiri.
“Ehm, ya…”.
“Siapa ya orang itu? Kelihatannya dia sangat tergesa-gesa.” Ucap Shin penasaran. Mereka pun saling terdiam satu sama lain.
Malam itu langit begitu indah karena bintang-bintang terlihat dengan jelas. Angin berembus kencang menambah kesan malam itu.
.
.
Di sebuah tempat yang gelap, dua orang sedang berbicara dengan serius. Wajah mereka dihalangi oleh kegelapan.
“Bagaimana? Apa target kita berjalan lancar?” tanya orang yang duduk di kursi di ujung ruangan itu.
“Ya tuan. Selanjutnya, kita akan melihat festival di kota Gelion.” Jawab orang yang satunya lagi.
“Heh. Festival… kelihatannya akan menarik. Chloride, kirim Lars dan Luovi!” perintah orang itu.
“Baik tuanku.” Ucap orang yang bernama Chloride itu. Dia lalu pergi dari ruangan itu.
.
.
.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment