Dahulu kala, ketika seluruh kerajaan di
dunia masih saling menutup diri, hiduplah seorang Pangeran di sebuah kerajaan
yang damai. Kerajaan itu kecil dan dikelilingi oleh kabut biru yang misterius. Tak
ada yang tahu apa yang ada di balik kabut itu, dan semua orang di kerajaan itu
hidup mencukupkan diri tanpa merasa perlu keluar sana. Pangeran itu seorang
anak lelaki yang memiliki paras yang indah, mata berwarna biru sedalam samudera
dan teduh layaknya lautan tanpa ombak, dengan tubuh semampai dan memiliki sihir
yang sangat kuat. Dia adalah kebanggaan sekaligus harta terbesar di kerajaan
itu.
Di sebuah hutan ajaib yang ada di dekat
istananya, tinggal seorang Peri cantik yang memakai gaun berwarna hijau –
terbuat dari berbagai tumbuhan ajaib dari hutan – dan sayap berwarna kuning
cerah yang membawa kebahagiaan bersama kepakannya. Pangeran dan Peri itu selalu
bermain bersama sejak kecil. Peri itu adalah penguasa hutan dan memiliki sihir
yang melindungi kerajaan mereka sejak dulu sekali, dia adalah harta yang paling
dilindungi di kerajaan itu.
Mereka berdua, yang sama-sama adalah harta
kerajaan, saling melindungi dan mengasihi satu sama lain sejak lama, dan ikatan
di antara mereka tak bisa dimasuki siapapun. Sang Pangeran berjanji untuk
melindungi Sang Peri dengan sihirnya, sedangkan Sang Peri berjanji untuk
membahagiakan Sang Pangeran dengan sihirnya. Mereka berdua tak membutuhkan hal
lain yang ada di balik kabut biru itu.
Sampai seorang Kesatria datang dari balik
kabut.
Di suatu hari yang tak berbeda dari hari
sebelumnya, Pangeran berjalan di dekat kabut biru tanpa alasan apa pun. Dia menemukan
seorang Kesatria dengan pedang berwarna merah – sangat merah sampai-sampai
terlihat hitam – sedang duduk membelakangi kabut, memperhatikan sekitarnya. Ketika
mata mereka saling bertatapan, Pangeran itu tahu Kesatria ini berasal dari balik
kabut. Perasaan yang tak pernah ada memenuhi hatinya. Suatu saat nanti, dia
akan kalau itu adalah perasaan ingin tahu.
Kesatria itu tersenyum pada Pangeran. Pangeran
yang tak tahu harus berbuat apa hanya menatap Kesatria dalam diam. Tapi, sesaat
kemudian, Pangeran segera berlari. Sang Kesatria jatuh tak sadarkan diri.
Ketika membuka mata, Kesatria itu mendapati
dua wajah khawatir sekaligus waspada dari dua orang. Sang Pangeran dan Peri ada
di kedua sisi Kesatria, menunggunya terbangun dari tidurnya. Kesatria itu
langsung dirundung berbagai pertanyaan. Dari mana
asalmu? Siapa kau? Bagaimana kau bisa sampai ke sini? Apa yang kau inginkan?
Sang Kesatria hanya tertawa dan meminta mereka untuk bertanya pelan-pelan.
Kesatria itu bercerita kalau dia adalah
penjelajah yang telah mendatangi banyak sekali kerajaan di luar sana. Dia tak
memiliki tempat yang bisa disebut sebagai asal-usulnya. Karena itulah dia
menjelajah, semuanya untuk menemukan tempat yang bisa disebut “rumah”. Kesatria
meminta agar keduanya juga memperkenalkan diri mereka dan tempat seperti apa
ini. Sejak saat itu, ikatan di antara Pangeran dan Peri dimasuki satu orang
baru, Sang Kesatria.
Mereka bertiga menghabiskan waktu bersama,
bermain bersama, berlatih sihir bersama, dan ketiganya sangat menikmati waktu
mereka itu. Sang Pangeran tahu kalau Sang Kesatria sangat menyukai Sang Peri. Sedikit
merasa iri, tapi Pangeran sudah mengakui Kesatria sebagai sahabatnya, dan
meminta Kesatria untuk melindungi Peri dengan pedang merahnya. Di lain pihak,
Sang Peri tahu kalau Sang Kesatria sangat menyayangi Sang Pangeran. Sedikit
merasa tersisihkan, tapi Peri juga sangat menyukai Kesatria, dan meminta Kesatria
untuk melindungi Pangeran dengan pedang merahnya. Sang Kesatria hanya tersenyum
menerima kedua permintaan itu dan berjanji akan melindungi Pangeran dan Peri.
Hari-hari mereka berlanjut dengan damai
sampai suatu ketika Kegelapan datang dan mengacaukan kerajaan itu. Mereka
bertiga bertarung melindungi kerajaan. Pertarungan itu membawa begitu banyak kepedihan. Sang Peri
kehilangan saudari-saudarinya, sedangkan Sang Pangeran mengetahui kenyataan
kalau segala hal yang dilindunginya sejak dulu adalah kebohongan. Segala hal
yang telah terjadi di hidup Sang Pangeran dan Peri itu telah diatur sejak awal,
bahkan hubungan dekat keduanya.
Terlalu banyak kesedihan yang dirasakan
Pangeran dan Peri, membuat Kesatria menjadi berang luar biasa. Dia sudah
berjanji untuk melindungi keduanya – dua orang yang menjadi hartanya yang
paling berharga, tempat yang kini disebutnya rumah. Kesatria itu mengayunkan
pedangnya menebas monster-monster yang dibawa oleh Kegelapan. Warna merah pekat
pedang itu menjadi hitam karena Kegelapan, namun dia tak peduli. Yang diinginkannya
sekarang hanyalah menyelamatkan dua harta berharganya dari Kegelapan ini.
Sang Peri segera membantu Kesatria melawan
monster-monster. Dia menggunakan seluruh kekuatan dari hutan ajaibnya untuk
menghempas Kegelapan. Sayangnya, itu membuatnya harus merelakan pelindung yang
melingkupi seluruh kerajaan. Tapi, hal itu tidak menjadi persoalan besar karena
Kegelapan terus mendesak mereka.
Sang Pangeran melihat pertarungan itu
dengan tatapan kosong. Mata birunya yang sangat indah – selalu dipuji oleh Peri
dan Kesatria – menjadi gelap seperti tak bernyawa. Kalau memang semuanya hanya
kebohongan, maka Pangeran tidak akan membiarkan kebohongan itu menghancurkan
Sang Kesatria dan Sang Peri. Dia akan menyelamatkan mereka. Dia tahu mereka
berdua akan baik-baik saja, karena mereka telah saling menyukai.
Maka, Sang Pangeran membawa dirinya
menghadap Kegelapan dan menyerahkan dirinya sebagai harga untuk menyelamatkan
dua orang kesayangannya. Kesatria dan Peri yang mengetahui itu segera mengejar
Pangeran. Dengan seluruh kekuatan mereka yang tersisa, mereka menghapuskan
Kegelapan dan menarik kedua tangan Pangeran, membawanya ke dalam pelukan
mereka.
Kegelapan sirna dari hadapan mereka, tapi
meninggalkan kerajaan yang porak-poranda. Namun, mereka bertiga selamat dan
itulah yang terpenting. Hari-hari mereka pun kembali berlanjut. Namun,
segalanya menjadi berbeda. Waktu yang selalu dihabiskan bersama masih ada, tapi
perasaan kasih mulai disisipi hal-hal lain. Selain itu, kabut biru yang
mengelilingi kerajaan dan menutupi pandangan dari dunia luar ikut sirna dengan
Kegelapan, memperlihatkan dunia luar yang asing bagi penduduk kerajaan.
Ada yang tetap tinggal di dalam kerajaan,
tapi ada juga yang memutuskan untuk mencoba pergi ke luar sana. Tak ada lagi
yang menghalangi dan hamparan tanah di luar sana begitu mengundang jiwa-jiwa
yang telah terkungkung lama di satu tempat. Tapi, Pangeran, Kesatria, dan Peri
tetap tinggal di kerajaan. Mereka pikir hari-hari mereka akan kembali jika
mereka terus bersama. Tak ada yang tahu itu hanya dipikirkan oleh dua orang dan
merupakan pemikiran yang sangat naif.
Sampai Pangeran menghilang dari hidup
mereka.
Selesai(?)
No comments:
Post a Comment