Friday, 22 March 2019

Seorang Pangeran, Peri, dan Kesatria

Dahulu kala, ketika seluruh kerajaan di dunia masih saling menutup diri, hiduplah seorang Pangeran di sebuah kerajaan yang damai. Kerajaan itu kecil dan dikelilingi oleh kabut biru yang misterius. Tak ada yang tahu apa yang ada di balik kabut itu, dan semua orang di kerajaan itu hidup mencukupkan diri tanpa merasa perlu keluar sana. Pangeran itu seorang anak lelaki yang memiliki paras yang indah, mata berwarna biru sedalam samudera dan teduh layaknya lautan tanpa ombak, dengan tubuh semampai dan memiliki sihir yang sangat kuat. Dia adalah kebanggaan sekaligus harta terbesar di kerajaan itu.
Di sebuah hutan ajaib yang ada di dekat istananya, tinggal seorang Peri cantik yang memakai gaun berwarna hijau – terbuat dari berbagai tumbuhan ajaib dari hutan – dan sayap berwarna kuning cerah yang membawa kebahagiaan bersama kepakannya. Pangeran dan Peri itu selalu bermain bersama sejak kecil. Peri itu adalah penguasa hutan dan memiliki sihir yang melindungi kerajaan mereka sejak dulu sekali, dia adalah harta yang paling dilindungi di kerajaan itu.
Mereka berdua, yang sama-sama adalah harta kerajaan, saling melindungi dan mengasihi satu sama lain sejak lama, dan ikatan di antara mereka tak bisa dimasuki siapapun. Sang Pangeran berjanji untuk melindungi Sang Peri dengan sihirnya, sedangkan Sang Peri berjanji untuk membahagiakan Sang Pangeran dengan sihirnya. Mereka berdua tak membutuhkan hal lain yang ada di balik kabut biru itu.
Sampai seorang Kesatria datang dari balik kabut.
Di suatu hari yang tak berbeda dari hari sebelumnya, Pangeran berjalan di dekat kabut biru tanpa alasan apa pun. Dia menemukan seorang Kesatria dengan pedang berwarna merah – sangat merah sampai-sampai terlihat hitam – sedang duduk membelakangi kabut, memperhatikan sekitarnya. Ketika mata mereka saling bertatapan, Pangeran itu tahu Kesatria ini berasal dari balik kabut. Perasaan yang tak pernah ada memenuhi hatinya. Suatu saat nanti, dia akan kalau itu adalah perasaan ingin tahu.
Kesatria itu tersenyum pada Pangeran. Pangeran yang tak tahu harus berbuat apa hanya menatap Kesatria dalam diam. Tapi, sesaat kemudian, Pangeran segera berlari. Sang Kesatria jatuh tak sadarkan diri.
Ketika membuka mata, Kesatria itu mendapati dua wajah khawatir sekaligus waspada dari dua orang. Sang Pangeran dan Peri ada di kedua sisi Kesatria, menunggunya terbangun dari tidurnya. Kesatria itu langsung dirundung berbagai pertanyaan. Dari mana asalmu? Siapa kau? Bagaimana kau bisa sampai ke sini? Apa yang kau inginkan? Sang Kesatria hanya tertawa dan meminta mereka untuk bertanya pelan-pelan.
Kesatria itu bercerita kalau dia adalah penjelajah yang telah mendatangi banyak sekali kerajaan di luar sana. Dia tak memiliki tempat yang bisa disebut sebagai asal-usulnya. Karena itulah dia menjelajah, semuanya untuk menemukan tempat yang bisa disebut “rumah”. Kesatria meminta agar keduanya juga memperkenalkan diri mereka dan tempat seperti apa ini. Sejak saat itu, ikatan di antara Pangeran dan Peri dimasuki satu orang baru, Sang Kesatria.
Mereka bertiga menghabiskan waktu bersama, bermain bersama, berlatih sihir bersama, dan ketiganya sangat menikmati waktu mereka itu. Sang Pangeran tahu kalau Sang Kesatria sangat menyukai Sang Peri. Sedikit merasa iri, tapi Pangeran sudah mengakui Kesatria sebagai sahabatnya, dan meminta Kesatria untuk melindungi Peri dengan pedang merahnya. Di lain pihak, Sang Peri tahu kalau Sang Kesatria sangat menyayangi Sang Pangeran. Sedikit merasa tersisihkan, tapi Peri juga sangat menyukai Kesatria, dan meminta Kesatria untuk melindungi Pangeran dengan pedang merahnya. Sang Kesatria hanya tersenyum menerima kedua permintaan itu dan berjanji akan melindungi Pangeran dan Peri.
Hari-hari mereka berlanjut dengan damai sampai suatu ketika Kegelapan datang dan mengacaukan kerajaan itu. Mereka bertiga bertarung melindungi kerajaan. Pertarungan itu  membawa begitu banyak kepedihan. Sang Peri kehilangan saudari-saudarinya, sedangkan Sang Pangeran mengetahui kenyataan kalau segala hal yang dilindunginya sejak dulu adalah kebohongan. Segala hal yang telah terjadi di hidup Sang Pangeran dan Peri itu telah diatur sejak awal, bahkan hubungan dekat keduanya.
Terlalu banyak kesedihan yang dirasakan Pangeran dan Peri, membuat Kesatria menjadi berang luar biasa. Dia sudah berjanji untuk melindungi keduanya – dua orang yang menjadi hartanya yang paling berharga, tempat yang kini disebutnya rumah. Kesatria itu mengayunkan pedangnya menebas monster-monster yang dibawa oleh Kegelapan. Warna merah pekat pedang itu menjadi hitam karena Kegelapan, namun dia tak peduli. Yang diinginkannya sekarang hanyalah menyelamatkan dua harta berharganya dari Kegelapan ini.
Sang Peri segera membantu Kesatria melawan monster-monster. Dia menggunakan seluruh kekuatan dari hutan ajaibnya untuk menghempas Kegelapan. Sayangnya, itu membuatnya harus merelakan pelindung yang melingkupi seluruh kerajaan. Tapi, hal itu tidak menjadi persoalan besar karena Kegelapan terus mendesak mereka.
Sang Pangeran melihat pertarungan itu dengan tatapan kosong. Mata birunya yang sangat indah – selalu dipuji oleh Peri dan Kesatria – menjadi gelap seperti tak bernyawa. Kalau memang semuanya hanya kebohongan, maka Pangeran tidak akan membiarkan kebohongan itu menghancurkan Sang Kesatria dan Sang Peri. Dia akan menyelamatkan mereka. Dia tahu mereka berdua akan baik-baik saja, karena mereka telah saling menyukai.
Maka, Sang Pangeran membawa dirinya menghadap Kegelapan dan menyerahkan dirinya sebagai harga untuk menyelamatkan dua orang kesayangannya. Kesatria dan Peri yang mengetahui itu segera mengejar Pangeran. Dengan seluruh kekuatan mereka yang tersisa, mereka menghapuskan Kegelapan dan menarik kedua tangan Pangeran, membawanya ke dalam pelukan mereka.
Kegelapan sirna dari hadapan mereka, tapi meninggalkan kerajaan yang porak-poranda. Namun, mereka bertiga selamat dan itulah yang terpenting. Hari-hari mereka pun kembali berlanjut. Namun, segalanya menjadi berbeda. Waktu yang selalu dihabiskan bersama masih ada, tapi perasaan kasih mulai disisipi hal-hal lain. Selain itu, kabut biru yang mengelilingi kerajaan dan menutupi pandangan dari dunia luar ikut sirna dengan Kegelapan, memperlihatkan dunia luar yang asing bagi penduduk kerajaan.
Ada yang tetap tinggal di dalam kerajaan, tapi ada juga yang memutuskan untuk mencoba pergi ke luar sana. Tak ada lagi yang menghalangi dan hamparan tanah di luar sana begitu mengundang jiwa-jiwa yang telah terkungkung lama di satu tempat. Tapi, Pangeran, Kesatria, dan Peri tetap tinggal di kerajaan. Mereka pikir hari-hari mereka akan kembali jika mereka terus bersama. Tak ada yang tahu itu hanya dipikirkan oleh dua orang dan merupakan pemikiran yang sangat naif.
Sampai Pangeran menghilang dari hidup mereka.

Selesai(?)

No comments:

Post a Comment