Helen tersenyum. Surat dari gadis itu masih dapat membuatnya bersemangat, entah mengapa. Dan dia pun merasa menyesal karena surat tersebut harus tersedot distorsi dimensi dan gagal tersampaikan padanya sampai saat ini. Sekali lagi dia bersyukur karena mereka membangun Irregular’s Border dan mempunyai Odille sebagai inti sistemnya.
Dia memindahkan atensinya pada surat yang kedua. Menurut Odille, surat ini belum terlalu lama dikirimkan. Mungkin, karena itulah surat yang pertama dapat disadari keberadaannya oleh Odille.
“Surat yang kedua, kah?”
Dan Helen mulai membacanya.
…..
Untuk Helen yang kurindukan,
Sudah hampir setahun sejak surat terakhir untukmu, dan sampai saat ini kau belum membalasnya. Aku di sini baru saja memasuki musim panas. Itu artinya sudah setahun yang lalu kita mulai saling berkirim surat. Apa kau sehat-sehat saja? Apa yang sedang kau lakukan saat ini? Aku tidak ingin menulis ini, tapi mengapa kau tidak lagi membalas suratku?
Aku akhirnya telah menyelesaikan studiku di bangku kuliah. Hehe, butuh usaha yang keras dan waktu yang lebih lama dari yang kupikirkan, tapi itu semua ternyata cukup menyenangkan jika diingat kembali. Aku sadar ada hal-hal yang seharusnya kulakukan lebih baik lagi, dan ini mungkin terdengar seperti pembelaan, tapi bagiku itu tak menjadi masalah karena aku sudah berusaha. Dan aku juga lega karena aku tidak berbohong kalau aku pasti akan menyelesaikannya. Dan oh, aku lulus saat musim semi yang lalu.
Sejujurnya, aku merasa itu bukan hal yang begitu besar karena aku sendiri sudah begitu yakin sejak dulu kalau aku akan tetap lulus. Tapi, orang-orang di sekelilingku begitu gembira dan memberi selamat. Jadi, aku juga bergembira karenanya. Akan sangat buruk jika aku tidak menanggapinya dengan rasa gembira yang sama.
Aku dulu pernah mengatakan di beberapa suratku sebelumnya kalau ada banyak hal yang ingin kulakukan setelah lulus. Karena itulah, dengan kejujuran dan sedikit (banyak) perasaan tak enak (malu), aku memberitahumu kalau apa yang kulakukan sekarang hanya tidur, makan, membaca, menonton, dan bermain. Benar-benar melakukan apa yang disebut liburan di rumah. Uaahh, terdengar memalukan. Aku benar-benar seorang NEET sekarang. Seharusnya aku melakukan hal bermanfaat lain, atau setidaknya berlibur dengan kegiatan yang lebih mendebarkan di luar sana. Tapi, sampai sekarang aku masih seorang gadis kecil yang tak punya kebebasan seperti itu.
Kau pasti berpikir kenapa aku tidak mencari pekerjaan jika memang butuh sesuatu untuk dilakukan, apalagi karena aku memang sudah lulus. Aku sementara mencari, kok. Sudah beberapa lamaran kukirimkan untuk beberapa perusahaan. Tapi, kalau mau jujur, aku sendiri tidak begitu yakin akan diterima. Ya ampun, padahal aku tak ingin menceritakan hal ini. Sungguh memalukan! Tapi, aku juga sedang mencari universitas di luar untuk melanjutkan studiku, kok. Jadi, jangan berpikir buruk dulu.
Masalahnya, aku belum yakin mau mengambil jurusan apa nanti. Ada begitu banyak yang ingin kupelajari, dan aku ingin meyakini kalau passion harus menjadi yang terpenting. Tapi, aku juga tidak naif dan tahu kalau aku harus memikirkan jurusan yang akan mendukung pekerjaanku nanti. Dan hal itu membuatku merasa hampa. Awalnya, setelah kelulusan hari-hariku terasa menyenangkan karena aku bisa melakukan hal yang kusukai tanpa merasa terbebani dengan studiku. Tapi, lama-kelamaan, waktu kembali menjadi menakutkan, dan tanpa kusadari semuanya tiba-tiba menjadi hampa…
Aku jadi sadar kalau aku masih belum punya ide tentang akan jadi seperti apa masa depanku nanti, karena sampai saat ini, aku masih belum menjadi apa-apa. Aku tahu kalau tak ada gunanya merasa terburu-buru dan kalau aku sebenarnya tidak perlu merasa seperti itu. Hanya saja, sementara aku sendiri yakin kalau buru-buru memutuskan apa yang harus kulakukan adalah ide yang buruk, waktu yang kumiliki untuk memutuskannya sedikit demi sedikit semakin habis. Dan, itu menakutkan.
Orang-orang di sekitarku seakan berteriak kepadaku untuk berlari lebih cepat. “Ketika masa depan tidak pasti, tidak seharusnya kau hanya berdiri diam di sana!” begitu teriak mereka. Matahari masih terbit dari timur, teriknya masih senantiasa menyinariku, musim masih terus berganti. Dunia ini masih tetap sama. Namun, di saat yang bersamaan, semuanya terus berubah. Dan di tengah kontradiksi itu, aku masih tetaplah aku.
Ada banyak hal yang harus kuputuskan, dan hal-hal tersebut takkan menungguku. Aku merasa dunia dan yang ada di dalamnya lewat begitu saja di hadapanku dan meninggalkanku begitu saja. Dan aku kesepian dan ketakutan…
Maaf, ya, padahal sudah lama tidak menulis surat untukmu, dan yang kutulis malah hal menyedihkan seperti ini. Tapi, bahkan surat-menyurat inipun mungkin akan berakhir. Aku tidak tahu apa kau akan membalas surat ini, karena surat sebelumnya belum kau balas. Tapi, aku sungguh-sungguh tidak marah atau kesal padamu. Mungkin sedikit sedih, tapi tidak marah. Bukan hanya aku yang punya banyak hal yang harus dipikirkan. Jadi, kau tak perlu memaksakan diri untuk membalas surat ini. Sungguh, aku hanya ingin menuliskannya saja.
Kuharap kau dan yang lainnya baik-baik saja. Dan berapa pun musim yang berganti, waktu yang terlewati, rasa senang atas surat-menyurat ini masih akan tetap kujaga baik-baik. Dah…
Yang sedang melihat awan gelap,
Fíla
No comments:
Post a Comment