Kau rindu akan kehidupan itu.
.
Kau merindukan masa-masa di mana waktu berjalan dengan lamban. Di mana kau bisa menikmati harimu dengan tenang tanpa terburu-buru.
Kau merindukan pagi hari yang tenang dengan secangkir teh dan sarapan ringan. Oh, jangan lupa sambil mendengarkan berita pagi. Saat di mana kau dengan serius mendengarkan laporan cuaca hari itu. Dan selesai sarapan dan mendengarkan berita, kau akan memutar musik klasik, seperti Morning karya Grieg, sambil menikmati cahaya matahari pagi yang masuk melalui jendela.
Kau merindukan saat-saat di bawah terik mentari pagi sembari berkebun di kebun rumahmu. Kau akan menyiram tanaman-tanamanmu, tersenyum menyapa mereka, dan senyummu akan semakin merekah kala melihat bunga mawar milikmu bergoyang ditiup angin.
"Mawarku sayang, terima kasih telah membuat dunia terlihat indah."
Dan beberapa saat kemudian, kau akan berpikir untuk menanam tanaman baru. Kaktus mungkin?
Kau merindukan hari di mana kau akan mengambil tas belajaanmu dan dompetmu. Lalu, kau melangkah keluar rumah untuk pergi berbelanja di pasar swalayan yang ada di ujung blok. Sebelumnya tentunya kau sudah menyiapkan catatan belanja. Tidak perlu terburu-buru atau naik kendaraan. Kau hanya perlu berjalan santai sambil menyapa orang-orang di jalan. Terkadang kau akan berhenti cukup lama untuk bercakap-cakap dengan seorang nenek yang menjadi tetanggamu. Sesampainya di toko, kau akan langsung mengambil apa yang diperlukan (dan seringkali mencuri lihat apa yang kau inginkan).
Kau merindukan hari rabu untuk bazaar murah yang diadakan di blok sebelah, sebulan sekali. Kau akan begitu semangat untuk berkeliling melihat-lihat apa yang ingin kau beli. Kau yang mudah terpesona akan banyak hal akan kebingungan untuk menyeimbangkan budget yang kau punya dengan apa yang dibeli. Dan pada akhir hari, kau akan membawa pulang sebuah vas cantik, sebuah selendang musim semi, dan banyak buku lama. Oh, betapa kau menyukai hari bazaar!
Kau merindukan sore di mana kau akan berjalan berkeliling kompleks, hingga akhirnya berhenti di taman kota. Kau akan duduk di bangku taman sambil menikmati suasana sore. Kau akan memandang langit yang telah dihiasi semburat oranye dan merah muda. Dan kau berpikir kalau piknik sekali-sekali akan sangat menyenangkan.
Kau merindukan saat hari tertentu dalam setiap minggu kau akan mengunjungi perpustakaan atau museum. Kau bisa bertahan seharian di sana. Di perpustakaan, kau akan mengelilingi setiap rak hanya untuk melihat buku-buku apa saja yang ada, hingga akhirnya kau mengambil buku yang kau inginkan -- yang sebenarnya telah kau rencanakan sebelumnya. Di museum, kau akan berjalan pelan-pelan, meresapi dengan benar arti benda-benda berharga yang disimpan di tempat itu.
Kau merindukan di waktu malam, kau akan makan malam sambil menonton drama yang disiarkan di tv. Terkadang drama romantis, atau misteri, atau komedi, atau terkadang bisa juga drama tragedi. Lalu kau akan memutar musik-musik yang sedang digandrungi sambil merapikan sisa makan malam. Sebelum masuk kamar, kau akan menyempatkan diri pergi ke kebunmu dan menatap langit malam. Dan apabila saat itu adalah bulan November, kau akan dengan serius mencari rasi kesukaanmu, Cassiopeia. Dan mungkin tanpa sengaja kau juga akan menemukan Bintang Utara. Sebelum tidur, kau akan membaca buku, dan tiba-tiba kau membayangkan romanmu sendiri diceritakan.
Kau merindukan akan hari di mana kau bisa merealisasikan piknik. Kau akan bangun lebih pagi dan menyiapkan roti isi dan jus yang akan kau bawa. Oh, tidak lupa kue kering yang kau buat hari sebelumnya dan sebuah buku. Lalu kau akan menuju taman kota dan duduk di salah satu spot piknik di sana. Lalu kau akan merindukan hal lain, yaitu teman piknik.
Maka kau merindukan kebersamaan keluargamu. Kau tak pernah membutuhkan hadiah atau oleh-oleh dari mereka. Kau tak pernah butuh materi apapun yang diberikan mereka. Karena kau hanya butuh keberadaan mereka di sisimu, tertawa dan menangis, secara nyata berada di sekitarmu.
Kau merindukan dunia di mana porosnya adalah kau dan mereka, di sisimu tanpa kecuali, menemani setiap perjalananmu. Karena kau sebenarnya hanya seorang yang kesepian, yang terus berharap kebersamaan itu tidak akan bubar dan semua orang kembali menjalani kehidupannya masing-masing.
Kau merindukan kehidupan di mana setiap minggunya diisi dengan hal yang kau sukai atau hal yang sekedar ingin kau lakukan. Kau ingin membaca buku, menulis cerita, bermain piano, bermain biola, belajar berdansa, menyanyi, berkebun, pergi ke museum, pergi ke perpustakaan, belanja, menaiki ayunan di bawah pohon, merasa bebas seperti awan di langit.
Kau merindukan semua itu. Dunia yang berputar dengan lamban. Dunia tanpa kau harus bergegas mengejar waktu.
.
(Kau rindu akan kehidupan itu.
Kau merindukannya begitu dalam seolah-olah semuanya akan segera kau lupakan.
Kau merindukannya begitu dalam seolah-olah hal itu tidak pernah terjadi.
Kau merindukan kehidupan itu karena kehidupan itu tak pernah terjadi padamu.)
.
.
.
(Dan kau akhirnya berkata -- harus berkata -- pada dirimu sendiri, bahwa kehidupanmu sekarang jauh lebih indah daripada kehidupan yang kau rindukan.)
No comments:
Post a Comment