Sunday, 30 April 2017

Gadis yang Ditawan Takdir

Oleh: Devi J. G. Sahati
Salah satu bagian dari Seri Gadis yang…

Gadis itu tidak lagi bisa terbang. Sayap kanannya telah patah dan tak bisa digunakan lagi. Tidak bisa terbang adalah awal bencana untuk dirinya. Menjadi tumbal untuk sang putri adalah nasib pahit yang dilimpahkan padanya. Ditawan di sebuah menara tanpa jalan keluar adalah kekelaman yang dialaminya. Namun, pertarungan yang terjadi antara pengikut sang putri dan teman-temannya adalah yang menghancurkannya.
.
Gadis itu tak bisa melawan sihir sang jenderal yang menahannya. Sihir sang jenderal terlalu kuat baginya yang lebih sering menggunakan pedang sebagai perlawanan daripada sihirnya. Dia tak bisa berbuat banyak hingga akhirnya kehilangan kesadarannya. Yang bisa dipikirkannya saat kegelapan mulai menyelimutinya adalah keadaan teman-temannya.
Ketika gadis itu mendapatkan kembali kesadarannya, dia berada di sebuah ruangan bundar yang berukuran sedang. Gadis itu melihat ke sekelilingnya. Selain tempat tidur yang digunakannya sekarang, ruangan itu hanya berisi sebuah meja kecil di samping tempat tidur, sebuah lemari kecil di seberang tempat tidur, di sebelahnya terdapat jalan kecil dengan tangga menuju ke bawah, dan di antara tempat tidur dan lemari terdapat bagian dinding ruangan yang berfungsi layaknya jendela, terbuka dan berbentuk kotak. Semburat sinar masuk dari jendela itu. Dari sinar tersebut, gadis itu mengetahui kalau kemungkinan sekarang adalah menjelang pagi.
Tidak ada satu pun pintu di ruangan itu selain jalan kecil di lantai di samping lemari. Gadis itu bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke situ. Beberapa detik terdiam, langkah kakinya perlahan menuruni tangga dan menemukan sebuah ruangan yang lebih kecil yang berisi hal-hal yang berkaitan dengan kamar mandi. Tak ada satu pun pintu juga di ruangan itu.
Gadis itu mengerutkan wajahnya. Dia jelas-jelas disekap di tempat ini.
“Tapi, di mana ini?” bisiknya parau.
Gadis itu kembali ke ruangan sebelumnya. Cahaya dari luar menarik perhatiannya, maka dia berjalan mendekati jendela. Apa yang dilihatnya membuatnya membeku di tempat. Pemandangan yang terlihat adalah hutan lebat yang luas namun tembok tinggi yang mengelilingi hutan itu – yang bahkan mungkin lebih luas lagi – masih terlihat, yang membuatnya mengerti kalau dia berada di tempat yang sangat tinggi. Gadis itu merasakan dingin udara di sekelilingnya. Dia disekap di sebuah tempat tinggi tanpa tahu jalan keluar. Dia yang sudah tidak bisa terbang tak mungkin keluar dari tempat itu, karena nekat melompat pasti akan menyebabkan kematian tanpa ragu.
Dengan panik, gadis itu mencoba untuk keluar dari dunia ini dan kembali ke dunianya. Namun, dia terkejut saat usaha itu tidak berhasil. Seolah-olah dia ditolak sistem untuk pergi ke manapun. Dia tak bisa keluar dari dunia ini. Dia tak bisa kembali ke dunianya.
Untuk pertama kalinya, gadis itu merasakan ketakutan yang tak bisa dijelaskan. Dia tak pernah tahu kalau perasaan saat tak bisa keluar sangat mengerikan. Terjebak di dunia ini, di saat dia ditawan di tempat yang tak diketahuinya, dengan sayap yang tak bisa dipakai lagi, dia benar-benar merasa terjebak. Gadis itu tiba-tiba merasa tidak bisa bernapas, seolah-olah tubuhnya dikekang begitu erat sampat tidak bisa bernapas lagi.
Lututnya tertekuk dan dia terduduk di depan jendela. Gadis itu memeluk dirinya sendiri, berusaha menormalkan napasnya. Namun, itu tidak berhasil. Dia terus gemetar hebat dengan napas tersengal-sengal. Gadis itu berteriak pilu.
.
Entah berapa lama dia terduduk di depan jendela, hanya menatap kosong pemandangan di hadapannya. Napasnya sudah kembali normal, dan tubuhnya sudah tidak lagi gemetar. Tidak, lebih tepat jika dikatakan kalau energi dalam tubuhnya sudah habis karena ketakutan yang dialaminya. Gadis itu tidak memperhatikan rambutnya yang kini terurai, tidak memperhatikan sinar matahari yang masuk sudah jauh lebih terang daripada sebelumnya, bahkan panas matahari yang mengenai tubuhnya. Gadis itu seperti cangkang kosong.
Kesunyian yang menyelimuti tempat itu pada akhirnya buyar ketika cahaya biru tiba-tiba muncul dari belakang gadis itu. Cahaya itu perlahan lenyap dan menampakkan dua sosok, sang putri dan jenderalnya. Gadis itu dengan enggan melihat ke belakang. Emosi ketakutan dan amarah yang bertentangan tampak dalam matanya.
Sang putri berjalan mendekati gadis itu. Gadis itu mengernyit dan tanpa sadar mengambil langkah menjauh. Melihat itu, sang putri berhenti. Putri itu menatap sang gadis dalam diam, seolah-olah dia sedang melihat langsung ke dalam pikiran dan hati gadis itu. Kemudian, tatapannya berpindah melewati bahu sang gadis, melihat sayapnya. Tampak puas, sang putri menatap langsung ke wajah gadis tawanannya.
“Selamat datang di rumahku,” katanya.
Gadis itu tidak lagi bisa diam.
“Aku tidak tahu kalau rumahmu adalah tempat seperti ini,” balasnya sarkas, kali ini dengan menatap putri itu dengan sengit.
Sang putri tak menampilkan emosi apapun atas balasan gadis itu. Ekspresi wajahnya kalem dan tenang. Postur tubuhnya memperlihatkan kalau dia memang seorang yang pantas disebut sebagai putri peri. Dengan tubuh yang ramping, sedikit lebih tinggi dari sang gadis, rambutnya berwarna ungu periwinkle, senada dengan alis dan bulu mata yang lentik yang melindungi matanya yang mempunyai iris mata berwarna biru pucat. Gaun yang dikenakannya berwarna pistachio – gadis itu berpikir warna itu begitu suram dikenakannya – yang tidak begitu ramai dengan tambahan pita atau bros namun tetap terlihat cantik dikenakan sang putri.
Semua yang ada dalam diri sang putri menerbarkan aura elegan, keindahan, dan penuh kuasa, namun sayap dibahunya merusak semua itu. Sayap tersebut tidak begitu aneh sebenarnya, hanya terlihat lebih kecil dari sayap normal dan entah mengapa terasa lemah, seolah-olah sayap itu akan hancur tak bersisa jika dikepakkan. Sayap itu membuat sang putri terlihat begitu rapuh. Tapi sang gadis harus mengakui, itu tak bisa menghilangkan keindahan yang dimiliki sang putri
“Semua yang berada di daerah ini,” ucapan sang putri membuyarkan perhatian sang gadis dari inspeksinya – oh tidak, dia tidak terpesona akan penampilan sang putri – terhadap sang putri yang akhirnya muncul itu. “Adalah rumahku, rumah pengikutku. Tempat ini, hutan yang bisa kaulihat melalui jendela itu, juga tempat lain yang dikelilingi tembok di kejauhan sana, adalah rumah kami. Tentu saja istanaku juga ada di daerah ini.”
“Aku tak butuh diberitahu tentang istanamu. Yang ingin kuketahui adalah tempat apa yang mengurungku sekarang dan apa mau kalian?” tanya gadis itu.
Dia benar-benar ingin keluar dari tempat ini. Mungkin dia belum terlalu lama di sini, namun tak ada yang lebih diinginkannya selain keluar dari tempat ini dan kembali pada keluarga dan teman-temannya.
Sang jenderal, yang sejak kedatangannya dan sang putri hanya diam, melangkah ke sebelah sang putri. “Kau ada di sebuah menara milik kami. Menara ini berdiri tepat di tengah hutan yang sebagian bisa kau lihat lewat jendela di sebelahmu,” jelasnya.
Gadis itu tidak mengeluarkan balasan apapun. Maka sang jenderal pun melanjutkan penjelasannya.
“Hutan ini bernama Forasió dan hanya kami yang mengetahui jalan di hutan ini. Kau tidak akan bisa keluar dari menara ini karena menara ini tidak mempunyai jalan keluar selain jendela itu. Dan walaupun kau melompat lewat jendela itu dan tetap hidup, kau tak akan bisa menemukan jalan keluar dari hutan ini, apalagi melewati tembok yang mengelilinginya.”
“Jalan masuk dan keluar hanyalah dengan sihir. Sihir itupun hanya diketahui oleh kami. Aku tidak yakin kau dan orang-orang yang melawan kami mengetahui sihir itu, karena sihir itu sihir kuno yang digunakan saat dinasti kami masih memerintah di dunia ini. Sihir itu tak lagi digunakan di era kalian ini,” jelas jenderal itu. Nada bicaranya begitu dingin membuat gadis itu meremas tangannya.
“Mengapa kalian menginginkanku?” tanya gadis itu. Dia menundukkan kepalanya, membuat rambutnya terjatuh dan sedikit menutupi wajahnya.
“Kau adalah tumbal yang akan membuatku mendapatkan sayap baru,” kali ini sang putri kembali bicara. “Tidak, bukan hanya itu, melainkan takdir yang tak kumiliki di kehidupan lalu. Itu semua akan kau berikan padaku, sebagai seorang peri yang memiliki takdir tersebut.”
“Kau tak bisa berbuat seenakmu seperti itu! Siapa bilang aku akan membiarkanmu melakukannya?” teriak gadis itu.
“Aku bisa dan aku akan melakukannya. Kau tak akan bisa berbuat apapun untuk mencegahnya. Buktinya kau sekarang tersekap di menara ini. Lagipula, dengan sayapmu yang rusak, kau tak punya banyak pilihan,” kata sang putri, tetap dengan nada tenang.
Perkataan sang putri membuat gadis itu mengingat lukanya. Dia sudah tak bisa terbang. Dia bahkan berhasil dibawa dan disekap di tempat ini. Dirinya begitu lemah untuk melawan sang putri, apalagi dengan sang jenderal berada di sisi sang putri.
Mata biru pucat sang putri memperhatikan ekspresi kesedihan sang gadis. Takdir yang tak pernah dimilikinya kini berada tepat di hadapannya.
“Kau hanya perlu tinggal di sini dengan tenang. Aku tidak bisa langsung menghabisimu, karena akupun tak bisa dengan mudah melawan takdir begitu saja. Sampai saat itu tiba, kau akan tinggal di sini sementara kami membereskan orang-orang yang melawan kami,” ucap sang putri.
Gadis itu terkejut. Bukan hanya karena waktu yang dibutuhkan sang putri untuk mengorbankannya, tetapi lebih karena hal terakhir yang dikatakan sang putri. Orang-orang yang melawan sang putri pasti termasuk kakak dan teman-temannya. Dan mereka pasti cepat atau lambat akan menyadari ketidakhadirannya dan menghubungkannya dengan sang putri dan pengikutnya. Pertempuran pasti akan terjadi dan mereka akan terluka karenanya.
Tidak, gadis itu tidak menginginkan hal itu. Takdirnya tak boleh menyeret orang-orang yang disayanginya. Dia tak ingin mereka terluka.
“Jangan lakukan apapun terhadap mereka!” teriaknya. Namun nada memohon terdengar jelas dalam kalimat itu.
“Itu tergantung mereka sendiri. Kami sudah mendapatkan apa yang kami inginkan. Tapi, jika mereka dengan sombongnya tetap melawan kami, kami tak akan membiarkan itu,” balas sang jenderal.
Gadis itu rasanya ingin menangis.
Sang putri tidak lagi mengatakan apa-apa dan memberi isyarat pada jenderalnya untuk segera meninggalkan menara itu. Sang jenderal balas dengan menganggukkan kepalanya penuh hormat. Sebelum mengaktifkan sihirnya, sang jenderal kembali menatap gadis itu. Dia memperhatikan penampilan gadis itu. Berbeda dengan hari biasanya saat dia masih belum memberitahu identitasnya pada sang gadis, gadis itu kini terlihat begitu berantakan dan stres. Rambutnya terlihat tidak secerah biasanya, saat mereka berjalan di pinggir danau. Ekspresinya seperti sedang dilanda badai.
“Menara ini punya segala kebutuhan sehari-hari yang kau butuhkan,” jenderal itu mulai menjelaskan. “Kau punya pakaian di lemari kecil sana. Kau bisa memakai kamar mandi yang ada di lantai bawah ruangan ini, dan makanan akan selalu tersedia setiap saat untukmu. Jangan coba-coba berpikir untuk melukai dirimu agar kami tidak bisa menggunakanmu! Menara ini punya sihirnya sendiri untuk mencegah hal itu.”
Gadis itu tidak peduli semua itu. Dia hanya menatap mata sang jenderal. Pandangannya sarat akan luka pengkhianatan yang diakibatkan sang jenderal. Sang jenderal tidak mengindahkan hal tersebut. Setelah dia selesai menjelaskan hal-hal tadi, dia berbalik ke tempat sang putri kini berdiri dan mengaktifkan sihir yang membuat udara di sekitar mereka terasa dingin. Cahaya mulai muncul dan dengan sekejab cahaya itu menambah intensitasnya dan dalam sekejab juga cahaya itu memudar, menampilkan dua sosok yang tidak lagi berada di sana.
Gadis itu memandang tempat di mana sang putri dan jenderal terakhir berada selama beberapa saat. Keheningan kembali menyelimuti ruangan itu. Perlahan, gadis itu memalingkan kepalanya dan melihat ranjang di mana dia terbangun sebelumnya. Dia berjalan dengan pelan sampai mencapai ranjang dan berbaring di ranjang itu. Gadis itu memperhatikan langit-langit ruangan itu, dan tak sampai semenit, airmata mengalir dari kedua matanya. Gadis itu menangis dalam diam.
.
.
.
.
.
Finish


Cerita Dibalik Cerita
Cerita ini adalah lanjutan langsung dari Gadi yang Kehilangan Sayap. Cerita ini mulai meninggalkan sumber-sumber awal seri ini, walaupun tentu saja konsep dunia dan karakter-karakter masih berasal dari dua karya yang pernah dijelaskan. Cerita ini juga berbeda dengan cerita-cerita yang sudah ditulis sebelumnya, yaitu konversasi yang terjadi di cerita ini. Tentu saja gaya deskripsi tetap ada – karena itulah yang menjadi khas seri ini – tapi konversasi seperti itu dibutuhkan untuk perkembangan cerita.
Gadis peri di cerita ini adalah karakter yang disorot, dan ceritanya sendiri masih panjang. Ini hanyalah awal ceritanya saja. Gadis itu adalah salah satu karakter favorit seorang Devi. Tapi sayang sekali, menjadi karakter favorit bukan berarti ceritanya akan menjadi bahagia. Seringkali, seorang Devi memberikan takdir yang kejam untuk karakter-karakter kesukaannya.

Sang putri dan jenderalnya adalah karakter orisinal buatan Devi, sama seperti sorotan utama seluruh seri ini, gadis permata. Dan setelah menulis cerita ini, kelihatannya seorang Devi mulai menyukai karakter sang putri dan punya pikiran untuk menulis cerita dengan putri itu sebagai sorot utama, mungkin cerita masa lalunya. Tetapi seperti yang pernah ditulis sebelumnya, seri ini akan ‘melompat-lompat’, jadi bisa saja sorot utama cerita selanjutnya kembali pada gadis permata atau bahkan karakter lain, dengan sumber dari karya lain. Oh, tidak perlu merasa terkejut. Seorang Devi hanyalah manusia yang mudah terpesona dengan banyak hal, termasuk dengan cerita-cerita yang dibacanya.

No comments:

Post a Comment