Oleh: Devi J. G. Sahati
Salah satu bagian dari Seri Gadis yang…
Gadis itu tidak lagi bisa terbang. Sayap kanannya
telah patah dan tak bisa digunakan lagi. Tidak bisa terbang adalah awal bencana
untuk dirinya. Menjadi tumbal untuk sang putri adalah nasib pahit yang
dilimpahkan padanya. Ditawan di sebuah menara tanpa jalan keluar adalah
kekelaman yang dialaminya. Namun, pertarungan yang terjadi antara pengikut sang
putri dan teman-temannya adalah yang menghancurkannya.
.
Gadis itu tak bisa melawan sihir sang jenderal yang
menahannya. Sihir sang jenderal terlalu kuat baginya yang lebih sering
menggunakan pedang sebagai perlawanan daripada sihirnya. Dia tak bisa berbuat
banyak hingga akhirnya kehilangan kesadarannya. Yang bisa dipikirkannya saat
kegelapan mulai menyelimutinya adalah keadaan teman-temannya.
Ketika gadis itu mendapatkan kembali kesadarannya, dia
berada di sebuah ruangan bundar yang berukuran sedang. Gadis itu melihat ke
sekelilingnya. Selain tempat tidur yang digunakannya sekarang, ruangan itu
hanya berisi sebuah meja kecil di samping tempat tidur, sebuah lemari kecil di
seberang tempat tidur, di sebelahnya terdapat jalan kecil dengan tangga menuju
ke bawah, dan di antara tempat tidur dan lemari terdapat bagian dinding ruangan
yang berfungsi layaknya jendela, terbuka dan berbentuk kotak. Semburat sinar
masuk dari jendela itu. Dari sinar tersebut, gadis itu mengetahui kalau
kemungkinan sekarang adalah menjelang pagi.
Tidak ada satu pun pintu di ruangan itu selain jalan kecil
di lantai di samping lemari. Gadis itu bangkit dari tempat tidur dan berjalan
ke situ. Beberapa detik terdiam, langkah kakinya perlahan menuruni tangga dan
menemukan sebuah ruangan yang lebih kecil yang berisi hal-hal yang berkaitan
dengan kamar mandi. Tak ada satu pun pintu juga di ruangan itu.
Gadis itu mengerutkan wajahnya. Dia jelas-jelas
disekap di tempat ini.
“Tapi, di mana ini?” bisiknya parau.
Gadis itu kembali ke ruangan sebelumnya. Cahaya dari
luar menarik perhatiannya, maka dia berjalan mendekati jendela. Apa yang
dilihatnya membuatnya membeku di tempat. Pemandangan yang terlihat adalah hutan
lebat yang luas namun tembok tinggi yang mengelilingi hutan itu – yang bahkan
mungkin lebih luas lagi – masih terlihat, yang membuatnya mengerti kalau dia
berada di tempat yang sangat tinggi. Gadis itu merasakan dingin udara di
sekelilingnya. Dia disekap di sebuah tempat tinggi tanpa tahu jalan keluar. Dia
yang sudah tidak bisa terbang tak mungkin keluar dari tempat itu, karena nekat
melompat pasti akan menyebabkan kematian tanpa ragu.
Dengan panik, gadis itu mencoba untuk keluar dari
dunia ini dan kembali ke dunianya. Namun, dia terkejut saat usaha itu tidak
berhasil. Seolah-olah dia ditolak sistem untuk pergi ke manapun. Dia tak bisa
keluar dari dunia ini. Dia tak bisa kembali ke dunianya.
Untuk pertama kalinya, gadis itu merasakan ketakutan
yang tak bisa dijelaskan. Dia tak pernah tahu kalau perasaan saat tak bisa
keluar sangat mengerikan. Terjebak di dunia ini, di saat dia ditawan di tempat
yang tak diketahuinya, dengan sayap yang tak bisa dipakai lagi, dia benar-benar
merasa terjebak. Gadis itu tiba-tiba merasa tidak bisa bernapas, seolah-olah
tubuhnya dikekang begitu erat sampat tidak bisa bernapas lagi.
Lututnya tertekuk dan dia terduduk di depan jendela.
Gadis itu memeluk dirinya sendiri, berusaha menormalkan napasnya. Namun, itu
tidak berhasil. Dia terus gemetar hebat dengan napas tersengal-sengal. Gadis
itu berteriak pilu.
.
Entah berapa lama dia terduduk di depan jendela, hanya
menatap kosong pemandangan di hadapannya. Napasnya sudah kembali normal, dan
tubuhnya sudah tidak lagi gemetar. Tidak, lebih tepat jika dikatakan kalau
energi dalam tubuhnya sudah habis karena ketakutan yang dialaminya. Gadis itu
tidak memperhatikan rambutnya yang kini terurai, tidak memperhatikan sinar
matahari yang masuk sudah jauh lebih terang daripada sebelumnya, bahkan panas
matahari yang mengenai tubuhnya. Gadis itu seperti cangkang kosong.
Kesunyian yang menyelimuti tempat itu pada akhirnya
buyar ketika cahaya biru tiba-tiba muncul dari belakang gadis itu. Cahaya itu
perlahan lenyap dan menampakkan dua sosok, sang putri dan jenderalnya. Gadis
itu dengan enggan melihat ke belakang. Emosi ketakutan dan amarah yang
bertentangan tampak dalam matanya.
Sang putri berjalan mendekati gadis itu. Gadis itu
mengernyit dan tanpa sadar mengambil langkah menjauh. Melihat itu, sang putri
berhenti. Putri itu menatap sang gadis dalam diam, seolah-olah dia sedang
melihat langsung ke dalam pikiran dan hati gadis itu. Kemudian, tatapannya
berpindah melewati bahu sang gadis, melihat sayapnya. Tampak puas, sang putri
menatap langsung ke wajah gadis tawanannya.
“Selamat datang di rumahku,” katanya.
Gadis itu tidak lagi bisa diam.
“Aku tidak tahu kalau rumahmu adalah tempat seperti
ini,” balasnya sarkas, kali ini dengan menatap putri itu dengan sengit.
Sang putri tak menampilkan emosi apapun atas balasan
gadis itu. Ekspresi wajahnya kalem dan tenang. Postur tubuhnya memperlihatkan
kalau dia memang seorang yang pantas disebut sebagai putri peri. Dengan tubuh
yang ramping, sedikit lebih tinggi dari sang gadis, rambutnya berwarna ungu periwinkle, senada dengan alis dan bulu
mata yang lentik yang melindungi matanya yang mempunyai iris mata berwarna biru
pucat. Gaun yang dikenakannya berwarna pistachio
– gadis itu berpikir warna itu begitu suram dikenakannya – yang tidak begitu
ramai dengan tambahan pita atau bros namun tetap terlihat cantik dikenakan sang
putri.
Semua yang ada dalam diri sang putri menerbarkan aura
elegan, keindahan, dan penuh kuasa, namun sayap dibahunya merusak semua itu.
Sayap tersebut tidak begitu aneh sebenarnya, hanya terlihat lebih kecil dari
sayap normal dan entah mengapa terasa lemah, seolah-olah sayap itu akan hancur
tak bersisa jika dikepakkan. Sayap itu membuat sang putri terlihat begitu
rapuh. Tapi sang gadis harus mengakui, itu tak bisa menghilangkan keindahan
yang dimiliki sang putri
“Semua yang berada di daerah ini,” ucapan sang putri
membuyarkan perhatian sang gadis dari inspeksinya – oh tidak, dia tidak
terpesona akan penampilan sang putri – terhadap sang putri yang akhirnya muncul
itu. “Adalah rumahku, rumah pengikutku. Tempat ini, hutan yang bisa kaulihat
melalui jendela itu, juga tempat lain yang dikelilingi tembok di kejauhan sana,
adalah rumah kami. Tentu saja istanaku juga ada di daerah ini.”
“Aku tak butuh diberitahu tentang istanamu. Yang ingin
kuketahui adalah tempat apa yang mengurungku sekarang dan apa mau kalian?”
tanya gadis itu.
Dia benar-benar ingin keluar dari tempat ini. Mungkin
dia belum terlalu lama di sini, namun tak ada yang lebih diinginkannya selain
keluar dari tempat ini dan kembali pada keluarga dan teman-temannya.
Sang jenderal, yang sejak kedatangannya dan sang putri
hanya diam, melangkah ke sebelah sang putri. “Kau ada di sebuah menara milik
kami. Menara ini berdiri tepat di tengah hutan yang sebagian bisa kau lihat
lewat jendela di sebelahmu,” jelasnya.
Gadis itu tidak mengeluarkan balasan apapun. Maka sang
jenderal pun melanjutkan penjelasannya.
“Hutan ini bernama Forasió dan hanya kami yang
mengetahui jalan di hutan ini. Kau tidak akan bisa keluar dari menara ini
karena menara ini tidak mempunyai jalan keluar selain jendela itu. Dan walaupun
kau melompat lewat jendela itu dan tetap hidup, kau tak akan bisa menemukan
jalan keluar dari hutan ini, apalagi melewati tembok yang mengelilinginya.”
“Jalan masuk dan keluar hanyalah dengan sihir. Sihir
itupun hanya diketahui oleh kami. Aku tidak yakin kau dan orang-orang yang
melawan kami mengetahui sihir itu, karena sihir itu sihir kuno yang digunakan
saat dinasti kami masih memerintah di dunia ini. Sihir itu tak lagi digunakan
di era kalian ini,” jelas jenderal itu. Nada bicaranya begitu dingin membuat
gadis itu meremas tangannya.
“Mengapa kalian menginginkanku?” tanya gadis itu. Dia
menundukkan kepalanya, membuat rambutnya terjatuh dan sedikit menutupi
wajahnya.
“Kau adalah tumbal yang akan membuatku mendapatkan
sayap baru,” kali ini sang putri kembali bicara. “Tidak, bukan hanya itu,
melainkan takdir yang tak kumiliki di kehidupan lalu. Itu semua akan kau
berikan padaku, sebagai seorang peri yang memiliki takdir tersebut.”
“Kau tak bisa berbuat seenakmu seperti itu! Siapa
bilang aku akan membiarkanmu melakukannya?” teriak gadis itu.
“Aku bisa dan aku akan melakukannya. Kau tak akan bisa
berbuat apapun untuk mencegahnya. Buktinya kau sekarang tersekap di menara ini.
Lagipula, dengan sayapmu yang rusak, kau tak punya banyak pilihan,” kata sang
putri, tetap dengan nada tenang.
Perkataan sang putri membuat gadis itu mengingat
lukanya. Dia sudah tak bisa terbang. Dia bahkan berhasil dibawa dan disekap di
tempat ini. Dirinya begitu lemah untuk melawan sang putri, apalagi dengan sang
jenderal berada di sisi sang putri.
Mata biru pucat sang putri memperhatikan ekspresi
kesedihan sang gadis. Takdir yang tak pernah dimilikinya kini berada tepat di
hadapannya.
“Kau hanya perlu tinggal di sini dengan tenang. Aku
tidak bisa langsung menghabisimu, karena akupun tak bisa dengan mudah melawan
takdir begitu saja. Sampai saat itu tiba, kau akan tinggal di sini sementara
kami membereskan orang-orang yang melawan kami,” ucap sang putri.
Gadis itu terkejut. Bukan hanya karena waktu yang
dibutuhkan sang putri untuk mengorbankannya, tetapi lebih karena hal terakhir
yang dikatakan sang putri. Orang-orang yang melawan sang putri pasti termasuk
kakak dan teman-temannya. Dan mereka pasti cepat atau lambat akan menyadari
ketidakhadirannya dan menghubungkannya dengan sang putri dan pengikutnya.
Pertempuran pasti akan terjadi dan mereka akan terluka karenanya.
Tidak, gadis itu tidak menginginkan hal itu. Takdirnya
tak boleh menyeret orang-orang yang disayanginya. Dia tak ingin mereka terluka.
“Jangan lakukan apapun terhadap mereka!” teriaknya.
Namun nada memohon terdengar jelas dalam kalimat itu.
“Itu tergantung mereka sendiri. Kami sudah mendapatkan
apa yang kami inginkan. Tapi, jika mereka dengan sombongnya tetap melawan kami,
kami tak akan membiarkan itu,” balas sang jenderal.
Gadis itu rasanya ingin menangis.
Sang putri tidak lagi mengatakan apa-apa dan memberi
isyarat pada jenderalnya untuk segera meninggalkan menara itu. Sang jenderal
balas dengan menganggukkan kepalanya penuh hormat. Sebelum mengaktifkan
sihirnya, sang jenderal kembali menatap gadis itu. Dia memperhatikan penampilan
gadis itu. Berbeda dengan hari biasanya saat dia masih belum memberitahu
identitasnya pada sang gadis, gadis itu kini terlihat begitu berantakan dan
stres. Rambutnya terlihat tidak secerah biasanya, saat mereka berjalan di
pinggir danau. Ekspresinya seperti sedang dilanda badai.
“Menara ini punya segala kebutuhan sehari-hari yang
kau butuhkan,” jenderal itu mulai menjelaskan. “Kau punya pakaian di lemari
kecil sana. Kau bisa memakai kamar mandi yang ada di lantai bawah ruangan ini,
dan makanan akan selalu tersedia setiap saat untukmu. Jangan coba-coba berpikir
untuk melukai dirimu agar kami tidak bisa menggunakanmu! Menara ini punya
sihirnya sendiri untuk mencegah hal itu.”
Gadis itu tidak peduli semua itu. Dia hanya menatap
mata sang jenderal. Pandangannya sarat akan luka pengkhianatan yang diakibatkan
sang jenderal. Sang jenderal tidak mengindahkan hal tersebut. Setelah dia
selesai menjelaskan hal-hal tadi, dia berbalik ke tempat sang putri kini berdiri
dan mengaktifkan sihir yang membuat udara di sekitar mereka terasa dingin.
Cahaya mulai muncul dan dengan sekejab cahaya itu menambah intensitasnya dan
dalam sekejab juga cahaya itu memudar, menampilkan dua sosok yang tidak lagi
berada di sana.
Gadis itu memandang tempat di mana sang putri dan
jenderal terakhir berada selama beberapa saat. Keheningan kembali menyelimuti
ruangan itu. Perlahan, gadis itu memalingkan kepalanya dan melihat ranjang di
mana dia terbangun sebelumnya. Dia berjalan dengan pelan sampai mencapai
ranjang dan berbaring di ranjang itu. Gadis itu memperhatikan langit-langit
ruangan itu, dan tak sampai semenit, airmata mengalir dari kedua matanya. Gadis
itu menangis dalam diam.
.
.
.
.
.
Finish
Cerita Dibalik Cerita
Cerita
ini adalah lanjutan langsung dari Gadi yang Kehilangan Sayap. Cerita ini mulai
meninggalkan sumber-sumber awal seri ini, walaupun tentu saja konsep dunia dan
karakter-karakter masih berasal dari dua karya yang pernah dijelaskan. Cerita
ini juga berbeda dengan cerita-cerita yang sudah ditulis sebelumnya, yaitu
konversasi yang terjadi di cerita ini. Tentu saja gaya deskripsi tetap ada –
karena itulah yang menjadi khas seri ini – tapi konversasi seperti itu
dibutuhkan untuk perkembangan cerita.
Gadis
peri di cerita ini adalah karakter yang disorot, dan ceritanya sendiri masih
panjang. Ini hanyalah awal ceritanya saja. Gadis itu adalah salah satu karakter
favorit seorang Devi. Tapi sayang sekali, menjadi karakter favorit bukan
berarti ceritanya akan menjadi bahagia. Seringkali, seorang Devi memberikan
takdir yang kejam untuk karakter-karakter kesukaannya.
Sang
putri dan jenderalnya adalah karakter orisinal buatan Devi, sama seperti
sorotan utama seluruh seri ini, gadis permata. Dan setelah menulis cerita ini,
kelihatannya seorang Devi mulai menyukai karakter sang putri dan punya pikiran
untuk menulis cerita dengan putri itu sebagai sorot utama, mungkin cerita masa
lalunya. Tetapi seperti yang pernah ditulis sebelumnya, seri ini akan
‘melompat-lompat’, jadi bisa saja sorot utama cerita selanjutnya kembali pada
gadis permata atau bahkan karakter lain, dengan sumber dari karya lain. Oh,
tidak perlu merasa terkejut. Seorang Devi hanyalah manusia yang mudah terpesona
dengan banyak hal, termasuk dengan cerita-cerita yang dibacanya.
No comments:
Post a Comment