Saturday, 16 June 2018

Surat 19.5: From Fíla To Helen

Helen tersenyum. Surat dari gadis itu masih dapat membuatnya bersemangat, entah mengapa. Dan dia pun merasa menyesal karena surat tersebut harus tersedot distorsi dimensi dan gagal tersampaikan padanya sampai saat ini. Sekali lagi dia bersyukur karena mereka membangun Irregular’s Border dan mempunyai Odille sebagai inti sistemnya.
Dia memindahkan atensinya pada surat yang kedua. Menurut Odille, surat ini belum terlalu lama dikirimkan. Mungkin, karena itulah surat yang pertama dapat disadari keberadaannya oleh Odille.
“Surat yang kedua, kah?”
Dan Helen mulai membacanya.
…..

Untuk Helen yang kurindukan,

Sudah hampir setahun sejak surat terakhir untukmu, dan sampai saat ini kau belum membalasnya. Aku di sini baru saja memasuki musim panas. Itu artinya sudah setahun yang lalu kita mulai saling berkirim surat. Apa kau sehat-sehat saja? Apa yang sedang kau lakukan saat ini? Aku tidak ingin menulis ini, tapi mengapa kau tidak lagi membalas suratku?
Aku akhirnya telah menyelesaikan studiku di bangku kuliah. Hehe, butuh usaha yang keras dan waktu yang lebih lama dari yang kupikirkan, tapi itu semua ternyata cukup menyenangkan jika diingat kembali. Aku sadar ada hal-hal yang seharusnya kulakukan lebih baik lagi, dan ini mungkin terdengar seperti pembelaan, tapi bagiku itu tak menjadi masalah karena aku sudah berusaha. Dan aku juga lega karena aku tidak berbohong kalau aku pasti akan menyelesaikannya. Dan oh, aku lulus saat musim semi yang lalu.
Sejujurnya, aku merasa itu bukan hal yang begitu besar karena aku sendiri sudah begitu yakin sejak dulu kalau aku akan tetap lulus. Tapi, orang-orang di sekelilingku begitu gembira dan memberi selamat. Jadi, aku juga bergembira karenanya. Akan sangat buruk jika aku tidak menanggapinya dengan rasa gembira yang sama.
Aku dulu pernah mengatakan di beberapa suratku sebelumnya kalau ada banyak hal yang ingin kulakukan setelah lulus. Karena itulah, dengan kejujuran dan sedikit (banyak) perasaan tak enak (malu), aku memberitahumu kalau apa yang kulakukan sekarang hanya tidur, makan, membaca, menonton, dan bermain. Benar-benar melakukan apa yang disebut liburan di rumah. Uaahh, terdengar memalukan. Aku benar-benar seorang NEET sekarang. Seharusnya aku melakukan hal bermanfaat lain, atau setidaknya berlibur dengan kegiatan yang lebih mendebarkan di luar sana. Tapi, sampai sekarang aku masih seorang gadis kecil yang tak punya kebebasan seperti itu. 
Kau pasti berpikir kenapa aku tidak mencari pekerjaan jika memang butuh sesuatu untuk dilakukan, apalagi karena aku memang sudah lulus. Aku sementara mencari, kok. Sudah beberapa lamaran kukirimkan untuk beberapa perusahaan. Tapi, kalau mau jujur, aku sendiri tidak begitu yakin akan diterima. Ya ampun, padahal aku tak ingin menceritakan hal ini. Sungguh memalukan! Tapi, aku juga sedang mencari universitas di luar untuk melanjutkan studiku, kok. Jadi, jangan berpikir buruk dulu.
Masalahnya, aku belum yakin mau mengambil jurusan apa nanti. Ada begitu banyak yang ingin kupelajari, dan aku ingin meyakini kalau passion harus menjadi yang terpenting. Tapi, aku juga tidak naif dan tahu kalau aku harus memikirkan jurusan yang akan mendukung pekerjaanku nanti. Dan hal itu membuatku merasa hampa. Awalnya, setelah kelulusan hari-hariku terasa menyenangkan karena aku bisa melakukan hal yang kusukai tanpa merasa terbebani dengan studiku. Tapi, lama-kelamaan, waktu kembali menjadi menakutkan, dan tanpa kusadari semuanya tiba-tiba menjadi hampa…
Aku jadi sadar kalau aku masih belum punya ide tentang akan jadi seperti apa masa depanku nanti, karena sampai saat ini, aku masih belum menjadi apa-apa. Aku tahu kalau tak ada gunanya merasa terburu-buru dan kalau aku sebenarnya tidak perlu merasa seperti itu. Hanya saja, sementara aku sendiri yakin kalau buru-buru memutuskan apa yang harus kulakukan adalah ide yang buruk, waktu yang kumiliki untuk memutuskannya sedikit demi sedikit semakin habis. Dan, itu menakutkan.
Orang-orang di sekitarku seakan berteriak kepadaku untuk berlari lebih cepat. “Ketika masa depan tidak pasti, tidak seharusnya kau hanya berdiri diam di sana!” begitu teriak mereka. Matahari masih terbit dari timur, teriknya masih senantiasa menyinariku, musim masih terus berganti. Dunia ini masih tetap sama. Namun, di saat yang bersamaan, semuanya terus berubah. Dan di tengah kontradiksi itu, aku masih tetaplah aku.
Ada banyak hal yang harus kuputuskan, dan hal-hal tersebut takkan menungguku. Aku merasa dunia dan yang ada di dalamnya lewat begitu saja di hadapanku dan meninggalkanku begitu saja. Dan aku kesepian dan ketakutan…
Maaf, ya, padahal sudah lama tidak menulis surat untukmu, dan yang kutulis malah hal menyedihkan seperti ini. Tapi, bahkan surat-menyurat inipun mungkin akan berakhir. Aku tidak tahu apa kau akan membalas surat ini, karena surat sebelumnya belum kau balas. Tapi, aku sungguh-sungguh tidak marah atau kesal padamu. Mungkin sedikit sedih, tapi tidak marah. Bukan hanya aku yang punya banyak hal yang harus dipikirkan. Jadi, kau tak perlu memaksakan diri untuk membalas surat ini. Sungguh, aku hanya ingin menuliskannya saja.
Kuharap kau dan yang lainnya baik-baik saja. Dan berapa pun musim yang berganti, waktu yang terlewati, rasa senang atas surat-menyurat ini masih akan tetap kujaga baik-baik. Dah…

Yang sedang melihat awan gelap,
Fíla

Wednesday, 13 June 2018

Surat 19: From Fíla To Helen

Helen memegang dua surat. Dua surat dari gadis yang tinggal di suatu dunia.
Ah, dia pernah saling mengirim surat dengan gadis di suatu dunia lain, begitu pikirnya.
Odille baru saja menyerahkan dua surat untuknya. Padahal, setelah rapat dengan para Irregular lain, dia ingin segera beristirahat. Tapi, Odille tiba-tiba memintanya untuk datang ke Irregular’s Border. Kata Odille, surat itu sudah cukup lama terombang-ambing di dalam distorsi dimensi, dan baru sekarang ditemukan. Itupun ditemukan dengan kekuatan Odille.
Surat yang pertama sudah sejak tahun lalu. Surat balasan untuk surat terakhir yang ditulisnya lalu.
…..

To Helen,

Aku baik-baik saja (saat ini). Terima kasih untuk harapanmu. Ya ampun, sepertinya kita tak bisa membohongi realita kehidupan, ya? Padahal aku ingin bisa membalas suratmu secepat-cepatnya, seperti sebelumnya, tapi tetap saja tidak bisa. Aku tak akan minta maaf karena kita sudah membicarakan hal ini sebelumnya, jadi aku akan menceritakan apa penyebab aku tidak bisa cepat-cepat membalas suratmu.
Aku sempat beberapa kali jatuh sakit. Entah mengapa, akhir-akhir ini aku gampang sekali sakit. Berat badanku pun agak berkurang. Tapi, sekarang sudah baik-baik saja, jadi kau tidak perlu khawatir. Hanya saja, akibatnya aku jadi kehilangan banyak waktu untuk mengerjakan urusan studiku. Apalagi ini sudah akhir musim panas, jadi aku dengan berat hati mengucapkan selamat tinggal pada rencana yang telah kususun sebelumnya.
Ah, tapi bukan berarti aku menyerah. Aku tetap masih berusaha menyelesaikan segalanya di sini. Aku pernah bilang pada orang tuaku, kalau hanya di bidang inilah kelebihanku, dan aku tidak bohong, jadi akan kutunjukkan hasilnya nanti! Ada banyak hal yang kunantikan setelah menyelesaikan studiku ini, jadi menyerah bukanlah pilihan. Sama sekali bukan!
Mengenai apa yang kau kerjakan, aku harap semuanya berjalan lancar. Kau gadis yang baik, Helen, dan kau pantas mendapat kebahagiaan yang kau inginkan. Aku harap kau dapat mengerjakan semuanya dengan baik. Kau tahu, aku sebenarnya berharap kalian tidak mengisolasi diri kalian di manapun kalian berada sekarang, karena dengan begitu maka ada kemungkinan kalian akan ke duniaku dan kita dapat bertemu.. tapi, tidak apa, aku tak akan meminta hal egois seperti itu.
Ugh, Snow in the Summer terdengar bukan cerita yang akan kusukai. Pasti ada character death, kan? Oh, aku benci hal itu! Mungkin terdengar naif, tapi kalau bisa aku memilih sama sekali tidak ada karakter yang meninggal dalam suatu cerita. Tapi, tentu saja tidak bisa. Bukan aku yang menulis cerita itu, dan sekalipun aku menulis suatu cerita, pasti ada saja yang membuatku harus menulisnya untuk perkembangan cerita. Dunia ini kejam, bahkan untuk fiksi sekalipun!
Kau ingin mengetahui cerita yang kubuat? Sebenarnya, aku sudah pernah menulis beberapa cerita, tapi tak pernah bisa kuselesaikan. Huaaa, tiba-tiba aku merasa lemas. Maafkan diriku yang payah ini… Tapi, setidaknya cerita-cerita itu bisa masuk ke Perpustakaan Ajaib Bibbi Bouken, hehe. Ah, Perpustakaan Ajaib Bibbi Bouken adalah novel yang kubaca beberapa minggu lalu. Ceritanya mengasikkan sekali! Aku, dengan penuh kegigihan, merekomendasikan ini untuk siapa saja yang ingin bacaan buku yang bagus. Dan ini bisa dibaca oleh anak-anak maupun orang dewasa! Dan lagi, ceritanya mirip kita berdua, saling berkirim surat. Sungguh, itu novel yang bagus!
Wah, orang yang kauceritakan itu terdengar benar-benar menakjubkan. Aku sendiri tidak biasa dengan pakaian-pakaian mewah dan sebagainya, tapi aku tahu seperti apa pakaian-pakaian itu. Pasti menyenangkan sekali bisa mengenalnya. Yah, walaupun kalian sempat melewati kesulitan terlebih dahulu, tapi itu terbayarkan karena bisa mengenalnya. Dunia penuh taman bunga, ya? Aku menyukai tumbuhan, dan aku yakin dunia itu pastilah sangat indah.
Menyenangkan sekali bisa membaca dan membayangkan seperti apa dunia yang kau lihat. Aku bisa membayangkan bagaimana kalian bermain basket atau sepakbola, atau piknik bersama di taman. Aku juga sering melihat teman-temanku bermain basket di sore hari, atau jalan-jalan ke luar kota bersama mereka, atau makan bersama keluarga besarku di siang hari yang indah. Itu hal yang sederhana namun luar biasa! Dan kau juga punya hari-hari seperti itu. Dunia ini penuh misteri, ya?
Aku masih harus belajar dan mengerjakan tugasku, jadi sampai di sini dulu. Aku selalu menunggu surat darimu, Helen. Sampai jumpa di surat berikutnya!

Yours truly,
Fíla