#01: "Mune ga Dokidoki" by the High-Lows (eps 1-30)
#02: "Feel Your Heart" by Velvet Garden (eps 31-52)
#03: "Nazo" by Miho Komatsu (eps 53-96)
#04: "Unmei no Roulette o Mawashite" by ZARD (eps 97-123)
#05: "Truth" by Two-Mix (eps 124-142)
#06: "Girigiri Chop" by B'z (eps 143-167)
#07: "Mysterious Eyes" by Garnet Crow (eps 168-204)
#08: "Koi wa thrill, shock, suspense" by Rina Aiuchi (eps 205-230)
#09: "Destiny" by Miki Matsuhashi (Eps 231-258)
#10: "Winter Bells" by Mai Kuraki (eps 259-270)
#11: "I can't stop my love for you" by Rina Aiuchi (eps 271-305)
#12: "Kaze no Lalala" by Mai Kuraki (eps 306-332)
#13: "Kimi to Yakusoku Shita Yasashii Ano Basho Made" by U-ka Saegusa (eps 333-355)
#14: "Start" by Rina Aiuchi (eps 356-393)
#15: "Hoshi no Kagayakiyo" by ZARD (eps 394-414)
#16: "Growing of My heart" by Mai Kuraki (eps 415-424)
#17: "Shoudou" by B'z (eps 425-437)
#18: "100 Mono Tobira " by Rina Aiuchi & U-ka Saegusa (eps. 438-456)
#19: "Kumo ni Notte (Ride on the Clouds)" by U-ka saegusa IN db (eps 457-474)
#20: "Namida no Yesterday" by Garnet Crow (eps 475-486)
#21: "Glorious Mind" by ZARD (eps 487-490)
#22: "Ai wa Kurayami no Naka de" by ZARD (eps 491-504)
#23: "Ichibyō goto ni Love for you" by Mai Kuraki (eps 505-514)
#24: "MYSTERIOUS" by Naifu (eps 515-520)
#25: "Revive" by Mai Kuraki (eps 521-529)
#26: "Everlasting Luv" by BREAKERZ (eps 530-546)
#27: "Magic" by Rina Aiuchi (eps 547-564)
#28: "As the Dew" by Garnet Crow (eps 565-582)
#29: "Summer Time Gone" by Mai Kuraki (eps 583-601)
#30: "Tear Drops" by Caos Caos Caos (eps 602-612)
#31: "Don't Wanna Lie" by B'z (eps 613-626)
#32: "Misty Mystery" by Garnet Crow (eps 627-)
Friday, 24 February 2012
Saturday, 18 February 2012
Magical Light Chapter 9
Beberapa minggu berlalu sejak wawancara yang mereka jalani waktu lalu. Tidak ada yang berbeda dari sikap mereka. Kelihatannya mereka sudah terbiasa dengan situasi yang bisa dibilang aneh dan rumit.
Saat jam pelajaran terakhir, Clara masuk ke kelas perwakilannya, kelas 1-5. Semuanya memandangnya bingung. Mereka heran kenapa Clara masuk padahal dia tidak mempunyai jam mengajar di kelas itu hari ini.
Di tangannya, Clara membawa tiga map sedang berwarna hitam. Clara menyadari tatapan siswanya-siswanya. Dia meletakkan mapnya di meja. Dia lalu menghadap murid-muridnya dan membalas tatapan mereka. “Kalian pasti bingung kenapa saya ada di sini. Saya meminjam jam ini untuk menyampaikan sesuatu yang penting pada kalian.”
Clara berhenti sebentar dan melihat reaksi mereka. Karena mereka tetap diam, Clara pun melanjutkan, “Akhirnya data tempat kalian akan dikirim sudah keluar. Dan sekarang saya akan menyampaikan pembagian tempat kalian. Jadi, kumohon agar kalian memperhatikan dan mendengarkannya baik-baik” ucap Clara.
Dia lalu duduk dan membuka map pertama. “Oh ya, kalian akan dibagi menjadi tiga kelompok. Dan kelompok yang pertama, yaitu Dian, Ema, Izumi, Karin, Gamu, Hachi, Takumu, Okuni, Ian, dan Nathan. Kalian akan ditempatkan di kota Gix. Ini data mengenai kota itu.” Clara memberikannya pada Ian. Ian pun membagikannya pada teman-teman yang sekelompok dengannya.
Clara mengambil map kedua dan membukanya. Clara terdiam sebentar sebelum membaca data kelompok dua. “Kelompok dua terdiri dari Finny, Cindy, Isami, Nao, Honoko, Perona, Catty, Cella, Takeshi, Chrysan, Dain, Kawada, Mika, dan Heart. Kalian akan ditempatkan di kota Noficta.” Jelas Clara.
“Biar aku saja yang mengambil datanya” ucap Nao.
Tapi Heart langsung menahannya. “Tidak usah. Biar aku yang mengambilnya.” Ucap Heart. Nao mengangguk. Dia lalu berjalan ke meja Clara dan mengambil data itu. Dia lalu membagikannya pada teman-temannya.
“Baiklah, kita lanjutkan ke kelompok terakhir.” Clara lalu membuka map terakhir. “Kelompok 3 terdiri dari Light, Melodi, Anzu, Mei, Oichi, Aini, Gabu, Midori, Ciel, Raven, Daigo, Mayuko, Lily, dan Ryou. Kalian akan ditempatkan di kota Lysidas”. Daigo bangkit dari duduknya dan mengambil data itu. “Bacalah data itu! Kalian dapat menentukan sendiri apa yang akan kalian lakukan di sana” lanjut Clara.
“Benarkah?”
“Ya. Karena itu pikirkanlah baik-baik! Besok kalian berikan laporan tentang renca kalian di sana. Kami yang akan mengurus tempat tinggal kalian. Minggu depan kalian akan berangkat. Persiapkan diri kalian baik-baik!” jelas Clara. Mereka semua mengangguk.
“Eh, kami semua akan berangkat, itu berarti nilai ujuian kami bagus, kan?” tiba-tiba Okuni bertanya.
Clara terlebih dulu tersenyum. “Ya. Kalian sudah belajar dengan baik”. Mereka semua tersenyum mendengar hasil yang dicapai mereka memuaskan. “Baiklah. Kalian sudah bisa pulang” Clara mengakhiri jam sekolah mereka. Dia lalu ke luar dari kelas itu.
‘Hihihi’ terdengar tawa pelan dari Light.
“Ng, ada apa Light?” tanya Anzu.
“Tidak. Aku hanya jadi semangat sekali! Soalnya kelihatannya hari-hari ke depan nanti akan sangat menarik!” ucap Light antusias. Teman-temannya tersenyum.
“Hmm, aku juga berpikir begitu. Jadi tak sabar!” sahut Melodi ceria.
“Kalau begitu, lebih baik kita cepat menentukan apa yang akan kita lakukan di sana!”. Daigo lalu membuka map mereka dan mengeluarkan kertas yang berisi data-data tentang kota itu.
“Hei Raven, sayang ya kita tidak berada di kelompok yang sama,” ucap Takeshi sambil menepuk pundak Raven. Mereka duduk tidak terlalu jauh dari tempat Light dan kelompoknya.
Raven membalikkan badan untuk melihat Takeshi yang duduk di belakangnya. “Haha. Apa boleh buat, kan? Aku juga tidak harus selalu sekelompok dengan kalian, kan?” tanggap Raven.
Takeshi tertawa. “Hahaha. Kau benar. Kalau begitu, bukankah sebaiknya kau ke tempat mereka?”. Takeshi menunjuk Light dkk. “Sepertinya mereka sedang membicarakan tentang renca kelompok kalian di sana. Kau kan bagin dari kelompok. Sebaiknya kau ke sana,” saran Takeshi.
“Hn, baiklah. Kalau begitu, aku ke sana dulu” Raven meninggalkan Takeshi dan berjalan menuju kelompoknya. Takeshi hanya mengangguk dan beranjak ke luar kelas.
“Hei, boleh aku bergabung?” Raven menyapa mereka.
“Hai Raven! Tentu saja boleh. Kami sedang membicarakan tentang rencana kita di sana” jelas Daigo. Raven lalu duduk di sebelahnya.
Mei mengambil salah satu data dan memberikannya pada Raven. Raven membacanya sebentar. “Bagaimana pendapatmu?” tanya Aini.
“Hmm, kota Lysidas itu kota yang kecil yang letaknya agak jauh dari kota lain. Dan penduduknya juga tak terlalu padat” tanggap Raven.
“Dan kota kecil itu juga dikelilingi oleh hutan” tambah Ciel.
Tiba-tiba Light memajukan tubuhnya. “Bagaimana kalau kita bekerja di sebuah peternakan? Di sini ada data tentang pekerjaan itu,” Light mengutarakan idenya. Dia memperlihatkan data tentang sebuah peternakan yang ada di kota itu. Nama peternakan itu adalah Cadena Farm.
Cadena Farm adalah sebuah peternakan yang cukup besar untuk ukuran kota Lysidas yang kecil. Hewan-hewan yang diternakkan di situ adalah hewan ternak seperti biasanya, yaitu sapi, domba, ayam, dan kuda. Di sana juga terdapat lahan untuk menanam berbagai tanaman. Peternakan itu penting bagi keseharian kota kecil seperti Lysidas. Hasil peternakan dari Cadena Farm akan dijual di kota itu. Sebagian lagi akan dijual di kota-kota lain.
“Katakan padaku Light, kenapa kau memilih peternakan itu?” tanya Ciel yang lalu mengambil data Cadena Farm dari Light.
“Sejujurnya, aku tidak punya alasan istimewa memilih peternakan. Aku hanya merasa pasti menyenangkan bisa bekerja di sebuah peternakan. Lagipula, aku sangat ingin menaiki kuda-kuda yang ada di sana!” jawab Light senyum gembira terpatri di wajahnya.
“Tapi, apa pekerjaan di peternakan itu tidak terlalu berat? Kita kan harus mengurus hewan-hewan di sana,” tukas Lily.
“Dan sekarang kan sudah mau musim dingin. Bagaimana kalau kita tidak sanggup mengurus hewan-hewan itu dan mereka malah dakit dan mati?!” tambah Aini dengan tampang yang dibuat-buat terlalu khawatir.
“Apa sih kalian ini!? Jangan berkata yang aneh-aneh, deh! Memangnya nanti akan seburuk itu?!” seru Daigo.
“Kalian ini…” Ciel hanya bisa menggelengkan kepalanya menanggapi teman-temannya yang berlebihan.
“Tapi pekerjaan di sebuah peternakan itu memang berat. Kita harus memberi makan hewan-hewan, memandikan mereka, membersihkan kandang mereka, menyiram tanaman, dll. Apa kita bisa?” Anzu menimpali.
Melodi menghadap Light. “Bagaimana ini?”. Light memanyunkan bibirnya, mengomel.
“Kurasa tidak akan sesulit itu,” Raven akhirnya mengomentari. Yang lain langsung menatap Raven, meminta penjelasan dari perkataannya tadi. Raven melanjutkan, “Di sana nanti kan kita tidak bekerja sendiri-sendiri. Kita kan tim. Kita bisa mengerjakannya bersama-sama. Dengan begitu, pekerjaannya tak akan terasa begitu berat, kan?”. Semuanya diam, hanyut dalam pikiran sesaat.
Akhirnya Ciel angkat bicara, “Itu benar! Kita tidak akan mengerjakan semuanya sendirian. Kita akan saling membantu!”.
“Aku setuju!!” seru Melodi.
“Begitu pun aku. Bagaimana yang lain?” kali ini Anzu.
Sepi, tak ada yang menjawab. Tak lama lalu mereka serempak mengangguk. Hal ini membuat Light menyeringai dan melompat kegirangan. “HOREE!!”. Yang lain hanya bisa tertawa melihat tingkah Light yang begitu senang.
“Jadi sudah diputuskan?”
“Ya!” mereka semua menyahut.
“Kalau begitu, lebih baik sekarang kita membuat laporannya,” ajak Raven.
Ciel menatap jam tangannya. “Tapi ini sudah jam lima lewat! Tidakkah sebaiknya kita mengerjakan laporannya di rumah saja?” ucap Ciel.
“Benar juga. Tapi di rumah siapa?” tanya Light.
“Bagaimana kalau di rumahku?” Ciel menawarkan.
Mereka saling berpandangan. “Boleh!” jawab mereka serempak.
“Kalau begitu, ayo! Lebih cepat menyelesaikan laporannya, lebih cepat kita bisa beristirahat” seru Melodi. Tanpa membuang waktu, mereka langsung membereskan barang-barang mereka dan ke luar dari kelas.
Di koridor, mereka berpapasan dengan Heart. Light dkk menyapa Heart dan Heart membalasnya singkat. Mereka terus berjalan melewati Heart. Tapi tidak dengan Raven yang berjalan paling belakang.
Raven berhenti sebentar di sebelah Heart. “Kau belum pulang Heart?” tanyanya.
“Kau lihat sendiri, kan?” balas Heart sarkastik. Dia tak mau menatap Raven.
“Kau menungguku?” Raven tak menghiraukan nada bicara Heart.
“…”
“Maaf. Aku tahu ini membuatmu kesal, tapi aku tak bisa pulang denganmu hari ini. Aku masih harus membuat laporan dengan kelompokku. Tak apa, kan?” ucap Raven dengan hati-hati. Dia tak ingin membuat Heart marah. Bagaimana pun Heart belum pulang karena menungguinya.
Heart akhirnya mau menatap Raven. “Tak apa. Kalau begitu, aku pulang duluan. Bye…” Heart segera melenggang pergi dan meninggalkan Raven. Raven menatap punggung Heart sampai akhirnya Heart menghilang dari pandangannya. Dia menghela napas dalam dan beranjak menyusul kelompoknya yang sudah berjalan duluan.
.
Hanya butuh 20 menit untuk sampai ke rumah Ciel dari sekolah dengan berjalan kaki. Mereka tak ingin membuang waktu dan langsung membuat laporan itu. Tak terlalu sulit membuat laporannya. Mereka hanya perlu menuliskan apa yang akan mereka lakukan di sana beserta alasannya.
Benar saja. Mereka menyelesaikannya tak lebih dari satu jam. Sebenarnya mereka masih ingin bercakap-cakap lebih lama. Tapi karena matahari sudah lama terbenam, mereka memutuskan untuk segera pulang. Ciel dan Melodi mengantar mereka sampai di depan rumah Ciel.
“Eh, Melodi, kau tidak pulang?” Aini bertanya saat dia sadar Melodi tidak membereskan barang-barangnya.
“Oh, tidak perlu khawatir. Rumahku kan hanya bersebelahn. Itu rumahku!”, Melodi menunjuk ke arah rumah di sebelah rumah Ciel, rumahnya. Mereka melihat ke arah yang ditunjuk Melodi.
“Jadi itu rumahmu?”. Melodi mengangguk.
“Wah, seru ya,” tukas Lily.
“Sudah, sudah. Lebih baik kita pulang sekarang! Kita masih harus bersiap untuk sekolah besok, kan?” ujar Daigo.
“Okay! Kalau begitu, kami pulang dulu Ciel, Melodi” Light pamit.
“Ya. Hati-hati di jalan!” balas Ciel.
Ciel dan Melodi menunggu sampai teman-temannya berbelok dan menghilang dari pandangan. Ciel sudah mau beranjak saat dia menyadari Melodi masih diam di situ. “Melodi, ada apa? Kau belum mau masuk?” tanya Ciel.
Melodi agak kaget dan memandang Ciel. “Oh! Tidak. Aku hanya sedang melihat bintang” jawab Melodi.
Ciel menengadah ke atas. “Bintang malam ini terlihat jelas” gumam Ciel. Melodi mengangguk.
Langit malam yang bertatakan berlian mungil malam. Angin lembut datang membawa kabar. Musim dingin akan segera tiba.
.
.
.
.
.
Catatan Penulis (Devi J. G. Sahati)
Selama beberapa bulan tersendat-sendat dengan chapter ini, akhirnya aku bisa menyelesaikannya juga. Huff. Begitu banyak yang harus kulakukan sampai-sampai tidak bisa melanjutkan chapter ini selama dua tiga bulan. Padahal maunya setiap bulan bisa publish chapter baru. Maaf sekali.
Mulai daari chapter ini, aku mengganti judulnya menjadi “Magical Light”. Aku merasa jalan ceritanya ternyata berbeda dari apa yang kupikirkan pertama kali aku membuat ini. Jadi, aku minta maaf seenaknya mengubah judulnya. Semua chapter sudah kuganti dengan judul yang baru agar tidak bingung.
Nah, di chapter ini ada hint Raven-Heart! XD . Aku akan berusaha lebih keras lagi agar dapat mem-publishnya setiap bulan (nggak janji kalau bisa :p). Aku juga akan berusaha agar ceritanya lebih menartik. Til’ next chapter (^^)w (14 Februari 2012)
Saat jam pelajaran terakhir, Clara masuk ke kelas perwakilannya, kelas 1-5. Semuanya memandangnya bingung. Mereka heran kenapa Clara masuk padahal dia tidak mempunyai jam mengajar di kelas itu hari ini.
Di tangannya, Clara membawa tiga map sedang berwarna hitam. Clara menyadari tatapan siswanya-siswanya. Dia meletakkan mapnya di meja. Dia lalu menghadap murid-muridnya dan membalas tatapan mereka. “Kalian pasti bingung kenapa saya ada di sini. Saya meminjam jam ini untuk menyampaikan sesuatu yang penting pada kalian.”
Clara berhenti sebentar dan melihat reaksi mereka. Karena mereka tetap diam, Clara pun melanjutkan, “Akhirnya data tempat kalian akan dikirim sudah keluar. Dan sekarang saya akan menyampaikan pembagian tempat kalian. Jadi, kumohon agar kalian memperhatikan dan mendengarkannya baik-baik” ucap Clara.
Dia lalu duduk dan membuka map pertama. “Oh ya, kalian akan dibagi menjadi tiga kelompok. Dan kelompok yang pertama, yaitu Dian, Ema, Izumi, Karin, Gamu, Hachi, Takumu, Okuni, Ian, dan Nathan. Kalian akan ditempatkan di kota Gix. Ini data mengenai kota itu.” Clara memberikannya pada Ian. Ian pun membagikannya pada teman-teman yang sekelompok dengannya.
Clara mengambil map kedua dan membukanya. Clara terdiam sebentar sebelum membaca data kelompok dua. “Kelompok dua terdiri dari Finny, Cindy, Isami, Nao, Honoko, Perona, Catty, Cella, Takeshi, Chrysan, Dain, Kawada, Mika, dan Heart. Kalian akan ditempatkan di kota Noficta.” Jelas Clara.
“Biar aku saja yang mengambil datanya” ucap Nao.
Tapi Heart langsung menahannya. “Tidak usah. Biar aku yang mengambilnya.” Ucap Heart. Nao mengangguk. Dia lalu berjalan ke meja Clara dan mengambil data itu. Dia lalu membagikannya pada teman-temannya.
“Baiklah, kita lanjutkan ke kelompok terakhir.” Clara lalu membuka map terakhir. “Kelompok 3 terdiri dari Light, Melodi, Anzu, Mei, Oichi, Aini, Gabu, Midori, Ciel, Raven, Daigo, Mayuko, Lily, dan Ryou. Kalian akan ditempatkan di kota Lysidas”. Daigo bangkit dari duduknya dan mengambil data itu. “Bacalah data itu! Kalian dapat menentukan sendiri apa yang akan kalian lakukan di sana” lanjut Clara.
“Benarkah?”
“Ya. Karena itu pikirkanlah baik-baik! Besok kalian berikan laporan tentang renca kalian di sana. Kami yang akan mengurus tempat tinggal kalian. Minggu depan kalian akan berangkat. Persiapkan diri kalian baik-baik!” jelas Clara. Mereka semua mengangguk.
“Eh, kami semua akan berangkat, itu berarti nilai ujuian kami bagus, kan?” tiba-tiba Okuni bertanya.
Clara terlebih dulu tersenyum. “Ya. Kalian sudah belajar dengan baik”. Mereka semua tersenyum mendengar hasil yang dicapai mereka memuaskan. “Baiklah. Kalian sudah bisa pulang” Clara mengakhiri jam sekolah mereka. Dia lalu ke luar dari kelas itu.
‘Hihihi’ terdengar tawa pelan dari Light.
“Ng, ada apa Light?” tanya Anzu.
“Tidak. Aku hanya jadi semangat sekali! Soalnya kelihatannya hari-hari ke depan nanti akan sangat menarik!” ucap Light antusias. Teman-temannya tersenyum.
“Hmm, aku juga berpikir begitu. Jadi tak sabar!” sahut Melodi ceria.
“Kalau begitu, lebih baik kita cepat menentukan apa yang akan kita lakukan di sana!”. Daigo lalu membuka map mereka dan mengeluarkan kertas yang berisi data-data tentang kota itu.
“Hei Raven, sayang ya kita tidak berada di kelompok yang sama,” ucap Takeshi sambil menepuk pundak Raven. Mereka duduk tidak terlalu jauh dari tempat Light dan kelompoknya.
Raven membalikkan badan untuk melihat Takeshi yang duduk di belakangnya. “Haha. Apa boleh buat, kan? Aku juga tidak harus selalu sekelompok dengan kalian, kan?” tanggap Raven.
Takeshi tertawa. “Hahaha. Kau benar. Kalau begitu, bukankah sebaiknya kau ke tempat mereka?”. Takeshi menunjuk Light dkk. “Sepertinya mereka sedang membicarakan tentang renca kelompok kalian di sana. Kau kan bagin dari kelompok. Sebaiknya kau ke sana,” saran Takeshi.
“Hn, baiklah. Kalau begitu, aku ke sana dulu” Raven meninggalkan Takeshi dan berjalan menuju kelompoknya. Takeshi hanya mengangguk dan beranjak ke luar kelas.
“Hei, boleh aku bergabung?” Raven menyapa mereka.
“Hai Raven! Tentu saja boleh. Kami sedang membicarakan tentang rencana kita di sana” jelas Daigo. Raven lalu duduk di sebelahnya.
Mei mengambil salah satu data dan memberikannya pada Raven. Raven membacanya sebentar. “Bagaimana pendapatmu?” tanya Aini.
“Hmm, kota Lysidas itu kota yang kecil yang letaknya agak jauh dari kota lain. Dan penduduknya juga tak terlalu padat” tanggap Raven.
“Dan kota kecil itu juga dikelilingi oleh hutan” tambah Ciel.
Tiba-tiba Light memajukan tubuhnya. “Bagaimana kalau kita bekerja di sebuah peternakan? Di sini ada data tentang pekerjaan itu,” Light mengutarakan idenya. Dia memperlihatkan data tentang sebuah peternakan yang ada di kota itu. Nama peternakan itu adalah Cadena Farm.
Cadena Farm adalah sebuah peternakan yang cukup besar untuk ukuran kota Lysidas yang kecil. Hewan-hewan yang diternakkan di situ adalah hewan ternak seperti biasanya, yaitu sapi, domba, ayam, dan kuda. Di sana juga terdapat lahan untuk menanam berbagai tanaman. Peternakan itu penting bagi keseharian kota kecil seperti Lysidas. Hasil peternakan dari Cadena Farm akan dijual di kota itu. Sebagian lagi akan dijual di kota-kota lain.
“Katakan padaku Light, kenapa kau memilih peternakan itu?” tanya Ciel yang lalu mengambil data Cadena Farm dari Light.
“Sejujurnya, aku tidak punya alasan istimewa memilih peternakan. Aku hanya merasa pasti menyenangkan bisa bekerja di sebuah peternakan. Lagipula, aku sangat ingin menaiki kuda-kuda yang ada di sana!” jawab Light senyum gembira terpatri di wajahnya.
“Tapi, apa pekerjaan di peternakan itu tidak terlalu berat? Kita kan harus mengurus hewan-hewan di sana,” tukas Lily.
“Dan sekarang kan sudah mau musim dingin. Bagaimana kalau kita tidak sanggup mengurus hewan-hewan itu dan mereka malah dakit dan mati?!” tambah Aini dengan tampang yang dibuat-buat terlalu khawatir.
“Apa sih kalian ini!? Jangan berkata yang aneh-aneh, deh! Memangnya nanti akan seburuk itu?!” seru Daigo.
“Kalian ini…” Ciel hanya bisa menggelengkan kepalanya menanggapi teman-temannya yang berlebihan.
“Tapi pekerjaan di sebuah peternakan itu memang berat. Kita harus memberi makan hewan-hewan, memandikan mereka, membersihkan kandang mereka, menyiram tanaman, dll. Apa kita bisa?” Anzu menimpali.
Melodi menghadap Light. “Bagaimana ini?”. Light memanyunkan bibirnya, mengomel.
“Kurasa tidak akan sesulit itu,” Raven akhirnya mengomentari. Yang lain langsung menatap Raven, meminta penjelasan dari perkataannya tadi. Raven melanjutkan, “Di sana nanti kan kita tidak bekerja sendiri-sendiri. Kita kan tim. Kita bisa mengerjakannya bersama-sama. Dengan begitu, pekerjaannya tak akan terasa begitu berat, kan?”. Semuanya diam, hanyut dalam pikiran sesaat.
Akhirnya Ciel angkat bicara, “Itu benar! Kita tidak akan mengerjakan semuanya sendirian. Kita akan saling membantu!”.
“Aku setuju!!” seru Melodi.
“Begitu pun aku. Bagaimana yang lain?” kali ini Anzu.
Sepi, tak ada yang menjawab. Tak lama lalu mereka serempak mengangguk. Hal ini membuat Light menyeringai dan melompat kegirangan. “HOREE!!”. Yang lain hanya bisa tertawa melihat tingkah Light yang begitu senang.
“Jadi sudah diputuskan?”
“Ya!” mereka semua menyahut.
“Kalau begitu, lebih baik sekarang kita membuat laporannya,” ajak Raven.
Ciel menatap jam tangannya. “Tapi ini sudah jam lima lewat! Tidakkah sebaiknya kita mengerjakan laporannya di rumah saja?” ucap Ciel.
“Benar juga. Tapi di rumah siapa?” tanya Light.
“Bagaimana kalau di rumahku?” Ciel menawarkan.
Mereka saling berpandangan. “Boleh!” jawab mereka serempak.
“Kalau begitu, ayo! Lebih cepat menyelesaikan laporannya, lebih cepat kita bisa beristirahat” seru Melodi. Tanpa membuang waktu, mereka langsung membereskan barang-barang mereka dan ke luar dari kelas.
Di koridor, mereka berpapasan dengan Heart. Light dkk menyapa Heart dan Heart membalasnya singkat. Mereka terus berjalan melewati Heart. Tapi tidak dengan Raven yang berjalan paling belakang.
Raven berhenti sebentar di sebelah Heart. “Kau belum pulang Heart?” tanyanya.
“Kau lihat sendiri, kan?” balas Heart sarkastik. Dia tak mau menatap Raven.
“Kau menungguku?” Raven tak menghiraukan nada bicara Heart.
“…”
“Maaf. Aku tahu ini membuatmu kesal, tapi aku tak bisa pulang denganmu hari ini. Aku masih harus membuat laporan dengan kelompokku. Tak apa, kan?” ucap Raven dengan hati-hati. Dia tak ingin membuat Heart marah. Bagaimana pun Heart belum pulang karena menungguinya.
Heart akhirnya mau menatap Raven. “Tak apa. Kalau begitu, aku pulang duluan. Bye…” Heart segera melenggang pergi dan meninggalkan Raven. Raven menatap punggung Heart sampai akhirnya Heart menghilang dari pandangannya. Dia menghela napas dalam dan beranjak menyusul kelompoknya yang sudah berjalan duluan.
.
Hanya butuh 20 menit untuk sampai ke rumah Ciel dari sekolah dengan berjalan kaki. Mereka tak ingin membuang waktu dan langsung membuat laporan itu. Tak terlalu sulit membuat laporannya. Mereka hanya perlu menuliskan apa yang akan mereka lakukan di sana beserta alasannya.
Benar saja. Mereka menyelesaikannya tak lebih dari satu jam. Sebenarnya mereka masih ingin bercakap-cakap lebih lama. Tapi karena matahari sudah lama terbenam, mereka memutuskan untuk segera pulang. Ciel dan Melodi mengantar mereka sampai di depan rumah Ciel.
“Eh, Melodi, kau tidak pulang?” Aini bertanya saat dia sadar Melodi tidak membereskan barang-barangnya.
“Oh, tidak perlu khawatir. Rumahku kan hanya bersebelahn. Itu rumahku!”, Melodi menunjuk ke arah rumah di sebelah rumah Ciel, rumahnya. Mereka melihat ke arah yang ditunjuk Melodi.
“Jadi itu rumahmu?”. Melodi mengangguk.
“Wah, seru ya,” tukas Lily.
“Sudah, sudah. Lebih baik kita pulang sekarang! Kita masih harus bersiap untuk sekolah besok, kan?” ujar Daigo.
“Okay! Kalau begitu, kami pulang dulu Ciel, Melodi” Light pamit.
“Ya. Hati-hati di jalan!” balas Ciel.
Ciel dan Melodi menunggu sampai teman-temannya berbelok dan menghilang dari pandangan. Ciel sudah mau beranjak saat dia menyadari Melodi masih diam di situ. “Melodi, ada apa? Kau belum mau masuk?” tanya Ciel.
Melodi agak kaget dan memandang Ciel. “Oh! Tidak. Aku hanya sedang melihat bintang” jawab Melodi.
Ciel menengadah ke atas. “Bintang malam ini terlihat jelas” gumam Ciel. Melodi mengangguk.
Langit malam yang bertatakan berlian mungil malam. Angin lembut datang membawa kabar. Musim dingin akan segera tiba.
.
.
.
.
.
Catatan Penulis (Devi J. G. Sahati)
Selama beberapa bulan tersendat-sendat dengan chapter ini, akhirnya aku bisa menyelesaikannya juga. Huff. Begitu banyak yang harus kulakukan sampai-sampai tidak bisa melanjutkan chapter ini selama dua tiga bulan. Padahal maunya setiap bulan bisa publish chapter baru. Maaf sekali.
Mulai daari chapter ini, aku mengganti judulnya menjadi “Magical Light”. Aku merasa jalan ceritanya ternyata berbeda dari apa yang kupikirkan pertama kali aku membuat ini. Jadi, aku minta maaf seenaknya mengubah judulnya. Semua chapter sudah kuganti dengan judul yang baru agar tidak bingung.
Nah, di chapter ini ada hint Raven-Heart! XD . Aku akan berusaha lebih keras lagi agar dapat mem-publishnya setiap bulan (nggak janji kalau bisa :p). Aku juga akan berusaha agar ceritanya lebih menartik. Til’ next chapter (^^)w (14 Februari 2012)
Kasih Sayang Valentine
Sinar mentari pagi menyusup melalui jendela dan menerpa wajah seorang gadis berambut hitam sebahu yang masih terlelap. Merasa terganggu oleh sinar itu, gadis itu bergerak membalikkan tubuhnya ke arah lain. Dia lalu mengerang sedikit karena tidurnya terganggu. Mengucek-ucek matanya, dia lantas bangun dari tidurnya.
Mengambil posisi duduk, gadis itu mencoba membiasakan matanya dengan cahaya yang telah masuk lebih banyak dari arah jendelanya. Dia lalu melirik jam weker yang ada di sebelah tempat tidurnya. Pukul 07.15. Pantas saja alarmnya belum berdering. Dia terlalu cepat bangun rupanya.
“Hoamm. Padahal aku sudah sengaja memasang alarm jam 8” gumamnya masih mengantuk.
‘Tok..tok…’ terdengar ketukan di pintu kamarnya.
“Della, kau sudah bangun?” suara seorang wanita memanggilnya.
“Ya, ma. Aku sudah bangun!” teriak gadis yang ternyata bernama Della itu.
“Kalau begitu, cepatlah bersiap! Sarapannya nanti dingin. Mama tunggu di bawah, ya!” kata mamanya. Terdengar langkah kaki meninggalkan depan kamar Della.
“Huh! Padahal ini hari Sabtu. Tapi tetap saja tak bisa bangun lebih telat.” Keluhnya. Dia lalu bangkit dan mulai merapikan tempat tidurnya. Setelah itu, dia beranjak menuju kamar mandi yang berada di kamarnya sendiri. Tak hitung lima menit, sudah terdengar pancuran air dari kamar mandi.
Sementara mandi, pikiran Della melayang ke hal-hal yang akan dilakukannya hari ini. Karena ini hari libur dan tidak ada ekstrakurikuler yang harus diikuti olehnya, dia memikirkan apa yang bisa dilakukannya hari ini.
‘Aku tak mau menghabiskan hari ini di rumah saja. Sepi” pikirnya.
Ya, kedua orangtua Della adalah pegawai kantoran yang tetap berkerja pada hari Sabtu. Karena itu Della jarang berada di rumahnya karena dia tak ingin sendirian saja di rumah. Kecuali ada temannya yang main ke rumahnya.
“Mungkin lebih baik aku menelepon Mawar saja setelah ini. Mungkin dia tahu apa yang bisa dilakukan untuk menghabiskan hari ini.” Katanya pada dirinya sendiri.
Setelah itu, Della tidak lagi memikirkan apa pun lagi dan mempercepat mandinya karena orangtuanya sudah menunggunya di ruang makan.
.
Della memutuskan untuk memakai kaus berwana hijau dengan pita kuning di sebelah kanan bawah dan celana jeans selutut. Rambutnya yang sebahu dibiarkannya terurai tanpa aksesoris apapun. Della memang tidak terlalu suka memakai aksesoris yang berlebihan, karena tanpa itu pun, Della sudah terlihat cantik dengan wajah blasterannya.
Della adalah gadis blasteran Indonesia-Australia. Ayahnya asli dari Indonesia dan Ibunya berasal dari Australia. Tapi, Della lahir dan besar di Indonesia.
Della melirik kalender dindingnya. “Hari ini tanggal 11 Februari. Sebentar lagi Valentine Day” gumamnya.
Setelah merasa siap, Della mengambil HP-nya yang tergeletak di atas meja dan keluar dari kamarnya. Dia bergegas menuju ruang makan, tempat Ayah dan Ibunya sudah menunggunya.
“Pagi, pa. Pagi, ma” Della menyapa orangtuanya. Della adalah anak satu-satunya. Dan itu membuatnya sangat dekat dengan orangtuanya sekaligus mandiri.
“Pagi, Del. Bagaimana tidurmu?” tanya Ayahnya yang sedang membaca Koran hari itu.
“Baik, thanks” jawabnya seraya duduk di kursi yang berhadapan dengan Ibunya.
“Cepatlah sarapan! Mama dan papa sudah selesai duluan” ucap mamanya. Papanya pun bangkit.
“Kami harus segera berangkat. Kalau ada apa-apa langsung hubungi kami, sayang” mereka pamit meinggalkan Della sendiri.
Sambil melahap sarapannya, jemari Della menekan nomor temannya Mawar dan meneleponnya. Mawar langsung mengangkatnya. “Halo, Della. Ada apa?”
“Halo, Mawar. Aku ke rumahmu, ya? Aku malas sendiri di rumah.” Pinta Della tanpa basa-basi.
“Datang saja. Kebetulan aku juga sedang sendirian di rumah” ucap Mawar.
“Kalau begitu, aku ke sana sebentar lagi, okay?” dengan itu, Della langsung mematikan sambungannya dan kembali melahap sarapannya.
.
Mawar memang sedang sendirian di rumahnya. Mawar mengambil minuman dan beberapa cemilan dari dapur. Dia juga membawa novel yang baru saja di belinya ke ruang santai. Della sudah duduk di sofa sambil menonton TV. Mereka berdua sudah berteman sejak lama. Karena itulah, mereka sangat dekat.
“Hei, Del. Memangnya Leon ke mana?” tanya Mawar. Leon adalah teman mereka. Leon sudah berteman dengan Della sejak masih kecil. Dan Leon sangat dekat dengan Della.
“Oh, dia hari ini latihan basket dengan Alfa” jawab Della sambil meminum jusnya. Mawar hanya membalas dengan ‘oohh’ saja.
“Del, kamu akan memberikan coklat padanya, kan, minggu depan?” ya, hari ini tanggal 11 Februari. Tiga hari lagi tanggal 14 Februari, Hari Valentine.
“Eh?! Ehm, aku belum tahu. Aku masih bingung apa aku akan membuat coklat atau tidak nanti” ucapnya.
“Huff. Kau ini. Ini adalah kesempatan bagus untukmu menyatakan cinta padanya! Kau kan sudah berteman dengannya sejak kalian masih kecil. Aku yakin dia akan menerimamu” kata Mawar.
“Entahlah, War. Walaupun kami sudah lama berteman, tapi yang ini adalah hal yang berbeda. Bisa saja dia menolakku. Dan aku takut kalau persahabatan kami nantinya terganggu” kata Della.
“Baiklah. Kalau begitu pikirkanlah baik-baik. Aku hanya bisa mendukungmu” Della hanya tersenyum.
.
Senja sudah mulai berganti malam. Della masih berada di rumah Mawar, tepatnya di kamar Mawar. Mawar sedang ke ruang kerja Ayahnya untuk mengambil buku yang diperlukannya untuk membuat tugas.
Tiba-tiba Della mendengar suara klakson motor dari luar rumah. Della segera beranjak ke beranda kamar Mawar untuk melihat siapa yang ada di depan rumah. Della terkejut saat melihat kalau yang membunyikan klakson itu Leon. Leon berada di depan rumah Mawar sedang duduk di motor Yamaha kesayangannya.
Setelah rasa terkejutnya hilang, Della langsung berteriak memanggil Leon. “Leon, sedang apa kau di situ?” saat itu, Mawar masuk ke kamarnya.
“Ng, ada apa Del?” tanyanya berjalan ke arah Della.
“Itu, Leon ada di muka rumahmu” jawabnya.
“Eh?! Sedang apa dia?” Mawar melihat ke bawah dan menemukan Leon dengan motor Yamaha-nya.
“Aku datang untuk menjemputmu, Della! Tadi aku ke rumahmu tapi tidak ada siapa-siapa di sana” balas Leon.
“Oh, maaf. Aku sudah sejak pagi di sini. Aku tidak mengabarimu karena kukira kau sibuk latihan basket.”
“Kalau begitu, cepatlah turun! Ini sudah mau malam!” perintah Leon. Della mengangguk dan bersama Mawar ke depan rumah.
“War, aku pulang dulu, ya. Terima kasih untuk hari ini.” Ucap Della.
“Ya. Oh ya, jangan lupa tiga hari lagi” sindir Mawar. Della tersenyum kecut lalu langsung naik ke motor Leon. Leon juga pamit dan langsung menancap gas menuju rumah Della.
“Hah, mereka ini…” gumam Mawar sambil menggelengkan kepalanya. Dia pun masuk ke rumahnya.
.
Rumah Della tak terlalu jauh dari rumah Mawar. Karena itu Leon tidak mengendarai motornya terlalu cepat agar dia bisa mempunyai waktu dengan Della sebelum sampai ke rumah Della.
“Lain kali, kau harus menghubungiku kalau kau tidak ada di rumah” ucap Leon.
“Kau ini, sekalian saja jadi bodyguard-ku! Kau kan tidak setiap saat bersamaku. Jadi buat apa aku memberitahumu?” kata Della ketus.
“Terserah kau sajalah” balas Leon. Setelah itu, mereka menghabiskan perjalanan dalam diam. Tak ada lagi yang ingin dibicarakan.
.
Hari Minggu adalah hari yang menyenangkan buat Della. Karena hari itu, orangtuanya tidak bekerja dan dia bisa menghabiskan waktu dengan mereka. Setelah sarapan, Della membantu mamanya untuk membersihkan rumah. Della sama sekali tak keberatan karena dia bisa bersama mamanya seharian penuh.
“Del, kau tidak jalan-jalan dengan Leon hari ini?” tanya mamanya saat mereka sedang mencuci peralatan makan.
“Tidak. Aku lagi tidak ingin jalan-jalan bersamanya. Lagipula, sebentar siang aku ingin ke supermarket untuk membeli bahan membuat coklat.” Jelas Della.
“Benar juga. Dua hari lagi Valentine Day, ya? Kalau begitu kau memang harus segera membeli bahannya kalau kau ingin membuat coklat untuk valentine nanti. Kau ingin mama bantu?”
“Tidak usah. Aku ingin membuatnya sendiri. Lagipula, mama kan sibuk di kantor besok. Aku tak ingin menyusahkan mama” ucapnya.
“Baiklah jika itu yang kau mau. Jika mama membantu, nanti tak akan jadi spesial, kan? Hihihi” sindir mamanya.
“Ugh, mama! Apa-apaan, sih!?” Della cemberut mendengar sindiran mamanya.
.
Di supermarket, banyak orang-orang yang juga ingin membeli bahan untuk membuat coklat. Tapi Della tak perlu merasa khawatir bahannya habis, karena stok-nya disiapkan lebih banyak dari hari biasanya.
Della mengambil beberapa batangan dark chocolate, susu, krim, cetakan, dll. Della juga mengambil bahan untuk makan malam yang dititipkan mamanya. Setelah merasa apa yang dibutuhkannya sudah semua, Della langsung menuju kasir untuk membayar belanjaannya.
Della tidak berlama-lama di supermarket karena dia juga harus ke toko buku untuk membeli beberapa kertas, pita, dan kotak kado untuk membungkus coklatnya. Sekalian juga Della membeli beberapa komik dan novel. Della memang sangat suka membaca novel dan komik. Merasa sudah mendapatkan apa yang dicarinya sudah lengkap, Della langsung berjalan ke kasir untuk membayarnya.
Karena tak ada lagi yang ingin dibeli Della, dia langsung pulang ke rumahnya. Dia tak ingin singgah kemana-mana karena dia berencana akan langsung membuat coklatnya supaya besoknya coklat itu sudah bisa dibungkus. Dan itu membuat Della punya banyak waktu untuk mempersiapkan semuanya.
.
“Aku pulang!”
“Oh, kau sudah pulang, Del” ucap papanya yang sedang menonton TV di ruang keluarga. Papanya melirik bawaan Della. “Banyak juga belanjaanmu”.
“Mama titip bahan makanan untuk makan malam nanti soalnya. Ya sudah, aku ke dapur dulu, pa!” Della beranjak pergi ke dapur untuk meletakkan belanjaannya.
Saat akan masuk ke dapur, mama Della memanggilnya. “Del, kau sudah pulang? Kau membeli bahan yang mama titipkan, tidak?” tanya mamanya.
“Iya. Ini!” Della menunjukkan belanjaannya. “Mau aku taruh di mana?”
“Susun saja di lemari dan kulkas. Kau mau memakai dapurnya, kan?”
“Iya. Aku mau langsung membuat coklatnya supaya masih punya banyak waktu untuk membungkusnya nanti” jawab Della.
“Okay, I’m in my room if you need me, dear” ucap mamanya seraya pergi ke kamarnya. Della mengangguk dan bergegas menyusun bahan makanan tadi di lemari makanan dan kulkas.
Setelah itu, dia mengambil barang-barang yang dibelinya tadi di toko buku dan membawanya ke kamarnya. Dia menaruh barang-barang itu di atas meja belajarnya dan kembali ke dapur untuk bersiap membuat coklatnya.
“Nah, ayo kita mulai!” serunya lalu mengeluarkan bahan-bahan tadi dan menyiapkan penggorengan.
Campurkan dark chocolate yang sudah dihaluskan dengan susu, kemudian lelehkan dengan air panas. Lalu, diamkan sebentar, lalu tambahkan krim segar. Dinginkan sambil diaduk-aduk. Masukkan butter dan air ke dalam penggorengan lalu didihkan. Masukkan tepung terigu dan baking powder. Aduk dan panaskan dengan api kecil.
Della membuatnya dengan cekatan. Dia sudah terbiasa berhadapan dengan yang seperti ini. Selain karena dia sudah terbiasa memasak karena orangtuanya kadang berada di rumah, dia juga menyukai snack. Dan biasanya, snack itu dibuatnya sendiri.
“Nah, sekarang saatnya menuangkan ini ke cetakan” Della lalu mengambil sebuah cetakan berbentuk bulat, dua cetakan bintang, dan sebuah cetakan hati.
Dia menderetkan cetakan itu di meja agar mudah menuangkan coklatnya. Dengan hati-hati, dia menuangkan coklatnya di setiap cetakan dengan takaran yang pas. Setelah selesai, Della menghela napas lega. “Akhirnya coklatnya selesai dituangkan”. “Tapi ini belum selesai, aku masih harus menulisi coklatnya dengan white cream”. Della pun memasukkan coklatnya di kulkas dengan hati-hati. Coklatnya harus didinginkan sedikit sebelum ditulisi.
Sementara menunggu cokelatnya dingin, Della membuat bahan untuk menulis di atas cokelatnya. Tak terlalu lama membuatnya. Setelah selesai, Della mengambil cokelat yang sudah lumayan dingin tadi. Dia mengeluarkan cokelat dari cetakannya dengan hati-hati. Dia mulai menulisi cokelatnya.
Dimulai dari cokelat berbentuk bintang. “Ini cokelat untuk papa dan mama” gumamnya dengan senyum menghiasi wajahnya. Dia menghias cokelat itu dengan cream di pinggirannya. Menurut Della, cokelat untuk mereka tak perlu dihias terlalu banyak.
Setelah itu, dia mengambil cokelat berbentuk bulat. Della tertawa pelan saat akan menghiasnya. “Semoga cokelat ini mau diterima Mawar. Soalnya kan dia tak suka hal-hal seperti ini”. Della menggambar bentuk ‘smile’.
Dan akhirnya, saatnya Della untuk menghias cokelat berbentuk hati. Della terdiam sebentar. “Apa dia akan menerimanya, ya? Biasanya sih dia selalu menerimanya. Tapi kali ini kan berbeda. Apa aku urungkan saja niatku?”. Lama Della terdiam menatap cokelat dihadapannya. Tersadar kalau cokelatnya tak boleh terlalu lama dibiarkan, Della menghela napas dalam dan berkata, “Aku sudah membuatnya, kan. Aku harus memberikannya nanti. Apa pun yang terjadi, semuanya akan baik-baik saja!”
Setelah meyakinkan dirinya, Della mulai menulisi cokelat itu. Dia menulis ‘To Leon, I Love You’. Saat menulisnya, terlihat semburat merah di pipi Della. Della menatap hasil karyanya. ‘Semoga saja aku bisa memberikannya tepat Valentine Day. Karena hadiah valentine, jika terlambat diberikan, perasaanku tidak akan sampai padanya’ batinnya tersenyum.
Tak ingin terhanyut dalam khayalannya terlalu lama, Della segera memasukkan cokelatnya kembali ke kulkas. Setelah itu, dia membereskan peralatan masak yang tadi dipakainya, dan segera kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Pekerjaan tadi benar-benar membuatnya lelah.
.
Keesokan harinya, Della langsung pulang dari sekolah. Dia tak ingin berlama-lama karena ada tugas yang harus dikerjakannya. Lagipula, dia juga masih harus membungkus cokelat buatannya.
“Aku pulang duluan ya, Mawar!” pamitnya pada Mawar.
“Okay. Hati-hati di jalan!” balas Mawar. Della pun langsung meninggalkan kelas mereka dan bergegas ke tempat parker sekolahnya. Di sana sudah ada Leon yang –seperti biasa – menungguinya di samping motornya.
Menyadari kalau Della sedang berjalan ke arahnya, Leon mengambil helmnya dan helm untuk Della. “Sudah lama menunggu?” tanya Della sambil menerima helm yang diberikan Leon.
“Tidak juga. Aku juga baru saja ke luar kelas. Tumben ingin langsung pulang. Ada apa?” tanya Leon sambil memakai helmnya.
“Tidak juga. Aku punya tugas yang harus diselesaikan, hanya itu” ujarnya. Mereka pun segera meninggalkan sekolah.
.
Setelah selesai makan malam, Della bergegas ke kamarnya untuk mengambil alat-alat untuk membungkus cokelatnya. Orangtua Della tidak ada di rumah karena mereka harus menghadiri acara teman mereka. Della tak ingin ikut karena dia harus membungkus cokelatnya.
Della pun mengambil cokelatnya yang sudah beku sempurna dari kulkas. Dia memutuskan untuk membungkusnya di dapur saja. Della mulai membungkus cokelatnya satu-persatu. “Aku membungkus cokelat ini beserta harapanku untuk mereka” gumamnya sambil tersenyum tulus.
Saat akan membungkus cokelat untuk Leon, terlebih dahulu Della menyelipkan secarik kertas baru membungkusnya dengan pita berwarna putih. Della menatap sebentar cokelat-cokelat itu. “Asalkan mereka mau menerimanya dengan senyum senang, itu sudah sangat berarti bagiku” katanya sambil tersenyum kecil. Dia pun memasukkan cokelat itu kembali ke kulkas.
Della tak perlu menunggui orangtuanya karena mereka punya kunci duplikat rumah mereka. Karena itu, Della langsung membereskan dapur yang dipakainya dan langsung bergegas untuk tidur.
.
“Good morning, pa, ma” sapa Della saat dia memasuki ruang makan.
“Morning, dear” sapa mereka. Della pun duduk dan sarapan bersama orangtuanya.
Setelah sarapan, Della ke dapur dan mengambil cokelat untuk kedua orangtuanya. “Here, cokelat untuk kalian berdua. Happy Valentine Day!” ucapnya seraya memberikan cokelat buatannya.
“Thank you, dear. Mama dan papa juga punya hadiah valentine untukmu. Tunggu sebentar!” mamanya segera meninggalkan ruang makan.
Saat kembali, mamanya membawa kotak kado berwarna merah dengan hiasan pita kuning. “For you, our dearest daughter” kata mamanya menyerahkan hadiah itu.
Senyum Della mengembang dan matanya berbinar. “Thank you!”. Dia menciumi mereka berdua.
“Nah, saat-saat kasih sayang sudah selesai. Lanjutkan nanti setelah aktivitas hari ini selesai. Kita harus segera berangkat kalau tak ada yang mau terlambat” ucap papanya mengundang tawa kecil dari Della dan mamanya. Della segera memasukkan cokelat lainnya ke tasnya dan berangkat ke soklahnya.
.
Di gerbang sekolah, Della menemukan Mawar sedang berdiri sambil bersandar di gerbang. Della segera menuju Mawar dan menyapanya, “Pagi, Mawar. Kau sudah lama menunggu?”.
Mawar tersenyum sambil menjawab, “Pagi. Tidak juga. Ayo kita ke kelas!”. Mereka berdua pun beranjak menuju kelas mereka.
Sambil berjalan, mereka berdua bercakap-cakap tentang hari ini. Dan saat berjalan di koridor menuju kelas mereka, beberapa anak laki-laki berteriak memanggil nama Mawar. “Mawar! Terimalah hadiah valentine dariku!”. Yang lain berteriak, “Mawar! Jadilah pacarku!”. Mawar hanya memasang tampang dingin menanggapi mereka.
“Del, ayo cepat!” Mawar menarik tangan Della dan berlari menuju kelas mereka. Della hanya bisa tertawa melihat ekspresi Mawar yang benar-benar tak enak.
Mawar memang salah satu gadis pujaan di sekolah mereka. Tak jarang banyak cowok yang ingin menjadi pacarnya. Tapi Mawar selalu menolaknya dengan dingin. Mawar memang bukan tipe gadis yang begitu saja mau jadi pacar orang. Mawar mempunyai penilaian yang tinggi untuk cowok yang akan jadi pacarnya.
Della juga salah satu gadis pujaan cowok di sekolah mereka. Tapi, mereka tidak terlalu berharap menjadi pacar Della karena Della selalu bersama Leon. Mereka bisa merasakan aura yang tak enak dari Leon saat mereka berusaha untuk mendekati Della. Namun tampaknya Della tak menyadarinya.
Saat hampir sampai di kelas , seorang cowok mencegat mereka. Dia langsung menahan mereka berdua. “Hai, Mawar, Della!” sapanya ceria. Della membalasnya dengan senyuman. ‘Cowok dari kelas sebelah’ pikirnya. Tapi Mawar tidak membalasnya dan memasang wajah datar.
“Ini untukmu, War. Mawar merah untuk gadis yang kusukai” kata cowok itu seraya memberikan setangkai mawar untuk Mawar. Mawar tersentak. Ekspresinya berubah. “Aku ingin kau jadi pacarku!” ucap cowok itu tanpa ragu-ragu. Mawar menundukkan kepalanya.
‘Oh ow! Aku punya perasaan buruk, nih’ batin Della ngeri.
Mawar mengangkat kepalanya. Di wajahnya terpampang ekspresi yang sangat menakutkan. “AKU.TAK.MAU. JANGAN PERNAH MEMBERIKU BUNGA MAWAR!!” teriak Mawar sadis. Dia lalu menarik tangan Della dan meninggalkan cowok yang kaget mendengar penolakan yang sadis dari Mawar.
Della melirik cowok itu. Tak tega melihatnya patah hati. Tapi Della tak mau membuat Mawat tambah marah jika dia membela cowok itu. Della tak ingin hari ini menjadi hari yang buruk bagi Mawar.
Della tahu kalau sejak dulu Mawar sangat tak suka hal-hal seperti itu, terlebih bunga mawar. Soalnya kebanyakan orang memberinya bunga mawar di hari spesial hanya karena Mawar bernama mawar. Dia tak pernah suka bunga mawar. Walaupun bukan berarti dia membenci namanya. Dia tetap menghargai nama yang diberikan orangtuanya. Tapi yang Mawar inginkan adalah hal simple yang cocok dengan pribadinya.
Saat mereka sampai di kelas, Mawar menghempaskan dirinya di tempat duduknya. Della hanya menghela napas melihatnya. “Mereka itu kenapa, sih?!!” seru Mawar. Dari nada bicaranya, terdengar kalau dia berusaha menahan dirinya.
“Mereka hanya ingin menunjukkan rasa sayang mereka, kok. Kuasailah dirimu! Ini kan hari spesial” ujar Della. Dia duduk di sebelah Mawar.
Mawar menghela napas. Dia menutup matanya sejenak. “Maaf. Aku berlebihan” ucap Mawar pelan.
“Sudahlah. Tapi kenapa sih kau tak mau menerima hadiah dari cowok-cowok itu? Kan tidak semua memberimu bunga mawar” tanya Della.
“Bagiku, yang seperti itu tidak cocok untukku. Lagipula, sejarah valentine kan tidak sebahagia seperti yang kita bayangkan. Malahan orang yang menjadi asal-usul valentine mati di akhir penyiksaannya, kan? Dan valentine berdarah itu, sama sekali tidak cocok dengan perayaan orang-orang” jelas Mawar datar.
“Tapi kan St. Valentine berjuang untuk menikahkan orang-orang yang saling mengasihi! Dan justru karena pesan cinta dari Valentine untuk putri penjaga penjara pada tanggal 14 Februari yang menjadikan Valentine Day ini. Untuk mengenangnya, sang pejuang cinta” tukas Della.
Mawar memandang Della. “Iya, iya. Aku mengerti. Jadi bagaimana perjuanganmu untuk menyatakan cinta pada Leon?”
“Jangan keras-keras bicaranya! Nanti kedengaran orang lain!” seru Della.
Mawar tertawa kecil. “Jadi?” tanyanya.
“Aku akan memberikannya cokelat dan di dalamnya ada secarik kertas yang berisi pengakuanku untuknya. Tapi aku sih tidak ingin berharap tinggi-tinggi dia mau menerima atau tidak. Diterima cokelatnya saja aku sudah senang, kok” jawab Della.
“Tenang saja. Dia pasti akan menerimu, kok. Memangnya siapa lagi gadis yang selalu berada di sampingnya dan selalu dijaganya?” Mawar meneyemangati Della.
“Iya, aku tahu, kok. Sekarang yang aku pikirkan apakah kamu mau menerima cokelat tanda persahabatan dariku ini atau tidak…” ucapnya seraya mengeluarkan cokelat untuk Mawar.
“Kau ini, tak menyerah ya memberiku yang beginian?”. Della hanya tertawa.
“Tentu saja tidak! Ayolah! Kau tidak menghargai kerja kerasku untuk membuatnya, ya? Lagipula ini bukan ‘love’ atau mawar, kok”.
Della memberikan kotak hadiahnya pada Mawar. Mawar terkejut saat melihat kalau pembungkus hadiahnya bergambar Lakspur flower yang artinya beautiful spirit. “Kurasa bunga itu cocok untukmu” kata Della.
Mawar tersenyum. “Baiklah. Aku terima hadiahnya. Tapi aku tak akan memberimu cokelat”.
“Ng? kau juga akan memberiku hadiah?” tanya Della penasaran.
“Iya. Besok, di kafe tanteku, aku akan mentraktirmu Chocolate Coffe. Bagaimana?”
“Wah, aku mau. Sudah lama aku tidak minum Chocolate Coffe. Thanks, Rose” Mawar hanya tersenyum simpul menanggapinya.
.
“Del, kau mau jalan nggak sebentar?” tanya Leon yang sedang berjalan dengan Della di koridor sekolah saat pulang sekolah.
“Boleh. Kau jemput, kan?”.
“Jam 7. Tak usah berpakaian terlalu rapi. Aku tak akan mengajakmu ke tempat yang aneh-aneh, kok”.
Della tertawa. “Memang aku sering berpakaian seperti apa?”. Leon ikut tertawa. “Oh ya, ini untukmu. Happy Valentine Day!” ucapnya memberikan hadiahnya untuk Leon.
“Oh, thanks. Hadiahmu nanti sebentar, ya. Aku masih menyiapkannya” ucapnya.
“Memang hadiah apa?” tanya Della.
“Lihat saja nanti!” ucap Leon. Della hanya membalasnya dengan anggukan. “Kau mau kuantar, tidak?” tanya Leon.
“Tidak usah. Yang penting, kau tidak lupa menjemputku sebentar!” jawab Della.
“Okay!” balasan Leon.
.
Sebentar lagi jam 7. Della sedang bersiap-siap di depan cermin di mejanya. Dia memakai long t-shirt berwarna peach dan black jeans. Dia menghias rambutnya dengan pita berwarna scarlet. Pikiran Della melayang pada apa yang nanti akan dikatakan Leon, karena pasti Leon sudah membaca kertas yang diselipkannya di hadiah tadi.
‘Semoga saja tidak membuatnya marah atau apa pun itu” batinnya. Setelah siap, Della segera ke luar dari kamarnya dan pamit pada orangtuanya.
Di depan rumahnya, Leon sudah menunggu. Dia memakai kaus hitam dan kemeja lengan pendek berwarna cokelat, dan black jeans. Della segera naik ke motornya, dan Leon segera melajukan motornya.
.
Leon membawa Della berjalan menyusuri taman di tengah kota. Taman ini sudah dihias sedemikian rupa dengan tema valentine. Mereka berjalan dalam diam. Sampai akhirnya Leon memecah keheningan. “Del, aku sudah membaca kertas yang ada di dalam hadiahmu tadi, juga cokelat itu…” ucap Leon.
Della tersentak. Rasa khawatir mulai merasuk di hatinya. ‘Bagaimana ini? Apa tanggapannya?’ pertanyaan yang ada di kepala Della. “Lalu, apa tanggapanmu?”.
Leon tak segera menjawab. “Aku…kesal” itu yang dijawab Leon. Della menundukkan kepalanya mendengar jawabannya. Rasa kecewa menghampirinya.
Tapi Leon belum selesai. “Aku kesal karena aku sudah keduluan olehmu menyatakan cinta. Padahal aku sudah mempersiapkannya untuk hari ini” lanjutnya.
Della kaget. Dia mengangkat kepalanya dan menatap Leon. “Eh, jadi kau…?!”.
Leon menggenggam tangan Della dan membawanya ke tengah taman. Dia dan Della duduk di sebuah kursi yang ada di situ. “Del, aku memang sudah keduluan darimu. Tapi aku tetap akan mengatakannya dan kaulah yang harus menjawabku!”
“Eh, kok begitu, sih?” protes Della. Tapi Della tidak melanjutkannya dan diam menunggu apa yang akan dikatakan Leon.
Leon mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna beludru. Dia lalu membukanya dan Della terkejut saat melihat isi kotak itu. Sebuah leontin hati. “I love you, Della. Will you be my girlfriend?”. Della hanya bisa mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia lalu mengangguk senang. Leon tersenyum dan mengalungkan leontin itu di leher Della.
“I love you, too, Leon” ucapnya pelan dan menghambur ke pelukan Leon.
Satu lagi pasangan yang disatukan di hari valentine ini. Tak peduli apa yang menjadi tragedi di masa lalu saat valentine dibuat. Yang pasti hanyalah, jika memang saling mengasihi, tak usah takut dan percayalah kalau kasih sayanglah hal yang paling kuat. Beribu-ribu kasih sayang yang diutarakan, untuk orang yang berharga bagi diri kita. Beribu-ribu kasih sayang yang akan menyinari hari-hari kita.
~Tamat~
Karya: Devi J. G. Sahati
Mengambil posisi duduk, gadis itu mencoba membiasakan matanya dengan cahaya yang telah masuk lebih banyak dari arah jendelanya. Dia lalu melirik jam weker yang ada di sebelah tempat tidurnya. Pukul 07.15. Pantas saja alarmnya belum berdering. Dia terlalu cepat bangun rupanya.
“Hoamm. Padahal aku sudah sengaja memasang alarm jam 8” gumamnya masih mengantuk.
‘Tok..tok…’ terdengar ketukan di pintu kamarnya.
“Della, kau sudah bangun?” suara seorang wanita memanggilnya.
“Ya, ma. Aku sudah bangun!” teriak gadis yang ternyata bernama Della itu.
“Kalau begitu, cepatlah bersiap! Sarapannya nanti dingin. Mama tunggu di bawah, ya!” kata mamanya. Terdengar langkah kaki meninggalkan depan kamar Della.
“Huh! Padahal ini hari Sabtu. Tapi tetap saja tak bisa bangun lebih telat.” Keluhnya. Dia lalu bangkit dan mulai merapikan tempat tidurnya. Setelah itu, dia beranjak menuju kamar mandi yang berada di kamarnya sendiri. Tak hitung lima menit, sudah terdengar pancuran air dari kamar mandi.
Sementara mandi, pikiran Della melayang ke hal-hal yang akan dilakukannya hari ini. Karena ini hari libur dan tidak ada ekstrakurikuler yang harus diikuti olehnya, dia memikirkan apa yang bisa dilakukannya hari ini.
‘Aku tak mau menghabiskan hari ini di rumah saja. Sepi” pikirnya.
Ya, kedua orangtua Della adalah pegawai kantoran yang tetap berkerja pada hari Sabtu. Karena itu Della jarang berada di rumahnya karena dia tak ingin sendirian saja di rumah. Kecuali ada temannya yang main ke rumahnya.
“Mungkin lebih baik aku menelepon Mawar saja setelah ini. Mungkin dia tahu apa yang bisa dilakukan untuk menghabiskan hari ini.” Katanya pada dirinya sendiri.
Setelah itu, Della tidak lagi memikirkan apa pun lagi dan mempercepat mandinya karena orangtuanya sudah menunggunya di ruang makan.
.
Della memutuskan untuk memakai kaus berwana hijau dengan pita kuning di sebelah kanan bawah dan celana jeans selutut. Rambutnya yang sebahu dibiarkannya terurai tanpa aksesoris apapun. Della memang tidak terlalu suka memakai aksesoris yang berlebihan, karena tanpa itu pun, Della sudah terlihat cantik dengan wajah blasterannya.
Della adalah gadis blasteran Indonesia-Australia. Ayahnya asli dari Indonesia dan Ibunya berasal dari Australia. Tapi, Della lahir dan besar di Indonesia.
Della melirik kalender dindingnya. “Hari ini tanggal 11 Februari. Sebentar lagi Valentine Day” gumamnya.
Setelah merasa siap, Della mengambil HP-nya yang tergeletak di atas meja dan keluar dari kamarnya. Dia bergegas menuju ruang makan, tempat Ayah dan Ibunya sudah menunggunya.
“Pagi, pa. Pagi, ma” Della menyapa orangtuanya. Della adalah anak satu-satunya. Dan itu membuatnya sangat dekat dengan orangtuanya sekaligus mandiri.
“Pagi, Del. Bagaimana tidurmu?” tanya Ayahnya yang sedang membaca Koran hari itu.
“Baik, thanks” jawabnya seraya duduk di kursi yang berhadapan dengan Ibunya.
“Cepatlah sarapan! Mama dan papa sudah selesai duluan” ucap mamanya. Papanya pun bangkit.
“Kami harus segera berangkat. Kalau ada apa-apa langsung hubungi kami, sayang” mereka pamit meinggalkan Della sendiri.
Sambil melahap sarapannya, jemari Della menekan nomor temannya Mawar dan meneleponnya. Mawar langsung mengangkatnya. “Halo, Della. Ada apa?”
“Halo, Mawar. Aku ke rumahmu, ya? Aku malas sendiri di rumah.” Pinta Della tanpa basa-basi.
“Datang saja. Kebetulan aku juga sedang sendirian di rumah” ucap Mawar.
“Kalau begitu, aku ke sana sebentar lagi, okay?” dengan itu, Della langsung mematikan sambungannya dan kembali melahap sarapannya.
.
Mawar memang sedang sendirian di rumahnya. Mawar mengambil minuman dan beberapa cemilan dari dapur. Dia juga membawa novel yang baru saja di belinya ke ruang santai. Della sudah duduk di sofa sambil menonton TV. Mereka berdua sudah berteman sejak lama. Karena itulah, mereka sangat dekat.
“Hei, Del. Memangnya Leon ke mana?” tanya Mawar. Leon adalah teman mereka. Leon sudah berteman dengan Della sejak masih kecil. Dan Leon sangat dekat dengan Della.
“Oh, dia hari ini latihan basket dengan Alfa” jawab Della sambil meminum jusnya. Mawar hanya membalas dengan ‘oohh’ saja.
“Del, kamu akan memberikan coklat padanya, kan, minggu depan?” ya, hari ini tanggal 11 Februari. Tiga hari lagi tanggal 14 Februari, Hari Valentine.
“Eh?! Ehm, aku belum tahu. Aku masih bingung apa aku akan membuat coklat atau tidak nanti” ucapnya.
“Huff. Kau ini. Ini adalah kesempatan bagus untukmu menyatakan cinta padanya! Kau kan sudah berteman dengannya sejak kalian masih kecil. Aku yakin dia akan menerimamu” kata Mawar.
“Entahlah, War. Walaupun kami sudah lama berteman, tapi yang ini adalah hal yang berbeda. Bisa saja dia menolakku. Dan aku takut kalau persahabatan kami nantinya terganggu” kata Della.
“Baiklah. Kalau begitu pikirkanlah baik-baik. Aku hanya bisa mendukungmu” Della hanya tersenyum.
.
Senja sudah mulai berganti malam. Della masih berada di rumah Mawar, tepatnya di kamar Mawar. Mawar sedang ke ruang kerja Ayahnya untuk mengambil buku yang diperlukannya untuk membuat tugas.
Tiba-tiba Della mendengar suara klakson motor dari luar rumah. Della segera beranjak ke beranda kamar Mawar untuk melihat siapa yang ada di depan rumah. Della terkejut saat melihat kalau yang membunyikan klakson itu Leon. Leon berada di depan rumah Mawar sedang duduk di motor Yamaha kesayangannya.
Setelah rasa terkejutnya hilang, Della langsung berteriak memanggil Leon. “Leon, sedang apa kau di situ?” saat itu, Mawar masuk ke kamarnya.
“Ng, ada apa Del?” tanyanya berjalan ke arah Della.
“Itu, Leon ada di muka rumahmu” jawabnya.
“Eh?! Sedang apa dia?” Mawar melihat ke bawah dan menemukan Leon dengan motor Yamaha-nya.
“Aku datang untuk menjemputmu, Della! Tadi aku ke rumahmu tapi tidak ada siapa-siapa di sana” balas Leon.
“Oh, maaf. Aku sudah sejak pagi di sini. Aku tidak mengabarimu karena kukira kau sibuk latihan basket.”
“Kalau begitu, cepatlah turun! Ini sudah mau malam!” perintah Leon. Della mengangguk dan bersama Mawar ke depan rumah.
“War, aku pulang dulu, ya. Terima kasih untuk hari ini.” Ucap Della.
“Ya. Oh ya, jangan lupa tiga hari lagi” sindir Mawar. Della tersenyum kecut lalu langsung naik ke motor Leon. Leon juga pamit dan langsung menancap gas menuju rumah Della.
“Hah, mereka ini…” gumam Mawar sambil menggelengkan kepalanya. Dia pun masuk ke rumahnya.
.
Rumah Della tak terlalu jauh dari rumah Mawar. Karena itu Leon tidak mengendarai motornya terlalu cepat agar dia bisa mempunyai waktu dengan Della sebelum sampai ke rumah Della.
“Lain kali, kau harus menghubungiku kalau kau tidak ada di rumah” ucap Leon.
“Kau ini, sekalian saja jadi bodyguard-ku! Kau kan tidak setiap saat bersamaku. Jadi buat apa aku memberitahumu?” kata Della ketus.
“Terserah kau sajalah” balas Leon. Setelah itu, mereka menghabiskan perjalanan dalam diam. Tak ada lagi yang ingin dibicarakan.
.
Hari Minggu adalah hari yang menyenangkan buat Della. Karena hari itu, orangtuanya tidak bekerja dan dia bisa menghabiskan waktu dengan mereka. Setelah sarapan, Della membantu mamanya untuk membersihkan rumah. Della sama sekali tak keberatan karena dia bisa bersama mamanya seharian penuh.
“Del, kau tidak jalan-jalan dengan Leon hari ini?” tanya mamanya saat mereka sedang mencuci peralatan makan.
“Tidak. Aku lagi tidak ingin jalan-jalan bersamanya. Lagipula, sebentar siang aku ingin ke supermarket untuk membeli bahan membuat coklat.” Jelas Della.
“Benar juga. Dua hari lagi Valentine Day, ya? Kalau begitu kau memang harus segera membeli bahannya kalau kau ingin membuat coklat untuk valentine nanti. Kau ingin mama bantu?”
“Tidak usah. Aku ingin membuatnya sendiri. Lagipula, mama kan sibuk di kantor besok. Aku tak ingin menyusahkan mama” ucapnya.
“Baiklah jika itu yang kau mau. Jika mama membantu, nanti tak akan jadi spesial, kan? Hihihi” sindir mamanya.
“Ugh, mama! Apa-apaan, sih!?” Della cemberut mendengar sindiran mamanya.
.
Di supermarket, banyak orang-orang yang juga ingin membeli bahan untuk membuat coklat. Tapi Della tak perlu merasa khawatir bahannya habis, karena stok-nya disiapkan lebih banyak dari hari biasanya.
Della mengambil beberapa batangan dark chocolate, susu, krim, cetakan, dll. Della juga mengambil bahan untuk makan malam yang dititipkan mamanya. Setelah merasa apa yang dibutuhkannya sudah semua, Della langsung menuju kasir untuk membayar belanjaannya.
Della tidak berlama-lama di supermarket karena dia juga harus ke toko buku untuk membeli beberapa kertas, pita, dan kotak kado untuk membungkus coklatnya. Sekalian juga Della membeli beberapa komik dan novel. Della memang sangat suka membaca novel dan komik. Merasa sudah mendapatkan apa yang dicarinya sudah lengkap, Della langsung berjalan ke kasir untuk membayarnya.
Karena tak ada lagi yang ingin dibeli Della, dia langsung pulang ke rumahnya. Dia tak ingin singgah kemana-mana karena dia berencana akan langsung membuat coklatnya supaya besoknya coklat itu sudah bisa dibungkus. Dan itu membuat Della punya banyak waktu untuk mempersiapkan semuanya.
.
“Aku pulang!”
“Oh, kau sudah pulang, Del” ucap papanya yang sedang menonton TV di ruang keluarga. Papanya melirik bawaan Della. “Banyak juga belanjaanmu”.
“Mama titip bahan makanan untuk makan malam nanti soalnya. Ya sudah, aku ke dapur dulu, pa!” Della beranjak pergi ke dapur untuk meletakkan belanjaannya.
Saat akan masuk ke dapur, mama Della memanggilnya. “Del, kau sudah pulang? Kau membeli bahan yang mama titipkan, tidak?” tanya mamanya.
“Iya. Ini!” Della menunjukkan belanjaannya. “Mau aku taruh di mana?”
“Susun saja di lemari dan kulkas. Kau mau memakai dapurnya, kan?”
“Iya. Aku mau langsung membuat coklatnya supaya masih punya banyak waktu untuk membungkusnya nanti” jawab Della.
“Okay, I’m in my room if you need me, dear” ucap mamanya seraya pergi ke kamarnya. Della mengangguk dan bergegas menyusun bahan makanan tadi di lemari makanan dan kulkas.
Setelah itu, dia mengambil barang-barang yang dibelinya tadi di toko buku dan membawanya ke kamarnya. Dia menaruh barang-barang itu di atas meja belajarnya dan kembali ke dapur untuk bersiap membuat coklatnya.
“Nah, ayo kita mulai!” serunya lalu mengeluarkan bahan-bahan tadi dan menyiapkan penggorengan.
Campurkan dark chocolate yang sudah dihaluskan dengan susu, kemudian lelehkan dengan air panas. Lalu, diamkan sebentar, lalu tambahkan krim segar. Dinginkan sambil diaduk-aduk. Masukkan butter dan air ke dalam penggorengan lalu didihkan. Masukkan tepung terigu dan baking powder. Aduk dan panaskan dengan api kecil.
Della membuatnya dengan cekatan. Dia sudah terbiasa berhadapan dengan yang seperti ini. Selain karena dia sudah terbiasa memasak karena orangtuanya kadang berada di rumah, dia juga menyukai snack. Dan biasanya, snack itu dibuatnya sendiri.
“Nah, sekarang saatnya menuangkan ini ke cetakan” Della lalu mengambil sebuah cetakan berbentuk bulat, dua cetakan bintang, dan sebuah cetakan hati.
Dia menderetkan cetakan itu di meja agar mudah menuangkan coklatnya. Dengan hati-hati, dia menuangkan coklatnya di setiap cetakan dengan takaran yang pas. Setelah selesai, Della menghela napas lega. “Akhirnya coklatnya selesai dituangkan”. “Tapi ini belum selesai, aku masih harus menulisi coklatnya dengan white cream”. Della pun memasukkan coklatnya di kulkas dengan hati-hati. Coklatnya harus didinginkan sedikit sebelum ditulisi.
Sementara menunggu cokelatnya dingin, Della membuat bahan untuk menulis di atas cokelatnya. Tak terlalu lama membuatnya. Setelah selesai, Della mengambil cokelat yang sudah lumayan dingin tadi. Dia mengeluarkan cokelat dari cetakannya dengan hati-hati. Dia mulai menulisi cokelatnya.
Dimulai dari cokelat berbentuk bintang. “Ini cokelat untuk papa dan mama” gumamnya dengan senyum menghiasi wajahnya. Dia menghias cokelat itu dengan cream di pinggirannya. Menurut Della, cokelat untuk mereka tak perlu dihias terlalu banyak.
Setelah itu, dia mengambil cokelat berbentuk bulat. Della tertawa pelan saat akan menghiasnya. “Semoga cokelat ini mau diterima Mawar. Soalnya kan dia tak suka hal-hal seperti ini”. Della menggambar bentuk ‘smile’.
Dan akhirnya, saatnya Della untuk menghias cokelat berbentuk hati. Della terdiam sebentar. “Apa dia akan menerimanya, ya? Biasanya sih dia selalu menerimanya. Tapi kali ini kan berbeda. Apa aku urungkan saja niatku?”. Lama Della terdiam menatap cokelat dihadapannya. Tersadar kalau cokelatnya tak boleh terlalu lama dibiarkan, Della menghela napas dalam dan berkata, “Aku sudah membuatnya, kan. Aku harus memberikannya nanti. Apa pun yang terjadi, semuanya akan baik-baik saja!”
Setelah meyakinkan dirinya, Della mulai menulisi cokelat itu. Dia menulis ‘To Leon, I Love You’. Saat menulisnya, terlihat semburat merah di pipi Della. Della menatap hasil karyanya. ‘Semoga saja aku bisa memberikannya tepat Valentine Day. Karena hadiah valentine, jika terlambat diberikan, perasaanku tidak akan sampai padanya’ batinnya tersenyum.
Tak ingin terhanyut dalam khayalannya terlalu lama, Della segera memasukkan cokelatnya kembali ke kulkas. Setelah itu, dia membereskan peralatan masak yang tadi dipakainya, dan segera kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Pekerjaan tadi benar-benar membuatnya lelah.
.
Keesokan harinya, Della langsung pulang dari sekolah. Dia tak ingin berlama-lama karena ada tugas yang harus dikerjakannya. Lagipula, dia juga masih harus membungkus cokelat buatannya.
“Aku pulang duluan ya, Mawar!” pamitnya pada Mawar.
“Okay. Hati-hati di jalan!” balas Mawar. Della pun langsung meninggalkan kelas mereka dan bergegas ke tempat parker sekolahnya. Di sana sudah ada Leon yang –seperti biasa – menungguinya di samping motornya.
Menyadari kalau Della sedang berjalan ke arahnya, Leon mengambil helmnya dan helm untuk Della. “Sudah lama menunggu?” tanya Della sambil menerima helm yang diberikan Leon.
“Tidak juga. Aku juga baru saja ke luar kelas. Tumben ingin langsung pulang. Ada apa?” tanya Leon sambil memakai helmnya.
“Tidak juga. Aku punya tugas yang harus diselesaikan, hanya itu” ujarnya. Mereka pun segera meninggalkan sekolah.
.
Setelah selesai makan malam, Della bergegas ke kamarnya untuk mengambil alat-alat untuk membungkus cokelatnya. Orangtua Della tidak ada di rumah karena mereka harus menghadiri acara teman mereka. Della tak ingin ikut karena dia harus membungkus cokelatnya.
Della pun mengambil cokelatnya yang sudah beku sempurna dari kulkas. Dia memutuskan untuk membungkusnya di dapur saja. Della mulai membungkus cokelatnya satu-persatu. “Aku membungkus cokelat ini beserta harapanku untuk mereka” gumamnya sambil tersenyum tulus.
Saat akan membungkus cokelat untuk Leon, terlebih dahulu Della menyelipkan secarik kertas baru membungkusnya dengan pita berwarna putih. Della menatap sebentar cokelat-cokelat itu. “Asalkan mereka mau menerimanya dengan senyum senang, itu sudah sangat berarti bagiku” katanya sambil tersenyum kecil. Dia pun memasukkan cokelat itu kembali ke kulkas.
Della tak perlu menunggui orangtuanya karena mereka punya kunci duplikat rumah mereka. Karena itu, Della langsung membereskan dapur yang dipakainya dan langsung bergegas untuk tidur.
.
“Good morning, pa, ma” sapa Della saat dia memasuki ruang makan.
“Morning, dear” sapa mereka. Della pun duduk dan sarapan bersama orangtuanya.
Setelah sarapan, Della ke dapur dan mengambil cokelat untuk kedua orangtuanya. “Here, cokelat untuk kalian berdua. Happy Valentine Day!” ucapnya seraya memberikan cokelat buatannya.
“Thank you, dear. Mama dan papa juga punya hadiah valentine untukmu. Tunggu sebentar!” mamanya segera meninggalkan ruang makan.
Saat kembali, mamanya membawa kotak kado berwarna merah dengan hiasan pita kuning. “For you, our dearest daughter” kata mamanya menyerahkan hadiah itu.
Senyum Della mengembang dan matanya berbinar. “Thank you!”. Dia menciumi mereka berdua.
“Nah, saat-saat kasih sayang sudah selesai. Lanjutkan nanti setelah aktivitas hari ini selesai. Kita harus segera berangkat kalau tak ada yang mau terlambat” ucap papanya mengundang tawa kecil dari Della dan mamanya. Della segera memasukkan cokelat lainnya ke tasnya dan berangkat ke soklahnya.
.
Di gerbang sekolah, Della menemukan Mawar sedang berdiri sambil bersandar di gerbang. Della segera menuju Mawar dan menyapanya, “Pagi, Mawar. Kau sudah lama menunggu?”.
Mawar tersenyum sambil menjawab, “Pagi. Tidak juga. Ayo kita ke kelas!”. Mereka berdua pun beranjak menuju kelas mereka.
Sambil berjalan, mereka berdua bercakap-cakap tentang hari ini. Dan saat berjalan di koridor menuju kelas mereka, beberapa anak laki-laki berteriak memanggil nama Mawar. “Mawar! Terimalah hadiah valentine dariku!”. Yang lain berteriak, “Mawar! Jadilah pacarku!”. Mawar hanya memasang tampang dingin menanggapi mereka.
“Del, ayo cepat!” Mawar menarik tangan Della dan berlari menuju kelas mereka. Della hanya bisa tertawa melihat ekspresi Mawar yang benar-benar tak enak.
Mawar memang salah satu gadis pujaan di sekolah mereka. Tak jarang banyak cowok yang ingin menjadi pacarnya. Tapi Mawar selalu menolaknya dengan dingin. Mawar memang bukan tipe gadis yang begitu saja mau jadi pacar orang. Mawar mempunyai penilaian yang tinggi untuk cowok yang akan jadi pacarnya.
Della juga salah satu gadis pujaan cowok di sekolah mereka. Tapi, mereka tidak terlalu berharap menjadi pacar Della karena Della selalu bersama Leon. Mereka bisa merasakan aura yang tak enak dari Leon saat mereka berusaha untuk mendekati Della. Namun tampaknya Della tak menyadarinya.
Saat hampir sampai di kelas , seorang cowok mencegat mereka. Dia langsung menahan mereka berdua. “Hai, Mawar, Della!” sapanya ceria. Della membalasnya dengan senyuman. ‘Cowok dari kelas sebelah’ pikirnya. Tapi Mawar tidak membalasnya dan memasang wajah datar.
“Ini untukmu, War. Mawar merah untuk gadis yang kusukai” kata cowok itu seraya memberikan setangkai mawar untuk Mawar. Mawar tersentak. Ekspresinya berubah. “Aku ingin kau jadi pacarku!” ucap cowok itu tanpa ragu-ragu. Mawar menundukkan kepalanya.
‘Oh ow! Aku punya perasaan buruk, nih’ batin Della ngeri.
Mawar mengangkat kepalanya. Di wajahnya terpampang ekspresi yang sangat menakutkan. “AKU.TAK.MAU. JANGAN PERNAH MEMBERIKU BUNGA MAWAR!!” teriak Mawar sadis. Dia lalu menarik tangan Della dan meninggalkan cowok yang kaget mendengar penolakan yang sadis dari Mawar.
Della melirik cowok itu. Tak tega melihatnya patah hati. Tapi Della tak mau membuat Mawat tambah marah jika dia membela cowok itu. Della tak ingin hari ini menjadi hari yang buruk bagi Mawar.
Della tahu kalau sejak dulu Mawar sangat tak suka hal-hal seperti itu, terlebih bunga mawar. Soalnya kebanyakan orang memberinya bunga mawar di hari spesial hanya karena Mawar bernama mawar. Dia tak pernah suka bunga mawar. Walaupun bukan berarti dia membenci namanya. Dia tetap menghargai nama yang diberikan orangtuanya. Tapi yang Mawar inginkan adalah hal simple yang cocok dengan pribadinya.
Saat mereka sampai di kelas, Mawar menghempaskan dirinya di tempat duduknya. Della hanya menghela napas melihatnya. “Mereka itu kenapa, sih?!!” seru Mawar. Dari nada bicaranya, terdengar kalau dia berusaha menahan dirinya.
“Mereka hanya ingin menunjukkan rasa sayang mereka, kok. Kuasailah dirimu! Ini kan hari spesial” ujar Della. Dia duduk di sebelah Mawar.
Mawar menghela napas. Dia menutup matanya sejenak. “Maaf. Aku berlebihan” ucap Mawar pelan.
“Sudahlah. Tapi kenapa sih kau tak mau menerima hadiah dari cowok-cowok itu? Kan tidak semua memberimu bunga mawar” tanya Della.
“Bagiku, yang seperti itu tidak cocok untukku. Lagipula, sejarah valentine kan tidak sebahagia seperti yang kita bayangkan. Malahan orang yang menjadi asal-usul valentine mati di akhir penyiksaannya, kan? Dan valentine berdarah itu, sama sekali tidak cocok dengan perayaan orang-orang” jelas Mawar datar.
“Tapi kan St. Valentine berjuang untuk menikahkan orang-orang yang saling mengasihi! Dan justru karena pesan cinta dari Valentine untuk putri penjaga penjara pada tanggal 14 Februari yang menjadikan Valentine Day ini. Untuk mengenangnya, sang pejuang cinta” tukas Della.
Mawar memandang Della. “Iya, iya. Aku mengerti. Jadi bagaimana perjuanganmu untuk menyatakan cinta pada Leon?”
“Jangan keras-keras bicaranya! Nanti kedengaran orang lain!” seru Della.
Mawar tertawa kecil. “Jadi?” tanyanya.
“Aku akan memberikannya cokelat dan di dalamnya ada secarik kertas yang berisi pengakuanku untuknya. Tapi aku sih tidak ingin berharap tinggi-tinggi dia mau menerima atau tidak. Diterima cokelatnya saja aku sudah senang, kok” jawab Della.
“Tenang saja. Dia pasti akan menerimu, kok. Memangnya siapa lagi gadis yang selalu berada di sampingnya dan selalu dijaganya?” Mawar meneyemangati Della.
“Iya, aku tahu, kok. Sekarang yang aku pikirkan apakah kamu mau menerima cokelat tanda persahabatan dariku ini atau tidak…” ucapnya seraya mengeluarkan cokelat untuk Mawar.
“Kau ini, tak menyerah ya memberiku yang beginian?”. Della hanya tertawa.
“Tentu saja tidak! Ayolah! Kau tidak menghargai kerja kerasku untuk membuatnya, ya? Lagipula ini bukan ‘love’ atau mawar, kok”.
Della memberikan kotak hadiahnya pada Mawar. Mawar terkejut saat melihat kalau pembungkus hadiahnya bergambar Lakspur flower yang artinya beautiful spirit. “Kurasa bunga itu cocok untukmu” kata Della.
Mawar tersenyum. “Baiklah. Aku terima hadiahnya. Tapi aku tak akan memberimu cokelat”.
“Ng? kau juga akan memberiku hadiah?” tanya Della penasaran.
“Iya. Besok, di kafe tanteku, aku akan mentraktirmu Chocolate Coffe. Bagaimana?”
“Wah, aku mau. Sudah lama aku tidak minum Chocolate Coffe. Thanks, Rose” Mawar hanya tersenyum simpul menanggapinya.
.
“Del, kau mau jalan nggak sebentar?” tanya Leon yang sedang berjalan dengan Della di koridor sekolah saat pulang sekolah.
“Boleh. Kau jemput, kan?”.
“Jam 7. Tak usah berpakaian terlalu rapi. Aku tak akan mengajakmu ke tempat yang aneh-aneh, kok”.
Della tertawa. “Memang aku sering berpakaian seperti apa?”. Leon ikut tertawa. “Oh ya, ini untukmu. Happy Valentine Day!” ucapnya memberikan hadiahnya untuk Leon.
“Oh, thanks. Hadiahmu nanti sebentar, ya. Aku masih menyiapkannya” ucapnya.
“Memang hadiah apa?” tanya Della.
“Lihat saja nanti!” ucap Leon. Della hanya membalasnya dengan anggukan. “Kau mau kuantar, tidak?” tanya Leon.
“Tidak usah. Yang penting, kau tidak lupa menjemputku sebentar!” jawab Della.
“Okay!” balasan Leon.
.
Sebentar lagi jam 7. Della sedang bersiap-siap di depan cermin di mejanya. Dia memakai long t-shirt berwarna peach dan black jeans. Dia menghias rambutnya dengan pita berwarna scarlet. Pikiran Della melayang pada apa yang nanti akan dikatakan Leon, karena pasti Leon sudah membaca kertas yang diselipkannya di hadiah tadi.
‘Semoga saja tidak membuatnya marah atau apa pun itu” batinnya. Setelah siap, Della segera ke luar dari kamarnya dan pamit pada orangtuanya.
Di depan rumahnya, Leon sudah menunggu. Dia memakai kaus hitam dan kemeja lengan pendek berwarna cokelat, dan black jeans. Della segera naik ke motornya, dan Leon segera melajukan motornya.
.
Leon membawa Della berjalan menyusuri taman di tengah kota. Taman ini sudah dihias sedemikian rupa dengan tema valentine. Mereka berjalan dalam diam. Sampai akhirnya Leon memecah keheningan. “Del, aku sudah membaca kertas yang ada di dalam hadiahmu tadi, juga cokelat itu…” ucap Leon.
Della tersentak. Rasa khawatir mulai merasuk di hatinya. ‘Bagaimana ini? Apa tanggapannya?’ pertanyaan yang ada di kepala Della. “Lalu, apa tanggapanmu?”.
Leon tak segera menjawab. “Aku…kesal” itu yang dijawab Leon. Della menundukkan kepalanya mendengar jawabannya. Rasa kecewa menghampirinya.
Tapi Leon belum selesai. “Aku kesal karena aku sudah keduluan olehmu menyatakan cinta. Padahal aku sudah mempersiapkannya untuk hari ini” lanjutnya.
Della kaget. Dia mengangkat kepalanya dan menatap Leon. “Eh, jadi kau…?!”.
Leon menggenggam tangan Della dan membawanya ke tengah taman. Dia dan Della duduk di sebuah kursi yang ada di situ. “Del, aku memang sudah keduluan darimu. Tapi aku tetap akan mengatakannya dan kaulah yang harus menjawabku!”
“Eh, kok begitu, sih?” protes Della. Tapi Della tidak melanjutkannya dan diam menunggu apa yang akan dikatakan Leon.
Leon mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna beludru. Dia lalu membukanya dan Della terkejut saat melihat isi kotak itu. Sebuah leontin hati. “I love you, Della. Will you be my girlfriend?”. Della hanya bisa mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia lalu mengangguk senang. Leon tersenyum dan mengalungkan leontin itu di leher Della.
“I love you, too, Leon” ucapnya pelan dan menghambur ke pelukan Leon.
Satu lagi pasangan yang disatukan di hari valentine ini. Tak peduli apa yang menjadi tragedi di masa lalu saat valentine dibuat. Yang pasti hanyalah, jika memang saling mengasihi, tak usah takut dan percayalah kalau kasih sayanglah hal yang paling kuat. Beribu-ribu kasih sayang yang diutarakan, untuk orang yang berharga bagi diri kita. Beribu-ribu kasih sayang yang akan menyinari hari-hari kita.
~Tamat~
Karya: Devi J. G. Sahati
Subscribe to:
Comments (Atom)