“Ibu tidak menyiapkan bekalku, ya?” teriak Melodi dari dapur. Sementara itu, ibunya terlihat tidak mendengar dan sibuk menelepon. “Huh, ya sudahlah. Aku pergi dulu ya…” Melodi menutup pintu dengan keras tapi ibunya tidak menyadari hal itu dan masih sibuk menelepon.
“Ha-ah. Sepertinya, ibu tidak menyadari kalau aku tadi menutup pintunya dengan keras, soalnya ibu tidak berteriak memarahiku. Siapa ya yang sedang bicara dengan ibu ditelepon sampai-sampai ibu tidak sempat memperhatikanku pagi ini?” Tanya Melodi pada dirinya sendiri. Tak mau menebak-nebak siapa itu, Melodi memutuskan untuk tidak perlu memikirkannya lagi. Dia pun bergegas ke sekolahnya.
.
“Selamat pagi, Melodi. Kau sudah mengerjakan tugas yang diberikan Clara-sensei?” tanya Light pada Melodi yang baru tiba. Light dan temannya yang lain terlihat sedang mencocokkan jawaban tugas mereka.
“Ya, aku sudah membuatnya. Ha-ah, menyusahkan saja! Padahal kita baru mulai belajar disini, tapi langsung diberikan tugas yang lumayan banyak.” ujar Melodi ketus.
“Yah, apa boleh buat. Kelihatannya kau sedang kesal. Ada apa?” tanya Light yang menyadari bahwa temannya sedang kesal.
“Aku sedang kesal pada ibuku. Pagi ini dia sibuk menelepon hingga tidak menyiapkan bekalku. Saat aku pamit pun dia tidak memperhatikannya. Huh!!” ucap Melodi ketus.
“Mungkin ibumu punya urusan yang penting dengan orang yang ditelponnya sehingga dia tidak sempat memperhatikanmu pagi ini.” ucap Light menenangkan. Light pun berusaha mengganti topik pembicaraan dengan menyinggung soal siswa baru yang baru akan hadir hari ini. “Hei, ngomong-ngomong siswa itu akan hadir hari ini, kan? Aku jadi penasaran seperti apa dia..”
“Yah, kita akan tahu itu nanti.” ucap Anzu sambil melirik jam tangannya. “Ini sudah pukul 08.10. Sebaiknya kita cepat duduk. Sebentar lagi pelajaran akan dimulai.” Tambah Anzu.
.
Sementara itu, di muka gerbang sekolah terlihat seorang anak laki-laki yang memakai seragam yang terdiri dari kemeja putih dan blazer berwarna coklat dengan lambang daun maple berwarna coklat di dada kiri blazer itu juga celana panjang berwarna senada dengan blazer. Seragam itu adalah seragam Maple High di musim gugur sehingga seragam itu didominasi dengan warna coklat.
Laki-laki itu melihat-lihat dulu sebentar dan kemudian masuk dan menyapa dua orang penjaga gerbang. “Selamat pagi, Pak. Saya mau tanya, ruang gurunya dimana, ya?” tanyanya.
“Oh, kau pasti murid yang baru masuk ya? Ikuti saya, saya akan mengantarkanmu ke ruang guru.” Seorang dari penjaga gerbang itu mengantarkan siswa itu.
Di persimpangan lorong, mereka bertemu dengan 2 orang muruid yang sedang bolos. Penjaga sekolah itu mencoba menegur mereka dan menyuruh mereka masuk ke kelas. Tapi murid-murid itu malah lari dan penjaga sekolah itu pun dengan sigap langsung mengejar mereka, tapi karena dia sudah tua, mereka pun tak dapat dikejar. Tiba-tiba seseorang berlari melewati penjaga sekolah itu. Ternyata itu adalah murid baru tadi. Dia berhasil mengejar dua siswa tadi dan menahan mereka agar mereka tidak lari lagi. Akhirnya, penjaga sekolah dan murid itu membawa kedua murid yang mencoba bolos itu pada guru piket.
“Kau hebat sekali, nak. Kau dapat mengejar mereka dan menghentikan mereka.” ucap penjaga sekolah itu karena dia tahu dua murid tadi adalah murid yang benar--benar nakal.
“Tidak kok..aku hanya mencoba untuk menlakukan apa yang seharusnya kulakukan” ujar siswa baru itu.
“Terima kasih karena sudah membantu saya menghentikan kedua siswa tadi dan maaf atas kejadian tadi. Padahal kau murid baru, tapi sudah melihat hal seperti ini. Yah, kadang-kadang ada beberapa siswa yang seperti itu.” ucap bapak itu.
“Tidak apa-apa, aku tidak memusingkan hal itu. Lebih baik bapak kembali saja. Saya akan menemui guru yang menjadi wali kelas saya. Terima kasih karena bapak sudah mengantarkan saya kesini.” Ucap anak itu dan langsung masuk ke ruang guru. Di dalam dia bertemu dengan Clara-sensei, guru yang menjadi wali kelasnya.
“Selamat pagi, sensei. Saya Ciel, murid baru. maaf atas keterlambatan saya.” ucap siswa yang ternyata bernama Ciel itu.
“Jadi aku anak itu? Sepertinya kau mengalami pengalaman yang mengesankan ya di hari pertamamu disini, eh?” ucap Clara-sensei sambil melihat data tentang Ciel.
“Ya begitulah. Tapi itu tidak terlalu mengagetkanku, kok..” gumam Ciel.
Clara-sensei tidak memperdulikan hal itu dan langsung mengatur berkas yang ada di mejanya dan berdiri. “Sebaiknya kita segera masuk ke kelas . kau akan memperkenalkan dirimu pada teman sekelasmu. Semoga kau bisa bargaul dengan baik dengan mereka.” Clara-sensei pun melangkah ke luar menuju kelasnya diikuti oleh Ciel di belakangnya.
.
“Kenapa Clara-sensei belum datang, ya? Padahal jam pelajaran sudah dimulai.” tanya Mai.
“Mungkin ada suatu urusan sehingga sensei belum datang.” kata Aini.
TIba-tiba Clara-sensei muncul dan masuk ke kelas mereka. Anak-anak yang tadinya rebut langsung diam dan memperhatikan sensei mereka.
“Anak-anak, hari ini kalian mendapat teman baru. Sebenarnya, dia sama seperti kalian yang seharusnya masuk kemarin, tapi dia tidak tinggal disini jadi baru bisa datang hari ini.” jelas Clara-sensei sesaat setelah dia masuk. Lalu dia mengalihkan pandangannya ke luar. “Kau bisa masuk sekarang dan memperkenalkan dirimu pada mereka.” ucap Clara-sensei Ciel yang sedari tadi menunggu di luar. Ciel pun masuk dan saat dia msuk semua yang ada di kelas langsung memperhatikannya.
“Hai semuanya. Namaku Ciel, salam kenal.” katanya memperkenalkan diri. Dan saat Ciel memperkenalkan dirinya, saat itu pula mata Melodi membesar kaget. “Maaf aku baru masuk hari ini. Aku tinggal di kota lain sehingga aku harus mengurus kepindahanku dulu ke kota ini. Dan mulai hari ini aku akan tinggal di kota ini. Mohon bantuannya.”
Ciel benar-benar menarik perhatian semua yang ada disitu saat itu. Tak terkecuali Melodi. Dia benar-benar memperhatikan Ciel, memperhatikan rambut coklat ciel dan mata safirnya.
“Kau bisa duduk di sebelah Daigo, Ciel.” ucap Clara-sensei menunjukkan tempat duduk Ciel. Ciel menuruti perkataannya dan langsung beranjak ke tempat duduknya.
“Hai, aku Daigo, salam kenal.” ucap Daigo memperkenalkan dirinya pada teman yang akan menempati tempat di sampingnya. Ciel tersenyum dan memperkenalkan dirinya juga.
“Hai juga. Aku Ciel, salam kenal.”
“Sekarang siapkan tugas yang saya berikan pada kalian masing-masing. Ciel, karena kau baru hadir hari ini maka saya berikan dispensasi tidak mengumpulkan tugas ini hari ini. Kau bisa memasukkannya pada hari berikutnya. Kau dapat menanyakan soalnya pada Daigo nanti.”jelas Clara-sensei. Para siswa pun mengumpulkan tugasnya masing-masing.
Mereka pun melanjutkan pembelajaran mereka. Saat pelajaran berlangsung, Melodi sering mencuri pandang ke arah Ciel. Light yang ada di sampingnya menyadari hal itu. ‘Kenapa Melodi dari tadi sering melihat ke arah ciel, ya?’ batinnya. Sebenarnya Light ingin menanyakan hal itu pada Melodi tapi karena Light tidak ingin ditegur oleh clara-sensei dan memutuskan untuk tidak menanyakan hal itu hingga jam istirahat.
.
Pada saat bel tanda istirahat berbunyi, Light memberanikan diri untuk menanyakan hal yang dari tadi ada dia pikirannya. “Melodi, kau kenapa? Kulihat kau sering melihat ke arah belakang.” tanyanya.
“Ah, tidak. Aku tidak apa-apa kok. Tenang saja.” ucap Melodi. Saat mendengar penjealsan Melodi, Light tak sengaja melihat lurus ke mata Melodi dan menyadari bahwa mata Melodi dan Ciel sama-sama berawarna biru safir. Tapi Light tidak ingin mempermasalahkan hal itu dan akhirnya mengganti topik pembicaraan.
“Baiklah kalau begitu. Lebih baik sekarang kita ke kantin.aku sudah lapar, nih.” ajak Light.
“Ayo!”
Saat mereka berdiri dan menuju ke luar, tiba-tiba seseorang memanggil mereka. Ketika mereka berpaling untuk melihat siapa yang memanggil itu, mereka melihat Ciel yang berjalan ke arah mereka .
“Kalian mau keluar kelas, ya? Boleh aku ikut? Aku ingin lebih mengenal lingkungan sekolah ini.” kata Ciel. Dia melirik ke arah Melodi dan tersenyum. Melihat itu, Melodi balas tersenyum.
“Baiklah. Ayo!” ucap Light.
.
Saat di kantin, Light heran melihat Melodi dan Ciel yang bercakap-cakap ringan dan terlihat sangat akrab seperti sudah lama saling mengenal. Akhirnya, Light pun menanyakan hal itu pada mereka berdua. “Um, Melodi, Ciel, aku ingin tanya, kalian sudah slaing kenal ya? Habis, kelihatannya kalian sangat akrab.”
Mendengar hal itu, Melodi dan Ciel saling berpandangan dan tersenyum. “Sebenarnya aku dan Ciel itu sepupuan. Kami baru ketemu kembali sekarang. Kalian dengar kan kalau Ciel itu tinggal di kota lain. Tapi dulu waktu masih kecil Ciel tinggal disini.” ucap Melodi.
“Oh, kukira…” Anzu bergumam.
“Pantas saja dari tadi Melodi terus memperhatikanmu. Sepertinya dia gelisah karena kau tidak menyapanya di kelas tadi.” kata Light.
“Benarkah?”
“Yah, habis kau tidak menyapaku. Kukira kau tidak ingat aku. Kau juga tidak mengabarkan bahwa kau sudah pindah ke kota ini lagi.” kata Melodi kesal.
“Haha, maaf aku tidak mengabarimu. Tapi bibi sudah tahu, kok. Ibuku dan bibi tadi pagi menelepon sangat lama. Apa bibi tidak bilang?”
“Eh, jadi yang berbicara dengan ibuku tadi ibumu? Memangnya apa yang mereka bicarakan?”
“Ibuku meminta tolong bibi membantuku membereskan barang-barangku. Soalnya, orangtuaku tidak akan tinggal di kota ini bersamaku. Oh ya, aku akan tinggal di sebelah rumahmu.” jelas Ciel.
“Benarkah? Hah, berarti aku juga harus membantumu, dong.” Melodi menghela nafasnya.
“Kami mau membantuku. Iya kan Anzu?” ucap Light menawarkan diri. Anzu yang ditanya hanya menjaawab dengan anggukan.
“Eh, benarkah? Apa tidak merepotkan?” tanya Ciel.
“Tidak apa-apa. Kita kan sekarang teman. Teman itu garus saling membantu, kan?” kata Light tersenyum.
Mendengar itu mata Ciel membesar tapi dia langsung mengendalikan kerkagetannya dan tersenyum lembut. “Terima kasih teman-teman.” ucapnya.
Yup! akhirnya di-publish juga chapter 2-nya. semoga disukai....
nice =)
ReplyDeletelanjutkan dev xD