Ketika
hujan turun dan bumi menjadi basah, anak perempuan itu berjalan di lorong
gelap. Anak perempuan yang sangat manis, dengan rambut hitam sedikit melewati
bahu. Dia melihat dunia dengan mata hitamnya yang kelam, menghirup aroma tanah
basah yang menyengat namun nyaman. Masuk ke dalam hutan dan melihat pohon yang
terlihat mudah untuk dipanjat. Dengan sihirnya dan imajinasi dia membuat rumah
pohon di atasnya.
Hutan
itu sepi, tapi rumah pohonnya tampak penuh kehidupan. Rumah pohon itu menyimpan
misteri dari sihir yang sangat hebat. Dia bisa ke mana saja jika masuk ke rumah
pohon itu! Dia telah banyak melihat dunia dari sana.
Semuanya
dunia yang hebat dan menakjubkan! Tidak sama seperti dunianya yang kelabu…
Dia
menyukai bau sehabis hujan, dia menyukai bintang di langit, dia menyukai semua
bunga yang mekar, dia menyukai langit oranye, dia menyukai lautan yang
membentang, dia menyukai hampir segala jenis musik.
Tapi
dia membenci dunianya dan dirinya sendiri.
Anak
perempuan yang sangat manis, brilian, dan bersuara indah, kata mereka.
Tubuhnya
lemah, dia pemalu, anak perempuan yang menyedihkan. Hanya punya sihir dan
imajinasi saja yang menjadi keuntungannya.
Dia
sudah menjelajah banyak sekali dunia sampai dia tumbuh dewasa. Anak perempuan
kecil itu tumbuh menjadi perempuan yang melihat dunia dengan cara yang aneh. Dia
menjadi lebih berani tapi tetap merasa kecil. Hujan yang turun selalu indah dan
mengerikan di saat yang bersamaan. Gadis yang menyedihkan. Hanya punya sihir
dan sembunyi di baliknya untuk terus melangkah ke depan.
Mundur
bukan pilihan, mengganti jalan begitu sulit dan melelahkan, dan melangkah ke
depan membuatnya serasa berputar hingga mual. Dia yakin ada lubang yang
menganga di dalam hatinya. Rumah pohon sudah hilang ditelan waktu dan
pertumbuhan. Hutan yang dulu jadi tempat bermainnya tidak lagi ada, menghilang
ditelan zaman. Imajinasinya jelas-jelas semakin habis saja.
Menjadi
anak-anak membuatnya lemah, menjadi perempuan dewasa membuatnya sakit. Lantas apa
yang seharusnya dilakukan?
Air
mata yang asin, hujan yang asam; dunia semakin gelap saja.
Bahkan
dunia lain di luar sana pun mulai berubah menjadi gelap dan dingin. Tidak lagi
menakjubkan seperti dulu, dan sihir tidak lagi bertebaran di udara dan
melompat-lompat di tanah. Sepertinya dia akan melihat malaikat, sepertinya dia
akan melihat akhir dunia, sepertinya dia akan mengurung diri di dalam kamarnya.
Dan
sepertinya lubang di hatinya akan terus menelannya.
Sungguh
tidak adil!
Dia
punya keluarga, dia punya teman, dia punya pekerjaan, tapi dia tak pernah
merasa layak.
Seakan
dunia bisa saja meninggalkannya begitu saja, membiarkannya berhenti di jalan
seorang diri.
Mungkin
beberapa hari ke depan dia akan bangun saat langit masih gelap, saat matahari
belum akan muncul tapi langit sudah menjadi biru tua. Mungkin dia akan keluar
ke jalan seorang diri, menyanyikan lagu-lagu, dan mendengarkan dunia berbicara
padanya. Mungkin dia akan menutup mata—karena hitam telah menjadi merah—dan
bersenandung dalam sunyi.
Mungkin
saja dia akan kembali menjadi anak perempuan yang manis itu.
Gadis
yang brilian dan bersuara indah, kata mereka, tertidur diiringi suara hujan. Dadanya
sesak, napasnya pelan; gadis yang menyedihkan.
Dia
akan berjalan ke depan—cuma itu pilihannya. Tapi saat hujan turun, mungkin
dunia bisa membiarkannya tertidur – setidaknya hatinya – sambil mengingat
kembali seluruh dunia yang pernah dikunjunginya dulu dan meratap untuk lubang
yang semakin besar dan dalam.
Gadis
yang merasakan semuanya terlalu dalam hingga dunia menjadi terlalu berat. Dan hujan
membuat semuanya basah dan dingin. Gadis itu ingin kembali berjalan di lorong
yang gelap dan masuk ke hutan di mana sihir dan imajinasi menciptakan
segalanya.