Friday, 4 October 2019

tulisan singkat di hari yang kelabu


Ketika hujan turun dan bumi menjadi basah, anak perempuan itu berjalan di lorong gelap. Anak perempuan yang sangat manis, dengan rambut hitam sedikit melewati bahu. Dia melihat dunia dengan mata hitamnya yang kelam, menghirup aroma tanah basah yang menyengat namun nyaman. Masuk ke dalam hutan dan melihat pohon yang terlihat mudah untuk dipanjat. Dengan sihirnya dan imajinasi dia membuat rumah pohon di atasnya.

Hutan itu sepi, tapi rumah pohonnya tampak penuh kehidupan. Rumah pohon itu menyimpan misteri dari sihir yang sangat hebat. Dia bisa ke mana saja jika masuk ke rumah pohon itu! Dia telah banyak melihat dunia dari sana.

Semuanya dunia yang hebat dan menakjubkan! Tidak sama seperti dunianya yang kelabu…

Dia menyukai bau sehabis hujan, dia menyukai bintang di langit, dia menyukai semua bunga yang mekar, dia menyukai langit oranye, dia menyukai lautan yang membentang, dia menyukai hampir segala jenis musik.

Tapi dia membenci dunianya dan dirinya sendiri.

Anak perempuan yang sangat manis, brilian, dan bersuara indah, kata mereka.

Tubuhnya lemah, dia pemalu, anak perempuan yang menyedihkan. Hanya punya sihir dan imajinasi saja yang menjadi keuntungannya.

Dia sudah menjelajah banyak sekali dunia sampai dia tumbuh dewasa. Anak perempuan kecil itu tumbuh menjadi perempuan yang melihat dunia dengan cara yang aneh. Dia menjadi lebih berani tapi tetap merasa kecil. Hujan yang turun selalu indah dan mengerikan di saat yang bersamaan. Gadis yang menyedihkan. Hanya punya sihir dan sembunyi di baliknya untuk terus melangkah ke depan.

Mundur bukan pilihan, mengganti jalan begitu sulit dan melelahkan, dan melangkah ke depan membuatnya serasa berputar hingga mual. Dia yakin ada lubang yang menganga di dalam hatinya. Rumah pohon sudah hilang ditelan waktu dan pertumbuhan. Hutan yang dulu jadi tempat bermainnya tidak lagi ada, menghilang ditelan zaman. Imajinasinya jelas-jelas semakin habis saja.

Menjadi anak-anak membuatnya lemah, menjadi perempuan dewasa membuatnya sakit. Lantas apa yang seharusnya dilakukan?
 
Air mata yang asin, hujan yang asam; dunia semakin gelap saja. 

Bahkan dunia lain di luar sana pun mulai berubah menjadi gelap dan dingin. Tidak lagi menakjubkan seperti dulu, dan sihir tidak lagi bertebaran di udara dan melompat-lompat di tanah. Sepertinya dia akan melihat malaikat, sepertinya dia akan melihat akhir dunia, sepertinya dia akan mengurung diri di dalam kamarnya.

Dan sepertinya lubang di hatinya akan terus menelannya.

Sungguh tidak adil!

Dia punya keluarga, dia punya teman, dia punya pekerjaan, tapi dia tak pernah merasa layak.

Seakan dunia bisa saja meninggalkannya begitu saja, membiarkannya berhenti di jalan seorang diri.

Mungkin beberapa hari ke depan dia akan bangun saat langit masih gelap, saat matahari belum akan muncul tapi langit sudah menjadi biru tua. Mungkin dia akan keluar ke jalan seorang diri, menyanyikan lagu-lagu, dan mendengarkan dunia berbicara padanya. Mungkin dia akan menutup mata­—karena hitam telah menjadi merah—dan bersenandung dalam sunyi.

Mungkin saja dia akan kembali menjadi anak perempuan yang manis itu.

Gadis yang brilian dan bersuara indah, kata mereka, tertidur diiringi suara hujan. Dadanya sesak, napasnya pelan; gadis yang menyedihkan.

Dia akan berjalan ke depan—cuma itu pilihannya. Tapi saat hujan turun, mungkin dunia bisa membiarkannya tertidur – setidaknya hatinya – sambil mengingat kembali seluruh dunia yang pernah dikunjunginya dulu dan meratap untuk lubang yang semakin besar dan dalam.

Gadis yang merasakan semuanya terlalu dalam hingga dunia menjadi terlalu berat. Dan hujan membuat semuanya basah dan dingin. Gadis itu ingin kembali berjalan di lorong yang gelap dan masuk ke hutan di mana sihir dan imajinasi menciptakan segalanya.

Monday, 17 June 2019

Senja Emas


Penjaga hitam yang tertidur lelap di depan gerbang
Ada antusias bercampur keingintahuan ketika melewatinya
Jembatan yang ada di atas
Jalan berkelak-kelok di bawahnya
Kubiarkan kaki ini melangkah menuju petak-petak tersembunyi
Membiarkan penerbang berdiri di atas sana
1… 2… 3…
Tangga-tangga menuruni lembah
Petak hijau membawa nostalgia akan permainan hidup
Kaki yang gemetar dan tangan yang dingin
Ada tapakan kuat yang seolah menahan hati
Sunyi menatap senja itu omong kosong
Penasaran jauh lebih kuat daripada diamnya diri
Mengikuti jalan ke atas sana, mencari cara untuk mengikuti arus
Daun-daun yang meneteskan embun
Tanah yang menguarkan bau basah
Batu-batu yang berwarna-warni
Ada taman yang hangat sekaligus dingin di setiap tingkat
Pintu terbuka mengungkapkan warna emas
Kuning bunga mekar berdiri tanpa disadari
Tahta emas raja ada di ujung sana!
Semata-mata kubiarkan diduduki orang lain
Kupandangi rumah cokelat berpagarkan kayu manis
Menaiki undakan sambil berteriak pada suara tawa peri kecil
Ada taman penuh fantasi di belakang
Tapi mata ini justru tertarik pada langit di depan
Putri biru telah keluar
Berhiaskan selendang putih yang lembut
Matahari sore memberi perhatiannya
Menghadiahkan senja emas untuk seluruh khayalak
4… 5… 6…
Tangga-tangga itu menuju malaikat berkulit sedingin marmer
Terlalu tinggi untuk dilihat
Terlalu gelap untuk dicapai
Maka duduklah dan tariklah napas!
Apakah salah memiliki kelemahan?
Apakah salah memiliki ketakutan?
Dan biarkanlah sunyi yang hilang mengambilmu kembali
Karena senja emas ini bukan omong kosong
Dengan kaki gemetar melanglang di atas bebatuan
Kembali ke gerbang depan sana
Duduk termangu dengan napas yang lembut
Latar emas itu membahagiakan orang-orang
Tapi ada saja jiwa yang merasa terancam
Aku pun hanya berdiri dan melihatnya dari jauh
Bersama penjaga yang tertidur ini
Menutup mata pada memori yang juga mirip ini
Ketika teriakan peri kecil membangunkan penjaga hitam
Kubuka mata dan beranjak meninggalkan senja emas
7… 8… 9…
Karena berpura-pura sebagai Alice itu omong kosong
Tapi senja emas itu akan terlihat lagi dan lagi

Thursday, 16 May 2019

Kami dan Diri Kami


Kami merasakan emosi yang mirip dengan kekosongan
Sore yang teduh dan malam yang gelap
Kata-kata dan janji yang terucap
Sebagian telah mendapat segenggam kebahagiaan
Yang lain masih setia dalam gua terdalam
Kami dulu merasa berada di tengah dunia
Padahal semua orang memang ada di sana
Saling menyakiti adalah bagian dari hubungan
Yang tak terpisahkan dengan saling menyayangi
Ada yang terluka
Ada juga yang memilih untuk bersembunyi
Mereka berkata agar dibiarkan saja
Tapi lebih mudah berbohong
Daripada berkata kalau ada yang takut
Dan membuatnya membenci diri sendiri
Yang menghindar dari orang-orang
Kami memperoleh sinar cerah
Tertanam dalam memori kami
Ada rindu yang mengakar
Tumbuh menjadi tunas berbagai rasa
Masing-masing kami berjalan
Di jalan yang kami lihat
Tak tahu akan bersua lagi atau tidak
Kami merasakan emosi yang tidak terjelaskan
Kekosongan yang meremas hati
Memori yang meremukkan rongga dada
Ketika jarak dan waktu hanya batasan
Namun tetap tak bisa dihindari
Semuanya berada di ujung dunia
Padahal punggung kami saling bersentuhan
Saling membelakangi karena takut terluka
Dan terus menjauh karena rasa enggan
Ada yang terluka
Ada juga yang memilih untuk bersembunyi
Tapi kami akan bertemu lagi
Tepat di tengah dunia
Karena jarak dan waktu hanya batasan
Dan kita akan berteriak di luar sana
Kami memperoleh sinar cerah
Tertanam dalam memori kami
Ada rindu yang mengakar
Tumbuh menjadi tunas berbagai rasa
Masing-masing kami berjalan
Di jalan yang kami lihat
Memandang sosok kami di masa depan